← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Forty Three

Extra 3: Rendang

POV: Azzam


Ide ini datang dari Ibu, yang artinya sejak awal sudah salah.

“Zam, kamu belajar bikin rendang.”

“Buat apa, Bu?”

“Ya buat bisa.”

“Ibu bisa. Kalau mau, saya ke rumah Ibu.”

“Nanti kalau Ibu nggak ada gimana?”

“Bu.”

“Ibu serius. Umur Ibu lima puluh sembilan.”

Dan begitulah cara ibuku memenangkan setiap perdebatan sejak tahun sembilan puluh empat.

Beliau mengirimkan resepnya lewat pesan suara. Sebelas menit. Aku mendengarkannya tiga kali dan mencatatnya di aplikasi catatan dan menstrukturkannya jadi enam tahap dengan estimasi waktu masing-masing, karena aku tidak bisa membaca apa pun yang tidak berbentuk jadwal.

Evelyn melihat catatan itu di layar ponselku Sabtu pagi.

“Mas.”

“Hm.”

“Ini apa?”

“Rendang.”

“Kenapa ada ‘durasi estimasi’?”

“Biar tau kapan selesai.”

“Kenapa ada ‘jalur kritis’?”

“Karena ada tahap yang nggak bisa mulai sebelum tahap lain selesai.”

Dia menaruh ponselku di meja dan menatapku.

“Mas Azzam.”

“Apa.”

“Kamu bikin network diagram buat rendang.”

“Iya.”

“Kamu sadar itu nggak normal?”

“Kamu mau rendangnya jadi apa enggak?”


Kami mulai jam sepuluh pagi.

Aku menyiapkan semua bahan di mangkuk-mangkuk terpisah lebih dulu, disusun berurutan dari kiri ke kanan sesuai urutan pemakaian.

Evelyn berdiri di ambang dapur dengan gelas teh dan menonton.

“Kamu ngapain?”

“Mise en place.”

“Kamu tau istilahnya?”

“Aku nonton video.”

“Berapa video?”

“Empat.”

“EMPAT VIDEO?”

“Ada yang durasinya empat puluh menit.”

Dia menaruh gelasnya dan berjalan masuk dan mengambil satu mangkuk berisi bawang yang sudah kucincang.

“Ini kenapa kotak-kotak semua?”

“Biar rata.”

“Rendang nggak butuh rata, Mas.”

“Semua butuh rata.”

“Ini bukan pengecoran.”

“Semua itu pengecoran.”


Masalah dimulai di tahap tiga.

Tahap tiga adalah menumis bumbu halus, dan bumbu halus itu harus diblender lebih dulu, dan blender kami mati di detik keempat puluh.

Bukan mati. Berhenti. Ada bunyi, lalu bau, lalu diam.

“Mas.”

“Bentar.”

“Kenapa bau?”

“BENTAR.”

Aku mencabut stekernya. Aku membuka bagian bawah blender itu di meja dapur dengan obeng kecil.

Dan Evelyn berdiri di sebelahku sambil memakan kerupuk dan mengomentari.

“Kamu ngapain?”

“Ngecek.”

“Kita bisa beli baru.”

“Kita bisa benerin.”

“Mas, itu blender dua ratus ribu.”

“Ya makanya.”

“‘Ya makanya’ apa?”

“Ya makanya harusnya nggak rusak.”

Dia tertawa dan mencondongkan badan untuk melihat, dan bahunya menempel ke lenganku, dan dia tidak memindahkannya.

Aku kehilangan sekrup pertama sekitar dua belas detik setelahnya.


“Mas.”

“Hm.”

“Sekrupnya jatuh.”

“Aku tau.”

“Kamu nggak ambil?”

“Aku lagi mikir.”

“Kamu nggak lagi mikir.”

Dan aku menoleh, dan wajahnya lima belas sentimeter dari wajahku, dan dia sedang tersenyum dengan cara yang sudah kuhafal selama tiga tahun terakhir dan yang tidak pernah tidak berhasil.

“Evelyn.”

“Apa.”

“Aku lagi benerin blender.”

“Iya, silakan.”

“Kamu di sini.”

“Aku nggak ngapa-ngapain.”

“Kamu ngapa-ngapain.”

“Aku makan kerupuk.”

Dan dia menggigit kerupuk itu tepat di sebelah telingaku, dengan bunyi yang tidak masuk akal kerasnya, dan aku menaruh obeng itu di meja.

“Kamu sengaja.”

“Sengaja apa?”

“Evelyn.”

“Aku lapar, Mas. Rendangnya belum jadi. Ini jam berapa?”

“Setengah dua belas.”

“‘Durasi estimasi’ kamu bilang berapa?”

“...Dua jam.”

“Berarti harusnya udah jadi.”

“Blendernya rusak.”

“Itu nggak ada di jalur kritis kamu ya?”

Dan aku menoleh sepenuhnya ke arahnya dan dia mundur satu langkah sambil tertawa dan aku mengejar dan dia berlari ke ruang tengah dan aku menangkapnya di dekat sofa dalam empat langkah.

Kerupuknya jatuh.


Kami kembali ke dapur dua puluh menit kemudian.

Aku ingin mencatat bahwa blender itu akhirnya kuperbaiki, dan bahwa sekrup yang jatuh tadi ditemukan di bawah kulkas oleh Evelyn yang harus berbaring di lantai dapur untuk mengambilnya, dan bahwa selama dia berbaring di lantai itu dia berkata “kamu tuh ya” tiga kali tanpa menjelaskan kelanjutannya.

Blendernya menyala jam dua belas lewat.

Rendangnya mulai jam satu.

Estimasiku meleset tiga jam.


Rena datang jam dua siang tanpa diundang, seperti biasa.

“Bau apa ini?”

“Rendang.”

“SIAPA YANG MASAK?”

“Aku.”

Rena berhenti di tengah ruang tengah dan menatapku selama sekitar tiga detik.

“Mas.”

“Apa.”

“Mas nggak bisa masak.”

“Aku lagi belajar.”

“Mas pernah bikin mie instan kelamaan sampai jadi bubur.”

“Itu satu kali.”

“Itu tiga kali, Mas. Aku nyatet.”

“Kenapa kamu nyatet?”

“Karena aku adik.”

Dia masuk ke dapur, mengambil sendok, mencicipi langsung dari wajan tanpa izin siapa pun, dan berhenti.

“Ini... “ Dia mengunyah. “Ini enak.”

“Ya iyalah.”

“Ini beneran enak, Mas.”

“Rena—“

“Ini Mama yang bikin ya?”

“RENA.”

Dan dia tertawa sampai harus pegangan kulkas, dan Evelyn ikut tertawa dari kursi, dan aku berdiri di depan kompor dengan sendok kayu di tangan dan mempertimbangkan untuk tidak memberi mereka berdua satu potong pun.

Rena tinggal empat puluh menit, menghabiskan setengah bungkus kerupuk kami, memotret rendang itu, mengirimnya ke grup keluarga dengan caption “MAS AZZAM MASAK”, dan pulang.

Ibu menelepon delapan menit kemudian untuk memastikan Rena tidak berbohong.


Tahap lima adalah bagian yang lama. Kamu mengaduk. Kamu mengaduk lagi. Kamu mengaduk selama tiga jam.

“Ini beneran tiga jam?”

“Kata Ibu tiga sampai empat.”

“Ngaduk terus?”

“Nggak boleh ditinggal.”

Evelyn duduk di kursi yang dia seret ke dapur, dengan kaki di atas rak bawah, dan menonton.

“Mas.”

“Hm.”

“Gantian dong.”

“Kamu nggak bisa.”

“KENAPA AKU NGGAK BISA NGADUK.”

“Kamu ngaduknya nggak sampai bawah.”

“Kamu nggak pernah liat aku ngaduk.”

“Aku liat kamu ngaduk kopi.”

“KOPI SAMA RENDANG BEDA, MAS.”

Dan aku menyerahkan sendok kayunya — sendok kayu yang sekarang punya sejarah dan yang tidak pernah lagi menyentuh cat seumur hidupnya — dan dia berdiri dan mulai mengaduk.

Dan dia mengaduk dengan sangat serius selama sekitar empat menit.

Lalu dia bilang, “Ini pegel banget.”

“Aku tau.”

