← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Thirty Nine

Simpan Saja (3)

POV: Azzam


Aku sudah menyusun pertanyaan itu berkali-kali seumur hidupku.

Aku menyusunnya di depan gerbang sekolah waktu umur tujuh belas, selama satu jam empat puluh menit, dan tidak jadi.

Aku menyusunnya di kafe di lantai dua ruko, tiga belas bulan lalu, dan menggantinya dengan satu kata.

Aku menyusunnya di kamar, di mobil, di gudang, di dapur, di parkiran toko elektronik sambil memegang lampu meja yang lalu kukembalikan ke rak.

Tiga kata.

Aku menghabiskan sembilan tahun untuk mengucapkan tiga kata, dan waktu akhirnya keluar, keluarnya sambil bersandar ke dinding kontrakan karena kakiku sudah tidak mau menahan berat badanku.

“Kamu mau apa?”


Dia masih memegang gagang pintu.

“Kamu serius nanya?”

“Iya.”

“Kamu nggak bakal jawabin sendiri di kepala kamu duluan?”

Dan itu kalimat paling kejam yang pernah diucapkan siapa pun kepadaku, dan aku pantas menerimanya.

“Enggak,” kataku.

“Mas—“

“Aku nggak tau, Evelyn.” Suaraku keluar hancur dan aku membiarkannya. “Aku beneran nggak tau apa yang kamu mau. Itu yang baru aku sadar lima menit yang lalu.”

Dia melepas gagang pintu.

“Aku pikir aku tau,” kataku. “Sembilan tahun aku ngerasa aku paling ngerti kamu. Aku hafal kamu nggak suka bawang goreng. Aku hafal ukuran cincin kamu dari acara MC di resepsi sepupu kamu tujuh tahun lalu.”

Aku menyeka wajahku dengan lengan.

“Dan aku pakai semua itu buat mutusin kamu nggak butuh ditanya.”


Dia berdiri di dekat pintu itu cukup lama.

Lalu dia berjalan ke tengah ruangan dan duduk di kursi plastik itu.

Dan dia bilang, “Ambil kasurnya. Duduk. Kamu keliatan mau jatuh.”

Aku duduk di tepi kasur di lantai.

Dan dia menjawab.


“Aku mau pulang,” katanya.

Aku mengangkat kepala.

“Bukan ke rumah itu.” Dia menggeleng. “Rumah itu cuma bangunan. Kalau kamu maunya jual, jual aja.”

“Evelyn—“

“Aku mau ada orang yang tau aku nggak suka bawang goreng dan nanya kenapa.” Suaranya bergetar. “Bukan yang mindahin diem-diem selama setahun terus nggak pernah nyebut.”

Aku menutup mata.

“Aku mau ada orang yang liat aku ketemu mantan aku di kafe terus marah.” Dia menatapku. “Marah, Mas. Yang jelek. Yang teriak. Terus besoknya minta maaf terus kita berantem lagi.”

“Aku—“

“Aku mau ditanyain aku dari mana.” Dia menyeka wajahnya. “Lima puluh menit di mobil dalam hujan dan kamu nggak nanya sekali pun, dan aku duduk di situ dan aku pengen banget kamu nanya, dan kamu nggak.”

“Aku pikir aku lagi bikin kamu gampang.”

“Kamu bikin aku sendirian.”


Aku duduk di tepi kasur di kontrakan itu dan tidak punya satu pun jawaban.

Dan sesuatu naik di kepalaku yang seharusnya sudah naik bertahun-tahun lalu.

Waktu Tante Wulan memelukku di hari lamaran, beliau bilang satu hal, dan aku mengingatnya rata-rata dua kali sebulan selama setahun.

Tante cuma minta kamu jangan percaya kalau dia bilang nggak apa-apa.

Aku mengulanginya di kepalaku ratusan kali. Aku menyebutnya nasihat.

Dan aku tidak pernah sekali pun menjalankannya, karena menjalankannya berarti bertanya, dan bertanya berarti dijawab.

Setahun. Ratusan kali “nggak apa-apa” di rumah itu — dariku maupun darinya — dan tidak satu pun yang pernah kami periksa.

“Evelyn.”

“Hm.”

“Mama kamu pernah nitipin sesuatu ke aku.”

Dia menoleh.

“Waktu lamaran,” kataku. “Beliau bilang jangan percaya kalau kamu bilang nggak apa-apa.”

Wajahnya berubah.

“Mama bilang gitu?”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus aku inget kalimat itu setahun penuh,” kataku, “dan aku nggak pernah pakai sekali pun.”

Dan Evelyn menutup mulutnya dengan tangan, dan aku tahu dia sedang menghitung berapa kali dia mengucapkan dua kata itu di rumah kami, dan aku tahu angkanya besar, dan aku tahu tidak satu pun dari keduanya bisa mengubahnya sekarang.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu tau nggak rasanya tinggal setahun sama orang yang nggak pernah minta apa-apa dari kamu?”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak bisa ngasih kamu apa-apa,” katanya. “Kamu nggak pernah bikin lubang buat aku isi. Kamu ngurus semuanya. Kamu benerin semuanya. Aku bahkan nggak tau ukuran kaus kaki kamu.”

“Itu nggak penting.”

“ITU PENTING BANGET.”

Dan dia berdiri dari kursi plastik itu.

“Aku berdiri di toko selama enam menit, Mas. Bulan Oktober. Aku mau beliin kamu kaus kaki dan aku pulang tanpa beli apa-apa karena aku nggak tau ukurannya.” Suaranya pecah. “Kamu tau ukuran cincin aku dari tujuh tahun lalu dan aku nggak tau ukuran kaus kaki kamu.”

Aku menunduk ke lantai.

“Empat puluh dua,” kataku.

“Apa?”

“Empat puluh dua. Kaus kaki.”

Dan Evelyn berdiri di tengah kontrakan itu dan menutup wajahnya dengan dua tangan dan mulai menangis, dan aku tidak pernah dalam hidupku merasa sekecil itu.


Aku berdiri.

Aku berjalan ke arahnya dan berhenti setengah meter dan tidak menyentuhnya, karena aku belum tahu apakah aku boleh.

“Evelyn.”

“Apa.”

“Aku salah.”

Dia menurunkan tangannya.

“Aku salah, dan aku salahnya lama banget.” Aku menatapnya. “Dan aku nggak akan bilang aku ngelakuinnya buat kamu, karena itu bohong. Aku ngelakuinnya buat aku.”

Dia berkedip.

“Kalau aku nggak pernah nanya, aku nggak pernah dijawab.” Suaraku keluar sangat pelan. “Kalau aku nggak pernah minta, aku nggak pernah ditolak. Aku bisa jalan sembilan tahun sambil ngerasa aku orang baik, dan aku nggak pernah harus denger kamu bilang enggak.”

Aku menelan.

“Itu bukan sabar, Evelyn. Itu takut.”


Dia menatapku cukup lama.

“Rena bilang gitu,” katanya akhirnya. “Sebelas bulan lalu. Dia bilang itu kayak orang yang lagi nawar.”

“Iya.”

“Ernest juga bilang.”

“Ernest?”

“Dia bilang kamu bakal nunggu sampai aku yang gerak, terus kamu bakal nyebut itu sabar.”

Dan aku berdiri di kontrakanku sendiri dan tertawa satu kali, dan bunyinya jelek sekali.

“Dia bener.”

“Aku tau.”

“Dua orang,” kataku. “Dua orang yang nggak saling kenal.”

“Tiga,” katanya. “Mama kamu juga.”


“Mas.”

“Hm.”

“Kenapa kamu ngontrak yang ini?”

Aku mengangkat kepala.

“Rena cerita?”

“Rena cerita kamu bilang ‘nggak usah yang bagus, ini sementara.’”

Aku memandangi ruangan itu. Kasur di lantai, kursi plastik, kompor listrik satu tungku.

“Aku nggak nyari yang bagus,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku ngontrak yang bagus, artinya aku lagi pindah.” Aku mengusap wajahku. “Kalau aku ngontrak yang jelek, artinya aku lagi nunggu.”

“Nunggu apa?”

Dan aku duduk di tepi kasur itu dan mengucapkan sesuatu yang belum pernah kuucapkan kepada siapa pun.

“Aku nggak tau,” kataku. “Itu yang paling parah, Evelyn. Aku nggak punya rencana. Aku cuma nggak sanggup ngelakuin apa pun yang keliatannya kayak aku udah nerima.”

Dia berdiri diam.

“Aku bayar enam bulan di depan buat kamar yang aku harap nggak akan aku tempatin,” kataku. “Itu bukan orang yang lagi ngasih kamu pilihan. Itu orang yang lagi nunggu di luar pintu sambil pura-pura udah pergi.”


Aku duduk kembali di tepi kasur.

“Evelyn.”

“Hm.”

“Aku nggak bisa janji aku bakal langsung bisa.”

Dia menoleh.

“Aku udah sembilan tahun begini,” kataku. “Aku bakal ngelakuinnya lagi. Bulan depan, tahun depan. Aku bakal liat sesuatu terus aku diem terus aku ngurusin sendiri.”

“Aku tau.”

“Aku bakal benerin sesuatu di rumah tanpa bilang.”

“Aku tau, Mas.”

“Aku bakal—“

“Azzam.” Dia berjalan mendekat. “Aku nggak minta kamu berubah jadi orang lain.”

Dia berdiri di depanku.

“Aku cuma minta kamu nanya,” katanya. “Sekali sehari juga nggak apa-apa. Satu pertanyaan.”

“Pertanyaan apa aja?”

“Apa aja.”


Aku mengangkat kepala.

“Kamu mau apa buat makan malem?”

Dan Evelyn berdiri di tengah kontrakan berukuran satu kamar itu dan tertawa dengan mata yang masih basah, dan bunyinya adalah bunyi terbaik yang pernah kudengar seumur hidupku.

“Serius?”

“Kamu bilang apa aja.”

“Aku bilang apa aja, terus kamu pilih itu?”

“Iya.”

“Ya ampun, Mas.”

“Kamu mau apa buat makan malem, Evelyn.”

Dan dia bilang, “Nasi uduk.”

“Warung Bu Yang Itu udah tutup jam segini.”

“Ya berarti besok.”


Dia membuka tasnya.

Dia mengeluarkan kotak beludru kecil dan membukanya, dan cincin itu ada di dalamnya, dan aku sudah tidak melihat benda itu sejak hari Minggu tiga minggu lalu.

Dia mengeluarkannya.

Dan dia tidak memberikannya kepadaku.

Dia memasangnya sendiri, di jari manis kanannya, dengan dua tangan, sambil berdiri, tanpa menunggu izin dari siapa pun.

Lalu dia menutup kotak yang sekarang kosong dan menaruhnya di meja lipat.

“Simpan saja,” katanya.


Aku memandang kotak itu.

“Evelyn—“

“Kotaknya,” katanya. “Nggak usah dibuang. Kamu bakal butuh nanti kalau aku lepas buat masak.”

Dan dia bilang itu dengan nada yang paling biasa di dunia, seperti orang membicarakan tempat menaruh kunci.

Aku duduk di tepi kasur di lantai dan menatap kotak beludru kosong di atas meja lipat plastik di kontrakan yang kusewa karena “ini sementara.”

Tiga kali.

Sepuluh bulan lalu, di depan pintu gudang, aku mengucapkan dua kata itu untuk menyelamatkan sesuatu dan justru menghancurkannya.

Tiga minggu lalu, di ruang tengah rumah kami, aku mengucapkannya lagi untuk mengakhiri semuanya.

Dan hari ini perempuan itu mengambil dua kata yang sama, dua kata yang sudah kupakai untuk menjaga jarak selama sepuluh bulan, dan mengembalikannya kepadaku dengan arti yang sepenuhnya berbeda.

Simpan saja.

Bukan: aku tidak keberatan.

Bukan: aku tidak butuh ini lagi.

Simpan. Karena besok masih ada.


Aku menangis di kontrakan itu, dan itu kedua kalinya seumur hidupku, dan yang pertama juga karena perempuan yang sama.

Dia duduk di lantai di sebelahku dan tidak bilang apa-apa dan tidak menyuruhku berhenti.

Sekitar lima menit kemudian dia bilang, “Mas.”

“Hm.”

“Kamu ngontrak sampai kapan?”

“Enam bulan. Bayar di depan.”

“Sisanya berapa?”

“Lima bulan.”

Dan dia menoleh ke sekeliling ruangan itu — kasur di lantai, kursi plastik, lima kemeja disusun sesuai warna — dan bilang:

“Ya udah. Rugi dikit nggak apa-apa.”