Chapter Forty Five
Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
POV: Azzam
Hujan mulai jam empat pagi dan tidak berhenti sampai malam.
Aku tahu jam empat karena aku bangun. Aku selalu bangun kalau hujannya besar, kebiasaan tujuh tahun di proyek, karena hujan besar artinya ada yang harus ditelepon.
Aku mengambil ponsel.
Dan lalu aku ingat bahwa hari ini Sabtu, bahwa pengecoran terakhir sudah selesai bulan lalu, bahwa tidak ada satu pun orang di dunia yang perlu kutelepon jam empat pagi.
Aku menaruh ponsel kembali.
Di sebelahku, Evelyn menarik selimut dengan gerakan orang yang tidak benar-benar bangun.
“Dingin.”
“Iya.”
“AC-nya.”
“Aku matiin.”
Aku mematikan AC dan kembali ke kasur, dan dia langsung pindah ke sisiku tanpa membuka mata, dengan cara yang sudah dia lakukan sekitar seribu kali dan yang masih membuat dadaku bergerak setiap kali.
“Jam berapa?”
“Empat.”
“Tidur lagi.”
“Iya.”
“Mas.”
“Hm.”
“Hari ini kamu nggak ke mana-mana ya.”
Dan aku bilang iya, dan aku benar-benar bermaksud begitu, dan itu tetap tidak menyiapkan aku untuk apa yang terjadi berikutnya.
Aku bangun lagi jam tujuh.
Aku duduk di tepi kasur dan mulai berdiri, dan tangannya menangkap pergelangan tanganku.
“Ke mana.”
“Bikin kopi.”
“Nanti.”
“Evelyn, jam tujuh.”
“Nanti, Mas.”
Dan dia menarik tanganku, dan aku, laki-laki tiga puluh dua tahun yang bangun jam lima setiap hari selama tujuh belas tahun, kembali berbaring.
Aku bangun lagi jam sembilan.
Jam sembilan.
Ini yang terjadi hari itu, dan aku menuliskannya berurutan karena kalau tidak nanti kelihatan seperti tidak ada yang terjadi, padahal memang tidak ada yang terjadi, dan itu justru intinya.
Jam sembilan. Aku membuat kopi. Dia keluar kamar dengan selimut masih di bahu, seperti orang yang membawa rumahnya sendiri ke mana-mana, dan duduk di sofa.
“Mas.”
“Hm.”
“Sini.”
“Aku lagi bikin kopi.”
“Bawa aja ke sini.”
Jam setengah sepuluh. Aku duduk di sofa dengan kopi di tangan kiri karena tangan kananku tidak bisa dipakai, karena ada kepala di situ.
Jam sepuluh. Aku mencoba mengambil ponsel dari meja.
“Kamu ngapain?”
“Ngecek.”
“Ngecek apa?”
“Grup proyek.”
“Proyeknya selesai bulan lalu.”
“Ada yang belum di-close out.”
“Mas Azzam.”
“Ini beneran ada.”
“Taruh.”
Dan aku menaruhnya.
Aku ingin mencatat bahwa aku menaruhnya tanpa berdebat lebih lanjut, dan bahwa tiga tahun lalu itu tidak akan pernah terjadi.
Jam sebelas. Aku berdiri.
“Ke mana.”
“Ada yang bocor.”
“Di mana?”
“Talang belakang. Aku denger bunyinya beda.”
Dan dia melepaskan aku, karena dia tahu ada hal-hal yang tidak bisa ditawar, dan aku keluar ke teras belakang dengan payung dan berdiri di sana selama enam menit memandangi talang.
Talangnya baik-baik saja.
Aku sudah tahu talangnya baik-baik saja sebelum keluar.
Aku berdiri di teras belakang rumahku sendiri dalam hujan dan menyadari bahwa aku baru saja mencari alasan untuk berdiri, karena aku tidak tahu cara duduk diam selama satu hari penuh.
Aku masuk lagi.
“Gimana talangnya?”
“Aman.”
“Bagus.” Dia mengangkat selimutnya. “Sini.”
Jam dua belas. Kami tidak makan siang. Kami makan roti dan keripik dan sisa gorengan kemarin yang dia panaskan di wajan karena dia tidak percaya microwave.
