Chapter Five

Empat Kata

POV: Evelyn


Hari pertama, aku bilang ke diriku sendiri bahwa dia mungkin sibuk.

Hari kedua, aku bilang bahwa dia mungkin bingung mau jawab apa, dan itu wajar, dan orang butuh waktu untuk menyusun kalimat yang benar.

Hari ketiga aku berhenti membuat alasan dan mulai mengecek.

Aku ingin jujur soal seberapa memalukan ini, karena kalau aku menulisnya setengah-setengah nanti terdengar lebih anggun daripada aslinya. Aku mengecek delapan belas kali di hari ketiga. Aku menghitungnya. Bukan karena aku ingin tahu jumlahnya, tapi karena di suatu titik aku sadar aku sedang melakukannya lagi dan mulai menghitung untuk membuat diriku malu supaya berhenti.

Tidak berhasil. Aku cuma jadi orang yang mengecek delapan belas kali dan tahu persis angkanya.

Yang paling buruk bukan mengeceknya. Yang paling buruk adalah aku sudah tahu tidak ada apa-apa di sana, dan tetap membuka.

Sekitar tiga puluh kali sehari selama empat hari, aku membuka aplikasi untuk mengonfirmasi sesuatu yang sudah kukonfirmasi tiga puluh kali sebelumnya.

Otakku bukan orang bodoh. Otakku cuma sedang bekerja untuk pihak lain.


Hari keempat, dua ibu-ibu membawaku ke butik.

“Kamu ini kurus banget, Vie,” kata Tante Ratih, sambil memegang lenganku seperti menilai ayam. “Nanti bajunya melorot.”

“Enggak melorot, Tante.”

“Ratih, dia emang segitu dari SD,” kata Mama.

“Dari SD juga kurus.”

“Ya berarti nggak berubah.”

“Ya berarti dari SD nggak dikasih makan.”

“Ratih.”

“Bercanda, Wulan. Ya ampun.”

Aku berdiri di antara mereka sambil dipegangi lenganku dari dua sisi dan berpikir bahwa ini sebenarnya lucu, dan bahwa aku akan mengingat ini nanti, dan bahwa aku sedang tidak menikmatinya sama sekali.

Butiknya milik teman arisan Mama, yang artinya semuanya gratis kecuali harga dirinya. Pemiliknya keluar membawa empat gaun dan sepuluh menit ceramah tentang siluet.

Dan di sepanjang sepuluh menit itu, dua ibu-ibu di belakangku berdebat tentang lengan.

“Yang panjang, Wulan.”

“Nanti kepanasan.”

“Ada AC.”

“Di gedung ada AC, di foto luar nggak ada.”

“Ya jangan foto di luar.”

“Ratih, ini pernikahan anak kita berdua, masa nggak ada foto di luar.”

“Ya foto di luar tapi lengannya panjang.”

“Terus kepanasan.”

“Wulan.” Tante Ratih menarik napas dengan cara yang menandakan beliau akan mengeluarkan senjata terakhir. “Kamu tuh dulu waktu nikah juga lengan panjang.”

“Itu tahun sembilan puluh dua.”

“Terus?”

“Terus tahun sembilan puluh dua nggak ada global warming.”

Aku menutup mata di dalam kamar pas dan mendengar mereka lanjut sembilan menit lagi.

Yang lucu, dan yang sebenarnya bikin dadaku hangat sedikit, adalah tidak ada satu pun dari perdebatan itu yang benar-benar tentang lengan. Dua perempuan itu sudah berteman tiga puluh tahun dan mereka bahagia hari itu, dan bahagia mereka keluar dalam bentuk berdebat.

“Vie,” panggil Mama dari luar. “Kamu maunya gimana?”

“Terserah, Ma.”

“Jangan terserah.”

“Beneran terserah.”

“Kamu selalu bilang terserah.”

Aku diam di dalam sana beberapa detik.

