Chapter Fourteen
Simpan Saja
POV: Azzam
Ada waktu sekitar dua puluh detik antara mesin mati dan pintu terbuka.
Dua puluh detik itu cukup untuk banyak hal. Cukup untuk membawa kardus itu ke gudang dan menaruhnya di sudut. Cukup untuk menyembunyikannya di balik sofa. Cukup, kalau aku cepat, untuk masuk ke kamar dan menutup pintu dan keluar lagi lima menit kemudian seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku sudah menghitung ketiganya sebelum detik kelima.
Aku tidak melakukan satu pun.
Aku berdiri di tengah ruang tengah dengan kardus sepatu di tangan, menghadap pintu, dan menunggu.
Aku sudah memikirkan alasannya berkali-kali sesudahnya dan aku tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Yang paling dekat begini: aku sudah menyembunyikan satu hal darinya selama sembilan tahun, dan aku tidak sanggup menambah satu lagi di hari yang sama aku menemukan alasan kenapa dia tidak bisa membuang kardusnya.
Pintu terbuka.
Dia masuk sambil melepas sepatu, tas di satu bahu, ponsel di tangan, sedang mengetik sesuatu.
“Mas, rapatnya batal, jadi aku—“
Dia mengangkat kepala.
Aku pernah melihat orang kehilangan warna di wajah. Di proyek, tahun kedua, ada tukang yang jatuh dari lantai dua dan mandornya berdiri di bawah dan aku melihat wajah orang itu berubah dalam waktu kurang dari satu detik.
Ini seperti itu.
Ponselnya masih di tangan, jempolnya masih di posisi mengetik.
“Itu—“
Dia berhenti.
Tasnya masih di bahu. Satu sepatu sudah lepas, satu lagi belum. Dia berdiri di keset dengan posisi tubuh orang yang berhenti di tengah gerakan.
Aku melihat dia mencari sesuatu untuk dikatakan. Aku melihatnya, dari jarak empat meter, dan aku tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya karena aku sudah menghabiskan dua puluh tahun mengamati wajah itu.
Dia sedang menyusun kalimat pertama.
Dan setiap kalimat yang ada di sana buruk. Itu barang lama. Buruk. Aku bisa jelasin. Lebih buruk. Kok kamu buka? Yang ini yang paling ingin dia pakai, karena ini menyerang, dan menyerang lebih aman daripada menjelaskan, dan aku tahu dia tahu itu.
Aku tidak akan membiarkan dia memilih.
Karena apa pun yang dia pilih, dia harus tinggal bersama pilihan itu, di rumah ini, denganku, mulai malam ini.
“Ini kejatuhan,” kataku.
Suaraku keluar biasa saja. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi keluarnya biasa saja.
“Aku ambil kipas angin, kesenggol raknya. Isinya keluar.” Aku mengangkat kardus itu sedikit. “Aku masukin lagi.”
Dia tidak bergerak.
“Kamu—“
“Aku nggak baca kartunya.”
Itu keluar terlalu cepat, dan aku langsung tahu itu kesalahan, karena orang yang tidak melihat apa-apa tidak tahu ada kartu.
Sesuatu di wajahnya berubah lagi.
Sepatunya yang kedua lepas. Dia menaruh tas di lantai, tidak di kursi, di lantai, dan berjalan sampai jarak dua meter dan berhenti.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu liat semuanya?”
Aku bisa berbohong lagi. Sudah ada satu di ruangan ini, dan yang kedua selalu lebih mudah.
“Iya,” kataku.
Dia menutup mata.
Dan yang terjadi berikutnya bukan yang kuduga.
Aku sudah menyiapkan diri untuk marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk tangis, untuk penjelasan panjang, untuk permintaan maaf yang tidak kubutuhkan.
Aku bahkan sudah menyiapkan jawabanku untuk masing-masing.
Kalau dia marah: Nggak apa-apa. Kalau dia menangis: Nggak apa-apa. Kalau dia menjelaskan: Nggak apa-apa.
Tiga kemungkinan, satu jawaban. Aku menyiapkannya di dua puluh detik antara mesin mati dan pintu terbuka, dan aku merasa sangat siap.
Yang dia lakukan adalah mengulurkan tangan.
“Sini,” katanya. “Biar aku yang taruh.”
Suaranya datar. Sopan. Suara orang yang meminta stapler di kantor.
Dan aku sadar, berdiri di situ dengan kardus di tangan, bahwa ini bukan orang yang sedang ketahuan.
Ini orang yang sedang mengambil alih kendali dengan cara satu-satunya yang tersisa: dengan menjadikan seluruh kejadian ini sesuatu yang biasa.
Aku tidak memberikannya.
Aku berjalan melewatinya, ke arah gudang, dan dia mengikuti dua langkah di belakangku.
Aku menaruh kardus itu di sudut.
Lalu aku melakukan sesuatu yang kupikirkan berkali-kali sesudahnya, dan yang setiap kali kuputuskan akan kulakukan lagi, dan yang setiap kali membuatku ingin sekali kembali dan menghentikan diriku sendiri.
Aku menggeser dua kardus besar itu ke depan.
Aku memutar kardus sepatunya sehingga selotipnya menghadap dinding.
Aku menggeser karung dua puluh sentimeter ke kiri, seperti enam minggu lalu.
Aku mundur ke pintu dan mengeceknya dari sana.
Lalu aku berbalik dan bilang, “Simpan saja.”
Dia berdiri di lorong sempit itu dan menatapku.
“Apa?”
“Nggak usah dibuang.” Aku menutup pintu gudang. “Beneran.”
“Mas—“
“Kalau kamu mau taruh di tempat lain juga nggak apa-apa. Di lemari kamar juga bisa, di atas ada ruang.” Aku melewatinya menuju dapur. “Kamu mau makan? Aku belum masak apa-apa. Ada nasi uduk dari kemarin tapi udah keras.”
Aku membuka kulkas.
Aku membuka kulkas karena aku tidak sanggup melihat wajahnya lebih lama, dan karena kulkas adalah satu-satunya benda di rumah itu yang bisa kubuka tanpa alasan.
Di belakangku, hening.
Cukup lama.
Lalu aku mendengar dia bernapas keluar. Panjang. Panjang sekali, seperti orang yang baru turun dari sesuatu.
“Ada telur,” katanya.
“Berapa?”
“Empat. Aku beli Rabu.”
“Ya udah, telur.”
“Aku bantu.”
“Nggak usah.”
“Aku bantu, Mas.”
Dan dia berdiri di sebelahku di dapur dan mengeluarkan empat telur dan memecahkannya ke mangkuk, dan tangannya sedikit bergetar untuk dua telur pertama dan sudah tidak untuk dua terakhir.
Kami menggoreng telur.
Dia terlalu banyak memasukkan garam dan menyadarinya setelah butirnya masuk semua.
“Aduh.”
“Kenapa?”
“Kegaraman.”
“Berapa?”
“Nggak tau. Aku nggak liat.”
Aku mengambil mangkuknya, menuangkan setengahnya ke mangkuk kedua, memecahkan dua telur lagi dari kulkas, dan mengocoknya.
“Nah,” kataku. “Sekarang dua porsi.”
Dia menatap dua mangkuk itu.
“Kamu ini kalau ada masalah langsung ada solusinya ya.”
“Ini telur, Evelyn.”
“Aku tau ini telur.” Dia mengambil satu mangkuk. “Tapi tetep.”
Kami menggoreng dua-duanya dan tidak ada satu pun yang keasinan, dan aku ingin menuliskan bahwa itu terasa seperti kemenangan kecil, dan memang begitu, dan itu justru bagian yang paling salah dari hari itu.
Kami makan.
Dia bercerita soal rapat yang batal, dan soal bosnya yang membatalkannya lewat pesan suara sepanjang delapan menit, dan dia menirukan pesan suara itu, dan tirunya masih jelek.
Aku tertawa.
Aku benar-benar tertawa. Itu yang paling aneh. Aku tidak sedang berakting.
Sore itu dia membersihkan seluruh dapur.
Bukan mencuci piring. Membersihkan. Rak bumbu diturunkan semua, dilap, dinaikkan lagi. Kompor dilepas tatakannya. Isi kulkas dikeluarkan, tanggal kedaluwarsa dicek satu-satu, dua botol dibuang.
Tiga jam.
Aku menawarkan bantuan dua kali dan dua-duanya ditolak.
Waktu selesai, dia berdiri di tengah dapur yang bersih dengan tangan di pinggang dan bilang, “Nah.”
“Nah apa?”
“Nah aja.”
Aku duduk di meja makan dan menontonnya.
Ada perempuan yang membersihkan dapur karena dapurnya kotor. Ada perempuan yang membersihkan dapur karena dia perlu tiga jam di mana tangannya sibuk dan wajahnya menghadap ke arah lain.
Aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu yang mana.
Dan aku tidak melakukan apa-apa soal itu, karena aturan nomor satu sampai enam semuanya berlaku, dan aku sudah menulisnya sendiri, dan aku patuh sekali pada aturan yang kutulis sendiri.
Malamnya, setelah lampu dimatikan, dia bicara dari sisi lain guling.
“Mas.”
“Hm.”
“Makasih ya.”
Aku menatap langit-langit.
“Buat apa.”
“Buat... ya. Tadi.”
“Nggak ada apa-apa tadi.”
“Mas.”
“Iya?”
Dia diam agak lama.
“Kamu tuh baik banget,” katanya. “Kadang aku bingung sendiri.”
“Bingung kenapa?”
“Nggak tau. Bingung aja.”
Dia berbalik menghadap jendela, dan dalam tiga menit napasnya sudah berubah.
Tiga menit.
Aku ingin itu tercatat dengan angka yang benar. Tiga menit.
Enam minggu lalu, waktu dia bilang dia selalu merasa punya utang ke semua orang, dia butuh sebelas menit untuk tidur.
Malam ini, setelah suaminya menemukan kardus barang mantannya di rumah mereka sendiri, dia tidur dalam tiga.
Aku berbaring terjaga sampai jam dua.
Selama satu jam pertama aku menyusun pembelaan.
Aku pandai menyusun pembelaan. Aku sudah melakukannya tujuh tahun untuk keputusan proyek yang buruk, dan pola pikirnya sama persis: kumpulkan alasan, urutkan dari yang paling kuat, sajikan.
Kalau aku marah, dia bakal ngerasa bersalah.Kalau dia ngerasa bersalah, dia bakal nutup diri.Kalau dia nutup diri, aku kehilangan semuanya.
Tiga baris. Rapi. Tidak ada satu pun yang salah secara logika.
Dan di jam kedua aku menemukan lubangnya.
Ketiga baris itu berangkat dari asumsi yang sama: bahwa satu-satunya hal yang bisa kutawarkan ke perempuan ini adalah tidak merepotkannya.
Bukan mencintainya. Tidak merepotkannya.
Aku sudah menikahi orang dan aku masih menawar seperti orang yang minta izin lewat.
Dan di suatu titik di antara jam satu dan jam dua, aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi hari itu, dan pengertian itu datang dengan sangat pelan dan sangat lengkap, seperti air yang naik.
Dia lega.
Bukan lega karena aku tidak marah.
Dia lega karena dia sekarang punya bukti.
Selama empat bulan dia menebak-nebak apakah aku menginginkan sesuatu darinya. Dia mengamati aku seperti aku mengamati dia, dan dia mengumpulkan data: aku tidur di sofa tiga minggu, aku tidak pernah bertanya, aku tidak pernah menyentuhnya, aku tidak pernah menuntut apa pun.
Dan hari ini dia mendapat bukti terakhir.
Suaminya menemukan kardus berisi barang laki-laki lain di rumahnya sendiri, merapikannya, mengembalikannya, dan menyuruhnya menyimpannya.
Tidak ada laki-laki yang mencintai istrinya melakukan itu.
Itu kesimpulan yang benar. Itu kesimpulan yang akan diambil siapa pun. Aku sendiri akan mengambil kesimpulan itu kalau aku dia.
Aku baru saja memberinya bukti paling meyakinkan yang pernah dia terima bahwa aku tidak mencintainya, dan aku memberikannya dengan tangan yang gemetar karena berusaha jadi lembut.
Aku berbaring di sebelahnya di kegelapan dan menyadari bahwa dua kata yang paling baik yang pernah kuucapkan seumur hidupku baru saja mendarat sebagai dua kata yang paling dingin.
Dan aku tidak bisa membetulkannya besok pagi.
Kalau aku menarik kembali, dia akan tahu semuanya, dan dia akan mulai hati-hati padaku, dan tiga menit tadi akan kembali jadi sebelas menit selamanya.
Ada satu momen, sekitar jam setengah dua, di mana aku hampir membangunkannya.
Aku sudah setengah duduk. Tanganku sudah di guling. Aku sudah menyusun kalimat pembukanya, dan kalimat pembukanya cuma dua kata, dan dua kata itu cukup untuk membatalkan semua yang kubangun sejak Bab pertama hidupku bersamanya.
Evelyn, bangun.
Dia bergerak sedikit dalam tidurnya dan menarik selimut, dan itu saja yang diperlukan.
Aku berbaring kembali.
Aku sudah memikirkan malam itu ratusan kali sesudahnya. Bukan malam Sabtu di gudang, bukan hari di kafe, bukan hari terakhir. Malam ini. Jam setengah dua, tangan di guling, dua kata.
Itu titik di mana semuanya masih bisa berbeda, dan itu satu-satunya titik yang tidak diketahui siapa pun kecuali aku.
Jadi aku diam.
Aku diam, dan besok paginya aku menyeduh dua gelas seperti biasa, dan dia bilang terima kasih seperti biasa, dan tidak satu pun dari kami yang menyebut hari Sabtu itu lagi selama enam bulan berikutnya.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja reading
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis