← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Thirty One

Pagi

POV: Azzam


Aku bangun jam lima seperti biasa.

Tanganku masih di pinggangnya. Aku mengangkatnya sepelan yang aku bisa dan dia bergerak sedikit dan tidak bangun.

Aku duduk di tepi ranjang selama beberapa menit.

Aku ingin menuliskan pagi itu dengan benar, karena pagi itu adalah pagi terbaik dalam hidupku, dan aku sudah cukup sering menuliskan hal-hal buruk dengan hati-hati sehingga rasanya adil untuk melakukan hal yang sama sekali ini.

Kamar itu gelap. AC dua puluh dua. Guling di lantai, di sisi jendela, tempat benda itu berakhir semalam.

Aku memungutnya dan menaruhnya di kursi meja belajar.

Bukan di tengah kasur.

Di kursi.

Aku berdiri di kamar itu memandangi guling di kursi selama beberapa detik, dan itu terasa seperti hal terbesar yang pernah kulakukan di rumah ini.


Aku menyeduh dua gelas.

Kopi untukku, teh untuknya, tutup di atas gelasnya supaya tidak dingin. Tiga ratus enam puluh tujuh hari.

Aku berdiri di dapur jam lima lewat sepuluh dan melakukan sesuatu yang bodoh: aku mencuci gelas kemarin sambil bersenandung.

Aku tidak bersenandung. Aku tidak pernah bersenandung. Aku menyadarinya di tengah dan berhenti dan merasa malu di dapur kosong.

Lalu aku melanjutkannya lagi.

Aku ingin itu masuk. Kalau nanti ada yang bertanya apakah pagi itu benar-benar sebagus itu — iya. Aku bersenandung di dapur jam lima pagi sendirian dan aku merasa malu dan aku tetap melanjutkan.

Aku mandi. Aku berpakaian.

Dan sebelum berangkat, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan.

Aku kembali ke kamar dan berdiri di pintu selama mungkin satu menit penuh, cuma untuk melihat.

Dia tidur menghadap sisiku. Selimut sampai bahu. Satu tangannya di tempat yang tadi ada aku.

Dan aku berdiri di pintu itu jam setengah enam pagi dan mengizinkan diriku, untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, memikirkan sesuatu yang selalu kutolak untuk kupikirkan.

Aku memikirkan tahun depan.

Aku memikirkan bahwa mungkin dalam enam bulan kami akan pindah kamar tidur ke sisi yang lain karena matahari pagi terlalu terang. Aku memikirkan bahwa mungkin dia akan menghabiskan dua puluh halaman kosong itu. Aku memikirkan bahwa mungkin suatu hari ada seseorang lagi di rumah ini yang tidak suka bawang goreng.

Aku berdiri di pintu kamar dan membiarkan diriku memikirkan itu semua selama satu menit penuh.

Lalu aku berangkat kerja.


Aku ingin berhenti di sini.

Aku ingin sekali menutup bab ini di paragraf itu, dan aku sudah memikirkannya, dan aku tidak bisa, karena kalau aku berhenti di sini maka bagian berikutnya jadi kejutan, dan itu tidak jujur.

Bagian berikutnya bukan kejutan.

Bagian berikutnya sudah ada di dalam diriku sepanjang pagi itu. Sepanjang guling di kursi, sepanjang satu menit di pintu kamar, sepanjang seluruhnya.

Aku sudah membawanya sejak hari Kamis.


Hari Kamis kemarin aku pulang lebih awal.

Aku sudah mengaturnya tiga minggu sebelumnya. Aku menukar jadwal opname dengan Fikri, aku memajukan satu rapat, aku bilang ke Yudha aku ambil setengah hari Kamis.

Rencananya sederhana. Aku akan menjemputnya di kantor jam empat. Ada tempat makan di daerah Menteng yang dia sebut sekali, delapan bulan lalu, waktu bercerita tentang penulisnya yang mengajaknya ke sana, dan dia bilang “enak banget, Mas, tapi mahal.”

Aku sudah pesan meja untuk jam tujuh.

Di bagasi mobil ada satu kotak kecil, dan aku tidak akan menuliskan isinya karena isinya tidak pernah sampai ke tangannya dan itu membuatku merasa bodoh sampai sekarang.

Aku sampai di daerah kantornya jam setengah dua belas siang, empat jam terlalu awal, karena aku tidak sanggup duduk di rumah.

Aku parkir. Aku jalan kaki mencari kopi.

Dan aku lewat di depan sebuah kafe di lantai dasar sebuah ruko, dan aku melihat ke dalam karena orang melihat ke dalam kafe waktu lewat.


Dia duduk di meja pojok yang menghadap pintu.

Laki-laki itu duduk di seberangnya.

Aku mengenalinya. Aku sudah pernah melihat wajah itu enam kali di kertas foto, di lantai ruang tengah rumahku, sepuluh bulan lalu.

Aku berhenti berjalan.

Ada beberapa detik di mana aku berdiri di trotoar itu seperti orang bodoh, di depan kaca, dengan matahari jam setengah dua belas.

Lalu aku menyeberang jalan supaya tidak terlihat.


Aku berdiri di seberang jalan itu selama empat puluh dua menit.

Aku tahu angkanya karena aku melihat jam waktu berhenti dan waktu pergi, dan aku sudah menyerah mencoba mengerti kenapa aku selalu melihat jam.

Aku tidak akan menjelaskan panjang-panjang apa yang kulihat. Tidak ada yang dramatis. Mereka bicara. Dia mendengarkan. Di suatu titik dia menutup wajah dengan tangan cukup lama.

Laki-laki itu tidak menyentuhnya sekali pun.

Aku ingin mencatat itu karena aku memperhatikannya, dan karena bagian dari diriku sedang menghitung, dan bagian itu adalah bagian dari diriku yang paling kubenci.

Yang menghancurkan bukan pertemuannya.

Yang menghancurkan adalah wajahnya.

Aku sudah melihat wajah itu sekali sebelumnya. Di foto keenam, yang diambil dari samping tanpa dia tahu, di kafe, sedang membaca sesuatu.

Wajah yang sepenuhnya tenang.

Wajah yang belum pernah kulihat di rumahku sendiri dalam setahun.


Ada satu momen di menit ketiga puluh sekian.

Dia menoleh ke arah jendela.

Bukan ke arahku — dia tidak melihat apa pun, dia cuma menoleh seperti orang yang matanya lelah dan butuh melihat ke tempat lain.

Dan aku, di seberang jalan, di trotoar, di belakang tiang, mundur setengah langkah.

Aku mundur.

Aku berdiri di trotoar di depan kantor istriku sendiri, di hari ulang tahun pernikahan kami, dengan sesuatu di bagasi mobil, dan aku bersembunyi dari dia.

Itu yang paling ingin kutulis dari empat puluh dua menit itu.

Bukan apa yang kulihat.

Bahwa aku bersembunyi.


Aku pergi jam dua belas lewat dua puluh.

Aku membatalkan meja jam tujuh dari mobil. Aku menelepon Fikri dan bilang aku jadi datang sore. Aku bekerja sampai jam tujuh dan pulang jam tujuh lewat dua puluh seperti hari biasa.

Dan dia bilang rapatnya di Kuningan.

Dan aku bilang oke.


Sekarang begini.

Malam itu juga adalah malam yang kutuliskan di bab lalu, dan aku ingin sangat jelas tentang apa yang kupikirkan selama malam itu, karena itu satu-satunya hal yang penting dari seluruh cerita ini.

Aku tidak berpikir dia sedang membalas budi.

Aku sudah pernah mengira begitu, tiga bulan lalu, dan aku berteriak, dan aku salah, dan aku sudah belajar.

Yang kupikirkan lebih buruk.

Aku pikir dia sudah bertemu laki-laki itu untuk terakhir kalinya.

Aku pikir sesuatu selesai di kafe itu hari Kamis, dan aku pikir dia pulang dan memutuskan untuk berhenti menoleh, dan aku pikir malam itu adalah dia menutup satu pintu dan berbalik ke arah pintu yang lain.

Itu yang kupikirkan.

Dan aku ingin, kalau ada satu hal saja dari seluruh cerita ini yang diperhatikan, satu hal ini:

Aku benar.

Aku benar sepenuhnya. Setiap bagian dari tebakan itu benar. Aku menebak dengan tepat apa yang terjadi di kafe itu dan apa yang terjadi di kepalanya dan kenapa dia melakukan apa yang dia lakukan malam itu.

Aku benar, dan aku tetap merusak semuanya, karena ada satu bagian lagi yang tidak kuhitung.


Bagian yang tidak kuhitung adalah ini.

Kalau perempuan itu berhenti menoleh — kalau dia benar-benar berhenti, kalau pintu itu benar-benar tertutup hari Kamis — maka mulai sekarang dia bebas.

Bebas memilih siapa saja.

Dan yang dia dapat adalah aku.

Bukan karena dia memilih. Karena dia sudah terlanjur menikah dengan orang yang menikahinya lewat perjodohan yang dia terima dalam lima detik karena merasa berutang kepada orang tuanya.

Aku duduk di mobil di depan rumah pagi itu — bukan pagi itu, sekitar tiga hari kemudian, tapi biarlah, karena aku tidak sanggup menyusun ini dengan urutan yang rapi — dan aku menyusun hitungan yang membuatku dingin sampai sekarang.

Dua tahun terakhir dia dikelilingi orang yang memutuskan untuknya.

Ernest menghitung berapa yang dia sanggup, memutuskan sendiri, dan pergi.

Orang tuanya memutuskan bahwa dia butuh dijaga dan menjodohkannya dengan anak keluarga yang mereka percaya.

Tiga puluh orang di meja makan memutuskan sendiri kenapa dia pindah agama dan tidak satu pun bertanya.

Dan aku.

Aku memutuskan, di sebuah kafe di lantai dua ruko, dengan satu kata, bahwa dia tidak perlu tahu ada orang yang mencintainya. Aku memutuskan itu untuknya. Aku menyimpannya selama setahun. Aku menulis enam aturan supaya keputusan itu bertahan.

Dan sekarang dia sudah bebas, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dan hal pertama yang dia temukan di kehidupan barunya adalah suami yang tidak pernah dia pilih dan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk memilih.

Aku bilang kepadanya, tiga bulan lalu, kamu nggak perlu buru-buru.

Aku pikir aku sedang memberinya waktu.

Aku sedang memberinya waktu untuk apa? Untuk sampai ke tempat di mana satu-satunya pilihan yang tersedia adalah aku?

Itu bukan menunggu.

Itu menunggui.

Kalimat itu patah di kepalaku pagi itu, di dapur, sambil menutup gelas teh, dan tidak pernah tersambung lagi.


Aku berangkat kerja jam setengah enam.

Aku bekerja sepanjang hari dengan sangat baik. Aku menyelesaikan tiga hal yang tertunda dua minggu. Fikri bilang, “Bapak kelihatan seger.”

Aku pulang jam tujuh.

Kami makan. Dia bercerita. Aku tertawa di tempat yang benar.

Dan malam itu, dan malam berikutnya, dan malam berikutnya lagi, aku tidur di kamar yang sama dengan istriku dengan guling yang sudah tidak pernah dikembalikan ke tengah oleh siapa pun.

Tiga malam.

Malam kedua dia bilang sesuatu di kegelapan yang hampir membatalkan semuanya.

“Mas.”

“Hm.”

“Besok Sabtu kamu libur?”

“Libur.”

“Aku mau ngomong sesuatu. Nggak sekarang. Besok.”

Aku berbaring di sana dengan mata terbuka.

“Ngomong apa?”

“Besok.”

“Sekarang aja.”

“Enggak.” Aku bisa mendengar dia tersenyum. “Aku harus nyusun dulu. Aku selalu harus nyusun.”

Dan aku berbaring di kegelapan dan menyusun daftar apa yang mungkin akan dia katakan besok, dan daftar itu punya empat baris, dan tiga di antaranya adalah versi berbeda dari hal yang sama.

Aku mau kita pisah.Aku ketemu dia hari Kamis dan aku harus jujur.Aku nggak bisa terusin ini.

Baris keempat aku tulis paling belakang karena aku tidak sanggup menaruhnya di atas, dan aku menghapusnya sebelum tidur karena aku sudah cukup lama hidup begini untuk tahu bahwa harapan adalah cara paling mahal untuk menghabiskan malam.

Baris keempatnya begini:

Aku tau, Mas.

Sabtu dia tidak jadi bicara. Ada telepon dari kantornya jam sepuluh dan dia harus masuk sampai sore, dan waktu pulang dia capek, dan aku bilang “besok aja.”

Aku yang bilang besok aja.

Dan besoknya adalah hari Minggu.

Aku ingin itu tercatat: tiga malam yang paling bahagia dalam hidupku terjadi setelah aku sudah tahu apa yang harus kulakukan.

Aku cuma menunda.

Dan di hari terakhir, waktu dia akhirnya siap bicara, aku yang menyuruhnya menunggu satu hari lagi.