← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Twenty Seven

Dua Puluh Halaman Kosong

POV: Evelyn


Ulang tahunku hari Kamis, dan sepanjang enam hari sebelumnya kami sangat sopan.

Bukan dingin. Itu yang aneh. Kami tidak berhenti bicara, tidak ada pintu yang dibanting, tidak ada satu pun tanda dari luar bahwa ada yang salah.

Kami cuma jadi sangat sopan.

“Aku duluan ya.”

“Iya, hati-hati.”

“Kamu mau dibeliin apa?”

“Terserah.”

“Oke.”

Enam hari begitu. Dan aku berhenti menyetrika, berhenti menunggu sampai jam sembilan, berhenti masak lima kali seminggu, karena aku sudah bilang aku akan berhenti dan aku orang yang menepati.

Dia menyeduh dua gelas setiap pagi seperti biasa.

Kamis pagi, gelasku ada di meja seperti biasa, dengan tutup di atasnya.

Dan di sebelahnya ada kertas kecil.

Nanti malam jangan makan duluan.

Itu saja. Tidak ada “selamat ulang tahun”, tidak ada apa pun.

Aku membacanya lima kali di dapur jam enam pagi.


Rena menelepon jam sembilan.

“KAK SELAMAT ULANG TAHUN.”

“Makasih, Ren.”

“Kakak udah dikasih apa sama Mas?”

“Belum.”

“Belum?”

“Katanya nanti malam.”

“OH.” Suaranya berubah jadi sesuatu yang terlalu ceria. “Oke. Oke oke oke.”

“Rena.”

“Apa.”

“Kamu tau sesuatu.”

“Nggak tau apa-apa.”

“Rena.”

“Kak, aku beneran nggak tau isinya.” Dia menurunkan suara. “Aku cuma tau dia nyariin sesuatu tiga minggu terakhir. Dia telepon percetakan dua kali.”

“Percetakan?”

“Iya.”

“Buat apa?”

“Aku nggak tau, Kak. Sumpah.” Jeda. “Tapi Kak.”

“Hm?”

“Dia nyari itu bukan tiga minggu ini doang.”

Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain.

“Maksudnya?”

“Dia nyimpen sesuatu di laci meja kamarnya di rumah Mama,” kata Rena. “Dari dulu. Aku pernah liat waktu SMP terus dia marah banget. Aku baru sadar tiga minggu lalu waktu dia pulang ke rumah dan ngambil laci itu.”


Aku duduk di meja kantorku dan mencoba mengingat.

Laci meja kamarnya. Rumah Tante Ratih. Sesuatu yang disimpan sejak SMP, yang membuatnya marah besar waktu Rena menemukannya.

Aku menghabiskan empat puluh menit mencoba mengingat apa yang pernah kuberikan kepada Mas Azzam seumur hidupku.

Aku tidak bisa menemukan apa pun.

Aku memberi kartu ucapan waktu dia wisuda. Itu dari dua keluarga, ditandatangani semua orang, dan aku cuma menulis namaku.

Aku pernah memberi kue lebaran. Itu dari Mama.

Sembilan tahun dan aku tidak bisa menemukan satu pun benda yang pernah kuberikan kepadanya atas namaku sendiri.

Sementara di laci meja kamarnya ada sesuatu yang dia jaga sejak SMP.


Aku bekerja setengah hari dan tidak menyelesaikan apa pun.

Vira mengirim empat puluh pesan berisi stiker dan satu voice note delapan menit yang isinya menyanyi. Mama menelepon. Papa mengirim pesan berisi satu kalimat, Selamat ulang tahun, Nak. Sehat terus, yang kubaca enam kali.

Tante Ratih mengirim foto kue dengan tulisan namaku yang salah eja.

Aku pulang jam enam.

Rumah kosong.

Aku mandi, ganti baju, dan duduk di ruang tengah, dan aku menyadari bahwa aku gugup — gugup seperti orang yang mau ujian, yang tidak masuk akal sama sekali untuk ulang tahun ke dua puluh delapan.

Dia pulang jam tujuh lewat.


Tidak ada balon. Tidak ada lilin. Tidak ada kejutan.

Dia masuk membawa dua kantong plastik dan satu bungkusan yang dibungkus kertas cokelat biasa, jenis yang dipakai orang membungkus paket.

“Kamu udah makan?”

“Belum.”

“Bagus.”

Dia mengeluarkan isi kantong plastik itu di meja: nasi uduk dari warung Bu Yang Itu, lengkap, plus tambahan telur dadar yang biasanya kami rebutkan.

“Ini yang kamu bawa?” tanyaku.

“Iya.”

“Nasi uduk.”

“Iya. Kenapa?”

“Enggak.” Aku duduk. “Bagus.”

Kami makan.

Dan makan malam itu adalah makan malam pertama dalam enam hari yang tidak sopan. Dia mengeluh soal Pak Sar yang lagi-lagi menawarkan jalan pintas, dan aku bercerita soal penulis yang mengirim naskah baru tujuh ratus halaman dan bilang “ini udah dipotong, Mbak.”

“Dari berapa?”

“Delapan ratus.”

Dia tertawa, dan aku tertawa, dan sesuatu di dadaku yang sudah mengeras selama enam hari melunak sedikit.

Lalu dia menaruh bungkusan cokelat itu di meja.


“Ini apa?”

“Buka aja.”

Bentuknya persegi panjang, tipis, berat. Buku.

Aku membuka lem kertasnya hati-hati karena aku selalu membuka bungkusan hati-hati.

Sampulnya keras. Warna gading. Tidak ada gambar.

Di tengahnya, dicetak, huruf kecil:

Rumah yang Belum SelesaiEvelyn Sastrawidjaya


Aku tidak bergerak selama beberapa detik.

Lalu aku membukanya.

Halaman pertama, ketikan rapi, ukuran huruf yang benar, margin yang benar. Bab satu. Kalimat pertamanya kalimat yang kutulis waktu umur tujuh belas tahun, dan aku ingat menulisnya, dan aku ingat mengganti kata ketiganya empat kali.

Aku membalik.

Bab dua. Bab tiga. Bab empat.

Tulisan tangan aslinya bukan ini. Aslinya di buku tulis bergaris, tulisan tangan, tinta biru, sembilan puluh empat halaman.

Ini sudah diketik. Semuanya. Dari awal sampai akhir.

Aku terus membalik.

Bab lima. Bab enam. Bab tujuh berhenti di tengah kalimat, karena aku memang berhenti di tengah kalimat.

Dan setelah itu—

Halaman kosong.

Aku membalik lagi. Kosong. Lagi. Kosong.

Dua puluh halaman kosong, dijilid, dengan nomor halaman yang tetap dicetak di sudut bawah.

Sampai halaman terakhir.


“Mas.”

Suaraku tidak keluar dengan benar.

“Ini—“

“Kamu titipin ke aku kelas tiga,” katanya.

Dia sedang memandangi gelasnya, bukan aku.

“Kamu bilang ‘baca ya, tapi jangan ketawa.’” Dia mengangkat bahu sedikit. “Terus kamu nggak pernah minta balik.”

“Aku lupa.”

“Iya. Aku tau.”

Aku memegang buku itu dengan dua tangan.

“Kamu nyimpen ini sembilan tahun?”

Dan dia diam sepersekian detik terlalu lama, dan lalu bilang, “Ya, kesimpen aja.”

Kesimpen aja.

Aku menatap punggung buku itu. Dijilid dengan benar. Kertasnya bukan kertas HVS, ini kertas buku, yang lebih kuning dan lebih tebal. Sampulnya keras. Namaku dicetak.

Ini tidak “kesimpen aja.”

Ini seseorang yang mengetik ulang sembilan puluh empat halaman tulisan tangan anak SMA.

“Kenapa halaman belakangnya kosong?” tanyaku.

“Karena belum selesai.”

“Bisa dipotong.”

“Bisa.”

“Terus kenapa nggak dipotong?”

Dia mengangkat kepala.

“Karena kalau dipotong, kelihatannya kayak udah selesai,” katanya. “Padahal enggak.”


Aku menaruh buku itu di meja.

Aku berdiri.

Dan aku berjalan mengelilingi meja makan itu, dan aku tidak ingat memutuskan untuk melakukannya, dan aku ingin sekali bisa menuliskan bahwa aku memikirkannya dulu.

Aku tidak memikirkannya.

Dia berdiri dari kursinya waktu aku sampai, mungkin karena dia pikir aku mau lewat.

Dan aku memegang kerah kemejanya dengan dua tangan dan menciumnya.


Aku tidak tahu berapa lama. Aku, yang menghitung semuanya, tidak tahu berapa lama.

Yang kuingat: dia tidak bergerak selama dua detik pertama.

Dua detik itu bukan penolakan. Aku tahu bedanya. Itu dua detik orang yang sedang memastikan apa yang sedang terjadi kepadanya benar-benar terjadi.

Lalu satu tangannya naik ke belakang kepalaku dan dia membalas, dan bunyi yang keluar dari dadanya bukan bunyi yang pernah kudengar dari siapa pun seumur hidupku.

Kursi bergeser di lantai. Aku tidak tahu kursi siapa.

Dan lalu aku mundur.


Kami berdiri berhadapan di dapur dengan jarak setengah meter.

Dan aku, dalam empat detik itu, mengalami sesuatu yang belum pernah kualami.

Aku panik.

Bukan panik karena aku menciumnya. Panik karena aku tidak tahu apa yang barusan kulakukan, dan aku selalu tahu apa yang kulakukan.

Aku orang yang menyiapkan empat kalimat dan tiga skenario cadangan. Aku orang yang menghitung sebelas menit di panggung waktu umur tiga belas. Aku orang yang menulis satu kalimat berulang-ulang di kertas HVS sampai tanganku hafal karena aku tidak mau salah.

Dan barusan tubuhku berdiri dari kursi, berjalan mengelilingi meja, dan melakukan sesuatu tanpa berkonsultasi denganku sama sekali.

Empat detik itu bukan penyesalan.

Empat detik itu adalah aku mencari kalimat, dan tidak menemukan satu pun, karena semua kalimat yang tersedia mengandung informasi yang sudah kujanjikan tidak akan kuucapkan.

Napasku kacau. Napasnya juga.

Napasku kacau. Napasnya juga.

“Mas—“

“Evelyn.”

“Aku—“

Dan aku berhenti, karena aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimat itu.

Aku tidak bisa bilang “aku nggak sengaja,” karena itu bohong dan itu akan menghancurkannya.

Aku tidak bisa bilang “aku sengaja,” karena aku tidak sengaja. Aku benar-benar tidak. Tubuhku bergerak duluan dan otakku menyusul empat detik kemudian.

Dan aku tidak bisa bilang alasan yang sebenarnya, karena alasan yang sebenarnya adalah aku tahu, dan aku sudah janji tidak akan bilang.

Wajahnya berubah waktu aku diam terlalu lama.

Aku melihatnya berubah. Aku melihat sesuatu naik ke matanya lalu ditarik kembali, cepat sekali, dalam waktu kurang dari satu detik, seperti orang yang sudah punya banyak latihan.

“Nggak apa-apa,” katanya.

“Mas, bukan—“

“Nggak apa-apa, Evelyn.” Dia mundur setengah langkah dan mengambil piring dari meja. “Ulang tahun. Emosi. Wajar.”

“Itu bukan—“

“Aku cuci piring dulu.”

Dan dia berjalan ke bak cuci dan menyalakan air.


Aku berdiri di dapur itu selama mungkin satu menit penuh, dengan punggungnya menghadapku dan air mengalir.

Lalu aku mengambil buku itu dari meja dan masuk ke kamar.

Aku duduk di lantai bersandar ke ranjang dan membukanya lagi, dan aku membacanya dari halaman pertama sampai halaman tempat aku berhenti di tengah kalimat sembilan tahun lalu.

Tulisannya jelek. Tulisan anak tujuh belas tahun yang belum tahu apa-apa.

Ada satu paragraf di bab empat yang begitu jelek sampai aku tertawa dan menangis di detik yang sama.

Ada satu hal lagi yang baru kutemukan sekitar jam sebelas malam, dan yang membuatku duduk tegak di lantai itu.

Di halaman terakhir yang ada tulisannya, di bawah kalimat yang berhenti di tengah, ada catatan kaki kecil.

Ukurannya lebih kecil dari teks. Dicetak, jadi sengaja.

hlm. 94 — tulisan asli berhenti di sini. tidak ada halaman yang hilang.

Aku membacanya empat kali.

Itu bukan kalimat untuk pembaca.

Itu kalimat editor. Itu jenis catatan yang ditulis orang di naskah supaya siapa pun yang membaca nanti tidak mengira ada bagian yang tercecer.

Dia tidak cuma mengetik ulang.

Dia mengerjakannya seperti orang mengerjakan naskah orang lain. Dia memikirkan pembaca yang mungkin tidak akan pernah ada.

Dan waktu aku sampai ke dua puluh halaman kosong itu, aku berhenti dan menaruh telapak tangan di atasnya.

Aku menghitung.

Sembilan puluh empat halaman. Kalau satu halaman diketik lima menit, itu delapan jam. Kalau sepuluh menit karena harus membaca tulisan tangan anak SMA yang berantakan, enam belas jam.

Enam belas jam.

Dan dia bilang “kesimpen aja.”

Aku duduk di lantai kamar itu dengan buku yang bernama namaku dan air masih mengalir di dapur, dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa terus begini.

Bahwa suatu saat aku harus bilang.

Dan bahwa aku tidak tahu caranya, dan bahwa setiap hari aku tidak tahu caranya, dia mengira dirinya sedang ditolak dengan sopan.