← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Fifteen

Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun

POV: Evelyn


Vira memaksaku makan siang hari Rabu, dan aku tahu itu bukan makan siang.

Ada tiga tanda. Dia yang memilih tempatnya. Dia datang lebih awal, yang tidak pernah terjadi seumur hidupnya. Dan dia memesan untukku sebelum aku sampai, yang artinya dia tidak mau ada waktu terbuang untuk membaca menu.

“Duduk.”

“Halo juga.”

“Duduk, Evie.”

Aku duduk.

Dia mendorong gelas ke arahku dan menatapku selama sekitar empat detik.

“Kamu ketemu dia lagi nggak?”

“Enggak.”

“Chat?”

“Vir.”

“Jawab.”

“Enggak.” Aku mengambil sedotan. “Udah lama enggak.”

“Lama itu berapa?”

“Vira.”

“Aku nanya angka.”

Aku memasang sedotan itu ke gelas dengan sangat teliti.

“Tiga minggu,” kataku.

“Tiga minggu.”

“Iya.”

“Berarti tiga minggu lalu ada.”

Aku tidak menjawab.

Vira bersandar ke kursi dan mengembuskan napas ke langit-langit.

“Kamu tau aku ini siapa buat kamu?”

“Sahabat.”

“Bukan. Aku bank data kamu.” Dia menunjuk dirinya sendiri. “Sepuluh tahun. Aku tau kamu nyontek pas ujian statistik semester tiga. Aku tau kamu pernah nangis di toilet kantor gara-gara diomelin bos yang sekarang udah resign. Aku tau semua hal jelek tentang kamu dan aku masih di sini.”

“Aku tau.”

“Jadi kalau aku nanya, aku nggak lagi ngetes kamu.” Suaranya turun. “Aku nanya karena aku satu-satunya yang boleh.”

Aku memutar gelasku dan tidak menjawab, dan itu jawaban juga.


“Kamu tau nggak,” katanya akhirnya, “yang bikin aku nggak bisa tidur itu apa?”

“Kopi.”

“Jangan bercanda.”

“Aku nggak bercanda, kamu minum kopi jam sembilan malam.”

“Evelyn.” Dia menaruh kedua tangannya di meja. “Yang bikin aku nggak bisa tidur adalah aku nggak bisa mutusin kamu ini jahat atau bodoh.”

Aku menatapnya.

“Wow.”

“Aku serius.”

“Aku juga serius. Wow.”

“Aku bilang gitu karena aku sayang sama kamu.” Dia tidak melunak sedikit pun. “Kalau aku nggak sayang, aku diem aja kayak semua orang.”

Ada sesuatu di kalimat terakhir itu yang menusuk lebih dalam dari yang dia maksud, dan dia tidak menyadarinya, dan aku tidak akan memberitahunya.

“Aku nggak jahat,” kataku.

“Kamu punya suami, Vie.”

“Iya.”

“Yang tiap pagi bikinin kamu teh.”

“Iya.”

“Yang benerin colokan rumah orang tua kamu sebelum nikah.”

“Iya.”

“Yang tidur di sofa tiga minggu—“

“Vira, itu bukan karena—“

“Aku tau itu bukan karena apa.” Dia mengangkat tangan. “Aku nggak lagi ngomongin itu. Aku ngomongin: ada orang yang tiap hari ngasih kamu sesuatu, dan kamu tiap minggu ngasih sesuatu ke orang lain.”

Aku meletakkan sedotan.

“Kamu salah,” kataku.

“Salah di mana.”

“Di bagian ‘ngasih’.” Aku menatapnya lurus. “Kamu pikir dia ngasih aku sesuatu. Dia nggak ngasih apa-apa, Vir. Dia baik karena dia emang orang baik. Dia begitu ke semua orang.”

“Evie—“

“Dengerin dulu.” Aku duduk lebih tegak. “Sabtu kemarin dia nemu kardus itu.”

Vira berhenti bergerak.

“Kardus yang—“

“Iya.”

“Terus?”

“Terus dia rapiin. Dia taruh balik. Dia bilang ‘simpan saja’.”

Vira menatapku dengan mulut sedikit terbuka.

“Dia bilang apa?”

“Simpan saja.”

“Terus?”

“Terus kita goreng telur.”


Vira duduk diam selama mungkin lima detik penuh, yang untuk Vira sama dengan lima menit untuk orang lain.

“Vie.”

“Apa.”

“Kamu denger nggak sih apa yang barusan kamu ceritain?”

“Aku yang ngalamin.”

“Ada laki-laki nemu kotak barang mantan istrinya di rumahnya sendiri, terus dia rapiin, terus dia bilang simpen aja, terus dia goreng telur.” Suaranya naik satu tingkat. “Itu bukan orang biasa aja, Evie. Itu bukan ‘dia emang baik ke semua orang’.”

“Justru itu buktinya.”

“BUKTI APA.”

“Bukti kalau dia nggak peduli.” Aku menyadari suaraku juga naik dan mengecilkannya. “Vir, pikir deh. Kalau kamu suka sama seseorang, terus kamu nemu barang mantannya di rumah kamu — kamu bakal ngapain?”

“Aku bakal marah.”

“Nah.”

“Atau aku bakal ke kamar dan nangis,” katanya. “Atau aku bakal pura-pura nggak liat. Atau aku bakal bilang ‘simpen aja’ sambil pengen mati.”

Aku membuka mulut.

Tidak ada yang keluar.

Vira menatapku, dan untuk pertama kalinya hari itu wajahnya bukan wajah marah.

“Kamu nggak kepikiran yang terakhir ya,” katanya.

“Itu nggak masuk akal.”

“Kenapa nggak masuk akal?”

“Karena—“ Aku berhenti. Aku menarik napas. “Karena orang kayak gitu nggak ada, Vir.”

“Ada.”

“Enggak ada. Orang yang beneran suka tuh nunjukin. Dia bakal cemburu, dia bakal nanya, dia bakal minta sesuatu. Itu yang normal.” Aku memutar gelasku. “Mas Azzam nggak pernah minta apa-apa dari aku. Sekali pun. Empat bulan.”

“Dan menurut kamu itu artinya dia nggak mau.”

“Iya.”

“Bukan artinya dia takut.”

Aku tidak menjawab itu, karena aku belum punya tempat untuk meletakkannya.


“Terus dia sekarang gimana?” tanya Vira. “Ernest.”

“Biasa aja.”

“Biasa aja gimana?”

“Ya biasa aja.” Aku mengangkat bahu. “Dia balesin kalau aku chat. Kadang cepet, kadang dua hari.”

“Dia pernah chat duluan nggak?”

Aku membuka mulut.

Dan aku sadar, sambil membukanya, bahwa aku sedang mencari-cari di kepalaku, dan bahwa mencari-cari itu sendiri sudah jawabannya.

“Pernah,” kataku.

“Kapan?”

“Waktu... “ Aku berhenti. “Waktu aku ulang tahun.”

“Bulan apa itu?”

“Vira.”

“Bulan apa, Evie.”

“Februari.”

Vira menghitung dengan jari, pelan, di depan wajahku, dan itu gerakan paling kejam yang pernah dilakukan orang padaku.

“Sembilan bulan,” katanya.

“Aku tau berapa bulan.”

“Sembilan bulan dan sekali, terus itu pun ucapan ulang tahun.” Dia menurunkan tangannya. “Vie, itu bukan hubungan. Itu customer service.”

Aku menatap gelasku.

“Kamu jahat banget ya,” kataku.

“Iya.”

“Beneran jahat.”

“Iya, Vie.” Suaranya pecah sedikit. “Aku jahat karena semua orang di sekeliling kamu terlalu baik dan itu nggak nolongin kamu sama sekali.”


Kami makan beberapa menit tanpa bicara.

Lalu Vira menaruh sendoknya, dan aku tahu dari cara dia menaruhnya bahwa ini bagian yang sudah dia siapkan dari rumah.

“Vie, aku mau nanya satu hal.”

“Hm.”

“Kalau nanti kamu udah selesai sama Ernest — beneran selesai, bukan yang kayak sekarang — kamu bakal ngerasa gimana?”

“Lega.”

“Bukan itu.”

“Terus apa?”

Dia menatapku.

“Kamu bakal ngerasa dua tahun kemarin buang-buang waktu?”

Sendokku berhenti.

“Karena aku mikirin ini terus,” lanjutnya, lebih pelan. “Kamu bukan cuma pacaran dua tahun terus putus, Vie. Kamu—“

“Vira.”

“—kamu ganti aga—“

“Vira.”

Suaraku keluar lebih keras dari yang kumau, dan meja di sebelah menoleh, dan aku menunduk sebentar sampai mereka berhenti.

“Jangan,” kataku.

“Vie—“

“Aku serius.” Aku menatapnya. “Itu dua hal yang beda. Itu nggak nyambung sama sekali dan aku nggak mau kamu nyambungin.”

Vira diam.

“Oke,” katanya. “Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku nggak bermaksud—“

“Aku tau.”

Dan kami lanjut makan, dan dia mengganti topik ke soal atasannya, dan aku tertawa di tempat yang tepat, dan makan siang itu selesai dua puluh menit kemudian dengan sangat sopan.


Aku menangis di mobil di parkiran selama sekitar empat menit.

Dua menit pertama karena marah. Aku menyusun balasan yang seharusnya kuucapkan, semuanya tajam, semuanya terlambat.

Dua menit terakhir bukan karena marah.

Bukan karena Vira jahat. Vira tidak jahat sedikit pun. Vira melakukan hal yang tidak dilakukan satu orang pun dalam dua tahun terakhir: dia menyebutnya.

Itu masalahnya.

Semua orang di hidupku sangat sopan. Mama sopan. Papa sopan sampai tiga hari tidak bicara. Tante Ratih sopan. Tetangga sopan. Tamu resepsi sopan, semuanya, tiga ratus dua puluh orang.

Dan karena semuanya sopan, kalimat itu tidak pernah keluar dari mulut siapa pun, yang artinya kalimat itu cuma hidup di satu tempat.

Di kepalaku.

Setiap hari. Sejak dua tahun lalu.

Kamu ganti agama buat orang yang akhirnya pergi.

Dan karena tidak ada yang pernah mengucapkannya, aku tidak pernah bisa membantahnya di depan siapa pun. Aku cuma bisa membantahnya sendirian, jam dua pagi, ke langit-langit, dengan argumen yang tidak pernah didengar siapa pun dan karena itu tidak pernah menang.

Yang paling ingin kukatakan ke Vira, dan yang tidak kukatakan, adalah ini:

Aku tidak melakukannya untuk Ernest.

Aku benar-benar tidak. Aku duduk sendirian berbulan-bulan sebelum memutuskan. Aku membaca. Aku bertanya ke orang yang tidak kenal Ernest sama sekali. Aku menulis satu kalimat berulang-ulang di kertas HVS sampai tanganku hafal, sendirian, di kamar, jam sebelas malam, karena aku tidak mau salah.

Itu milikku.

Itu satu-satunya hal besar dalam hidupku yang benar-benar milikku.

Tapi Ernest ada di sana waktu itu terjadi. Dia ada di semua fotonya. Namanya ada di semua ceritanya.

Jadi kalau aku membuang kotak itu, tidak ada satu pun yang tersisa dari dua tahun itu selain versi yang dipercaya semua orang.

Ada satu hal lagi yang tidak kukatakan ke Vira, dan yang tidak akan pernah kukatakan ke siapa pun.

Kalau aku benar-benar sudah selesai dengan Ernest — kalau aku bisa bangun besok pagi dan tidak peduli sama sekali — maka tidak ada lagi yang bisa kutunjuk.

Sekarang, kalau ada yang bertanya kenapa aku melakukannya, aku bisa bilang: ada dua tahun di sana. Ada orang. Ada foto. Ada hidup.

Tapi kalau orang itu sudah tidak ada di kepalaku sama sekali, yang tersisa cuma seorang perempuan dua puluh lima tahun yang mengubah seluruh hidupnya dan sekarang tinggal sendirian dengan keputusannya.

Dan aku takut pada perempuan itu.

Bukan karena dia salah. Karena dia sendirian, dan karena selama dua tahun terakhir aku belum pernah sekali pun berani menemaninya.

Aku menyalakan mesin jam satu lewat.

Dan aku pulang, dan Mas Azzam sudah di rumah karena hari itu dia pulang cepat, dan dia bertanya bagaimana makan siangku.

“Enak,” kataku.

“Vira apa kabar?”

“Baik.”

“Dia masih kerja di tempat yang sama?”

“Masih.”

Dan dia mengangguk dan lanjut memotong bawang, dan tidak menanyakan apa-apa lagi.

Aku berdiri di ambang dapur dan memandangi punggungnya beberapa detik.

Atau kamu bakal bilang ‘simpen aja’ sambil pengen mati.

Aku menutup pintu itu sebelum sempat terbuka lebih jauh, dan naik ke kamar untuk ganti baju.

Waktu turun lagi, dia sudah selesai memotong dan sedang menuang minyak.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu pernah nyesel nggak?”

Dia menoleh. “Nyesel apa?”

“Nikah sama aku.”

Aku tidak tahu kenapa aku menanyakan itu. Aku benar-benar tidak. Kalimat itu keluar dari suatu tempat yang tidak kuizinkan buka.

Dia mematikan kompor.

Bukan mengecilkan. Mematikan.

“Kenapa nanya gitu?”

“Nggak apa-apa. Iseng.”

“Evelyn.”

“Beneran iseng.”

Dia menatapku beberapa detik.

“Enggak,” katanya. “Nggak pernah.”

“Sekali pun?”

“Sekali pun.”

Aku mengangguk dan membuka kulkas dan mengambil air, karena aku butuh sesuatu untuk dilakukan dengan tanganku.

“Kamu?” tanyanya.

Aku menutup kulkas.

Dan aku menjawab dengan sangat cepat, terlalu cepat, secepat aku menjawab “boleh” tujuh bulan lalu.

“Enggak juga.”

Dia mengangguk dan menyalakan kompor lagi.

Aku minum air sampai habis sambil berdiri, dan tidak satu pun dari kami membahas kenapa aku menjawab dalam waktu kurang dari satu detik untuk pertanyaan yang seharusnya butuh lebih lama.