Beliau benar. Aku selalu bilang terserah. Aku sudah bilang terserah soal gedung, soal katering, soal warna, soal tanggal — semuanya kecuali satu hal, dan yang satu itu adalah satu-satunya hal yang benar-benar kuputuskan sendiri, dan hasilnya seperti sekarang.

Mungkin aku sudah tidak percaya lagi dengan apa yang kuputuskan sendiri.

“Yang lengan panjang aja, Ma,” kataku.

Di luar, Tante Ratih berteriak menang.

“Yang ini bagus buat Mbak Evelyn. Modelnya A-line. Kalau yang ini kurang, ini buat yang bahunya lebar.”

“Bahunya nggak lebar,” kata dua ibu bersamaan.

Aku dimasukkan ke kamar pas.

Dan di dalam kamar pas itu, dengan gaun setengah terpasang dan resleting yang belum sampai atas, ponselku bergetar di atas kursi.


Ernest:wah. selamat ya, Vie.


Aku duduk di kursi kecil itu.

Empat kata. Lima kalau “wah” dihitung. Ada titik setelah “wah”, yang berarti dia mengetiknya, berhenti, lalu lanjut. Ada koma sebelum namaku, yang benar secara tata bahasa, yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya.

Aku editor. Aku dibayar untuk membaca hal-hal seperti ini.

Dan aku duduk di kamar pas butik teman arisan Mama dan membaca empat kata itu sebelas kali, mencari sesuatu di sela-selanya.

Titik setelah “wah” itu jeda. Jeda artinya dia berhenti. Berhenti artinya ada sesuatu.

Koma sebelum namaku artinya dia hati-hati. Hati-hati artinya dia peduli bagaimana ini terdengar. Peduli artinya—

Aku berhenti.

Aku menaruh ponsel di pangkuan dan menatap dinding kamar pas selama mungkin setengah menit.

Empat hari. Aku menunggu empat hari untuk enam belas karakter, dan sekarang aku sedang membedah tanda baca seperti orang membedah surat wasiat, dan bagian dari diriku tahu persis betapa menyedihkan ini, dan bagian itu kalah telak dari bagian yang lain.

Karena begini rasanya, dan tidak ada yang pernah menjelaskan ini dengan benar: aku senang.

Bukan senang yang sopan. Senang yang beneran, yang naik dari perut, yang bikin bahu turun dan napas keluar panjang. Untuk pertama kalinya dalam empat hari aku tidak merasa seperti orang yang sedang menunggu vonis.

Empat kata dari orang yang meninggalkanku, dan tubuhku memperlakukannya seperti kabar baik.

“Vie? Udah?”

“Bentar, Ma.”

Aku menghapus air di bawah mataku dengan punggung tangan, hati-hati sekali karena ada riasan yang tadi dipasang orang butik, dan aku berdiri dan menarik resleting itu sampai atas.

Waktu aku keluar, dua ibu-ibu itu langsung diam.

“Ya ampun,” kata Mama.

Tante Ratih menutup mulutnya dengan dua tangan dan matanya langsung basah, karena Tante Ratih memang begitu.

“Kenapa matanya merah?” tanya Mama.

“Kena sesuatu tadi.”

“Kena apa?”

“Nggak tau. Debu.”

Mama menatapku dua detik lebih lama dari yang perlu, lalu bilang, “Ya udah, muter dong. Muter.”

Dan aku berputar di depan cermin dengan gaun pengantin dan mata merah, dan dua perempuan yang paling menyayangiku di dunia bertepuk tangan.


Aku membalas pesan itu malam harinya.

Aku mengetiknya dua puluh menit. Aku menghapusnya empat kali. Versi final panjangnya sembilan baris, dan aku menyusunnya seperti aku menyusun surat ke penulis: hangat di awal, isi di tengah, pintu terbuka di akhir.

Aku bahkan tidak akan menyalinnya di sini. Cukup tahu bahwa di baris keenam ada kalimat yang isinya, kira-kira, aku cuma pengen kita bisa ngobrol baik-baik sekali aja sebelum semuanya berubah, dan bahwa aku menghabiskan enam menit untuk memilih antara “sekali aja” dan “sebentar aja.”

Aku mengirimnya jam sebelas malam.

Centang biru jam sebelas lewat dua.

Tidak ada yang datang.

Aku menunggu sampai jam satu, lalu melakukan sesuatu yang, kalau kuceritakan ke Vira, akan membuatnya datang ke rumahku dengan martabak dan kemarahan.

Aku menekan tahan nama itu. Muncul menunya. Aku memilih hapus percakapan.

Muncul konfirmasi. Hapus chat ini?

Dan aku, sebelum menekan ya, membuka ulang percakapan itu dan memotret layarnya. Dari atas sampai bawah. Empat puluh satu gambar.

Lalu aku kembali dan menekan hapus.

Aku duduk di lantai dengan chat yang sudah bersih dan galeri yang isinya empat puluh satu potongan chat yang sama persis, dan aku menyebut itu “sudah melepas.”

Aku bahkan membuat album baru untuk empat puluh satu gambar itu.

Aku memberinya nama “Dokumen.”

Kalau ada yang membuka galeriku, itu akan terlihat seperti foto KTP dan bukti transfer. Aku memikirkan nama itu selama tiga menit sebelum mengetiknya, dan aku tahu persis kenapa aku memilihnya, dan aku tetap memilihnya.

Ada bagian dari otakku yang bekerja dengan sangat rapi untuk melawan bagian yang lain, dan yang mengerikan adalah dua-duanya aku.


Vira menelepon dua hari kemudian.

“Kamu ketemu dia nggak?”

“Enggak.”

“Chat?”

“Vir.”

“Jawab aja. Chat nggak?”

“Aku yang chat duluan.” Aku menaruh dahi di meja kantor. “Dia bales empat hari kemudian. Empat kata.”

Vira mengeluarkan suara panjang.

“Empat kata.”

“Iya.”

“Terus kamu ngapain?”

“Aku baca sebelas kali di kamar pas butik.”

“Evelyn.”

“Aku tau.”

“Kamu nggak tau.” Suaranya berubah. “Kalau kamu tau kamu nggak akan ngitung sampai sebelas. Orang yang tau tuh nggak ngitung, Vie, dia cuma baca terus lupa.”

Aku tidak menjawab.

“Aku mau nanya satu hal terus aku diem,” katanya. “Kalau dia balesnya jam segitu juga, tapi isinya ‘jangan nikah, balik ke aku’—kamu bakal ngapain?”

Aku duduk lurus.

“Nggak akan,” kataku. “Dia nggak akan bilang gitu.”

“Aku nggak nanya dia bakal atau nggak. Aku nanya kamu bakal ngapain.”

Ada bunyi mesin fotokopi di belakangku. Ada seseorang tertawa di pantry. Ada tumpukan naskah di sebelah kiri layar yang harus selesai Jumat.

“Aku harus balik kerja,” kataku.

Vira diam dua detik.

“Ya udah,” katanya. “Sana.”


Besok paginya ada pesan lain di ponselku. Yang ini masuk jam enam kurang.

Azzam:Rice cooker sudah aku antar ke rumahmu kemarin sore. Tante Wulan bilang jangan repot-repot, aku bilang enggak repot. Kalau nanti beliau bilang ke kamu supaya nyuruh aku ganti rugi, tolong bilang aja sudah.

Aku membacanya sambil duduk di tepi ranjang dengan rambut belum disisir.

Azzam:Oh iya. Yang lama itu colokannya gosong. Kalau di rumah ada colokan lain yang suka bau, jangan dipakai dulu. Nanti aku cek waktu ke sana.

Aku tertawa kecil.

Bukan tertawa yang besar. Cuma satu embusan lewat hidung, sendirian di kamar, jam enam pagi.

