Chapter Three

Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan

POV: Azzam


“Jangan pakai yang itu.”

“Kenapa.”

“Karena itu kemeja rapat.” Rena berdiri di pintu kamarku dengan tangan dilipat. “Mas mau ketemu calon istri apa mau presentasi RAB?”

“Ini cuma ngobrol.”

“Ngobrol pertama. Setelah dijodohin. Berdua.” Dia menghitung dengan jari. “Itu tiga hal yang bikin sesuatu bukan cuma ngobrol.”

Aku tetap memakai kemeja itu.

Rena menghela napas dan bersandar ke kusen. “Mas.”

“Hm.”

“Mas seneng nggak, sih?”

Aku sedang memasang jam tangan dan tanganku berhenti sepersekian detik, dan aku tahu dia melihatnya karena Rena melihat semuanya.

“Ya biasa aja.”

“Bohong.”

“Rena.”

“Ya udah.” Dia mengangkat tangan. “Tapi kalau nanti Mas ngomong sesuatu yang bego, jangan cerita ke aku. Aku nggak mau ikut nanggung malunya.”

Aku keluar dari kamar dan dia berteriak dari belakang, “GANTI KEMEJANYA.”

Aku tidak ganti.


Kami ketemu di kafe di lantai dua ruko dekat kantornya, tempat yang dia pilih sendiri lewat pesan singkat yang sopan sekali sampai terasa seperti balasan email.

Dia datang duluan. Sudah duduk di pojok, sudah pesan, sudah membuka laptop dan menutupnya lagi begitu melihatku.

“Mas Azzam.”

“Udah lama?”

“Baru kok.”

Ada dua gelas di meja. Punyanya sudah tinggal setengah.

Kami duduk berhadapan, dan aku menyadari sesuatu yang aneh: kami belum pernah begini. Dua puluh tujuh tahun saling kenal, ratusan makan malam, kamar tidur yang jaraknya delapan menit — dan tidak sekali pun kami pernah duduk berdua di sebuah meja tanpa ada minimal empat orang lain di sekitarnya.

Selalu ada penyangga. Rena, atau ibu-ibu, atau bapak-bapak, atau televisi. Selalu ada sesuatu yang bisa dilihat kalau kamu tidak tahu harus melihat ke mana.

Sekarang tidak ada.

Dia menggeser gelasnya dua sentimeter ke kiri. Lalu dua sentimeter ke kanan lagi.

“Kamu mau pesen?” tanyanya.

“Nanti.”

“Oh.”

“Kamu udah?”

“Udah. Tadi.” Dia menunjuk gelasnya sendiri, yang jelas sudah dia tunjuk secara tidak langsung dengan cara meminumnya setengah. “Ini.”

“Iya.”

Ada delapan detik di mana tidak ada yang bicara.

Aku sudah pernah menghadapi rapat dengan sebelas orang yang semuanya marah. Aku pernah bicara di depan owner yang baru kehilangan uang dua ratus juta karena kesalahan tim saya. Tidak ada satu pun dari itu yang sesulit delapan detik di meja ini.

“Mas,” katanya, di detik kesembilan.

“Aku mau ngomongin yang malam itu,” kataku, di detik yang sama.

Kami berhenti bersamaan.

“Duluan,” katanya.

“Enggak, kamu.”

“Aku lupa.”

“Bohong.”

“Iya bohong.” Dia tersenyum sedikit, canggung. “Tapi kamu duluan.”

Aku sudah menyiapkan kalimat pembuka semalaman. Yang keluar bukan itu.

“Kamu nggak harus.”

Dia meletakkan gelasnya.

Wajahnya tidak berubah, tapi ada sesuatu di bahunya yang turun sedikit.

“Maksudnya?”

“Kalau kamu nggak mau, nggak usah.” Aku sudah menyusun bagian ini dengan sangat rapi, dan aku mengucapkannya dengan tenang karena aku sudah mengucapkannya belasan kali di dalam mobil. “Aku yang bilang ke mereka. Semua. Bilang aku yang berubah pikiran, aku yang nggak siap, aku yang salah. Orang tuamu nggak akan nyalahin kamu, dan kamu nggak perlu ngomong apa-apa ke siapa pun.”

“Mas—“

“Ibuku bakal ngamuk seminggu, tapi ibuku ngamuk seminggu tiap bulan, jadi nggak usah dipikir.” Aku minum. “Aku serius. Kamu nggak usah repot cari alasan. Aku udah punya alasannya.”

Dia menatapku.

Dan di detik itu, ada sesuatu yang lewat di wajahnya. Cepat sekali, seperempat detik, dan aku tahu persis apa itu karena aku sudah menghabiskan bertahun-tahun belajar membaca wajah itu.

Lega.

Aku menahan gelas di tanganku supaya tidak bergerak.

Lalu keningnya berkerut sedikit. Lega itu hilang, dan diganti sesuatu yang lain.

“Kamu keberatan?”

“Apa?”

“Kamu yang nggak mau, ya.” Dia bicara pelan, hati-hati, seperti orang yang takut menginjak sesuatu. “Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok. Mama sama Tante Ratih emang kadang—“

“Bukan gitu.”

“Terus?”

Ini bagiannya.

Ini bagian di mana aku seharusnya bilang sesuatu. Bukan semuanya. Tidak perlu sembilan tahun, tidak perlu gerbang sekolah, tidak perlu satu jam empat puluh menit. Cukup satu kalimat pendek yang jujur. Aku nggak keberatan sama sekali. Enam kata.

Aku sudah menyiapkan enam kata itu juga, kalau mau tahu. Semalaman.

Tapi aku melihat wajahnya yang lega tadi, dan aku melakukan hitungan yang salah.

Aku berpikir begini: kalau aku bilang jujur, dia harus menanggung dua hal sekaligus. Perjodohan yang tidak dia mau, dan seorang laki-laki yang mengharapkan sesuatu. Dua-duanya di rumah yang sama, setiap hari, tanpa jalan keluar.

Aku berpikir aku sedang meringankan bebannya.

Aku benar-benar berpikir begitu. Aku ingin ini dicatat, karena nanti akan ada malam-malam di mana aku ingin sekali kembali ke kursi ini dan mencekik diriku sendiri.

“Enggak,” kataku. “Aku cuma nggak mau kamu ngerasa kejebak.”

Dia mengangguk pelan. Lalu tersenyum, kecil, capek.

“Kita sama-sama nggak punya pilihan, kan?”

Satu detik.

Mungkin dua.

“Iya,” kataku.


Dan sesuatu berubah di meja itu.

Aku melihatnya terjadi. Bahunya turun beneran kali ini, bukan setengah. Dia bersandar ke kursi. Dia menarik gelasnya lebih dekat dan meminumnya sampai habis, lalu memanggil pelayan dan pesan lagi, dan pesanan kedua adalah yang manis, bukan yang pahit.

“Ya udah kalau gitu,” katanya. “Enak juga ya.”

“Apanya?”

“Nggak usah pura-pura.” Dia menggeser laptopnya ke pinggir meja. “Aku udah siapin sepuluh alasan buat nolak kamu pelan-pelan tanpa bikin kamu tersinggung, tau. Aku nulisnya di notes. Ada sepuluh.”

“Sepuluh?”

“Sebelas kalau yang soal alergi dihitung.”

“Kamu alergi apa?”

“Nggak ada. Itu yang nomor sebelas makanya jelek.”

Aku tertawa. Aku tidak berencana tertawa.

Dan dia tertawa juga, dan itu bukan tawa yang tadi malam. Tadi malam dia tertawa dua kali pada lelucon Om Gunawan dan dua-duanya tawa yang dipasang. Yang ini tidak dipasang.

Setelah itu kami mengobrol satu jam empat puluh menit.

Aku tahu persis satu jam empat puluh menit karena aku melihat jam waktu keluar dari sana dan otakku langsung menghitungnya, dan aku sadar itu angka yang sama dengan waktu aku menunggu di gerbang sekolah sembilan tahun lalu, dan aku memutuskan untuk tidak memikirkan itu.

Dia cerita soal kantornya. Soal penulis yang mengirim naskah 912 halaman dan marah waktu diminta memotong.

“Sembilan ratus dua belas?”

“Sembilan ratus dua belas.”

“Isinya apa?”

“Dua novel.” Dia menopang dagu. “Dia nulis dua novel terus dijahit jadi satu, karena dia nggak sanggup buang salah satunya. Semua orang di kantor bilang ‘potong aja tiga ratus halaman.’ Nggak bisa. Kalau dipotong, yang mati bukan halamannya, yang mati salah satu ceritanya.”

“Terus kamu bilang apa?”

“Aku nggak bilang potong. Aku bikinin dua sinopsis, satu buat masing-masing, terus aku tanya dia mau nyelesaiin yang mana duluan.”

“Terus?”

“Dia nangis.” Dia mengangkat bahu, tapi ada sesuatu di sudut matanya yang bangga dan berusaha tidak kelihatan bangga. “Terus dia kirim ulang tiga ratus empat puluh halaman dalam dua minggu. Rapi banget.”

Aku menaruh gelasku.

“Itu keren.”

“Biasa aja.”

“Enggak.” Aku menggeleng. “Orang lain bilang ‘buang tiga ratus halaman.’ Kamu nyari tau kenapa tiga ratus halaman itu ada. Itu beda banget.”

Dia menatapku sebentar, lalu memandang ke luar jendela, dan aku tidak bisa membaca wajahnya.

“Ya udah,” katanya. “Ganti topik.”

Lalu dia cerita soal bosnya yang tidak bisa membedakan em dash dan en dash tapi punya opini sangat kuat tentang keduanya, dan dia menirukan suara bosnya, dan tirunya jelek sekali, dan justru itu yang bikin lucu.

“Nggak mirip.”

“Mirip banget.”

“Aku nggak pernah ketemu bos kamu dan aku tetep tau itu nggak mirip.”

“Ya kamu emang nggak berbakat dengerin.”

Dia bertanya soal proyekku. Aku menjawab seperlunya, karena tidak ada yang menarik dari mengurus gedung enam lantai di daerah yang macet.

“Terus kalau salah gimana?”

“Salah gimana?”

“Ya kalau ada yang salah. Kan udah dicor, udah jadi. Nggak bisa di-ctrl Z.”

“Bisa dibongkar.”

“Serem banget.” Dia bergidik. “Kerjaan aku salah paling ketauan pas cetak. Kerjaan kamu salah, gedungnya roboh.”

“Nggak roboh.”

“Bisa roboh.”

“Bisa. Tapi nggak.”

“Kenapa nggak?”

“Karena ada saya,” kataku.

Dia terdiam sepersekian detik, lalu tertawa keras sekali sampai orang di meja sebelah menoleh, dan dia menutup mulutnya dengan tangan dan berbisik “sorry, sorry” ke arah meja itu, lalu menoleh lagi ke aku dengan mata yang masih tertawa.

“Ternyata kamu sombong.”

“Dikit.”

“Baru tau.”

Dia mencuri kentang dari piringku dua kali dan bilang “boleh ya” setelah mengambil, bukan sebelum.

Aku ingin sangat jelas soal ini: satu jam empat puluh menit itu adalah waktu terbaik yang pernah kualami dalam hidupku sampai hari itu.

Dan seluruhnya berdiri di atas satu kata yang kuucapkan salah.


Kami turun ke parkiran jam sembilan lewat.

“Mas.”

“Hm.”

Dia berhenti di samping mobilnya, memegang kunci dengan dua tangan seperti anak kecil yang mau bilang sesuatu yang sudah dilatih.

“Makasih ya.”

“Buat apa?”

“Buat nggak bikin ini jadi aneh.” Dia mengangkat bahu. “Aku sempet takut banget, jujur. Takutnya kamu... ya, gitu deh. Ke-GR-an. Terus aku harus baik-baikin kamu terus selama setahun ke depan dan aku nggak sanggup.”

“Oh.”

“Kalau sama orang lain aku nggak akan sanggup.” Dia melihatku, dan wajahnya jujur sekali, dan itu bagian terburuknya. “Untung kamu.”

Ada beberapa detik di mana aku tidak mengatakan apa pun.

“Iya,” kataku akhirnya. “Untung.”

Dia masuk ke mobilnya. Menyalakan mesin. Membuka jendela.

“Mas, kemejanya bagus.”

Lalu dia pergi.


Aku berdiri di parkiran itu selama entah berapa lama.

Ada satpam yang lewat dua kali dan yang kedua dia melambat sedikit, jelas mempertimbangkan apakah aku perlu ditanya. Aku mengangguk ke arahnya dan dia mengangguk balik dan berjalan terus, karena laki-laki dewasa yang berdiri diam di parkiran itu pemandangan biasa dan tidak ada yang mau tahu ceritanya.

Aku memikirkan satu kata.

Bukan seluruh percakapan. Bukan sepuluh alasan di notes-nya, bukan tirunya yang jelek, bukan kentang yang dia ambil dua kali. Cuma satu kata, satu suku kata, yang keluar dari mulutku dalam waktu kurang dari sedetik dan tidak bisa ditarik lagi.

Iya.

Ada versi lain dari malam ini. Versi di mana aku bilang enam kata itu, dan dia terdiam, dan meja itu jadi canggung, dan dia pulang lebih cepat, dan mungkin dia menolak perjodohan ini besok paginya.

Di versi itu aku tidak akan pernah menikahinya.

Tapi di versi itu, satu jam empat puluh menit tadi juga tidak akan pernah terjadi, dan aku bahkan tidak akan tahu bahwa tirunya jelek.

Aku menukar satu dengan yang lain, dalam sedetik, tanpa berpikir.

Dan yang paling jahat dari malam ini bukan bahwa aku berbohong.

Yang paling jahat adalah bohong itu berhasil.

Kalau aku bilang jujur, dia akan hati-hati padaku selamanya. Setiap kali dia tertawa, dia akan mengecek dulu apakah aku salah paham. Setiap kali dia baik, dia akan mengukur dulu supaya tidak memberi harapan. Aku pernah melihat perempuan melakukan itu ke laki-laki dan itu bukan kekejaman, itu cuma capek.

Dengan bohong, aku dapat versi dia yang tidak mengukur apa-apa.

Aku dapat sepuluh alasan di notes. Aku dapat tirunya yang jelek. Aku dapat kentang yang diambil tanpa izin.

Dan aku tahu, berdiri di parkiran itu, bahwa aku akan memilih yang sama lagi kalau disuruh mengulang. Bukan sekali. Setiap kali.

Dan aku akan menghabiskan setahun berikutnya membayar itu.

Waktu aku masuk ke mobil, ponselku menyala. Rena.

Rena:gimanaRena:masRena:MASRena:jangan bilang mas ngomong sesuatu yang bego

Aku menatap layar itu cukup lama, lalu mengetik satu kata.

Enggak.

Dua kebohongan dalam satu malam. Yang kedua jauh lebih gampang.