Chapter Eighteen
Hal-Hal Kecil
POV: Evelyn
Setelah dia sembuh, aku mulai memperhatikan.
Aku tidak memutuskan untuk memperhatikan. Itu terjadi begitu saja, seperti kalau kamu belajar satu kata baru lalu tiba-tiba kata itu muncul di mana-mana padahal sebenarnya sudah ada di sana sejak dulu.
Minggu pertama aku mengumpulkan lima.
Satu. Bawang goreng.
Sabtu pagi dia bikin nasi goreng. Piringku tidak ada bawangnya. Piringnya ada.
Aku pikir itu kebetulan, jadi Minggu aku memperhatikan lagi. Soto dari warung. Dia membuka bungkusnya di dapur sebelum menyajikan, dan waktu aku masuk dia sedang memindahkan bawang goreng dari satu mangkuk ke mangkuk lain dengan sendok.
Dia berhenti waktu melihatku.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa,” katanya, dan meneruskan.
Dua. AC.
Dua puluh dua. Kami sepakat dua puluh dua delapan bulan lalu, dan aku ingat perdebatannya, dan aku ingat dia bilang kalau kedinginan dia tidak bisa tidur.
Minggu itu aku bangun jam tiga untuk ke kamar mandi dan melihat dia tidur dengan selimut ditarik sampai bahu di ruangan dua puluh dua derajat sambil meringkuk.
Delapan bulan.
Tiga. Jemuran.
Aku tidak pernah mengangkat jemuran. Tidak sekali pun dalam delapan bulan. Aku selalu berpikir bahwa aku kebetulan pulang setelah dia, tapi aku pulang jam enam dan dia jam tujuh.
Artinya jemuran itu di luar antara jam enam dan jam tujuh, tiap hari, dan aku lewat di depannya tiap hari.
Empat. Lampu meja.
Ada lampu meja di kamar. Yang bisa diatur hangat atau putih. Aku selalu berpikir itu bawaan rumah.
Aku bertanya ke Rena — bukan ke dia, ke Rena — apakah rumahnya sudah ada lampu meja waktu dibeli.
“Rumah kosong, Kak. Nggak ada apa-apa. Aku ikut liat waktu serah terima.”
Lima. Teh.
Dua ratus dua puluh tiga hari.
Aku sudah menghitungnya bulan lalu dan aku menghitungnya lagi, dan angkanya bertambah, dan itu membuatku berdiri di dapur selama satu menit penuh dengan gelas di tangan.
Aku menyusun kelimanya di kepala dan aku punya penjelasan untuk semuanya, dan penjelasan itu bagus.
Dia orang yang memperhatikan. Itu pekerjaannya. Dia dibayar untuk melihat hal yang salah sebelum orang lain melihatnya — dia sendiri yang bilang begitu waktu foto prewedding, dan aku ingat karena waktu itu aku pikir itu keren.
Orang seperti itu akan menyadari istrinya tidak makan bawang goreng dalam dua minggu. Itu bukan cinta, itu profesi.
Dan AC dua puluh dua itu kesepakatan. Orang yang menepati kesepakatan bukan orang yang jatuh cinta, orang yang menepati kesepakatan adalah orang yang tidak suka mengubah kesepakatan.
Dan jemuran itu karena dia tidak tahan melihat sesuatu tidak selesai.
Dan lampu meja itu mungkin dibelikan Tante Ratih.
Semua penjelasanku bagus.
Aku menyadari betapa bagusnya penjelasanku sekitar hari kesepuluh, waktu aku sedang menyusun penjelasan keenam untuk hal keenam, dan aku berhenti di tengah dan berpikir:
Kenapa aku kerja sekeras ini?
Aku editor. Kalau ada penulis mengirim naskah di mana satu tokoh melakukan enam hal yang semuanya mengarah ke satu kesimpulan, dan tokoh lain punya enam penjelasan alternatif untuk semuanya, aku akan menulis di pinggirnya: dia tahu. dia cuma belum mau.
Aku menutup laptop dan tidak melanjutkan pikiran itu.
Tapi malamnya aku melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada melanjutkan.
Aku menelepon Rena.
“Kak Evelyn? Tumben.”
“Ren, aku mau nanya.”
“Nanya apa?”
Dan di situ aku berhenti, karena aku tidak tahu apa yang sedang kutanyakan.
“Kak?”
“Mas Azzam dulu pernah pacaran nggak?”
Hening.