Jam satu. Dia tidur di pangkuanku selama empat puluh menit dan aku tidak bergerak sedikit pun dan kakiku mati rasa dan aku tidak membangunkannya.
Jam dua. Dia bangun dan bilang, “Kaki kamu mati rasa ya.”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Iya.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena kamu tidur.”
Dan dia menatapku beberapa detik dan lalu bilang, “Kamu tuh ya,” dan tidak menjelaskan kelanjutannya, seperti biasa.
Jam tiga. Dia mulai.
Aku ingin sangat jelas bahwa dia yang mulai, karena nanti akan ada versi yang berbeda dan versi itu bohong.
Aku sedang membaca. Buku yang sama yang kubawa ke Bali dua tahun lalu dan yang masih di halaman seratus sekian.
Dia berbaring dengan kepala di pahaku, menghadap ke atas, dan mengambil buku itu dari tanganku dan menaruhnya di lantai.
“Aku lagi baca.”
“Kamu di halaman itu dari dua tahun lalu.”
“Aku baca pelan-pelan.”
“Kamu nggak baca, Mas.”
“Aku baca.”
“Halaman seratus tujuh. Aku hafal.”
“Kamu ngapain hafal halaman buku aku?”
Dan dia mengangkat tangan dan menyentuh rahangku dengan punggung jari, satu kali, dari bawah ke atas.
“Aku merhatiin,” katanya.
Dan aku menutup mata.
“Evelyn.”
“Hm.”
“Jangan.”
“Jangan apa?”
“Kamu tau.”
“Aku nggak tau.”
“Evelyn.”
Dan dia tertawa, dan tawanya keluar dari tempat yang sangat dekat dengan telingaku, dan aku menyadari bahwa dia sudah tidak berbaring lagi dan aku tidak tahu kapan itu berubah.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak, kamu kalau lagi baca tuh keningnya berkerut.”
“Enggak.”
“Iya. Di sini.” Dia menyentuh keningku. “Dari dulu.”
“Dari kapan?”
“Dari SMA.”
Aku membuka mata.
“Kamu merhatiin aku dari SMA?”
Dan dia berhenti, dan wajahnya sepuluh sentimeter dari wajahku, dan ada sesuatu yang berubah di matanya.
“Aku merhatiin,” katanya, “aku cuma nggak ngerti aku lagi ngapain.”
“Evelyn—“
“Aku inget kamu benerin sepeda aku waktu aku kelas satu SMA,” katanya. “Rantainya lepas. Kamu benerin di depan rumah kamu terus tangan kamu item semua.”
Aku tidak bisa bernapas dengan benar.
“Aku inget aku duduk di teras dan nungguin,” katanya. “Empat puluh menit. Dan aku nggak pernah mikirin kenapa aku nungguin padahal aku bisa pulang jalan kaki.”
Aku ingin menuliskan apa yang terjadi di dadaku waktu dia mengatakan itu, dan aku tidak bisa.
Yang paling dekat begini.
Selama sembilan tahun aku yakin satu hal: bahwa aku sendirian di dalam ini. Bahwa ada satu orang yang menyimpan dan satu orang yang tidak tahu. Bahwa seluruh cerita ini adalah cerita tentang satu arah.
Dan dua puluh tahun kemudian, di sofa, di hari hujan, perempuan itu memberitahuku bahwa dia duduk di teras selama empat puluh menit waktu umur lima belas.
Bukan cinta. Aku tidak akan mengarang.
Cuma seorang anak perempuan yang duduk di teras lebih lama dari yang perlu dan tidak pernah bertanya kenapa.
Tapi itu ada.
Sembilan tahun aku berpikir tidak ada apa-apa di sana, dan ternyata ada empat puluh menit di teras tahun dua ribu tujuh belas yang tidak pernah kuketahui.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu nangis?”
“Enggak.”
“Mas Azzam.”
“Aku nggak nangis, Evelyn.”
Dan dia tidak mendebatku. Dia cuma menaruh dahinya di dahiku dan diam.
Kami tidak keluar kamar sampai jam tujuh malam.
Aku tidak akan menuliskan bagian itu, karena ada hal-hal yang kalau ditulis jadi milik orang lain, dan aku sudah cukup lama belajar dari perempuan yang menyimpan barang orang lain di dalam kardus.
Yang akan kutuliskan cuma tiga hal.
Yang pertama: dia tertawa di tengah, dua kali, karena ada bunyi guntur yang timing-nya konyol.
Yang kedua: aku bertanya, dan dia menjawab, dan aku bertanya lagi, dan dia bilang “Mas, kamu nggak usah nanya terus” dan aku bilang “kamu sendiri yang nyuruh aku nanya” dan dia memukul dadaku dan bilang “NGGAK GITU JUGA.”
Yang ketiga: hujan tidak berhenti sekali pun.
Jam tujuh malam kami di dapur.
Dia memakai kausku, yang kebesaran, yang dia lakukan sekitar seratus kali dan yang belum pernah sekali pun kukomentari karena aku takut kalau kukomentari dia akan berhenti.
Aku menggoreng telur.
“Telur lagi?”
“Kamu mau apa.”
“Nasi uduk.”
“Warung Bu Yang Itu tutup kalau hujan.”
“Ya makanya aku bilang telur aja.”
“Kamu barusan bilang nasi uduk.”
“Aku bilang aku mau. Bukan aku minta.”
Dan aku menoleh ke arahnya dan dia sedang duduk di meja dapur — di atas meja, bukan di kursi — dengan kaki menggantung, dan aku menyadari bahwa perempuan ini sudah tidak pernah duduk di kursi lagi sejak dua tahun lalu.
“Turun.”
“Enggak.”
“Evelyn, itu meja makan.”
“Ini mejaku.”
“Kita makan di situ.”
“Aku juga makan di sini.”
Dan dia mengambil satu potong telur langsung dari wajan dengan jari dan langsung menjatuhkannya karena panas dan berteriak dan aku tertawa sampai harus menaruh spatula.
Kami makan jam setengah delapan.
Kami tidak mencuci piring. Aku ingin mencatat itu karena itu satu-satunya kali dalam sejarah rumah ini bahwa piring dibiarkan di bak semalaman.
Jam sembilan kami kembali ke sofa.
Hujan masih.
“Mas.”
“Hm.”
“Kita hari ini nggak ngapa-ngapain.”
“Iya.”
“Sama sekali nggak ngapa-ngapain.”
“Iya.”
“Kamu nggak gatel?”
Aku memikirkannya.
“Tadi pagi iya,” kataku. “Jam sebelas aku sampai keluar liatin talang.”
“Aku tau.”
“Kamu tau?”
“Talangnya baru diganti bulan lalu, Mas. Sama kamu.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Kamu tau aku ngarang?”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu bolehin aku keluar?”
Dan dia menaruh kepala di bahuku dan bilang:
“Karena kamu butuh enam menit.”
Aku duduk di sofa itu dengan hujan di luar dan piring kotor di dapur dan buku di halaman seratus tujuh di lantai.
Dan aku memikirkan sofa yang panjangnya seratus enam puluh sentimeter di rumah yang sama, empat tahun lalu, dan selimut yang labelnya masih menempel sampai minggu ketiga.
“Evelyn.”
“Hm.”
“Kamu inget sofa yang dulu?”
“Yang ini?”
“Ini sofa yang dulu.”
Dia mengangkat kepala dan melihat ke sekeliling.
“Ya ampun, iya.”
“Iya.”
“Kamu tidur di sini tiga minggu.”
“Iya.”
Dia diam sebentar.
Lalu dia bilang, “Panjangnya berapa?”
“Seratus enam puluh.”
“Kamu berapa?”
“Seratus tujuh puluh delapan.”
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu tidur di sofa yang delapan belas senti lebih pendek dari kamu selama dua puluh satu malam.”
“Iya.”
Dan dia menaruh kepalanya kembali ke bahuku dan bilang, ke arah televisi yang mati:
“Aku nggak akan pernah selesai marah soal itu.”
“Nggak usah marah.”
“Aku bakal marah terus, Mas.”
“Ya udah.”
“Sampai tua.”
“Ya udah, Evelyn.”
Dan dia mencubit lenganku, cukup keras, dan aku membiarkannya.
Hujan berhenti sekitar jam sebelas.
Kami sudah tidur.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana reading
- 46 Extra 6: Dua Garis