← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Thirty Five

Delapan Puluh Meter

POV: Evelyn


Vira datang hari Minggu dan tidak membawa martabak.

Itu tanda pertama.

Tanda kedua: dia memakai baju yang layak. Vira datang ke rumahku selama sepuluh tahun dengan kaus tidur dan sandal jepit, dan hari itu dia memakai kemeja.

Tanda ketiga: dia tidak duduk di lantai.

Dia datang jam sepuluh pagi, duduk di sofa, dan langsung bilang, “Aku nggak lama. Aku mau ngomong terus aku pulang.”

“Vir.”

“Aku serius, Evie. Aku mikirin ini seminggu dan kalau aku nggak ngomong sekarang aku nggak akan pernah ngomong.”

Aku duduk di kursi seberangnya.

“Ngomong aja.”


“Kamu udah ngapain aja seminggu ini?”

“Maksudnya?”

“Jawab. Seminggu ini kamu udah ngapain?”

Aku memikirkannya.

“Aku chat dia Selasa. Dia bilang jangan dulu.” Aku mengangkat bahu. “Aku ketemu Ernest kemarin.”

“Buat apa?”

“Buat minta dia ngomong ke Mas Azzam.”

“Terus?”

“Terus aku batalin.”

Vira mengangguk pelan.

“Terus?”

“Terus... “ Aku berhenti. “Ya udah.”

“Ya udah.”

“Iya.”

“Jadi selama seminggu, kamu ngirim satu chat, ditolak sekali, terus berhenti.”

Aku membuka mulut.

“Dan sisanya kamu ngapain, Evie?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu duduk di rumah ini,” katanya. “Kamu kerja, kamu pulang, kamu duduk. Kamu nggak makan bener, kamu tidur di sofa. Aku tau karena bantalnya di sini.”

Dia menunjuk bantal di ujung sofa.

“Vir—“

“Dan kamu nunggu.”

Aku menatap lantai.

“Kamu nunggu dia berubah pikiran,” kata Vira. “Kamu nunggu dia balik sendiri. Kamu nunggu ada orang lain yang ngasih tau dia.”

“Aku nggak—“

“Evelyn.” Suaranya naik. “Kamu nunggu selama dua tahun setengah di depan pintu Ernest. Sekarang kamu duduk di rumah ini dan nunggu lagi.”


Ruangan itu jadi sunyi.

“Itu nggak sama,” kataku.

“Kenapa nggak sama?”

“Karena dulu aku nggak tau apa-apa. Sekarang aku tau.”

“Terus kenapa kamu masih duduk?”

Dan aku duduk di kursi itu dan tidak punya jawaban, dan Vira melihat aku tidak punya jawaban, dan dia tidak melunak sedikit pun.

“Aku bakal ngomong sesuatu yang jahat,” katanya. “Boleh?”

“Kamu selalu ngomong yang jahat.”

“Ini lebih jahat.”

Aku mengangguk.

Vira menarik napas.

“Kamu nyaman jadi orang yang nunggu.”


“Apa?”

“Kamu nyaman, Vie.” Dia bicara pelan sekarang, dan pelan itu jauh lebih buruk. “Selama kamu nunggu, kamu nggak pernah salah. Selama kamu nunggu, semua yang terjadi itu keputusan orang lain. Ernest yang mutusin, orang tua kamu yang mutusin, Mas Azzam yang mutusin.”

“Vira—“

“Kamu ngeluh terus soal orang yang mutusin buat kamu.” Dia menatapku lurus. “Tapi kamu nggak pernah sekali pun ngambil keputusan yang bisa disalahin ke kamu.”

Aku merasakan sesuatu naik ke tenggorokanku.

“Aku pindah agama sendiri,” kataku, dan suaraku keluar keras.

“Iya.” Vira mengangguk. “Dua tahun setengah lalu. Satu-satunya. Dan kamu tau nggak kamu ngapain setelah itu?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu simpen buktinya di kardus,” katanya. “Karena kalau ada yang nanya, kamu bisa nunjuk.”


Aku berdiri.

Aku berjalan ke dapur karena kakiku memutuskan sendiri, dan aku berdiri di depan bak cuci dengan punggung ke arahnya dan tangan di pinggiran wastafel.

“Kamu jahat banget.”

“Iya.”

“Kamu nggak tau rasanya.”

“Enggak.”

“Kamu nggak tau rasanya semua orang di sekeliling kamu udah ambil kesimpulan dan nggak satu pun mau ngomong.”

“Enggak, aku nggak tau.” Suaranya datang dari sofa, tidak bergerak. “Tapi Vie, ada satu orang yang ngomong.”

Aku memejamkan mata.

“Satu orang di meja makan penuh orang,” kata Vira. “Berdiri, terus ngomong keras-keras, terus semua orang diem.”

“Iya.”

“Dan kamu tau apa yang kamu lakuin setelah itu?”

Aku tidak menjawab.

“Kamu peluk dia di dapur ini,” katanya. “Terus kamu bilang ‘kamu tau kok’. Terus kamu diem tiga bulan.”


Aku berdiri di dapur itu selama mungkin dua menit.

Vira tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tidak menyusul, tidak memelukku, tidak minta maaf. Dia duduk di sofa dan membiarkanku berdiri di sana.

Itu hal paling baik yang pernah dia lakukan untukku.

“Vir.”

“Hm.”

“Aku nggak tau harus mulai dari mana.”

Dan Vira, akhirnya, melunak sedikit.

“Ya udah,” katanya. “Mulai dari yang paling gampang.”


“Vir.”

“Hm.”

“Kamu marah sama aku?”

Vira menghela napas panjang.

“Enggak,” katanya. “Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu bakal jadi orang yang lima tahun lagi masih duduk di rumah ini.” Dia menatapku. “Kamu udah pernah dua tahun setengah, Vie. Aku liat. Aku liat kamu tiap hari selama dua tahun setengah dan aku diem terus karena aku pikir aku nggak berhak.”

“Kamu nggak diem. Kamu ngomong terus.”

“Aku ngomong soal Ernest.” Dia menggeleng. “Aku nggak pernah ngomong soal kamu.”

Aku menatapnya.

“Aku selalu bilang ‘dia nggak pantes buat kamu’, ‘dia customer service’, ‘dia nggak balesin’.” Vira mengusap wajahnya. “Aku nggak pernah sekali pun bilang ‘Evie, kamu nunggu karena nunggu itu lebih gampang daripada mutusin’.”

“Kamu tau itu dari kapan?”

“Lama.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Karena aku takut kamu marah terus nggak ngomong sama aku lagi,” katanya. “Jadi ya, aku juga. Aku juga mutusin sendiri berapa yang kamu sanggup denger.”

Dan ruangan itu jadi sangat sunyi, dan aku duduk di kursi itu dan mengerti bahwa aku dikelilingi orang yang menyayangiku dan bahwa mereka semua, tanpa kecuali, melakukan hal yang persis sama.


Yang paling gampang ada di gudang.

Aku masuk ke sana jam sebelas pagi hari Minggu, seminggu setelah suamiku pergi, dengan Vira berdiri di ambang pintu.

Kardus itu di rak paling depan, selotipnya menghadap keluar, tempat aku sendiri yang meletakkannya berbulan-bulan lalu.

Aku mengangkatnya.

Ringan. Mungkin dua kilo.

“Kamu mau aku ikut?” tanya Vira.

“Enggak.”

“Vie.”

“Aku sendiri, Vir.”

Dia mengangguk dan mundur dari pintu.


Aku berjalan delapan puluh meter ke ujung gang.

Aku sudah pernah melakukan ini. Berbulan-bulan lalu, dengan kantong hitam, dan aku berdiri di depan bak sampah itu selama dua belas menit dan membawanya pulang.

Kali ini aku tidak memasukkannya ke kantong.

Aku membawanya seperti apa adanya, kardus sepatu dengan selotip kertas bertuliskan dua angka dan satu garis, di siang hari, di jalan kompleks, dengan tetangga yang mungkin melihat.

Aku sampai di bak sampah itu.

Dan aku berdiri di sana selama sekitar sepuluh detik.

Sepuluh.

Bukan dua belas menit. Sepuluh detik.


Aku ingin menuliskan apa yang kupikirkan dalam sepuluh detik itu, karena itu satu-satunya hal yang penting dari seluruh bab ini.

Aku tidak memikirkan Ernest.

Aku bahkan tidak memikirkan Azzam.

Yang kupikirkan adalah aku, umur dua puluh lima, duduk sendirian di kamar jam sebelas malam dengan empat lembar kertas HVS dan pulpen, menulis satu kalimat berulang-ulang sampai tanganku hafal, karena aku tidak mau salah.

Perempuan itu tidak butuh dibela oleh sebuah kardus.

Aku sudah menyimpan benda ini selama satu tahun setengah karena aku takut, kalau aku membuangnya, tidak ada lagi yang bisa kutunjuk waktu orang mengambil kesimpulan tentangku.

Dan yang baru kusadari, berdiri di depan bak sampah kompleks jam sebelas lewat, adalah bahwa aku sudah salah menghitung dari awal.

Kardus ini tidak pernah membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Tidak ada satu orang pun di dunia yang pernah membukanya kecuali dua orang: aku, dan laki-laki yang menemukannya, merapikannya, dan menyuruhku menyimpannya.

Benda ini tidak pernah jadi bukti.

Benda ini cuma tempat aku menaruh ketakutanku supaya tidak berkeliaran.

Dan aku sudah cukup lama takut.


Aku menaruhnya di bak sampah.

Tidak melempar. Menaruh, dengan dua tangan, seperti orang menaruh barang belanjaan.

Lalu aku membetulkan posisinya supaya tidak menggantung di pinggir, karena entah kenapa itu terasa penting, dan aku sadar sambil melakukannya bahwa aku baru saja melakukan hal yang persis sama seperti yang dia lakukan berbulan-bulan lalu di gudang.

Lalu aku berjalan pulang.

Aku tidak menoleh.

Bukan karena dramatis. Karena tidak ada apa-apa untuk dilihat. Itu bak sampah kompleks dan di dalamnya ada kardus sepatu.


Vira menungguku di teras.

“Udah?”

“Udah.”

“Kamu nangis nggak?”

“Enggak.”

Dia menatapku beberapa detik.

“Bagus,” katanya.

Dan lalu, karena dia Vira, dia menambahkan, “Aku bawa martabak sebenernya. Ada di mobil. Aku sembunyiin biar keliatan serius.”

“Vir.”

“Sekarang boleh dikeluarin nggak?”


Kami makan martabak di lantai ruang tengah jam dua belas siang.

“Vie.”

“Hm.”

“Terus sekarang gimana?”

Aku menaruh potongan yang sedang kupegang.

“Aku nggak akan chat dia lagi,” kataku.

Vira berhenti mengunyah.

“Hah?”

“Dia udah bilang jangan dulu.” Aku mengangkat bahu. “Kalau aku chat terus, aku cuma bikin dia harus nolak berkali-kali. Dan dia bakal nolak, Vir. Dia bisa nolak selama tiga tahun sambil tetap benerin keran rumah aku.”

“Terus caranya gimana?”

Aku memandangi kotak martabak.

“Aku harus ngomong di depan orangnya,” kataku. “Sekali. Semuanya. Nggak lewat chat, nggak lewat orang lain, nggak lewat Rena.”

“Dia nggak akan mau ketemu.”

“Aku tau.”

“Terus?”

Aku mengangkat kepala.

“Dia kerja di proyek,” kataku. “Proyek itu ada pagernya, tapi ada jam pulang.”

Vira menaruh martabaknya.

“Evelyn.”

“Apa.”

“Kamu mau nyegat suami kamu di depan proyek?”

“Iya.”

“Kayak orang nagih utang?”

“Iya.”

Dia menatapku beberapa detik, lalu mengambil potongan martabak paling besar.

“Aku ikut.”

“Nggak usah.”

“Aku ikut, tapi aku di mobil.” Dia menggigit. “Kalau kamu ditolak, aku harus ada di radius lima puluh meter. Itu aturan sahabat.”

“Kamu ngarang aturannya.”

“Iya,” katanya. “Tapi bener.”