← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Forty One

Extra 1: Sebelas Menit

POV: Evelyn


Kami liburan beneran untuk pertama kalinya di tahun ketiga.

Bukan pulang kampung. Bukan nginap di rumah Tante Ratih karena listrik mati. Liburan — beli tiket, sewa vila, empat malam di Ubud, tidak ada satu pun keluarga dalam radius seribu kilometer.

Yang memesan aku. Yang membayar dia. Yang mengeluh selama dua minggu sebelum berangkat juga dia.

“Vil, empat malam.”

“Iya.”

“Empat malam kita ngapain, Evelyn?”

“Ya liburan.”

“Liburan itu ngapain.”

“Astaga, Mas.”

“Aku beneran nanya.”

Dan dia beneran bertanya, dan itu yang paling menyedihkan sekaligus paling lucu dari laki-laki ini: umur tiga puluh dua dan tidak pernah sekali pun dalam hidupnya pergi ke suatu tempat tanpa alasan.


Vilanya kecil. Satu kamar, satu kolam sepanjang enam meter yang lebih mirip bak, dapur terbuka, dan sawah di seberang pagar.

Kami sampai jam empat sore.

Dia berjalan mengelilingi vila itu selama sepuluh menit dan aku sudah tahu apa yang sedang dia lakukan.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu lagi ngecek apa?”

“Nggak ngecek apa-apa.”

“Kamu barusan buka panel listrik.”

“Itu kebuka sendiri.”

“Panel listrik nggak kebuka sendiri, Mas.”

Dia menutup panel itu.

“MCB-nya kekecilan buat AC dua,” katanya.

“Kita nggak punya AC dua.”

“Ya makanya aku ngecek.”

Aku duduk di tepi kolam dan mencelupkan kaki dan memandanginya berjalan ke arah kamar mandi untuk mengecek entah apa lagi.

Lalu dia keluar lagi, empat puluh detik kemudian, dan duduk di sebelahku.

“Udah?”

“Udah.”

“Semuanya aman?”

“Airnya kurang panas.”

“Kita di Bali.”

“Ya tetep aja.”


Hal itu mulai malam pertama.

Aku sedang menyikat gigi. Aku mendengar dia berdiri dari kasur, jalan ke kamar mandi, dan bersandar ke kusen pintu.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Dia berdiri di situ sampai aku selesai.

Aku pikir itu kebetulan.

Besok paginya aku bangun dan dia sudah bangun, duduk di kursi, memandangi sawah. Aku bilang aku mau ambil kopi ke dapur — enam langkah dari kamar — dan waktu aku kembali dia sudah pindah ke pintu kamar.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu ngapain di situ?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Kamu tadi di kursi.”

“Aku pindah.”

“Kenapa pindah?”

“Kursinya nggak enak.”

Kursinya rotan dan empuk dan dia duduk di situ empat puluh menit sebelumnya tanpa mengeluh.


Hari kedua aku mulai menghitung.

Karena aku selalu menghitung, dan karena ini terlalu menarik untuk tidak dihitung.

Jam sepuluh pagi aku bilang aku mau ke minimarket depan gang untuk beli air. Jarak dua ratus meter.

Dia berdiri.

“Aku ikut.”

“Mas, ini dua ratus meter.”

“Aku ikut.”

“Kamu lagi baca.”

“Bukunya nggak seru.”

Bukunya buku yang dia bawa sendiri dari rumah dan sudah sampai halaman seratus sekian.

Aku pergi sendiri. Aku jalan pelan-pelan. Aku beli air, dua bungkus keripik, dan berdiri lama di depan rak permen supaya lebih lama lagi.

Aku kembali dan dia sedang berdiri di gerbang vila.

Sebelas menit.


“Mas Azzam.”

“Hm.”

“Sebelas menit.”

“Apa?”

“Kamu bertahan sebelas menit.”

Dia mengambil kantong plastik dari tanganku dan berjalan masuk seolah tidak mendengar apa-apa.

“Mas.”

“Aku nggak ngerti maksud kamu.”

“Kamu nggak bisa ditinggal lebih dari sebelas menit.”

“Bisa.”

“Buktiin.”

Dan dia berhenti di tengah halaman dan menoleh ke arahku dengan wajah orang yang sedang dijebak dan tahu dia sedang dijebak.

“Nggak mau,” katanya.

Dan masuk ke dalam.

Aku berdiri di halaman vila itu dan tertawa sampai harus pegangan pagar.


Rena mengirim pesan tiga kali sehari selama empat hari.

Rena:kak fotonya manaRena:aku mau liat vilanyaRena:KAKRena:kalian ngapain aja sih

Aku mengirim foto sawah.

Rena:itu sawahRena:aku bisa liat sawah di bekasiRena:mana mas azzam

Aku mengirim foto Mas Azzam sedang berjongkok memeriksa keran taman.

Rena:YA AMPUNRena:dia liburan sambil benerin keran orangRena:kak tolong sita obengnya

Aku menyita obengnya hari ketiga.

Bukan kiasan. Aku benar-benar mengambil obeng lipat dari tasnya dan menyembunyikannya di dalam koperku di bawah baju kotor, dan dia mencarinya selama dua puluh menit sebelum menyerah dan bertanya.

“Evelyn.”

“Hm.”

“Obeng aku mana?”

“Obeng apa?”

“Yang lipat.”

“Kamu bawa obeng ke Bali?”

“Ya bawa dong.”

“MAS.”

“Ya kalau ada apa-apa gimana.”

“Ada apa-apa apa di vila sewaan?”

Dan dia tidak punya jawaban, dan dia tetap tidak menemukan obengnya sampai kami pulang.


Hari ketiga aku menyeretnya ke kelas yoga.

Ini kesalahan dan aku tahu itu sebelum berangkat, tapi aku sudah membayar dua orang dan aku tidak akan membuang uang.

“Aku nggak bisa gitu-gituan.”

“Kamu nggak perlu bisa.”

“Badan aku kaku.”

“Aku tau.”

“Aku pernah nggak bisa nyentuh lutut sendiri.”

“Mas, itu justru alasannya.”

Instrukturnya perempuan Australia yang sangat sabar dan sangat ceria, dan dalam empat puluh menit dia menyerah pada Azzam sepenuhnya dan mulai memberi instruksi khusus yang isinya “just do what feels okay.”

Di gerakan yang namanya aku lupa, di mana kamu duduk dan meraih ke depan, aku menoleh ke sebelahku.

Dia duduk tegak. Tangannya di lutut. Wajahnya wajah orang yang sedang menunggu antrean di bank.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu nggak gerak sama sekali.”

“Ini gerakannya emang gini.”

“Ini gerakannya meraih ke depan.”

“Ya aku meraih.”

“Tangan kamu di lutut.”

“Lutut ada di depan.”

Aku tertawa terlalu keras dan seisi kelas menoleh dan instrukturnya bilang “it’s okay, laughter is also breath,” yang membuatku tertawa lebih keras lagi.

Sesudahnya, di jalan pulang, dia bilang:

“Aku nggak akan ngulang itu.”

“Kamu benci banget?”

“Aku nggak benci.”

“Terus?”

Dan dia menoleh ke arahku dan bilang, dengan wajah biasa saja:

“Aku duduk sejam di ruangan yang isinya dua puluh orang dan kamu nggak deket aku.”

Aku berhenti jalan.

“Mas—“

“Aku bilang aja.”

Dan dia jalan terus, dan aku berdiri di trotoar itu selama tiga detik sebelum menyusul.


Ini yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun, termasuk Vira.

Perubahan itu tidak terjadi pelan-pelan.

Selama setahun setelah dia kembali, dia masih menahan diri. Masih meminta izin dengan mata sebelum menyentuh apa pun. Masih menunggu aku bergerak duluan.

Lalu suatu titik di tahun kedua, sesuatu putus.

Dan yang muncul di baliknya adalah laki-laki yang sudah menyimpan sembilan tahun di dalam lemari dan sekarang lemarinya dibuka.

Dia jadi menempel.

Dia jadi menuntut.

Dia jadi orang yang duduk di sofa dan bilang “sini” sambil menepuk tempat di sebelahnya, dan bukan bertanya, dan tidak menerima “bentar.”

Dan aku, yang menghabiskan dua tahun setengah mengejar orang yang membalas empat kata dalam empat hari, tidak pernah sekali pun tahu bahwa ada versi hidup di mana kamu diinginkan dengan begitu tidak sabar.


Malam ketiga kami berenang di kolam yang panjangnya enam meter.

Berenang itu terlalu besar untuk kolam sepanjang enam meter. Yang kami lakukan lebih tepat disebut berdiri di air sambil mengobrol.

“Airnya dingin.”

“Enggak.”

“Dingin, Evelyn.”

“Kamu tuh dari tadi ngeluh terus.”

“Aku nggak ngeluh, aku ngasih data.”

Aku menyipratkan air ke wajahnya.

Dia diam sekitar dua detik.

“Kamu baru aja ngapain?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Evelyn.”

“Airnya kecipratan sendiri.”

Dan dia bergerak, dan aku mundur, dan kolam sepanjang enam meter itu ternyata sangat pendek kalau kamu sedang mencoba lari dari seseorang di dalamnya.

Dia menangkapku di sudut dalam empat langkah.

“Mas—“

“Kamu tadi bilang apa?”

“Aku bilang airnya kecipratan sendiri.”

“Ulangin.”

“Airnya—“

Dan dia menciumku, dan aku tidak menyelesaikan kalimat itu, dan aku juga tidak berencana menyelesaikannya.


Aku ingin mencatat satu hal.

Tanganku yang di bahunya. Bahunya masih bahu orang yang tujuh tahun mengangkat gambar kerja dan sesekali mengangkat hal-hal yang lebih berat karena mandornya kurang orang.

Dan aku ingat, dengan sangat jelas, malam pertama pernikahan kami.

Aku ingat berdiri di ambang pintu kamar dengan empat kalimat penolakan yang sudah kuhafal dua hari, dan aku ingat menemukan seorang laki-laki sedang membentangkan sprei di sofa yang panjangnya seratus enam puluh sentimeter.

Aku memikirkan itu selama mungkin setengah detik di kolam sepanjang enam meter itu.

Lalu aku berhenti memikirkan apa pun.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamarnya di sebelah sana.”

“Aku tau di mana kamarnya.”

“Terus?”

Dan dia bilang, “Bentar,” dan tidak bergerak, dan aku tertawa ke bahunya dan dia bilang “jangan ketawa” dan aku tertawa lebih keras.

Kami masuk ke kamar sekitar sepuluh menit setelahnya, dengan lantai basah sepanjang jalan, dan besok paginya ada bekas air yang membuat kami hampir tergelincir dua kali.


Hari keempat aku bangun jam sembilan.

Jam sembilan. Aku belum pernah bangun jam sembilan sejak kuliah.

Dia masih tidur, yang lebih tidak masuk akal lagi, karena orang ini bangun jam lima selama tujuh belas tahun terakhir.

Aku berbaring di sana dan memandanginya beberapa menit.

Lalu aku bangun pelan-pelan dan pergi ke dapur terbuka dan menyeduh dua gelas.

Kopi untuknya, teh untukku.

Aku menaruh tutup di atas gelasnya supaya tidak dingin, dan aku berdiri di dapur vila di Ubud jam sembilan pagi dan menyadari bahwa aku baru saja melakukan hal itu untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Tiga tahun.

Dia keluar dari kamar sepuluh menit kemudian dengan rambut berantakan dan melihat dua gelas di meja dan berhenti.

“Ini apa?”

“Kopi.”

“Kamu yang bikin?”

“Iya.”

Dia berdiri di situ cukup lama.

“Mas.”

“Hm.”

“Jangan bikin ini jadi drama.”

“Aku nggak—“

“Aku liat mata kamu.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Mas Azzam.”

Dan dia duduk, mengambil gelas itu dengan dua tangan, dan minum.

Dan sesudah tiga tegukan dia bilang, “Kemanisan.”

“HAH?”

“Kemanisan, Evelyn.”

“Aku bikin pertama kali dalam hidup dan kamu bilang kemanisan?”

“Aku nggak bohong. Kamu tau aku nggak pinter bohong.”

Dan aku melempar bantal kursi ke arahnya dan meleset satu meter, dan dia bilang “lemparan kamu masih jelek” dan aku bilang “aku tau” dan dia tertawa sampai kopinya hampir tumpah.


Kami pulang hari kelima.

Di pesawat dia tidur di bahuku selama satu jam empat puluh menit dan aku tidak bergerak sedikit pun selama satu jam empat puluh menit itu, meskipun bahuku mati rasa di menit kedua puluh.

Satu jam empat puluh menit.

Aku menghitungnya.

Dan waktu dia bangun, di atas Jakarta, dia bilang, “Bahu kamu pasti sakit.”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Iya,” kataku. “Sakit banget.”

“Kenapa nggak dibangunin?”

Dan aku menoleh ke arahnya dan bilang:

“Karena kamu nggak pernah tidur nyenyak selama sembilan tahun, Mas.”

Dia tidak menjawab.

Dia cuma mengambil tanganku dan menaruhnya di pangkuannya dan memegangnya sampai roda pesawat menyentuh landasan.