Aku mengetik.

Iya Mas. Makasih ya.

Lalu, entah kenapa, aku menambah satu baris lagi.

Colokan yang di dapur belakang kadang bunyi kretek-kretek.

Balasannya datang dalam empat puluh detik.

Azzam:Jangan dipakai. Serius. Aku Sabtu ke sana.

Azzam:Jam berapa kamu di rumah?

Aku menatap layar itu.

Ini pesan tentang colokan. Aku tahu ini pesan tentang colokan. Tidak ada apa-apa di dalamnya, dan siapa pun yang membaca dua baris ini akan bilang tidak ada apa-apa di dalamnya.

Tapi ada sesuatu yang aneh, dan butuh beberapa detik untuk aku menamainya.

Semalam aku menghabiskan dua puluh menit menyusun sembilan baris supaya seseorang mau menjawab.

Pagi ini aku mengetik satu baris tentang colokan rusak dan dijawab dalam empat puluh detik, dua kali, dan yang kedua berupa pertanyaan.

Aku menutup ponsel dan pergi mandi, dan tidak memikirkannya lagi.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur. Aku benar-benar tidak memikirkannya lagi.

Butuh delapan bulan sampai aku memikirkannya.


Sabtu itu dia datang jam sembilan pagi dengan tas perkakas.

Aku tidak di rumah. Aku ada di kantor karena ada naskah yang harus masuk cetak Senin, dan aku sudah bilang dari Kamis bahwa aku mungkin tidak di rumah, dan dia membalas ”nggak apa-apa, yang penting colokannya.”

Waktu aku pulang jam tiga sore, colokan dapur belakang sudah diganti. Yang di ruang tamu juga. Yang di kamar Mama juga, yang bahkan tidak pernah kusebut.

Dan ada satu hal lagi.

Papa duduk di teras dengan Mas Azzam, dua gelas kopi, dan kotak catur yang sudah tidak dibuka siapa pun sejak Papa pensiun.

Papa sedang bicara. Bukan menjawab. Bicara, panjang, dengan tangan bergerak.

Aku tidak bisa mendengar isinya dari gerbang. Aku cuma mendengar nadanya, dan nada itu nada orang yang sedang menjelaskan sesuatu yang penting kepada seseorang yang benar-benar mendengarkan.

Papa berhenti bicara empat bulan lalu.

Tidak berhenti total — beliau masih menanyakan sudah makan, masih mengomentari berita, masih menyuruh Mama mengecilkan volume televisi. Tapi hal yang panjang, yang pakai tangan, yang matanya ikut bergerak, itu berhenti sejak Ernest pergi.

Aku pikir itu karena beliau kecewa padaku.

Berdiri di gerbang sore itu, aku mulai curiga bukan itu alasannya. Mungkin Papa cuma tidak tahu lagi harus bicara apa dengan anak perempuan yang hidupnya sudah berbelok ke arah yang tidak beliau kenal, dan beliau terlalu sopan untuk memaksa.

Dan sekarang ada orang lain di teras itu, dan Papa punya tempat untuk menaruh kalimat-kalimatnya lagi.

Aku merasa lega.

Lalu aku merasa sesuatu yang lain, yang tidak enak, yang tidak bisa kunamai waktu itu, dan aku menutupnya dengan cepat karena aku tidak punya waktu untuk itu.

Baru berbulan-bulan kemudian aku tahu namanya cemburu — bukan cemburu pada Mas Azzam, tapi cemburu pada versi diriku yang bisa membuat Papa bicara seperti itu, dan yang sudah lama tidak ada.

Aku berdiri di gerbang beberapa detik sebelum masuk.

Aku sudah lama tidak melihat Papa begitu, dan aku tidak tahu apa yang harus kurasakan, jadi aku memilih tidak merasakan apa-apa dan masuk lewat samping supaya tidak mengganggu.