Hening yang panjangnya sekitar dua setengah detik, dan aku menghitungnya, dan dua setengah detik untuk pertanyaan sesederhana itu adalah data.
“Nggak pernah, Kak.”
“Nggak pernah sama sekali?”
“Setau aku enggak.”
“Umur dua puluh sembilan?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Ya... “ Rena tertawa, dan tawanya juga tidak benar. “Mas Azzam sibuk, Kak. Dia dari kuliah udah kerja.”
“Rena.”
“Aku beneran nggak tau, Kak.”
Dan aku, yang seumur hidup dibayar untuk mendengar kalimat yang tidak nyambung, mendengar kalimat itu tidak nyambung dan memutuskan untuk tidak menariknya.
“Ya udah,” kataku. “Nggak apa-apa.”
“Kak Evelyn.”
“Hm?”
“Kenapa nanya?”
“Nggak apa-apa. Iseng.”
Kami menutup telepon, dan lima menit kemudian ponselku bergetar.
Rena:kak
Rena:jangan tanya aku lagi ya soal itu
Rena:maaf
Aku menatap tiga pesan itu selama mungkin dua menit.
Lalu aku mengetik oke Ren, maaf ya, dan menutup ponsel, dan tidak membukanya lagi malam itu.
Hari Rabu aku beli krim tangan.
Aku sedang di apotek untuk hal lain — vitamin, sisa dari waktu dia sakit — dan aku lewat rak itu dan berhenti.
Aku berdiri di depan rak itu mungkin tiga menit.
Aku pernah menjanjikan ini. Aku ingat kapan: di jembatan, waktu foto prewedding, waktu dia bilang tangannya kasar karena kerja dan aku bilang nanti aku belikan.
Sembilan bulan lalu.
Aku tidak pernah membelinya. Dia tidak pernah mengingatkan.
Aku mengambil yang paling mahal, lalu menaruhnya lagi dan mengambil yang sedang, karena kalau terlalu mahal dia akan bertanya, dan pertanyaan itu akan membawa ke pertanyaan lain yang tidak siap kujawab.
Aku menaruhnya di meja makan malam itu tanpa bilang apa-apa.
Dia pulang jam delapan, melihat kantong plastik apotek, dan mengeluarkan isinya.
“Ini apa?”
“Vitamin.”
“Yang satu lagi?”
“Krim.”
Dia mengangkat botol kecil itu.
“Buat apa?”
“Buat tangan kamu.”
Dan dia berdiri di meja makan dengan botol itu di tangan dan tidak bilang apa-apa selama sekitar empat detik, dan empat detik itu terlalu lama untuk botol krim seharga tujuh puluh ribu.
“Kamu inget?” katanya.
“Inget apa?”
“Nggak apa-apa.”
Dia menaruhnya di rak dekat wastafel.
“Makasih,” katanya.
“Iya.”
Dan itu selesai, dan kami makan, dan dia bercerita soal Fikri anak buahnya yang akhirnya berhenti mengirim foto staking setiap hari karena masa hukumannya habis, dan aku tertawa.
Tapi dua hari kemudian aku memperhatikan bahwa botol itu sudah pindah dari rak wastafel ke laci meja kerjanya.
Dan tiga hari setelahnya sudah pindah lagi, ke tasnya.
Dia membawanya ke proyek.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan informasi itu, jadi aku tidak melakukan apa-apa.
Sekarang bagian yang tidak enak, dan aku akan menuliskannya karena kalau tidak, semua ini jadi bohong.
Sabtu itu aku mengirim pesan ke Ernest.
Tidak ada pemicunya. Tidak ada yang terjadi. Itu Sabtu biasa, aku sedang menunggu cucian, Mas Azzam ke proyek karena ada opname.
Nest, aku boleh nanya sesuatu?
Dibaca jam sebelas.
Dibalas jam dua.
Ernest:apa
Satu kata, tanpa tanda tanya.
Dan aku duduk di ruang tengah rumah tempat seseorang menyeduhkan teh untukku dua ratus dua puluh tiga pagi berturut-turut, memegang ponsel, dan merasakan yang sama seperti sembilan bulan lalu.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur karena orang selalu mengira perasaan itu digantikan. Bahwa kalau kamu mulai memperhatikan orang baru, yang lama otomatis pudar.
Tidak.
Dua-duanya ada di ruangan yang sama, jam dua siang hari Sabtu, dan tidak ada yang berkurang sedikit pun.
Yang berubah cuma satu hal.
Untuk pertama kalinya, sesudah menerima balasan satu kata itu, ada bagian kecil di kepalaku yang bertanya:
Kalau Mas Azzam yang aku chat, dia bakal bales berapa lama?
Dan aku tahu jawabannya, dan aku tidak menyukai apa yang jawaban itu artinya, jadi aku menutup ponsel dan pergi mengangkat cucian.
Cuciannya sudah kering.
Aku berdiri di halaman belakang dengan jemuran yang seharusnya kuangkat empat jam lalu, dan aku mengangkatnya sendiri untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, dan melipatnya di ruang tengah, dan menaruhnya di lemari.
Aku memisahkan bajunya dan bajuku.
Aku menggantung kemejanya sesuai warna, karena begitulah dia menggantungnya, dan aku baru sadar bahwa dia menggantungnya sesuai warna sambil melakukannya.
Malamnya dia pulang jam delapan dan berhenti di depan lemari.
“Kamu yang angkat?”
“Iya.”
“Oh.”
Dia berdiri di situ sebentar.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa.”
“Aku salah lipat ya.”
“Enggak.”
“Bilang aja kalau salah.”
“Evelyn.” Dia menutup lemari. “Nggak salah.”
Dia masuk ke kamar mandi, dan aku duduk di tepi ranjang dan mendengar air menyala, dan aku menyadari bahwa aku baru saja berdiri di depan lemari menunggu penilaian atas cara melipat handuk seperti anak SD yang mau dinilai gambarnya.
Aku belum pernah begitu ke siapa pun.
Bahkan ke Ernest.
Aku memikirkan itu selama tiga puluh detik penuh dan kemudian melakukan hal yang paling kukuasai di dunia, yaitu menutupnya, dan mengambil laptop, dan bekerja sampai jam sebelas.
Ada satu hal lagi dari minggu itu yang belum kutulis, dan aku menyimpannya di akhir karena ini yang paling tidak bisa kujelaskan.
Hari Jumat, Vira menelepon dari Bandung.
“Vie, aku pulang Selasa. Ketemu ya.”
“Iya.”
“Kamu gimana?”
“Baik.”
“Baik beneran atau baik yang kamu?”
“Vir.”
“Oke, oke.” Ada suara kereta di belakangnya. “Eh, aku mau nanya. Kamu inget nggak, dulu waktu resepsi kamu, ada temen suamimu yang gendut agak botak?”
“Mas Yudha.”
“Nah. Dia tuh nyamperin aku pas lagi antre makan, terus dia nanya aku sahabatnya kamu ya, aku bilang iya.”
“Terus?”
“Terus dia bilang satu kalimat terus pergi.”
Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain.
“Bilang apa?”
“Dia bilang: ‘Tolong jagain Azzam ya.’”
Aku berhenti berjalan di tengah lorong kantor.
“Aku waktu itu bingung,” lanjut Vira. “Aku pikir salah denger. Kan harusnya kebalik. Kan aku sahabatnya kamu, harusnya dia bilang jagain Evelyn.”
“Iya.”
“Aneh nggak sih?”
“Iya.”
“Ya udah, mungkin dia mabuk.”
“Di resepsi nggak ada minum, Vir.”
“Ya mungkin dia orangnya emang gitu.”
Kami menutup telepon.
Aku berdiri di lorong kantor itu memegang ponsel dan berpikir tentang seorang laki-laki yang mendatangi sahabat pengantin perempuan di antrean makan, di hari pernikahan sahabatnya sendiri, dan meminta tolong untuk menjaga pengantin prianya.
Ada penjelasan untuk itu juga.
Aku menyusunnya di lift. Mungkin Mas Yudha tahu Mas Azzam terlalu sering lembur. Mungkin dia khawatir soal kesehatannya. Mungkin dia cuma canggung dan salah ngomong.
Penjelasan-penjelasanku bagus lagi.
Tapi malam itu, di tempat tidur, dengan dia sudah tidur di sisi lain dan guling di tengah yang selalu kembali ke tengah tiap pagi, aku berbaring dengan mata terbuka dan menghitung sesuatu yang tidak pernah kuhitung sebelumnya.
Sepuluh bulan.
Sepuluh bulan aku tinggal serumah dengan orang ini, dan aku bisa menyebutkan lima hal yang dia lakukan untukku setiap hari.
Dan aku tidak bisa menyebutkan satu pun hal yang pernah dia minta.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil reading
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis