Chapter Thirty Four
Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
POV: Evelyn
Aku mengiriminya email hari Kamis.
Aku sadar betapa buruknya ini kelihatan. Aku sadar bahwa kalau ada orang membaca urutannya dari luar — suami mengajukan pisah hari Minggu, istri menghubungi mantannya hari Kamis — kesimpulan yang diambil orang itu akan sangat jelas dan sangat masuk akal.
Aku tetap mengiriminya.
Subjek: (tidak ada subjek)
Nest, kamu masih di Jakarta?
Aku butuh satu hal. Bukan buat aku.
Kalau kamu udah pindah atau nggak mau, nggak apa-apa. Aku nggak akan email lagi.
Balasannya empat jam kemudian.
Ernest:Masih. Sabtu terakhir. Jam berapa?
Jumat malam aku hampir membatalkannya.
Aku duduk di ruang tengah jam sebelas dengan ponsel di tangan dan mengetik Nest, maaf, nggak jadi ya empat kali.
Yang menghentikanku bukan keberanian.
Yang menghentikanku adalah aku menyadari kenapa aku ingin membatalkan, dan alasannya sangat kecil dan sangat memalukan.
Aku takut kelihatan buruk.
Bukan takut salah. Takut kelihatan.
Kalau ada yang tahu — Rena, Tante Ratih, siapa pun — bahwa aku menemui Ernest empat hari setelah suamiku pergi, tidak akan ada satu pun penjelasan yang cukup.
Dan aku duduk di sofa itu dan mengerti bahwa aku sudah menghabiskan dua tahun setengah membuat keputusan berdasarkan apa yang akan dipikirkan orang, dan bahwa itu persis kenapa aku ada di sini sekarang.
Aku menghapus pesan itu dan tidur.
Kami bertemu Sabtu pagi, jam sepuluh, di kafe yang berbeda.
Aku yang memilih tempatnya, dan aku memilihnya karena parkirannya gampang, dan kali ini itu benar-benar alasannya.
Dia datang membawa satu kardus kecil di tangan, yang membuatku berhenti di tengah langkah.
“Ini bukan buat kamu,” katanya cepat, waktu melihat wajahku. “Ini barang kantor. Aku baru dari sana.”
“Oh.”
“Duduk.”
Kami duduk.
Dia kelihatan lebih baik lagi daripada dua minggu lalu, yang aneh, karena orang biasanya kelihatan lebih buruk sebelum pindah.
“Gimana?” tanyanya.
Dan aku, yang sudah menyusun pembukaan selama dua hari, membuangnya.
“Suamiku ngajuin pisah hari Minggu,” kataku.
Ernest meletakkan gelasnya.
“Kenapa?”
“Karena dia liat kita di kafe.”
Wajahnya berubah, dan berubahnya cepat, dan yang muncul bukan yang kuduga.
Bukan bersalah.
Panik.
“Vie—“
“Bukan gara-gara itu,” kataku cepat. “Nest, dengerin dulu. Bukan gara-gara itu. Dia nggak marah. Dia nggak pernah marah.”
“Terus kenapa dia—“
“Karena dia mikir dia ngasih aku pilihan.”
Ernest menatapku.
Dan aku menceritakan semuanya.
Sembilan tahun. Gerbang sekolah. Kafe tiga belas bulan lalu dan satu kata yang salah. Rumah yang dibeli bulan Agustus. Cincin ukuran dua belas. Kardus yang dia rapikan dan kembalikan dan suruh simpan. Malam hujan dan lima puluh menit tanpa satu pertanyaan. Sembilan puluh empat halaman yang diketik ulang. Tujuh hal yang diperbaiki hari Selasa dan catatan di meja makan.
Aku bicara mungkin dua puluh lima menit.
Ernest tidak memotong sekali pun.
Ada satu momen di tengah, waktu aku sampai ke bagian sembilan puluh empat halaman, di mana dia menaruh gelasnya dan tidak mengangkatnya lagi sampai aku selesai.
Dan waktu aku sampai ke bagian tujuh hal yang diperbaiki hari Selasa, dia bilang, “Tunggu.”
“Apa?”
“Dia benerin keran rumah kamu setelah dia ngajuin pisah?”
“Iya.”
“Dua hari setelahnya?”
“Iya.”
Ernest bersandar ke kursinya dan memandang langit-langit kafe.
“Ya ampun,” katanya, dan itu bukan kekaguman.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Dia menggeleng. “Lanjut.”
Baru berbulan-bulan kemudian aku mengerti apa yang dia lihat waktu itu, dan kenapa nadanya begitu.
Dia sedang melihat versi dirinya sendiri yang lebih parah.
Waktu aku selesai, dia duduk diam cukup lama.
“Dia ngelakuin hal yang sama kayak aku,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Persis.”
“Iya, Nest.”
Dia menutup mata dan menggeleng pelan sekali.
“Ya ampun.”
“Aku mau minta tolong,” kataku.
“Apa.”
“Aku mau kamu ngomong ke dia.”
Dia mengangkat kepala.
“Ngomong apa?”
“Yang sebenernya. Soal hari Kamis. Bahwa kamu pindah, bahwa itu terakhir, bahwa nggak ada apa-apa.” Suaraku bergetar dan aku menahannya. “Dia nggak akan percaya kalau dari aku. Dia bakal mikir aku ngomong gitu biar dia nggak sedih.”
Ernest menatapku beberapa detik.
“Oke,” katanya.
Aku berkedip.
“Oke?”
“Iya.”
“Kamu nggak mikir dulu?”
“Enggak.”
“Nest—“
“Vie.” Dia menaruh dua tangannya di meja. “Aku ninggalin kamu tanpa penjelasan tiga tahun lalu, terus aku balesin chat kamu selama dua tahun sambil ngarep kamu berhenti sendiri, terus aku nyuruh kamu jangan chat lagi waktu aku udah capek.”
“Itu—“
“Aku nggak lagi minta maaf.” Dia mengangkat tangan. “Aku cuma jawab pertanyaan kamu. Aku nggak perlu mikir dulu. Kasih aja nomornya.”
Aku duduk di sana dengan ponsel di tangan.
Dan aku tidak membuka kontaknya.
“Vie?”
“Bentar.”
Aku menatap layar yang belum kunyalakan, dan sesuatu naik di dadaku yang bentuknya tidak enak sama sekali.
Aku membayangkannya.
Ernest menelepon. Azzam mengangkat. Ernest menjelaskan semuanya — utang keluarga, tiga tahun, kafe hari Kamis, semuanya. Azzam mendengarkan sampai selesai karena orang itu selalu mendengarkan sampai selesai.
Dan lalu Azzam mengerti, dan lalu Azzam kembali.
Dan aku duduk di kafe itu dan melihat gambarnya dengan jelas dan menyadari kenapa dadaku terasa seperti itu.
Kalau begitu jalannya, maka ada satu lagi hal besar dalam hidupku yang diselesaikan oleh orang lain.
Ernest yang menghitung dan memutuskan aku tidak sanggup.
Orang tuaku yang menghitung dan memutuskan aku butuh dijaga.
Azzam yang menghitung dan memutuskan aku tidak perlu tahu.
Tiga puluh orang di meja makan yang menghitung dan memutuskan kenapa aku pindah agama.
Dan sekarang aku, di kafe, di hari Sabtu, hendak menyerahkan pernikahanku kepada laki-laki yang sudah pernah memutuskan untukku sekali, supaya dia memutuskannya sekali lagi — kali ini ke arah yang kumau.
Aku menaruh ponsel di meja.
“Nggak jadi,” kataku.
Ernest menatapku.
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu yang ngomong, dia bakal balik karena kamu bilang begitu.” Aku menggeleng. “Bukan karena aku.”
“Vie, dia nggak akan percaya kamu.”
“Ya berarti aku harus bikin dia percaya.”
“Gimana caranya?”
“Aku nggak tau.” Aku tertawa satu kali, dan bunyinya jelek. “Aku beneran nggak tau, Nest. Aku nggak punya rencana. Aku bahkan nggak tau dia tinggal di mana sekarang.”
Dia diam.
“Tapi aku tau satu hal,” kataku. “Selama dua tahun ini nggak ada satu pun hal penting dalam hidupku yang aku putusin sendiri dari nol.”
Ernest memutar gelasnya.
“Dua tahun setengah,” katanya pelan.
“Apa?”
“Kamu bilang dua tahun.” Dia mengangkat kepala. “Ada satu yang kamu lupa.”
Dan aku menatapnya dan tidak mengerti selama tiga detik.
Lalu aku mengerti.
“Itu kamu putusin sendiri,” katanya. “Aku nggak pernah minta. Aku bahkan nggak tau kamu lagi mikirin itu sampai kamu bilang udah.”
Aku menunduk ke meja.
“Semua orang mikirnya itu buat aku,” katanya. “Ibuku mikirnya gitu. Orang tua kamu mikirnya gitu. Aku juga sempet.”
“Nest—“
“Aku salah, Vie.” Suaranya rata sekali. “Aku salah dan aku nggak pernah ngomong ke siapa pun. Dua tahun aku diem sambil ngeliat orang mikirin kamu kayak gitu.”
Aku menutup mata.
“Itu yang paling aku sesel,” katanya. “Bukan yang lain.”
“Vie.”
“Hm.”
“Boleh aku ngomong satu hal yang mungkin bikin kamu marah?”
“Silakan.”
Dia memutar gelasnya.
“Kamu inget nggak, dua minggu lalu kamu bilang ke aku, ‘aku mungkin bakal bilang nggak apa-apa dan aku mungkin bakal nyesel di tahun ketiga’?”
“Inget.”
“Itu jujur banget,” katanya. “Aku mikirin itu terus.”
“Terus?”
“Kamu ngomong gitu ke aku.” Dia mengangkat kepala. “Ke orang yang udah pergi tiga tahun lalu. Aman.”
Aku menaruh gelasku.
“Coba kamu bilang yang kayak gitu ke orang yang masih ada,” katanya.
Kami duduk beberapa menit lagi.
“Aku pindah Senin,” katanya akhirnya. “Kereta pagi.”
“Semoga lancar.”
“Iya.”
Kami berdiri.
Dan di pintu, dia bilang, “Vie.”
Aku menoleh.
“Aku nggak akan email lagi,” katanya. “Dan aku nggak akan bales kalau kamu email.”
Aku mengangguk.
“Bukan karena marah,” lanjutnya. “Karena kalau aku bales, kamu bakal punya alasan buat nulis lagi. Aku udah pernah salah soal itu selama dua tahun.”
“Iya.”
“Dan Vie.”
“Hm.”
“Suami kamu—“ Dia berhenti dan mencari kata. “Aku nggak kenal dia. Aku cuma tau satu hal dari semua yang kamu ceritain tadi.”
“Apa?”
“Dia bakal bertahan lebih lama dari kamu,” kata Ernest. “Orang kayak gitu bisa nahan bertahun-tahun. Sembilan tahun buktinya.”
“Terus?”
“Jadi jangan nunggu dia gerak.” Dia mengangkat kardus kantornya. “Dia nggak akan gerak, Vie. Dia bakal nunggu sampai kamu yang gerak, terus dia bakal nyebut itu sabar.”
Dan dia keluar dari kafe itu.
Aku duduk kembali dan memesan satu gelas lagi yang tidak kuminum.
Aku ingin mencatat satu hal, karena kalau tidak, ini akan salah dibaca.
Aku tidak merasa apa-apa waktu dia keluar dari pintu itu.
Tidak lega, tidak sedih, tidak pahit. Tidak ada rasa “akhirnya selesai” seperti di film.
Aku cuma duduk di sana dan menyadari bahwa laki-laki yang barusan keluar adalah laki-laki yang selama dua tahun setengah menempati seluruh ruang di kepalaku, dan bahwa sepanjang lima puluh menit terakhir aku tidak sekali pun memikirkannya sebagai apa pun selain orang yang bisa membantuku.
Dua tahun setengah.
Dan yang menutupnya bukan pertemuan yang dramatis, bukan kata maaf, bukan penjelasan.
Yang menutupnya adalah aku duduk di meja itu dan menyadari bahwa aku sedang memakainya untuk menyelesaikan masalahku, persis seperti aku dulu memakainya untuk menjadi alasan.
Aku pulang jam dua belas.
Dan di jalan, di lampu merah, aku memikirkan satu kalimat terakhir yang dia ucapkan.
Dia bakal nunggu sampai kamu yang gerak, terus dia bakal nyebut itu sabar.
Aku sudah mendengar kalimat itu sebelumnya.
Bukan dari Ernest.
Dari Rena, tiga bulan lalu, di lantai dapurku, waktu dia menceritakan apa yang terjadi di parkiran taman sebelas bulan sebelumnya.
Itu kedengerannya kayak orang baik. Tapi bukan. Itu kedengerannya kayak orang yang lagi nawar.
Dua orang. Terpisah. Tidak saling kenal.
Satu adiknya, satu mantanku.
Dan keduanya melihat hal yang sama dalam waktu kurang dari lima menit.
Aku tinggal serumah dengan orang itu selama setahun dan butuh dua orang asing untuk menamainya.
Rumahnya kosong waktu aku sampai, dan kerannya tidak menetes, dan lampu terasnya menyala waktu gelap karena ada orang yang menggantinya hari Selasa.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi reading
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis