← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Twenty Six

Aku Nggak Butuh Dikasihani

POV: Azzam


Aku mandi lama malam itu.

Bukan karena kotor. Karena aku butuh dua puluh menit di ruangan di mana tidak ada yang bisa melihat wajahku.

Begini isi kepalaku waktu itu, dan aku akan menuliskannya persis seperti bentuknya, bukan bentuk yang lebih adil.

Dua belas hari lalu istriku pulang dari menemui laki-laki lain, dan aku menjemputnya dalam hujan, dan aku tidak bertanya apa pun.

Sejak hari itu dia berubah total.

Dia masak lima kali seminggu. Dia menyetrika kemejaku dua kali dalam sepuluh hari padahal kemejanya tidak kotor. Dia menunggu sampai jam sembilan supaya bisa makan bersama. Dia membeli kopi mahal dan menaruhnya di rak tanpa bilang apa-apa.

Dan malam ini dia tahu aku bangun jam lima.

Aku berdiri di bawah air dan menyusun urutannya, dan urutannya cuma bisa dibaca satu cara.

Perempuan itu merasa bersalah.

Dan orang yang merasa bersalah membayar.

Aku sudah menghabiskan sembilan tahun memastikan dia tidak pernah punya utang kepadaku. Itu satu-satunya hal yang benar-benar kujaga. Aku menaruh guling di tengah tiap pagi. Aku bilang simpan saja. Aku bilang kamu nggak perlu buru-buru.

Semua itu untuk satu tujuan: supaya dia tidak pernah merasa harus membalas apa pun.

Dan sekarang dia menyetrika kemejaku.


Aku keluar jam setengah sembilan.

Dia sudah menyiapkan makanan. Dia duduk di meja dengan dua piring dan lauk yang jelas dimasak, bukan dibeli, dan dia sudah mandi dan rambutnya masih basah yang artinya dia mandi setelah masak, yang artinya dia masak dalam keadaan capek.

“Ayo makan.”

Aku duduk.

Kami makan sepuluh menit dan dia bertanya soal proyekku dan aku menjawab pendek, dan dia bertanya lagi, dan aku menjawab lebih pendek.

“Pak Sar masih nawarin jalan pintas?”

“Masih.”

“Tiap minggu?”

“Hm.”

“Kamu tolak terus?”

“Iya.”

Dia menunggu kelanjutannya. Tidak ada.

“Mas.”

“Hm.”

“Aku nanya beneran, bukan basa-basi.”

Dan itu benar, dan aku tahu itu benar, dan justru itu yang membuatku makin tidak sanggup menjawab.

Karena selama sebelas bulan dia tidak pernah menanyakan pekerjaanku dua kali dalam satu percakapan.

Dan dua minggu terakhir dia melakukannya setiap malam.

Aku tahu kenapa orang tiba-tiba tertarik pada pekerjaan orang lain. Aku sudah melihatnya di proyek. Kalau ada tukang yang tiba-tiba sangat rajin dan tiba-tiba sangat sopan, biasanya ada sesuatu yang dia pecahkan minggu lalu dan belum dia laporkan.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Mas.”

“Nggak apa-apa, Evelyn.”

Dia menaruh sendoknya.

“Aku salah ngomong ya tadi.”

“Enggak.”

“Aku salah ngomong.”

“Kamu nggak salah ngomong.”

“Terus kenapa kamu—“

“Kamu nggak usah masak tiap hari,” kataku.

Dia berhenti.

“Aku suka masak.”

“Kamu nggak suka masak.” Aku menaruh sendokku juga. “Kamu bilang sendiri bulan kedua, kamu bilang kamu masak karena harus.”

“Ya orang bisa berubah.”

“Dalam dua minggu?”

Dia menatapku.

Dan aku tahu, di detik itu, bahwa aku harus berhenti. Aku tahu persis. Aku sudah tujuh tahun memimpin rapat dan aku tahu bunyi kalimat yang tidak boleh dilanjutkan, dan aku mendengarnya di mulutku sendiri.

Aku melanjutkan.


“Evelyn, kamu nggak usah bayar apa-apa ke aku.”

Wajahnya berubah.

“Bayar?”

“Kamu ngerti maksud aku.”

“Aku nggak ngerti.”

“Kamu ngerti.” Aku mendorong piringku sedikit ke depan. “Dua minggu terakhir kamu ngerjain semuanya. Nyetrika, masak, nungguin sampai jam sembilan. Kamu bahkan beli kopi yang aku nggak minta.”

“Kamu nggak suka kopinya?”

“Bukan itu masalahnya.”

“Terus apa?”

“Masalahnya kenapa kamu tiba-tiba ngelakuin itu semua.”

Dia duduk sangat diam.

“Kenapa emangnya nggak boleh?”

“Karena aku tau kenapa.”

“Kamu tau apa?”

Dan di sini aku kehilangan kendali, dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.

“Aku tau kamu ngerasa bersalah,” kataku.

Ruangan itu jadi sunyi.

“Aku nggak—“

“Evelyn.”

“Aku nggak ngerasa bersalah.”

“Kamu ngerasa bersalah dan kamu lagi nyicil,” kataku, dan suaraku sudah naik dan aku sudah tidak bisa menurunkannya. “Dan aku nggak mau. Aku nggak pernah minta apa-apa dari kamu selama sebelas bulan, dan aku nggak akan mulai sekarang, dan aku nggak mau dibayar pakai kemeja yang disetrika.”

“Mas—“

“AKU NGGAK BUTUH DIKASIHANI.”


Suaraku memenuhi ruangan itu dan berhenti dan meninggalkan sesuatu yang jelek di belakangnya.

Aku belum pernah meninggikan suara di rumah ini. Belum pernah sekali pun dalam sebelas bulan.

Evelyn duduk di seberang meja dan tidak bergerak sama sekali.

Ada beberapa detik yang sangat panjang.

Lalu dia bilang, sangat pelan:

“Kamu pikir aku kasihan sama kamu.”

“Evelyn—“

“Jawab.”

Aku tidak menjawab.

Dan dia menunduk dan menatap piringnya, dan tangannya di pangkuan, dan aku melihat ibu jarinya bergerak ke kelingking dan berhenti setengah jalan karena benda itu masih ada di sana.

“Oke,” katanya.

“Evelyn.”

“Nggak apa-apa. Aku ngerti.”

“Kamu nggak ngerti.”

“Aku ngerti banget kok.” Suaranya masih pelan dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia berteriak. “Aku bakal berhenti.”

“Bukan itu maksud—“

“Aku bakal berhenti, Mas.” Dia berdiri. “Maaf ya.”

Dan dia mengambil piringnya yang masih setengah penuh dan membawanya ke bak cuci dan menyalakan air.


Aku duduk di meja itu selama mungkin lima menit sambil mendengar air mengalir.

Dan yang paling jelek dari lima menit itu bukan penyesalan.

Yang paling jelek adalah aku sempat merasa lega.

Sekitar tiga puluh detik, di antara teriakan itu dan bunyi keran, ada bagian dari diriku yang berpikir: nah, sekarang dia tau aku bisa marah.

Sembilan tahun aku memastikan tidak pernah menuntut apa pun, dan tiga puluh detik setelah akhirnya menuntut sesuatu, dengan cara paling jelek yang bisa kupilih, sesuatu di dalam diriku merasa puas.

Aku ingin itu tercatat karena kalau tidak, nanti bab ini kelihatan seperti orang baik yang khilaf.

Aku bukan khilaf. Aku bocor.

Aku ingin menuliskan apa yang tidak kulakukan, karena itu yang paling penting.

Aku tidak berdiri.

Aku tidak berjalan ke dapur, tidak mematikan keran, tidak memutar bahunya, tidak bilang bahwa aku salah.

Aku duduk di kursi itu dan menyusun kalimat, seperti biasa, dan setiap kalimat yang kususun berakhir di tempat yang sama: untuk menjelaskan kenapa aku salah, aku harus mengatakan kenapa aku marah, dan kenapa aku marah adalah sembilan tahun.

Jadi aku duduk.

Air berhenti jam sembilan lewat.

Dia mengelap tangannya, lewat di belakang kursiku tanpa menyentuh apa pun, dan masuk ke kamar.


Aku masuk kamar jam sebelas.

Lampu sudah mati. Dia menghadap jendela.

Aku berbaring di sisiku dan menarik selimut dan berbaring lurus seperti orang difoto rontgen, seperti sebelas bulan lalu, seperti malam pertama kami tidur di ruangan yang sama.

Guling ada di tengah.

Dia sendiri yang menaruhnya kembali malam itu. Aku tahu karena aku tidak menyentuhnya, dan karena posisinya lurus sekali, lebih lurus daripada waktu aku yang meletakkannya.

“Evelyn.”

Tidak ada jawaban.

Aku tahu dia belum tidur karena napasnya belum berubah, dan aku sudah menghabiskan sebelas bulan menghitung napasnya jadi aku tahu bunyi keduanya.

“Maaf,” kataku.

Hening.

“Aku salah. Aku nggak seharusnya ngomong gitu.”

Hening lagi. Cukup lama sampai aku pikir dia benar-benar tidur.

Lalu suaranya datang dari sisi lain guling, jernih, tidak mengantuk sama sekali.

“Mas.”

“Iya.”

“Kamu tau nggak apa yang paling sakit dari tadi?”

“Apa.”

“Bukan kamu teriak.” Dia tidak berbalik. “Yang paling sakit adalah kamu yakin banget kamu tau kenapa aku ngelakuin sesuatu, dan kamu bahkan nggak nanya.”

Aku berbaring di sana dan tidak punya satu pun jawaban.

“Sebelas bulan kamu nggak pernah nanya apa-apa ke aku,” katanya. “Sekali pun. Dan sekali ini kamu nggak nanya, kamu langsung mutusin.”

“Evelyn—“

“Aku ngantuk.”

Dan dia menarik selimutnya dan tidak bicara lagi.


Aku terjaga sampai lewat jam tiga.

Sekitar jam satu, ponselku menyala. Rena.

Rena:masRena:masih bangun?Rena:ya udah besok ajaRena:nggak penting kok

Aku menatap empat pesan itu di kegelapan dengan istriku delapan puluh sentimeter di sebelahku, dan aku tahu Rena tidak pernah mengirim empat pesan berturut-turut jam satu pagi untuk sesuatu yang tidak penting.

Aku tidak membalas.

Kalau aku membalas, dia akan mengatakannya, apa pun itu, dan aku sudah cukup untuk satu malam.

Besok paginya dia mengirim satu pesan lagi.

Rena:lupain yang semalem ya mas

Dan aku membalas iya, dan itu satu-satunya kesempatan yang pernah kupunya untuk tahu lebih cepat, dan aku membuangnya dengan satu kata.

Dan sekitar jam dua, sesuatu yang sangat sederhana masuk ke kepalaku dan tidak mau keluar lagi.

Selama sebelas bulan aku membanggakan diri karena tidak pernah bertanya.

Aku menuliskannya sebagai aturan. Aku menomorinya. Aku menyebutnya kesabaran, lalu kedewasaan, lalu cinta.

Malam ini aku menemukan namanya yang lain.

Kalau kamu tidak pernah bertanya, kamu tidak pernah salah. Kamu tidak pernah harus mendengar jawaban yang tidak kamu suka. Kamu tidak pernah harus mengubah apa pun.

Dan kamu bisa berjalan sembilan tahun sambil merasa mulia.

Aku memandang langit-langit di kegelapan dan mengerti bahwa aku baru saja berteriak ke istriku karena dia menyetrika kemejaku, dan bahwa alasan sebenarnya bukan karena aku tidak mau dikasihani.

Alasannya karena selama sebelas bulan aku sudah membangun seluruh hidupku di sekitar satu asumsi — bahwa dia tidak menginginkan apa pun dariku — dan dua minggu terakhir asumsi itu mulai retak.

Dan retaknya bukan bikin aku senang.

Retaknya bikin aku takut.

Karena kalau asumsinya salah, maka sembilan tahun diam itu bukan pengorbanan.

Sembilan tahun diam itu cuma pengecut.