“Kamu udah dua jam?”

“Satu jam empat puluh.”

“Dan kamu nggak ngeluh sekali pun.”

“Ngeluh nggak bikin rendangnya jadi.”

Dia menoleh ke arahku.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu tau nggak, kalau kamu ngomong kayak gitu, aku jadi pengen—“

“Pengen apa?”

Dan dia berbalik ke wajan dan bilang, “Nggak jadi,” dan telinganya merah lagi, dan aku berdiri di belakangnya dan menaruh dagu di bahunya dan bilang:

“Pengen apa, Evelyn.”

“Rendangnya gosong.”

“Belum gosong.”

“Nanti gosong.”

“Kamu lagi ngaduk.”

“Aku nggak bisa ngaduk kalau kamu—“

Dan aku mengambil sendok itu dari tangannya dengan tangan kanan, tanpa memindahkan tangan kiri dari pinggangnya, dan melanjutkan mengaduk.

Dan dia berdiri di depanku, terjepit antara aku dan kompor, dan tidak pergi ke mana-mana.

“Aku bisa gantian,” katanya.

“Aku lagi ngaduk.”

“Aku bisa gantian, Mas.”

“Nanti.”

Dan kami berdiri seperti itu selama mungkin dua puluh menit, dengan aku mengaduk rendang dengan satu tangan, dan tidak satu pun dari kami mengatakan apa-apa lagi yang penting.


Rendangnya jadi jam setengah lima sore.

Dapurnya hancur. Ada kelapa parut di lantai. Ada bubuk cabai di gagang kulkas. Ada satu mangkuk keramik hijau yang retak di pinggirnya karena jatuh dan yang tidak akan pernah kuceritakan asal retaknya.

Rendangnya berwarna benar. Baunya benar.

Aku mengambil sepotong dengan sendok dan meniupnya dan menyodorkannya.

Dia mencicipi.

Dan dia diam.

“Gimana?”

Dia mengunyah.

“Evelyn.”

Dia menelan.

“EVELYN.”

“Sebentar!”

“Kamu kelamaan!”

“Aku lagi nilai!”

“Kamu nggak lagi nilai, kamu lagi nyiksa aku—“

“Enak,” katanya.

“Beneran?”

“Enak banget, Mas.”

Dan aku berdiri di dapur yang hancur itu jam setengah lima sore hari Sabtu dan merasakan sesuatu yang bodoh dan besar naik di dadaku, dan Evelyn melihatnya, dan dia bilang:

“Astaga, kamu seneng banget ya.”

“Enggak.”

“Muka kamu, Mas.”

“Aku nggak ngapa-ngapain sama muka aku.”

“Kamu senyum.”

“Aku nggak senyum.”

Dan dia memfoto aku dengan ponselnya sebelum aku sempat berhenti, dan foto itu sekarang ada di rumah Ibu, dicetak, ukuran sepuluh kali lima belas, di rak dekat televisi.


Kami makan jam enam.

Dan sekitar suapan kelima, dia bilang:

“Mas.”

“Hm.”

“Aku mau ngaku sesuatu.”

“Apa?”

“Blendernya.”

Aku berhenti mengunyah.

“Kenapa blendernya?”

“Aku pernah bikin es batu di situ.”

“Kamu apa?”

“Bulan lalu.”

“Evelyn, itu blender bumbu.”

“Aku tau sekarang.”

“Kamu bikin es batu di blender bumbu.”

“IYA MAS.”

“Makanya motornya kebakar—“

“AKU UDAH NGAKU KAN.”

Dan aku menaruh sendokku dan menatapnya dan dia menatapku balik dengan tampang orang yang sudah siap membela diri sampai mati.

“Kamu tau aku benerin itu satu jam?”

“Iya.”

“Sambil kamu makan kerupuk di sebelah aku?”

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak bilang dari tadi pagi?”

Dan dia mengangkat bahu dan bilang:

“Karena kalau aku bilang dari tadi pagi, kamu nggak akan berdiri sejam di dapur sambil aku ganggu.”

Dan dia melanjutkan makan seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku duduk di seberangnya dan tidak punya satu pun jawaban, dan itu sudah jadi kondisi normal di rumah ini sejak tahun kedua.