Chapter Ten
Sofa
POV: Evelyn
Rumahnya kecil dan baru.
Dua kamar, satu ruang tengah yang menyatu dengan dapur, satu kamar mandi, dan satu ruangan sempit di belakang yang katanya gudang tapi isinya baru dua kardus. Di kompleks yang dua puluh menit dari rumah Mama dan dua puluh dua menit dari rumah Tante Ratih, yang mana aku curiga bukan kebetulan.
Dia membelinya empat bulan lalu. Aku baru tahu angkanya waktu ibu-ibu membicarakannya di depanku seperti aku tidak ada.
“Empat bulan lalu?” kata Mama.
“Iya, sebelum semua ini,” kata Tante Ratih, bangga. “Anak Tante emang gitu, Wulan. Nabung diem-diem, nggak bilang siapa-siapa.”
Aku menghitung mundur di kepalaku. Empat bulan lalu artinya sekitar waktu aku dan Ernest selesai, dan itu jelas kebetulan, dan aku menyimpan hitungan itu di suatu tempat dan menutupnya.
Kami sampai jam sepuluh malam.
Ada empat kardus kado di ruang tengah, dua rantang besar dari katering, satu karangan bunga yang sudah setengah mati, dan bau cat yang belum sepenuhnya hilang.
Aku berdiri di tengah ruangan itu masih dengan riasan lengkap dan sanggul yang sudah miring dan tidak tahu harus ke mana.
“Kamarnya yang kanan,” katanya. “Sudah aku beresin kemarin.”
“Oh. Iya.”
“Handuknya di lemari, yang atas.”
“Iya.”
Dia menaruh dua koper di lantai dan langsung ke dapur dan mulai memindahkan isi rantang ke kulkas, satu-satu, seperti orang yang punya urusan penting jam sepuluh malam.
Aku masuk ke kamar dan menutup pintu dan berdiri bersandar di baliknya.
Kamarnya sudah dibereskan. Aku ingin mencatat seberapa dibereskan, karena aku baru benar-benar memperhatikannya beberapa bulan kemudian.
Lemari sudah dibagi dua, dan bagian yang lebih besar bukan bagiannya. Ada gantungan baju yang jumlahnya jelas dibeli, bukan sisa. Meja kecil di dekat jendela sudah kosong dan dilap, dan ada stopkontak tambahan di bawahnya yang jelas baru dipasang karena catnya masih lebih bersih di sekelilingnya.
Ada lampu meja di atasnya.
Yang bisa diatur hangat atau putih.
Aku menyalakannya sekali, mengatur ke hangat, lalu mematikannya lagi dan tidak memikirkannya.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya sejak dua hari lalu.
Aku menulisnya di notes, menghapusnya, menulisnya lagi. Vira sempat bertanya kenapa aku diam terus hari Kamis dan aku bilang capek.
Versi finalnya begini:
Mas, maaf ya. Aku belum siap. Bukan karena kamu. Aku cuma butuh waktu, dan aku nggak tau berapa lama, dan aku ngerti kalau kamu kecewa.
Empat kalimat. Aku menghafalnya sampai bisa mengucapkannya tanpa suaraku goyah, karena aku tahu kalau suaraku goyah dia akan mengira aku takut padanya, dan aku tidak takut padanya, dan itu bagian yang paling harus dia mengerti.
Aku juga sudah menyiapkan versi kalau dia marah.
Aku juga sudah menyiapkan versi kalau dia tidak marah tapi tersinggung, yang lebih buruk.
Aku juga sudah menyiapkan, dan aku sangat malu menuliskan ini, versi kalau dia tidak menerima jawaban itu.
Vira mengirim pesan jam setengah sebelas.
Vira:gimana
Vira:nggak usah jawab kalau lagi sibuk
Vira:maksudnya jangan jawab sekarang
Vira:ASTAGA MAKSUD AKU
Vira:ya pokoknya kalau butuh apa apa telepon
Vira:jam berapa aja
Vira:aku serius
Aku membaca tujuh pesan itu sambil duduk di lantai kamar mandi dengan kapas pembersih di tangan, dan untuk pertama kalinya sepanjang hari itu aku hampir menangis, dan yang membuatku hampir menangis bukan pernikahannya.
Nanti aku telepon, balasku.
Vira:oke
Vira:Evie
Vira:kamu boleh nggak baik baik aja hari ini
Aku mematikan layar dan menaruh ponsel menghadap ke bawah di lantai.
Aku mandi. Aku menghabiskan empat puluh menit membersihkan riasan yang dipasang selama satu setengah jam. Aku mengganti baju. Aku duduk di tepi ranjang selama sepuluh menit lagi.
Lalu aku membuka pintu.
Lampu ruang tengah sudah dimatikan. Yang menyala tinggal lampu dapur.
Dia sedang membentangkan sesuatu di sofa.
Satu sprei tipis. Satu bantal. Satu selimut yang masih ada label harganya.
Dia menoleh.
“Oh. Belum tidur?”
Aku berdiri di ambang pintu kamar dan empat kalimat yang kuhafal dua hari itu tidak ada satu pun yang keluar.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu ngapain?”
Dia mengangkat bantalnya sedikit, seolah itu jawaban yang jelas. “Tidur.”
“Di situ?”
“Iya.”
“Sofanya pendek.”
“Aku bisa tidur di mana aja.” Dia meratakan sprei di sudut. “Dulu aku tidur di mobil tiga hari.”
“Itu bukan prestasi.”
“Bukan.” Dia menepuk bantalnya dua kali. “Tapi bisa.”
Aku masih berdiri di sana.
“Mas, kamu nggak nanya apa-apa?”
Dia berdiri tegak dan melihatku, dan wajahnya sama sekali biasa. Tidak tersinggung, tidak berlagak mulia, tidak sedih. Sama sekali biasa, seperti orang yang ditanya apakah dia mau teh.
“Nggak ada yang perlu ditanya,” katanya. “Ini bukan bagian yang harus buru-buru.”
Aku membuka mulut dan menutupnya lagi.
“Air panasnya agak lama keluarnya,” lanjutnya. “Kalau besok pagi kamu mandi, nyalain dulu dua menit.”
“Oke.”
“Selamat malam, Evelyn.”
“Selamat malam.”
Aku menutup pintu kamar.
Aku duduk di lantai dengan punggung ke pintu dan tubuhku melakukan sesuatu yang memalukan.
Aku lega.
Bukan lega yang sopan. Lega yang besar sekali, yang keluar dari dada, yang membuatku menunduk dan menutup wajah dengan dua tangan dan mengeluarkan suara yang untungnya tidak terdengar sampai luar.
Empat puluh detik. Mungkin semenit.
Lalu aku duduk tegak lagi, mengelap wajah, dan mulai berpikir.
Dan yang kupikirkan bukan syukur.
Yang kupikirkan begini: dia bahkan nggak nanya.
Aku sudah menyiapkan empat kalimat, tiga skenario cadangan, dan dua hari kecemasan. Aku sudah bersiap untuk percakapan yang canggung, mungkin menyakitkan, di mana aku harus menolak seseorang di malam pernikahanku sendiri.
Dan dia sudah membentangkan sprei di sofa sebelum aku keluar kamar.
Artinya dia sudah memutuskan lebih dulu.
Artinya dia tidak perlu berpikir soal itu sama sekali.
Aku duduk di lantai kamar itu jam sebelas malam di hari pernikahanku dan sampai pada kesimpulan yang, dengan semua informasi yang kupunya waktu itu, benar-benar masuk akal.
Dia nggak mau aku.
Dan aku menghela napas panjang, dan aku bilang ke diriku sendiri bahwa ini bagus. Ini yang terbaik. Dua orang yang tidak menginginkan satu sama lain adalah susunan yang paling aman di dunia. Tidak ada yang akan kecewa. Tidak ada yang berutang.
Sebelum naik ke ranjang, aku melakukan satu hal lagi.
Aku membuka galeri. Album bernama “Dokumen”. Empat puluh satu gambar.
Aku tidak membacanya. Aku cuma memastikan masih ada.
Lalu aku menutupnya dan menaruh ponsel di meja dan naik ke ranjang.
Kalau ada yang bertanya kenapa, aku akan bilang refleks, dan itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi aku sudah cukup lama jadi editor untuk tahu bahwa orang mengecek sesuatu di malam pernikahannya bukan karena refleks.
Aku mengeceknya karena hari itu semuanya berubah, dan aku ingin memastikan ada satu hal yang tidak.
Aku naik ke ranjang dan tidur delapan jam, tidur paling nyenyak dalam empat bulan.
Aku ingin sekali bisa menuliskan ini dengan lebih halus.
Tapi begitulah kejadiannya. Aku tidur nyenyak, dan dia di sofa yang panjangnya seratus enam puluh sentimeter, dan aku tidak sekali pun memikirkan itu sebelum tidur.
Aku bangun jam enam pagi karena ada suara di dapur.
Aku keluar dengan rambut berantakan dan menemukan sofa sudah kosong. Sprei dilipat. Bantal ditumpuk di atasnya. Selimut dilipat jadi persegi yang rapi sekali, sudutnya ketemu semua, seperti orang yang pernah tinggal di asrama atau seperti orang yang tidak mau meninggalkan jejak.
Label harga di selimut itu masih menempel.
Dia di dapur, sudah mandi, sudah berpakaian kerja.
“Pagi.”
“Pagi.” Aku menguap. “Kamu kerja? Ini hari Minggu.”
“Ke proyek sebentar. Ada pengecoran.”
“Minggu?”
“Beton nggak libur.”
Ada dua gelas di meja. Satu kopi hitam. Satu lagi teh, manis, panas, dengan sendok masih di dalamnya.
Aku menatap gelas kedua itu.
“Itu buat kamu,” katanya, tanpa menoleh, sambil memasukkan sesuatu ke tasnya.
“Aku minum teh?”
“Kamu nggak minum kopi.”
“Kok tau?”
Dia berhenti bergerak sekitar setengah detik.
“Kemarin di ruang transit,” katanya. “Ada yang nawarin kopi ke kamu dan kamu bilang nggak.”
“Oh.” Aku duduk. “Iya.”
Dia menutup tasnya dan menyampirkan ke bahu.
“Aku pulang sekitar jam empat. Kalau kamu mau ke rumah Mama, nggak apa-apa, kuncinya ada dua.”
“Iya.”
“Kalau ada apa-apa telepon.”
“Iya.”
Dia pergi.
Aku duduk sendirian di rumah yang belum kukenal, memegang gelas teh yang masih panas, jam enam lewat sepuluh pagi di hari pertama pernikahanku.
Aku minum tehnya sampai habis.
Dan aku tidak memikirkannya lagi setelah itu, karena tidak ada yang perlu dipikirkan. Orang menyeduhkan teh untuk orang lain setiap hari di seluruh dunia. Itu bukan apa-apa.
Jam sembilan Mama menelepon.
“Gimana rumahnya?”
“Bagus, Ma. Kecil tapi enak.”
“Azzam mana?”
“Ke proyek.”
Hening tiga detik.
“Hari Minggu?”
“Ada pengecoran katanya.”
“Oh.” Nada Mama berubah sedikit, dan aku tahu persis apa yang sedang beliau susun di kepalanya. “Ya sudah. Nanti kalau ada apa-apa—“
“Iya, Ma.”
“Kamu udah makan?”
“Belum.”
“Ya makan.”
“Iya.”
“Vie.”
“Iya, Ma.”
Beliau diam agak lama.
“Nggak apa-apa,” katanya akhirnya. “Ya udah. Makan ya.”
Beliau menutup telepon, dan aku berdiri di dapur rumah baru dengan ponsel di tangan dan menyadari bahwa itu percakapan telepon pertama antara aku dan ibuku sebagai dua perempuan yang sudah sama-sama menikah, dan bahwa beliau punya sesuatu yang ingin ditanyakan dan memutuskan tidak.
Semua orang di sekelilingku memutuskan tidak.
Aku dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangiku dan tidak satu pun dari mereka yang mau menanyakan pertanyaan yang tepat, dan aku sudah sangat lama tidak tahu apakah aku bersyukur atau kesepian karenanya.
Aku mulai membongkar koper jam sembilan.
Koper besar dulu, yang isinya baju. Lalu yang sedang, isinya buku dan alat kerja.
Lalu ada satu kardus yang dibawa Mama sendiri kemarin dengan mobilnya, karena tidak muat di bagasi mobil pengantin.
Aku membukanya di lantai kamar.
Isinya barang-barang meja: lampu belajar lama, tempat pensil, dua bingkai foto keluarga, kotak jahit yang tidak pernah kupakai.
Dan di bawah semua itu, di dasar, ada kardus lain yang lebih kecil.
Yang dari lemari atas kamarku.
Aku duduk di lantai dan menatapnya.
Aku tidak memasukkannya ke situ.
Aku betul-betul tidak ingat memasukkannya ke situ. Aku ingat mengosongkan lemari atas hari Kamis. Aku ingat menurunkan kotak sepatu, tas lama, dua selimut. Aku ingat berdiri di kursi dan menyerahkan barang-barang ke bawah satu per satu ke Mama.
Aku tidak ingat sampai ke bagian ini.
Aku duduk di lantai kamar tidur di rumah suamiku selama mungkin lima menit dengan kardus itu di depanku.
Lalu aku berdiri, mengangkatnya, dan membawanya ke ruangan sempit di belakang yang katanya gudang tapi isinya baru dua kardus.
Aku menaruhnya di sudut, di belakang keduanya, di tempat yang tidak kelihatan dari pintu.
Lalu aku kembali ke kamar dan melanjutkan membongkar koper, dan sepanjang sisa hari itu aku tidak ke belakang lagi sama sekali.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa reading
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis