Chapter Nineteen
Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
POV: Azzam
Acaranya syukuran rumah baru sepupuku di Depok, dan seharusnya tidak ada apa-apa di sana.
Kami datang jam sebelas. Ada tenda di halaman, ada delapan puluh orang yang setengahnya tidak kukenal, dan ada meja panjang berisi makanan yang jumlahnya tiga kali lipat dari yang bisa dihabiskan.
Evelyn duduk di kelompok ibu-ibu karena begitulah cara kerjanya. Aku di kelompok bapak-bapak, membicarakan harga besi lagi, karena bapak-bapak Indonesia cuma punya tiga topik dan salah satunya harga besi.
Aku melihatnya dari jauh sepanjang satu jam pertama.
Ada satu momen di menit kedua puluh yang kusimpan.
Anak kecil, mungkin empat tahun, menumpahkan es sirup ke roknya. Ibunya panik dan mulai memarahi anak itu di depan semua orang, dengan nada yang naik cepat, jenis kepanikan yang sebenarnya bukan tentang rok.
Evelyn menaruh piringnya, menunduk ke anak itu, dan bilang sesuatu yang tidak kudengar.
Anak itu berhenti menangis dalam empat detik.
Lalu Evelyn menoleh ke ibunya dan bilang, cukup keras untuk didengar lingkaran, “Bu, warnanya merah ya? Aman itu. Yang susah itu yang cokelat.”
Dan ibunya tertawa, dan seluruh meja tertawa, dan rok itu selamat dan anak itu selamat dan ibunya selamat, semuanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Aku berdiri di kelompok bapak-bapak yang sedang membicarakan harga besi dan berpikir: orang ini bagus sekali dalam menyelamatkan orang lain dari malu.
Aku belum menghubungkannya waktu itu dengan fakta bahwa dia menghabiskan dua tahun terakhir menyelamatkan dirinya sendiri dari hal yang sama, setiap hari, sendirian.
Dia baik sekali dalam hal ini. Aku sudah bilang ini sebelumnya dan aku akan bilang lagi: dia ingat nama, dia ingat anak siapa, dia menunduk sedikit ke tante yang lebih pendek. Ada satu ibu yang bercerita panjang lebar dan Evelyn mendengarkan dengan wajah yang benar-benar mendengarkan, bukan wajah sopan.
Jam setengah satu, seseorang memindahkan kursi supaya lingkarannya lebih rapat, dan aku pindah lebih dekat untuk mengambil air, dan aku dengar.
“Evie, sekarang udah berapa bulan?”
“Sembilan bulan, Tante.”
“Sembilan bulan.” Tante yang mana aku tidak tahu, dan tidak penting, karena kalimat ini tidak butuh nama. “Belum ada isi?”
“Belum, Tante.”
“Udah ke dokter?”
“Belum.”
“Ya harus ke dokter, Evie. Sembilan bulan itu udah lama.”
“Iya, Tante.”
“Tante dulu tiga bulan langsung.”
“Wah.”
“Anak Bu Ningsih juga. Empat bulan.”
Ada seseorang yang tertawa. Bukan tertawa jahat. Tertawa yang biasa, yang dikeluarkan orang untuk mengisi jeda.
“Jangan-jangan Azzamnya kecapekan kerja,” kata seseorang lagi.
Tawa lagi. Lebih keras.
“Atau dinginnya masih, ya.” Ini suara Ibu. Ibuku sendiri. “Namanya juga dijodohin, Nur. Butuh waktu.”
Dan aku berdiri di dekat meja air dengan gelas plastik di tangan dan melihat wajah Evelyn.
Wajahnya tidak berubah sama sekali. Dia tersenyum. Dia mengangguk. Dia bilang “iya, Tante” untuk ketiga kalinya.
Dan tangan kanannya, yang ada di pangkuan, ibu jarinya bergerak ke kelingking dan memutar lingkaran perak itu satu kali penuh.
Aku menaruh gelas itu.
“Tante Nur,” kataku, dari tempatku berdiri.
Delapan kepala menoleh.
“Aduh, Azzam. Kita lagi ngomongin kamu.”
“Iya, saya dengar.”
Ada jeda kecil. Cukup untuk beberapa orang menyadari bahwa nada suaraku bukan nada suara orang yang ikut bercanda.
Aku berjalan mendekat dan berdiri di belakang kursi Evelyn.
“Tante, boleh saya minta tolong?”
“Apa, Zam?”
“Jangan tanya itu lagi ke istri saya.”
Tenda itu jadi sunyi dalam radius tiga meter.
“Lho, Tante cuma—“
“Saya tahu Tante nggak bermaksud apa-apa.” Aku bicara pelan, dan aku tidak melipat tangan, dan aku tidak mengeraskan rahang, karena aku sudah cukup sering memimpin rapat untuk tahu bahwa nada yang paling tidak bisa dilawan adalah nada yang biasa. “Tapi pertanyaan itu cuma bisa dijawab satu orang di sini, dan orangnya lagi duduk dan nggak bisa ke mana-mana.”
“Azzam,” kata Ibu.
“Ibu juga.”
Ibuku membuka mulut.
“Bu, saya nggak marah.” Aku menoleh ke arah beliau. “Tapi ‘dinginnya masih ya’ itu, Ibu ngomongin anak Ibu sendiri, di depan delapan puluh orang, sama istri anak Ibu duduk di sebelah Ibu.”
Ada beberapa detik di mana tidak ada yang bicara.
Lalu Tante Wulan, yang duduk dua kursi dari Ibu, berkata dengan sangat ringan, “Tuh, Ratih. Kena.”
Dan seseorang tertawa, dan lalu semua orang tertawa, dan lingkaran itu selamat karena begitulah cara keluarga Indonesia menyelamatkan diri dari kesunyian.
Aku bilang, “Saya ambil minum,” dan pergi.
Rena menyusulku ke belakang rumah tiga menit kemudian dengan dua gelas es teh.
“Mas.”
“Hm.”
“Itu tadi keren banget.”
“Nggak keren.”
“Keren, Mas. Serius. Tante Nur mukanya kayak kena tilang.”
Aku minum.
“Tapi,” katanya.
“Tapi apa.”
“Nggak apa-apa.”
“Rena.”
Dia memutar gelasnya.
“Mas belain dia dari pertanyaan yang jawabannya cuma bisa dikasih Mas berdua,” katanya. “Sama satu orang lagi di tenda itu yang tau kenapa jawabannya belum ada, dan itu bukan Tante Nur.”
“Rena.”
“Aku diem.” Dia mengangkat tangan. “Aku diem. Aku cuma mikir, Mas ngelindungin dia dari pertanyaan yang sebenernya Mas juga pengen tau jawabannya.”
Dia menaruh gelasnya di pagar dan masuk kembali ke tenda.
Aku berdiri di belakang rumah sepupuku selama beberapa menit lagi.
Evelyn menyusul lima menit kemudian ke sisi rumah, tempat aku berdiri di dekat mobil.
“Mas.”
“Hm.”
Dia berdiri di sebelahku dan tidak bilang apa-apa selama beberapa detik.
“Kamu nggak perlu gitu,” katanya akhirnya.
“Perlu.”
“Nanti Tante Ratih marah.”
“Ibu bakal marah tiga hari terus lupa. Aku hafal jadwalnya.”
Dia tertawa sedikit, lalu berhenti.
“Aku bisa jawab sendiri kok.”
“Aku tau kamu bisa.”
“Terus kenapa?”
Aku memutar kunci mobil di tangan.
“Karena kamu udah jawab tiga kali dan mereka nanya lagi,” kataku. “Kalau orang harus jawab hal yang sama tiga kali, itu bukan pertanyaan lagi.”
Dia diam.
“Ya udah,” katanya. “Makasih.”
“Hm.”
“Tapi jangan lagi.”
“Nggak janji.”
“Mas.”
“Aku nggak janji, Evelyn.”
Dia menatapku sedetik lebih lama dari yang biasa, lalu masuk kembali ke tenda.
Kami pulang jam empat dan tidak membicarakannya di mobil.
Ibu menelepon jam setengah enam.
“Azzam.”
“Iya, Bu.”
“Ibu tadi salah ngomong.”
Aku menaruh gelas yang sedang kucuci.
“Iya, Bu.”
“Ibu nggak tau kenapa Ibu ngomong gitu. Ibu cuma ikut ketawa.” Suaranya di seberang lebih kecil dari biasanya. “Terus keluar aja.”
“Iya.”
“Evie marah nggak?”
“Enggak.”
“Bener?”
“Bener, Bu.”
Beliau diam.
“Zam.”
“Iya.”
“Kamu nggak apa-apa kan?”
Dan aku berdiri di depan bak cuci piring dengan tangan basah dan tidak menjawab selama sekitar dua detik, dan dua detik itu terlalu lama, dan ibuku sudah tiga puluh tahun jadi ibuku.
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Ya sudah,” katanya, setelah jeda yang lain. “Ibu nggak nanya lagi.”
Beliau menutup telepon, dan aku menyelesaikan piring.
Malamnya, jam sembilan, dia keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah dan duduk di ujung sofa, dan aku tahu dari cara dia duduk bahwa ini bukan duduk yang mau nonton.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku mau ngomong.”
Aku menutup laptop.
Dia menarik napas.
“Soal yang tadi.” Dia memandangi tangannya. “Aku minta maaf.”
“Nggak ada yang perlu dimaafin.”
“Ada.” Suaranya pelan tapi jelas. “Kamu jadi harus berdiri di depan delapan puluh orang buat belain aku dari pertanyaan yang jawabannya... ya, jawabannya aku.”
“Evelyn—“
“Aku belum siap, Mas.”
Ruangan itu jadi sangat sunyi.
“Aku tau kita udah sembilan bulan,” lanjutnya, cepat, seperti orang yang harus menyelesaikan sesuatu sebelum kehilangan nyali. “Aku tau kamu udah dua puluh sembilan. Aku tau orang tua kita nunggu. Aku tau semuanya, dan aku tetep belum siap, dan aku nggak bisa jelasin kenapa dengan alasan yang cukup bagus.”
“Kamu nggak perlu jelasin.”
“Perlu, karena ini nggak adil.” Dia menoleh ke arahku. “Kamu nggak minta apa-apa dari aku dari hari pertama. Sekali pun. Dan sekarang bahkan yang ini pun kamu yang tanggung.”
Aku menaruh laptop di meja.
Dan aku ingin sekali bisa menuliskan bahwa aku memikirkan jawabanku baik-baik. Aku tidak. Kalimat itu sudah ada di sana sejak lama, sudah kupakai berkali-kali di kepala, dan malam itu dia cuma keluar.
“Kamu nggak perlu buru-buru.”
Dia menatapku.
“Aku serius,” lanjutku. “Nggak ada jadwal. Nggak ada yang ngitung.”
“Semua orang ngitung, Mas.”
“Aku enggak.”
“Kamu—“
“Evelyn.” Aku menoleh sepenuhnya ke arahnya. “Aku nggak nunggu apa-apa dari kamu. Nggak sekarang, nggak bulan depan, nggak tahun depan. Kalau nanti kamu siap, ya siap. Kalau nggak, ya nggak.”
Ada beberapa detik di mana dia tidak bergerak.
Lalu bahunya turun.
Aku melihatnya turun, dari jarak satu setengah meter, di sofa ruang tengah rumah kami, dan aku merasakan sesuatu yang hangat dan bodoh dan penuh harapan naik di dadaku, karena aku pikir aku baru saja mengangkat sesuatu dari punggungnya.
“Makasih,” katanya.
Dan dia tersenyum. Senyum lelah, tapi senyum yang benar.
“Aku pikir kamu bakal...” Dia menggeleng. “Nggak apa-apa.”
“Bakal apa?”
“Nggak. Serius, nggak apa-apa.”
Dia berdiri, menepuk lututku sekali dengan punggung tangan, dan masuk ke kamar.
Aku duduk di sofa itu sendirian selama sekitar sepuluh menit dan merasa sangat, sangat lega.
Lalu aku ke dapur, mencuci dua gelas, mematikan lampu teras, dan mengecek pintu.
Lalu aku berdiri di depan kulkas dan membukanya tanpa alasan, seperti biasa.
Dan sambil berdiri di sana dengan pintu kulkas terbuka dan udara dingin keluar, aku memutar ulang percakapan tadi.
Aku pikir kamu bakal—
Bakal apa.
Aku menutup kulkas dan berdiri di dapur yang gelap dan mencoba menyelesaikan kalimat itu untuknya.
Aku pikir kamu bakal marah.Aku pikir kamu bakal nanya kenapa.Aku pikir kamu bakal minta.
Ketiganya masuk akal. Ketiganya adalah hal yang akan dilakukan suami mana pun di dunia.
Dan istriku menyiapkan diri untuk ketiganya, dan tidak satu pun terjadi, dan dia lega.
Aku sudah berhasil membuat diriku sendiri jadi orang yang tidak perlu diantisipasi.
Aku berdiri di dapur cukup lama, lalu masuk ke kamar dan tidur di sisiku, dan guling itu ada di tengah karena aku sendiri yang menaruhnya di sana pagi tadi.
Aku baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi malam itu jauh belakangan.
Waktu itu aku pikir aku memberinya waktu.
Yang dia dengar adalah konfirmasi.
Karena dia sudah punya sembilan bulan data. Suami yang tidur di sofa tiga minggu. Suami yang tidak pernah menyentuhnya. Suami yang menemukan kardus barang mantannya dan bilang simpan saja. Suami yang menaruh guling di tengah dan mengembalikannya ke tengah tiap pagi.
Dan malam itu suaminya bilang: aku nggak nunggu apa-apa dari kamu, nggak sekarang, nggak bulan depan, nggak tahun depan.
Kalimat yang paling sabar yang bisa kususun.
Dan dari tempat dia duduk, kalimat itu berbunyi: aku nggak menginginkan kamu, dan kamu nggak usah khawatir aku akan pernah menginginkan kamu.
Bahunya turun karena lega.
Aku menghabiskan sembilan bulan menyusun kalimat yang tidak menuntut apa pun, dan aku berhasil, dan keberhasilan itu yang menghancurkan kami.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru reading
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis