Chapter One

Makan Malam yang Sudah Diatur

POV: Azzam


Ibu menyuruhku pulang lebih cepat hari itu, dan aku tahu artinya apa.

Bukan karena beliau bilang. Ibu tidak pernah bilang. Tapi ada pola yang sudah kuhafal sejak umur belasan: kalau Ibu menelepon ke kantor, bukan ke ponselku, dan bertanya jam berapa aku selesai dengan nada yang terlalu santai, berarti ada sesuatu yang sudah diputuskan tanpa aku.

“Nggak usah mampir-mampir,” katanya. “Kita ke rumah Om Gunawan jam tujuh.”

Aku menutup telepon dan menatap layar laptop selama beberapa detik. Ada tiga baris di jadwal proyek yang meleset dua minggu dan seorang mandor yang belum mengangkat teleponku sejak pagi. Aku menyelesaikan keduanya dalam empat puluh menit, lalu pulang.

Rena sudah menunggu di teras dengan gaun yang terlalu bagus untuk makan malam keluarga.

“Kenapa kamu dandan?” tanyaku.

“Karena Mas nggak dandan.” Dia melihat kemejaku dari atas ke bawah dengan ekspresi orang yang baru menemukan bangkai tikus. “Itu kemeja yang Mas pakai kemarin?”

“Bukan.”

“Yang kemarinnya lagi?”

Aku masuk ke kamar dan ganti kemeja.


Rumah Om Gunawan cuma delapan menit dari rumah kami. Delapan menit itu kesalahan terbesar dalam hidupku, karena kalau saja jaraknya empat puluh menit, mungkin aku tidak akan tumbuh besar dengan mengenal Evelyn sedekat itu.

Dua keluarga ini sudah menempel sejak sebelum aku lahir. Ayahku dan Om Gunawan satu kos waktu kuliah, lalu satu kantor, lalu berhenti dari kantor yang sama dan membuka usaha masing-masing yang sama-sama nyaris bangkrut di tahun yang sama. Ibu dan Tante Wulan arisan bareng, senam bareng, dan setiap kali salah satu dari mereka marah pada suaminya, yang satunya tahu duluan sebelum suaminya sendiri.

Aku dan Evelyn dibesarkan di dua rumah yang saling meminjam gula.

Dua rumah yang tidak sama, tapi tidak pernah ada yang mempersoalkannya. Di rumah kami ada sajadah di lemari ruang tamu. Di rumah Om Gunawan ada foto besar kakeknya di dinding dengan dupa yang sudah lama tidak dinyalakan karena Tante Wulan bilang asapnya bikin batuk. Ibu tetap mengantar rendang setiap Lebaran dan Tante Wulan tetap mengantar kue keranjang setiap Imlek, dan begitu terus selama tiga puluh tahun tanpa satu pun dari mereka merasa perlu membahasnya.

Dua tahun lalu Evelyn menyeberang.

Tidak ada yang membicarakan itu juga. Tidak di depan, tidak di belakang. Itu hal terbesar yang pernah terjadi di antara dua rumah ini, dan cara semua orang memperlakukannya adalah dengan sangat sopan tidak menyebutnya.

Pintu dibuka Tante Wulan, dan aroma dari dalam langsung memberitahuku bahwa ini bukan makan malam biasa. Ada rendang. Rendang itu makanan negosiasi.

“Azzam!” Tante Wulan memelukku seperti aku baru pulang dari perang. “Makin kurus.”

“Nggak kok, Tante.”

“Makin kurus. Ibumu nggak masak?”

“Masak.”

“Berarti kamunya yang nggak makan.”

Aku tidak punya jawaban untuk logika itu, jadi aku masuk.

Mereka semua sudah di ruang tengah. Ayah dan Om Gunawan di sofa panjang, dengan dua gelas kopi yang kelihatannya sudah dituang sejak sejam lalu dan tidak berkurang sedikit pun karena mulut keduanya terlalu sibuk. Ibu di kursi rotan. Dan di ujung meja, sedang menyusun sendok dengan sangat teliti seolah itu pekerjaan paling penting sedunia, ada Evelyn.

Dia mengangkat kepala.

“Halo, Mas Azzam.”

“Halo.”

Itu saja. Dua kata. Dan aku duduk.

Aku tidak akan menceritakan bagian yang panjang. Bagian yang panjang itu sudah berumur sembilan tahun dan tidak ada gunanya diulang. Cukup begini: waktu kelas dua SMA, aku pernah menunggu di depan gerbang selama satu jam empat puluh menit dengan satu kalimat yang sudah kususun sejak seminggu sebelumnya. Evelyn keluar. Dia melihatku. Dan sebelum aku sempat membuka mulut, dia bilang, “Mas, aku mau cerita sesuatu, tapi jangan bilang siapa-siapa ya.”

Namanya Ernest. Anak kelas sebelah.

Aku bilang, “Oh ya? Bagus dong.”

Dan sejak itu aku tidak pernah menyusun kalimat apa pun lagi.


Makan malamnya normal selama empat puluh menit pertama. Terlalu normal. Ayah dan Om Gunawan berdebat tentang harga besi. Ibu dan Tante Wulan membicarakan seseorang bernama Bu Ningsih yang, dari nada suara mereka, jelas telah melakukan sesuatu yang sangat tidak termaafkan di grup WhatsApp RT. Rena mencuri kerupuk dari piring Evelyn dan Evelyn pura-pura tidak lihat.

Aku memperhatikan satu hal, dan aku benci bahwa aku memperhatikannya.

Evelyn makan sedikit. Dia memisahkan bawang goreng ke pinggir piring dengan gerakan yang begitu otomatis sampai tidak ada satu pun orang di meja itu yang menyadarinya. Dia tidak suka bawang goreng. Tidak pernah suka. Sejak dulu dia selalu memindahkannya diam-diam supaya tidak menyinggung yang masak.

Aku menggeser piring kerupuk ke arahnya supaya dia punya sesuatu untuk dimakan.

Dia melihat piring itu, lalu melihatku sebentar, lalu mengambil satu.

“Makasih.”

“Iya.”

Itu bagian terbaik dari malam itu, dan berlangsung selama tiga detik.

Setelah itu lampu dapur mati.

Bukan mati total, cuma satu jalur, yang kebetulan jalur yang sama dengan kulkas. Tante Wulan panik. Om Gunawan berdiri dan menatap kotak sekring seperti menatap soal integral. Ayah ikut berdiri dan ikut menatap, karena Ayah selalu ikut berdiri.

“Ini kayaknya harus panggil orang,” kata Om Gunawan.

“Jam segini?”

“Ya besok.”

“Kulkasnya gimana? Ada daging dua kilo di dalam.”

Aku mengambil senter dari ponselku dan membuka kotaknya. MCB jalur dapur turun. Aku mencabut steker penanak nasi yang colokannya sudah gosong di satu sisi, mengangkat MCB-nya kembali, dan lampu menyala.

“Itu penanak nasinya, Om. Jangan dipakai dulu. Besok saya bawakan yang baru.”

Om Gunawan menatapku. “Segitu doang?”

“Segitu doang.”

“Lah kok saya nggak—“

“Karena Om nggak pernah lihat ke atas,” kata Tante Wulan.

Rena tertawa sampai tersedak air.

Aku kembali duduk, dan saat aku duduk, Evelyn sedang melihat ke arahku. Bukan tatapan apa-apa. Cuma tatapan orang yang baru menyaksikan sesuatu selesai dengan cepat. Dia mengalihkan pandangan begitu aku menoleh.

Aku menyimpan tiga detik itu juga.

Ini pertama kalinya aku ke rumah ini dalam empat bulan.

Bukan karena tidak diundang. Tante Wulan mengundang terus. Ada syukuran bulan lalu, ada arisan yang katanya butuh orang untuk angkat meja, ada satu Minggu di mana Ibu bilang “kamu ikut ya” dan aku bilang ada lembur padahal tidak ada.

Aku menghindar karena aku tidak percaya pada diriku sendiri.

Waktu Rena bilang mereka putus, hal pertama yang muncul di kepalaku bukan kasihan. Aku ingat itu dengan sangat jelas dan aku tidak akan pernah memaafkan diriku untuk itu. Hal pertama yang muncul adalah sesuatu yang bergerak naik di dadaku, cepat dan hangat dan memalukan, dan aku harus berdiri di dapur selama satu menit penuh sampai benda itu turun lagi.

Setelah itu aku memutuskan untuk tidak ke rumah ini sampai aku yakin benda itu tidak akan naik lagi.

Empat bulan ternyata tidak cukup.

Malam ini benda itu naik lagi dua kali. Sekali waktu dia bilang halo. Sekali waktu dia mengambil kerupuk dari piring yang kugeser.

Aku minum air putih dan menyuruhnya turun.


Ibuku menunggu sampai piring diangkat. Beliau selalu begitu. Beliau tidak pernah mengajukan sesuatu saat orang masih makan, karena orang yang masih makan bisa pura-pura sibuk mengunyah.

“Evie,” kata Ibu.

Evelyn mengangkat kepala.

“Kamu sekarang gimana?”

Ada jeda kecil. Bukan jeda yang canggung, tapi jeda yang menunjukkan bahwa semua orang di meja itu tahu persis apa yang sedang ditanyakan, dan tidak ada satu pun yang mau menyebutnya dengan kata-kata.

Empat bulan lalu Evelyn dan Ernest putus. Dua minggu sebelum Ernest seharusnya datang ke rumah ini untuk bicara dengan Om Gunawan. Undangannya belum dicetak, tapi tanggalnya sudah dilingkari di kalender dapur, dan lingkaran itu masih ada di sana sampai sekarang karena tidak ada yang tega mencoretnya.

Aku tahu ini semua bukan karena Evelyn bercerita padaku. Aku tahu karena Rena tahu, dan Rena selalu tahu.

Yang tidak pernah dibilang siapa pun, tapi ada di ruangan ini sejak empat bulan lalu, adalah urutannya. Evelyn menyeberang dulu. Baru setahun kemudian Ernest pergi.

Tidak ada yang menghitung itu dengan suara keras. Semua orang menghitungnya.

“Baik, Tante,” kata Evelyn.

“Baik gimana?”

“Ya baik.”

“Evie.” Ibu menaruh tangannya di meja. “Tante nggak nanya kamu baik-baik aja. Tante nanya kamu sekarang gimana.”

Evelyn tersenyum. Senyum yang dipakai orang untuk menutup pintu dengan sopan.

Dan di situ Ibu melompat.

“Kalian berdua kan udah kenal dari kecil.”

Sendok di tangan Rena berhenti di udara.

“Azzam udah mapan. Kerjaannya jelas. Orangnya juga—ya kalian tahu sendiri orangnya gimana.” Ibu melambaikan tangan ke arahku seolah aku barang pameran yang tidak perlu dijelaskan. “Evelyn juga udah nggak muda-muda amat—“

“Ratih,” kata Tante Wulan.

“—maksud Tante, umurnya pas. Pas banget.”

Om Gunawan meletakkan gelas kopinya. Ayah, yang jelas sudah tahu semua ini sejak sore dan memilih untuk tidak memperingatkanku, tiba-tiba jadi sangat tertarik pada taplak meja.

“Kami sudah ngobrol,” kata Om Gunawan pelan. “Bapak sama Om Hendra.”

Aku tidak bergerak.

Ada satu bagian dari diriku yang, di detik itu, berdiri dan berteriak sesuatu yang sangat bodoh dan sangat penuh harapan. Aku menyuruhnya duduk kembali. Aku sudah punya banyak latihan.

Karena aku tahu apa yang akan terjadi. Evelyn akan menolak dengan sopan. Dia akan bilang belum siap, atau minta waktu, atau tertawa dan menganggap ini lelucon orang tua, dan besok semuanya kembali seperti biasa dan aku akan pulang dan tidur dan bangun jam lima dan pergi ke proyek.

Itu skenario yang sudah kususun di kepalaku dalam waktu kurang dari dua detik. Aku bahkan sudah menyiapkan wajah untuk menerimanya.

“Evie?” kata Tante Wulan.

Evelyn menunduk. Dia memutar cincin kecil di jari kelingkingnya—bukan cincin, sebenarnya, lebih mirip gelang tipis yang kebesaran—dan aku memaksa diriku untuk tidak melihat ke arah tangan itu.

Ruangan diam.

Lalu Evelyn mengangkat kepala, dan dia melihat ke arahku. Bukan ke arah ibunya. Ke arahku.

“Boleh,” katanya.

Aku pikir aku salah dengar.

“Boleh?” ulang Ibu.

“Iya, Tante.”

Dan itu dia. Satu kata.

Tante Wulan langsung menangis, karena Tante Wulan menangis untuk apa saja. Ibu menepuk meja dan menyebut nama Tuhan dengan volume yang tidak perlu. Om Gunawan menepuk bahu ayahku. Rena menoleh ke arahku dengan mata yang terbuka terlalu lebar, dan aku menggeleng sedikit sekali, cukup untuk menyuruhnya diam.

Aku duduk di tengah semua suara itu dan tidak merasakan apa pun yang seharusnya kurasakan.

Karena begini. Kalau kamu sudah menginginkan sesuatu selama sembilan tahun, kamu berhenti membayangkan kamu mendapatkannya. Yang kamu bayangkan cuma tidak mendapatkannya dengan cara yang tidak terlalu sakit. Jadi ketika benda itu tiba-tiba diletakkan di depanmu, yang pertama muncul bukan bahagia.

Yang pertama muncul adalah pertanyaan: kenapa?

Kenapa dia bilang boleh.

Kenapa secepat itu.

Kenapa dia tidak berpikir dulu, tidak minta waktu, tidak sekali pun menoleh ke ibunya seperti orang yang butuh diselamatkan.

Aku melihat ke arahnya, dan Evelyn sedang tersenyum ke arah ibunya sekarang, dan senyum itu sama persis dengan senyum yang tadi dia pakai waktu bilang “baik, Tante.”

Senyum menutup pintu.

Ada hal yang tidak pernah kubilang ke siapa pun, termasuk Rena. Selama sembilan tahun, aku sudah cukup sering membayangkan momen ini. Bukan pernikahannya. Cuma momen kecilnya: momen di mana Evelyn tahu, lalu dia berpikir sebentar, lalu dia bilang iya karena dia mau.

Dalam semua versi yang pernah kubayangkan, ada jeda di situ. Selalu ada jeda. Jeda itu bagian yang paling penting, karena jeda artinya dia menimbang, dan menimbang artinya aku punya bobot.

Malam ini tidak ada jeda.

Dia bilang boleh secepat orang menjawab mau teh atau kopi.

Dan aku sadar, sambil duduk di kursi itu dengan lima orang tertawa di sekelilingku, bahwa ada satu kemungkinan yang belum pernah masuk ke dalam hitunganku selama sembilan tahun.

Bukan ditolak. Bukan diterima.

Tidak dianggap cukup penting untuk ditolak.

“Azzam,” kata ayahku. “Kamu belum ngomong apa-apa.”

Semua orang menoleh.

Aku membuka mulut, dan yang keluar terdengar cukup normal.

“Ya, saya ikut aja.”

Rena menendang kakiku di bawah meja. Aku tidak menoleh.


Mereka bicara sampai jam sebelas. Soal tanggal, soal katering, soal siapa yang harus dikabari duluan supaya tidak tersinggung. Evelyn ikut bicara. Dia menjawab pertanyaan, dia mengusulkan sesuatu tentang gedung, dia bahkan tertawa dua kali pada lelucon Om Gunawan yang tidak lucu.

Aku memperhatikan wajahnya sepanjang malam, dan tidak ada satu pun yang salah dari wajah itu.

Ponselnya tergeletak di meja, di samping gelasnya, layar menghadap ke bawah.

Jam sepuluh lewat, benda itu bergetar.

Evelyn tidak langsung mengambilnya. Dia menunggu tiga hitungan, masih tersenyum ke arah ibunya, masih mengangguk pada sesuatu tentang jumlah undangan. Lalu tangannya bergerak ke meja, membalik ponsel itu beberapa sentimeter saja, hanya cukup untuk melihat.

Aku duduk di seberangnya.

Aku melihat wajahnya berubah.

Bukan berubah besar. Tidak ada yang menyadarinya, dan aku bersumpah tidak ada satu orang pun di meja itu yang melihat. Cuma sesuatu di sekitar matanya yang terbuka sedikit, sepersekian detik, dan hilang lagi.

Wajah itu tidak muncul sekali pun sepanjang malam ini.

Tidak waktu Ibu bilang perjodohan. Tidak waktu dia bilang boleh.

Evelyn membalik ponselnya kembali menghadap meja. Dia meminta maaf, bilang mau ke kamar mandi, dan berdiri.

Dan aku, yang baru saja dijodohkan dengan perempuan yang kucintai selama sembilan tahun, duduk di kursi itu dan menghitung berapa lama dia pergi.

Sebelas menit.