← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Thirty Seven

Delapan Menit

POV: Evelyn


Rumah Tante Ratih delapan menit dari rumah orang tuaku.

Aku sudah menempuh delapan menit itu ratusan kali seumur hidup. Waktu kecil aku sering jalan kaki, dan Mama akan berteriak dari teras supaya aku lewat trotoar.

Hari Sabtu itu delapan menit terasa lebih lama daripada empat puluh menit ke Bekasi.

Aku memarkir di depan. Aku duduk di mobil selama enam menit. Aku hampir pergi dua kali.

Lalu pintu depan terbuka dan Rena berdiri di situ dengan tangan di pinggang.

“KAK EVELYN.”

“Rena—“

“AKU LIAT MOBILNYA DARI JENDELA. UDAH DARI TADI.”

“Rena, jangan teriak.”

“MAMA! KAK EVELYN DATENG!”


Aku masuk ke rumah itu dengan kaki yang tidak sepenuhnya milikku.

Tante Ratih keluar dari dapur sambil mengelap tangan dengan lap piring, dan beliau berhenti di tengah ruangan.

Dan beliau tidak memelukku.

Tante Ratih memelukku setiap kali aku masuk ke rumah ini sejak aku umur empat tahun, dan hari itu beliau berdiri di tengah ruang tamu dengan lap piring di tangan dan tidak bergerak.

“Evie.”

“Tante.”

“Duduk.”


Om Hendra keluar dari kamar dan langsung mengerti situasinya dan melakukan apa yang selalu beliau lakukan dalam situasi apa pun, yaitu berdiri di tempat dan menunggu diberi instruksi.

“Hendra, buatin teh.”

“Iya.”

“Yang manis.”

“Iya.”

“Bukan yang manis buat kamu. Yang manis normal.”

“IYA, RATIH.”

Beliau ke dapur. Rena duduk di lantai di sebelah kursiku, yang bukan tempat duduk yang wajar untuk siapa pun, dan tidak ada yang menyuruhnya pindah.

Tante Ratih duduk di seberangku.

“Kamu mau ngomong apa?” tanya beliau.

Nadanya bukan nada marah. Itu yang lebih buruk. Nadanya nada orang yang sudah menyiapkan diri untuk mendengar sesuatu dan sudah memutuskan untuk tidak menangis.

“Tante tau soal Mas Azzam?”

“Tau apa?”

“Sembilan tahun.”


Dan aku melihat wajah beliau.

Aku sudah menyusun tiga kemungkinan sepanjang delapan menit di mobil. Beliau tahu dan tidak bilang. Beliau tidak tahu sama sekali. Atau beliau tahu setengah.

Yang ketiga.

Tante Ratih membuka mulut dan menutupnya lagi, dan tangannya yang memegang lap piring meremas benda itu satu kali.

“Sembilan?”

“Dari kelas dua SMA, Tante.”

“Sembilan tahun.”

“Iya.”

Dan beliau menunduk ke lantai, dan lap piring itu turun ke pangkuannya.

“Ma,” kata Rena pelan.

“Diem dulu, Ren.”


Kami duduk begitu selama mungkin satu menit.

Om Hendra keluar membawa nampan berisi empat gelas teh dan melihat situasinya dan menaruh nampan itu di meja dan duduk tanpa berkata apa-apa, dan tidak ada yang menyentuh tehnya sampai dingin.

“Tante tau ada apa-apa,” kata Tante Ratih akhirnya. “Dari dulu.”

Aku tidak bergerak.

“Waktu dia SMA, dia berhenti main. Kamu tau anak SMA laki-laki gimana. Pulang malem, main bola, pacaran.” Beliau memandangi tangannya. “Azzam nggak. Dia langsung pulang, dia di kamar, dia belajar.”

“Ma—“

“Tante pikir dia anak baik.” Suaranya berubah. “Tante bangga. Tante cerita ke ibu-ibu arisan, anak Tante nggak pernah bikin masalah.”

Beliau mengangkat kepala dan matanya sudah merah.

“Terus dia kuliah dan nggak pernah bawa siapa-siapa. Terus dia kerja dan nggak pernah bawa siapa-siapa. Umur dua puluh tujuh, dua puluh delapan.”

“Tante—“

“Tante nanya sekali,” katanya. “Sekali, Evie. Waktu dia dua puluh enam. Tante bilang ‘Zam, kamu nggak ada yang disuka?’”

“Terus?”

“Terus dia bilang ‘nggak ada, Bu.’”

Beliau menutup mulutnya dengan tangan.

“Dan Tante percaya,” katanya. “Karena itu jawaban yang paling gampang buat Tante.”


Rena mulai menangis di lantai di sebelahku, tanpa suara.

“Ma,” katanya. “Aku juga.”

“Kamu apa?”

“Aku tau dari aku umur tujuh belas.” Rena mengusap wajahnya dengan lengan. “Aku nemu buku tahunannya. Aku nanya sekali. Terus dia nyuruh aku jangan ngomong ke siapa-siapa, terus aku diem enam tahun.”

Tante Ratih menoleh ke arah anaknya.

“Enam tahun?”

“Iya, Ma.”

“Kamu tau adikmu—kakakmu—kamu tau selama enam tahun dan kamu—“

“Ma, aku janji.”

“KAMU UMUR TUJUH BELAS WAKTU ITU.”

“Ya makanya aku janji!” Rena menangis lebih keras. “Aku tujuh belas dan kakakku nyuruh aku janji dan aku janji! Aku nggak tau itu bakal jadi kayak gini!”

Dan Tante Ratih turun dari sofa ke lantai dan memeluk anaknya, dan mereka berdua menangis di lantai ruang tamu itu, dan Om Hendra duduk di kursinya memandangi teh yang belum disentuh siapa pun.

Aku duduk di kursi itu dan menonton dua orang yang menyayangi laki-laki yang sama menangis karena hal yang sama.

Semua orang di ruangan ini pernah diam.

Itu satu-satunya hal yang kami punya bersama.

“Tante ngajuin perjodohan itu,” kata Tante Ratih, “karena Tante kasihan sama kamu.”

Aku mengangkat kepala.

“Maaf ya, Evie. Tante ngomong jujur.” Beliau menyeka wajahnya dengan lap piring, yang seharusnya lucu dan sama sekali tidak. “Tante liat kamu di rumah Wulan bulan Oktober dan kamu kurus banget dan kamu senyum terus, dan Tante pulang terus Tante bilang ke Hendra, ‘anak itu nggak baik-baik aja.’”

Om Hendra mengangguk sekali.

“Terus Tante pikir, Azzam kan nggak ada siapa-siapa.” Suaranya pecah. “Tante pikir Tante lagi nolongin dua-duanya sekaligus.”

Aku menutup mata.

“Tante nggak pernah nanya dia mau apa,” kata beliau. “Tante nanya ‘kamu gimana kalau sama Evie’, dia bilang ‘terserah Ibu’. Terus Tante jalan.”

“Ma, Mas emang bakal bilang gitu,” kata Rena. “Dia bakal bilang gitu apa pun jawabannya.”

“IYA. TANTE TAU SEKARANG.”

Dan Tante Ratih menangis dengan suara di ruang tamu rumahnya sendiri, dan Om Hendra pindah ke sebelah beliau dan menaruh tangan di punggungnya dan tidak berkata apa-apa selama lima menit penuh.


Waktu semua sudah lebih tenang, Om Hendra berbicara untuk pertama kalinya.

“Evie.”

“Iya, Om.”

“Kamu ke sini mau apa?”

Pertanyaan yang tepat. Beliau memang jarang bicara, dan kalau bicara biasanya tepat.

“Aku mau alamat kontrakannya,” kataku.

Rena langsung mengangkat kepala.

“Aku punya.”

“Rena,” kata Tante Ratih.

“Aku punya, Ma. Aku bantuin dia pindah.”

“Rena, itu—“

“Ma.” Rena berdiri. “Ma, aku udah diem sekali dan hasilnya begini.”


Tante Ratih menatap anaknya.

Lalu beliau bilang, “Besok Minggu dia ke sini. Makan malem. Tiap minggu.”

Rena berbalik ke arahku dengan mata bersinar.

“KAK. Besok. Kakak dateng aja besok, terus—“

“Enggak,” kataku.

Ruangan itu berhenti.

“Kenapa enggak?” tanya Rena. “Itu gampang banget. Dia nggak bisa kabur, ada Mama, ada Papa, ada aku—“

“Justru itu.”

“Hah?”

Aku menaruh gelas teh yang sudah dingin dan belum kusentuh.

“Kalau aku dateng besok, dia masuk ke rumah ini dan nemuin lima orang yang udah ngatur sesuatu tanpa dia tau,” kataku. “Terus dia bakal duduk, dan dia bakal dengerin sampai selesai, karena dia selalu dengerin sampai selesai.”

“Ya bagus dong—“

“Rena, itu persis yang bikin semuanya begini.”

Aku menatap Tante Ratih.

“Tante mutusin sendiri dia butuh apa, terus jalan. Dua tahun lalu.”

Beliau mengangguk pelan.

“Aku nggak mau ngelakuin hal yang sama ke dia,” kataku. “Nggak besok, nggak kapan-kapan.”


Rena duduk kembali di lantai dan diam cukup lama.

“Kak.”

“Hm.”

“Kakak keren banget.”

“Rena.”

“Enggak, aku serius. Itu keren banget dan aku benci karena artinya kita nggak bisa ngapa-ngapain.”

“Kita bisa,” kataku. “Aku yang ke sana. Sendirian. Dia buka pintu atau enggak, itu haknya.”

“Kalau dia nggak buka?”

“Ya aku pulang.”

“Terus?”

“Terus besoknya aku ke sana lagi.”

Rena menatapku.

“Berapa lama?”

Dan aku, di ruang tamu rumah mertuaku, dengan teh dingin di meja dan tiga orang yang menungguku menjawab, bilang:

“Sembilan tahun.”


Ada beberapa detik hening.

Lalu Om Hendra, yang belum bicara lagi sejak tadi, tertawa satu kali lewat hidung.

“Ratih.”

“Apa.”

“Kayaknya anak kita kalah.”

Dan Tante Ratih menangis lagi, tapi kali ini sambil tertawa, dan Rena menjerit dan memeluk kakiku dari lantai, dan Om Hendra berdiri dan bilang “tehnya udah dingin, saya bikin lagi” dan tidak ada yang menghentikan beliau.


Rena mengantarku ke mobil.

Dia menuliskan alamatnya di secarik kertas belanja karena ponselnya lowbat, dengan tulisan tangan yang jelek sekali.

“Kak.”

“Hm.”

“Dua hal.”

“Apa?”

“Satu, dia pulang kerja jam delapan malem. Kalau Sabtu, jam dua.”

“Oke.”

“Dua.” Dia menggigit bibirnya. “Kak, kontrakannya jelek banget.”

Aku menoleh.

“Jelek gimana?”

“Ya... kecil. Satu kamar. Nggak ada apa-apa.” Rena menggeleng. “Dia mampu ngontrak yang bagus, Kak. Dia punya duit. Aku nanya kenapa dia ambil yang itu.”

“Terus dia bilang apa?”

Rena menatapku, dan matanya sudah basah lagi, dan dia bilang:

“Dia bilang ‘nggak usah yang bagus, ini sementara.’”


Sebelum aku masuk mobil, Tante Ratih keluar ke teras.

Beliau berdiri di situ dengan lap piring yang masih di tangan, dan aku turun lagi dari mobil.

“Evie.”

“Iya, Tante.”

Beliau berjalan sampai ke pagar.

“Kamu marah sama Tante?”

Dan aku berdiri di depan rumah itu jam lima sore dan menjawab dengan jujur.

“Enggak, Tante.”

“Kamu boleh marah.”

“Aku tau.” Aku mengangkat bahu. “Tapi aku ngelakuin hal yang sama, Tante. Tiga bulan aku tau dan aku diem.”

Tante Ratih menatapku.

Lalu beliau memelukku.

Pelukan yang biasa, yang sudah kuterima sejak umur empat tahun, satu tangan di punggung dan satu di belakang kepala.

“Evie.”

“Iya.”

“Kalau dia nolak,” katanya, di dekat telingaku, “jangan Tante yang kamu suruh maksa dia.”

“Nggak akan, Tante.”

“Tante bisa, lho. Tante ibunya.”

“Aku tau.”

“Tante bisa banget.”

“Tante.” Aku melepaskan pelukan itu dan menatap beliau. “Justru itu.”

Dan Tante Ratih menutup mata sebentar dan mengangguk, dan aku tahu beliau mengerti, dan aku tahu itu berat sekali untuk beliau.


Aku menyetir pulang dan tidak menangis sampai lampu merah ketiga.

Ini sementara.

Orang itu menyewa kamar kosong berukuran sekian kali sekian, sendirian, dan menolak yang lebih layak, karena di dalam kepalanya ini adalah tempat singgah.

Dia tidak sedang membangun hidup baru.

Dia sedang menunggu.

Dan aku duduk di mobil di lampu merah itu dan mengerti bahwa laki-laki itu akan menunggu di kamar kosong itu selama bertahun-tahun tanpa satu kali pun mengangkat telepon, dan dia akan menyebutnya sabar, dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa membuktikan dia salah.

Kecuali kalau ada yang datang dan mengetuk pintunya.