Chapter Twenty Eight
Tanya Langsung ke Orangnya
POV: Azzam
Acara keluarga besar di rumah Om Gunawan hari Minggu, dan yang datang bukan cuma dua keluarga kali ini.
Ada sepupu dari Semarang. Ada dua tante yang belum pernah kulihat seumur hidup. Ada seorang om yang menurut Tante Wulan adalah kakak sepupunya, dan menurut Om Gunawan bukan.
Tiga puluh orang lebih. Meja panjang di halaman belakang. Enam tudung saji.
Evelyn di dapur sejak jam delapan pagi, dan aku diberi tugas mengangkat kursi dari rumah tetangga karena begitulah nasib menantu laki-laki di acara apa pun.
“Azzam, yang plastik aja, yang kayu berat.”
“Iya, Tante.”
“Sepuluh.”
“Iya.”
“Eh, dua belas.”
“Iya.”
“Eh, sepuluh aja, nanti sempit.”
Aku mengangkat dua belas.
Rena tiba jam sepuluh dan langsung ditugaskan mengupas bawang, dan menghabiskan empat puluh menit berikutnya mengeluh sambil menangis, dan tidak ada yang bisa membedakan mana yang bawang mana yang keluhan.
“Kak Evelyn, tolong.”
“Kamu mau tukeran sama apa?”
“Apa aja.”
“Cuci piring nanti.”
“...Bawangnya berapa lagi?”
Aku mendengar semuanya dari halaman sambil menyusun kursi, dan aku ingin mencatat bahwa jam sebelas pagi hari itu adalah pagi yang menyenangkan.
Kami masih sopan.
Sudah tiga hari sejak ulang tahunnya dan kami masih sangat sopan, dan aku sudah berhenti berharap itu akan berubah dengan sendirinya.
Aku tidak akan menuliskan panjang-panjang apa yang kurasakan tentang tiga hari itu. Cukup begini: aku sudah menyusun tiga puluh versi penjelasan untuk empat detik di dapur itu, dan yang paling masuk akal adalah versi yang paling sederhana.
Dia baru menerima hadiah yang terlalu besar dan tubuhnya bereaksi.
Lalu dia sadar.
Lalu dia mundur.
Aku menyalahkan diriku sendiri karena memberi hadiah yang terlalu besar. Itu isi kepalaku selama tiga hari. Aku menyalahkan diriku karena mengetik ulang sembilan puluh empat halaman.
Makan siang jam satu.
Dan sampai jam setengah tiga, semuanya baik-baik saja.
Yang memulai adalah tante dari Semarang. Namanya Tante Lily, mungkin enam puluh, dan dia jelas orang baik. Aku ingin mencatat itu sejak awal karena nanti akan terdengar sebaliknya.
Dia tidak tahu apa-apa. Itu masalahnya.
“Evie ini yang mana ya?” tanyanya, ke arah Tante Wulan, dengan Evelyn duduk empat kursi jauhnya. “Yang dulu mau nikah sama anaknya Bu Melinda?”
Ada jeda kecil di meja.
“Bukan, Tante,” kata seseorang.
“Bukan? Perasaan Tante pernah denger—“
“Yang itu batal,” kata Tante Wulan, cepat. “Udah lama.”
“Oh.” Tante Lily mengangguk. “Ya udah, syukur. Sekarang kan udah sama Azzam.”
Dan itu seharusnya selesai di situ.
Yang tidak diketahui Tante Lily adalah bahwa dia sedang duduk di meja yang berisi tiga puluh orang yang semuanya tahu, dan bahwa kesunyian tiga detik yang barusan terjadi punya bentuk yang sangat spesifik.
Jadi dia melanjutkan, karena dia orang baik yang sedang mencoba mengisi kesunyian.
“Yang penting sekarang udah seiman ya, Wulan.”
Aku sedang memegang gelas.
Aku ingat itu karena aku menaruhnya dengan sangat pelan setelahnya, dan aku ingat memutuskan untuk menaruhnya pelan.
“Iya, Tante,” kata Tante Wulan.
“Kan dulu sempet ribet.”
“Udah nggak, Tante.”
“Tante inget waktu itu—“
“Lily.” Tante Wulan tertawa, dan tawanya bagus sekali, dan itu tawa yang kupelajari selama dua puluh tujuh tahun. “Udah, jangan dibahas.”
Jangan dibahas.
Aku melihat ke arah Evelyn.
Dia sedang mengambil kerupuk dari toples untuk anak kecil di sebelahnya. Wajahnya sama sekali biasa. Dia tersenyum ke anak itu dan menaruh kerupuk di piringnya dan bilang sesuatu yang membuat anak itu tertawa.
Tidak ada satu orang pun di meja itu yang melihat apa pun.
Dan tangannya, yang bebas, di bawah meja, di pangkuannya, sudah bergerak ke kelingkingnya.
“Tante Lily,” kataku.
Kepala-kepala menoleh.
“Iya, Zam?”
Aku sudah memikirkan kalimat ini berkali-kali. Itu yang aneh. Aku sudah menyusunnya di kepalaku sejak berbulan-bulan lalu, di gudang, sambil memegang empat lembar kertas HVS dengan satu kalimat yang ditulis ulang berkali-kali dari goyah sampai lancar.
Aku cuma tidak pernah punya tempat untuk mengucapkannya.
“Boleh saya luruskan satu hal?”
“Luruskan apa?”
“Evelyn masuk Islam sendiri,” kataku. “Bukan buat siapa-siapa.”
Meja itu jadi sunyi.
Bukan sunyi yang dramatis. Sunyi yang canggung, yang lebih buruk, di mana tiga puluh orang tiba-tiba sangat tertarik pada makanan di piring masing-masing.
“Iya, iya,” kata Tante Lily. “Tante nggak bilang—“
“Saya tahu Tante nggak bilang apa-apa.” Aku bicara pelan, seperti waktu di syukuran, karena aku sudah tahu nada mana yang tidak bisa dilawan. “Tante nggak ngomong apa-apa. Nggak ada yang pernah ngomong apa-apa.”
Aku menatap meja itu. Bukan Tante Lily. Meja itu.
“Dua tahun,” kataku. “Dua tahun nggak ada satu orang pun yang nanya langsung ke orangnya. Semua orang mikirnya sendiri, terus nggak dibilangin, terus dianggap udah beres.”
“Azzam,” kata Ibu, pelan.
“Bu, ini nggak lama.”
Aku menaruh gelasku.
“Saya cuma mau bilang: kalau ada yang di meja ini masih mikir Evelyn ganti agama gara-gara orang, tolong tanyain langsung ke dia. Sekarang, besok, kapan aja. Dia ada di sini, dia bisa jawab sendiri, dan jawabannya jelas.”
Aku berhenti.
“Tapi jangan diputusin sendiri terus didiemin dua tahun. Itu jauh lebih jahat daripada nanya.”
Ada mungkin lima detik yang tidak berujung.
Lalu Om Gunawan berdehem.
“Bener,” kata beliau.
Semua orang menoleh ke arahnya.
Om Gunawan meletakkan sendoknya dan tidak melihat ke siapa pun.
“Saya juga pernah mikirnya sendiri,” katanya. “Dua tahun lalu. Saya nanya sekali ke dia, dia jawab, terus saya diem tiga hari.”
Beliau mengangkat kepala.
“Saya kira itu artinya saya nerima. Ternyata itu artinya saya nutup.”
Tante Wulan menutup mulut dengan tangan.
“Jadi ya,” kata Om Gunawan, dan mengambil sendoknya lagi. “Yang dibilang Azzam bener. Ayo makan.”
Dan meja itu, karena itu keluarga Indonesia, langsung menyelamatkan diri dengan cara satu-satunya yang mereka tahu: seseorang bertanya di mana sambal yang tadi.
Rena menemukanku di dekat keran belakang sepuluh menit kemudian, sedang mencuci tangan.
“Mas.”
“Hm.”
Dia berdiri di sebelahku dan tidak bicara selama beberapa detik.
“Itu tadi,” katanya. “Mas nyiapin dari kapan?”
“Nggak nyiapin.”
“Bohong. Mas nggak pernah ngomong panjang kalau nggak nyiapin.”
Aku mematikan keran.
“Lama,” kataku.
“Berapa lama?”
“Rena.”
“Oke.” Dia mengangkat tangan. “Tapi Mas.”
“Hm.”
“Mas tau itu dari mana?”
Aku mengambil lap.
“Tau apa.”
“Bahwa dia masuk Islam sendiri.” Rena menatapku. “Mas nggak pernah nanya ke dia. Aku tau Mas nggak pernah nanya ke dia.”
Aku melipat lap itu dan menggantungnya kembali.
“Rena, ayo makan.”
Dan aku masuk, dan dia berdiri di dekat keran itu beberapa detik lagi sebelum menyusul.
Aku tidak melihat ke arah Evelyn selama sisa makan siang itu.
Bukan karena aku menghindari. Karena aku tahu kalau aku melihat, dia akan tahu aku sedang mengecek apakah dia baik-baik saja, dan kalau dia tahu aku mengecek, dia akan memasang wajah untuk itu.
Aku mengangkat kursi kembali ke rumah tetangga jam empat.
Kami pulang jam setengah lima dan dia tidak bicara sepanjang jalan.
Rumah.
Dia langsung ke dapur untuk menaruh rantang yang dititipkan Tante Wulan, dan aku ke kamar untuk ganti baju, dan waktu aku keluar dia masih di dapur, memindahkan isi rantang ke wadah, dengan punggung menghadapku.
Aku mengambil gelas dari rak.
“Mas.”
“Hm.”
Dia tidak berbalik.
“Kenapa kamu ngomong gitu tadi?”
Aku menuang air.
“Karena harus ada yang ngomong.”
“Nggak harus.”
“Harus.”
“Mas, itu bukan urusan—“
“Evelyn.” Aku menaruh teko. “Dua tahun kamu jalan di antara orang-orang yang semuanya udah ambil kesimpulan tentang kamu dan nggak satu pun mau ngomong. Kamu tau gimana rasanya?”
Dia berhenti bergerak.
“Kamu nggak bisa ngebantah apa-apa,” kataku, “karena nggak ada yang nuduh apa-apa.”
Wadah di tangannya berhenti setengah jalan ke rak.
“Kamu tau dari mana,” katanya.
Dan di situ aku sadar aku sudah melangkah terlalu jauh.
“Aku cuma nebak.”
“Mas.”
“Aku nebak, Evelyn.”
Dia menaruh wadah itu.
Dan lalu ada beberapa detik di mana tidak ada yang bergerak di dapur itu, dan aku berdiri dengan gelas air di tangan dan mendengar kulkas berdengung.
Lalu dia berbalik.
Dan sebelum aku sempat melakukan apa pun, dia sudah melangkah dan memelukku.
Bukan dari depan. Dia menyandarkan dahinya ke bahuku dan melingkarkan tangan di punggungku, dan seluruh berat badannya bersandar, dan tanganku masih memegang gelas air yang sekarang jadi benda paling bodoh di dunia.
Aku menaruh gelas itu di rak dengan tangan kanan, hati-hati sekali, tanpa melihat.
Lalu aku memeluknya balik.
Aku ingin menuliskan apa yang terjadi di dalam kepalaku, karena kepalaku tidak berhenti bekerja bahkan saat itu, dan itu penyakit yang tidak bisa kusembuhkan.
Bagian pertama: dia memelukku.
Bagian kedua, yang datang kira-kira empat detik kemudian: kenapa.
Dan aku, dengan istriku bersandar di dadaku untuk pertama kalinya dalam hidupku, berdiri di dapur dan mulai menyusun daftar kemungkinan.
Karena aku lega ada yang membelanya. Karena aku baru menyadari betapa sendiriannya dia selama dua tahun. Karena aku merasa berutang, lagi.
Ketiganya masuk akal. Yang ketiga paling masuk akal, karena itu polanya, karena itu yang selalu terjadi.
Dan aku berdiri di sana dan memilih untuk tidak memilih.
Aku memutuskan, untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, untuk tidak menyelesaikan hitungannya.
Aku cuma berdiri di sana dan membiarkan diriku dipeluk oleh perempuan yang kucintai, tanpa tahu kenapa, dan tanpa mencari tahu.
Itu keputusan paling berani yang pernah kuambil.
Aku bertahan sekitar sepuluh menit.
Kami berdiri begitu di dapur selama entah berapa lama.
Dia tidak menangis. Aku ingin mencatat itu, karena aku menunggunya dan tidak terjadi.
Dia cuma berdiri di sana, dahi di bahuku, dan bernapas.
Dan sekitar satu menit kemudian dia bilang, sangat pelan, ke bahuku:
“Nggak ada yang pernah bilang itu keras-keras.”
“Aku tau.”
“Dua tahun, Mas.”
“Aku tau.”
Tangannya mengeratkan pegangan di punggungku.
“Kamu tau kok,” katanya.
Dan itu bukan pertanyaan.
Aku berdiri di dapur rumah kami dengan istriku di dadaku dan tidak menjawab, dan dia tidak menuntut jawaban, dan kami tetap begitu sampai kompleks di luar mulai gelap.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya reading
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis