Chapter Thirty Eight
Kalian Berdua
POV: Evelyn
Kontrakannya di gang yang cuma muat satu mobil, dan aku memarkir di mulut gang dan berjalan kaki delapan puluh meter.
Delapan puluh meter.
Aku menghitungnya sambil jalan, dan aku tertawa satu kali sendirian di gang itu, dan seorang ibu yang sedang menyapu menoleh ke arahku.
Nomor empat belas. Pintu cokelat. Ada pot kosong di sebelahnya yang jelas sudah ada sebelum dia pindah.
Sabtu, jam tiga sore.
Aku mengetuk.
Butuh dua puluh detik.
Pintu terbuka dan dia berdiri di sana dengan kaus oblong dan celana pendek, rambut basah, seperti orang yang baru selesai mandi.
Wajahnya melakukan hal yang sama seperti di Bekasi.
Takut.
“Evelyn.”
“Boleh aku masuk?”
“Kamu dari mana tau—“
“Rena.”
Dia menghela napas.
“Evelyn, aku udah bilang—“
“Aku tau kamu udah bilang.” Aku berdiri di depan pintu itu dan tidak bergerak. “Mas, aku nggak akan maksa kamu. Kalau kamu tutup pintunya, aku pulang.”
Dia diam.
“Tapi aku bakal balik lagi besok,” kataku.
“Evelyn—“
“Dan lusa.”
Dia berdiri di ambang pintu itu selama mungkin sepuluh detik.
“Kamu bakal balik lagi beneran?”
“Iya.”
“Berapa lama?”
Dan aku berdiri di gang itu jam tiga sore dan menjawab dengan jujur.
“Aku nggak tau, Mas.”
“Evelyn—“
“Aku nggak punya angka.” Aku menatapnya. “Kamu punya sembilan tahun. Aku nggak punya apa-apa. Aku cuma tau aku bakal ke sini besok.”
Dan sesuatu di wajahnya bergerak.
Lalu dia mundur satu langkah dan membuka pintunya lebih lebar.
Rena benar.
Aku ingin menuliskan ruangan itu dengan benar, karena ruangan itu adalah seluruh isi kepalanya yang dijadikan tempat.
Satu ruangan. Kasur di lantai, sudah dirapikan dengan sudut selimut yang ketemu semua. Satu meja lipat. Satu kursi plastik. Kompor listrik satu tungku di atas rak kecil.
Dan di dinding, satu gantungan dengan lima kemeja, disusun sesuai warna.
Tidak ada apa pun yang lain. Tidak ada foto, tidak ada barang, tidak ada satu benda pun yang menunjukkan ada orang yang tinggal di sini lebih dari seminggu.
“Duduk,” katanya, menunjuk kursi plastik itu.
“Kamu duduk di mana?”
“Aku berdiri.”
“Mas.”
“Aku berdiri, Evelyn.”
Aku duduk.
Dan dia berdiri di dekat dinding dengan tangan dilipat, dan itu posisi orang yang siap mendengarkan sampai selesai lalu tetap tidak berubah.
Aku duduk di kursi plastik itu dan menarik napas.
Dan aku ingin mencatat bahwa aku tidak menyiapkan satu pun kalimat untuk hari itu.
Aku, yang selalu menyiapkan empat kalimat dan tiga skenario cadangan, yang menghitung sebelas detik di panggung waktu umur tiga belas, yang menulis satu kalimat berulang-ulang di kertas HVS sampai tanganku hafal — aku duduk di kursi plastik itu tanpa satu pun kalimat.
Karena aku sudah mencoba yang disiapkan. Dua belas menit di mobil di Bekasi, tersusun rapi, lengkap dengan urutan.
Dan dia bilang makasih.
“Aku nggak akan jelasin apa-apa hari ini,” kataku.
Dia mengangkat kepala sedikit.
“Minggu lalu aku ngomong dua belas menit di mobil kamu,” kataku. “Aku jelasin semuanya. Aku bahkan minta maaf, padahal aku nggak yakin aku salah apa.”
“Evelyn—“
“Dan kamu bilang makasih.”
Dia tidak menjawab.
“Jadi hari ini aku nggak akan jelasin.” Aku menatapnya. “Hari ini aku mau ngomongin kamu.”
“Kamu tau aku ketemu Ernest hari Sabtu kemarin?”
Wajahnya berubah, dan aku melihatnya berubah, dan aku tidak berhenti.
“Aku ketemu dia buat minta tolong ngomong ke kamu. Terus aku batalin, karena aku nggak mau ada satu lagi laki-laki yang nyelesaiin hidup aku buat aku.”
Dia membuka mulut.
“Belum selesai.”
Dia menutupnya.
“Dia cerita semuanya bulan lalu,” kataku. “Kenapa dia pergi tiga tahun lalu. Usaha bapaknya kolaps, dia mewarisi tujuh ratus empat puluh juta, bapaknya kena stroke, adiknya masih kuliah.”
Aku berdiri dari kursi itu.
“Dan dia duduk di ruang tamu rumah orang tuaku, dua minggu sebelum ngelamar, dan dia denger Mama cerita bahwa Papa nggak ngomong tiga hari waktu aku pindah agama.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Terus dia ngitung,” kataku. “Dia ngitung berapa banyak yang udah aku bayar, dan dia ngitung berapa banyak lagi yang harus aku bayar kalau dia lanjut, dan dia mutusin aku nggak sanggup.”
Aku menatapnya lurus.
“Terus dia pergi. Tanpa nanya.”
Azzam berdiri di dekat dinding dengan tangan yang sudah tidak dilipat lagi.
“Evelyn.”
“Kamu tau apa yang aku bilang ke dia di kafe itu?”
“Evelyn—“
“Aku bilang: ‘yang paling nyakitin bukan kamu pergi. Yang paling nyakitin kamu mutusin buat aku.’”
Aku melangkah satu langkah.
“Aku bilang: ‘aku mungkin bakal bilang nggak apa-apa dan aku mungkin bakal nyesel di tahun ketiga. Kita nggak akan pernah tau, karena kamu nggak pernah nanya.’”
Dan aku berhenti di tengah ruangan itu dan bilang:
“Mas, kamu sama aja sama dia.”
Aku melihat kalimat itu mendarat.
Aku melihatnya mendarat secara fisik. Sesuatu di bahunya turun dan sesuatu di wajahnya berhenti.
“Jangan,” katanya.
“Apa?”
“Jangan bandingin aku sama dia.”
Dan itu suara yang tidak pernah kudengar dari orang ini. Bukan tenang. Bukan sopan.
“Kenapa enggak?”
“Karena aku nggak ninggalin kamu buat—“
“KAMU NINGGALIN AKU HARI MINGGU.”
Dia berhenti.
“Kamu ninggalin aku hari Minggu, Mas. Sepuluh hari lalu. Kamu ngurus sertifikat, kamu ngurus notaris, kamu kemas tas malem-malem terus kamu sembunyiin di gudang biar aku nggak liat.”
Aku melangkah lagi.
“Dan hari Selasa kamu balik ke rumah itu waktu aku kerja, terus kamu benerin tujuh hal, terus kamu tulis catetan soal tukang listrik namanya Pak Deden.”
“Evelyn—“
“Itu apa kalau bukan orang yang mutusin sendiri berapa yang aku sanggup?”
Dia tidak menjawab.
“Kalian berdua duduk sendirian,” kataku, dan suaraku sudah bergetar dan aku tidak menahannya lagi. “Kalian berdua ngitung berapa yang aku sanggup. Kalian berdua mutusin jawabannya. Terus kalian berdua jalanin keputusan itu bertahun-tahun tanpa nanya aku sekali pun.”
“Aku nggak—“
“Sembilan tahun, Mas.”
Dia berhenti.
“Sembilan tahun kamu mutusin aku nggak perlu tau.” Aku menyeka wajahku dengan punggung tangan. “Terus setahun kamu mutusin aku nggak perlu ditanya. Terus bulan lalu kamu mutusin aku nggak sanggup milih, terus kamu pergi, terus kamu bilang itu ngasih aku pilihan.”
“Aku ngasih kamu—“
“KAMU NGGAK NANYA AKU MAU APA.”
Ruangan itu memantulkan suaraku dan berhenti.
Aku belum pernah berteriak di depan orang ini. Sekali pun.
“Sekali,” kataku, lebih pelan. “Sekali aja, dalam sembilan tahun, coba tunjukin ke aku kapan kamu nanya aku mau apa.”
Dia tidak menjawab.
“Di kafe, tiga belas bulan lalu, aku nanya kamu ‘kamu keberatan?’ dan kamu bilang enggak.” Aku menatapnya. “Itu satu-satunya kesempatan, Mas. Aku ngasih kamu pintu dan kamu tutup sendiri.”
“Kalau aku bilang jujur waktu itu, kamu bakal—“
“Kamu nggak tau apa yang aku bakal lakuin!”
Dan aku melihat sesuatu pecah di wajahnya.
“Kamu nggak tau,” ulangku. “Kamu nggak akan pernah tau, karena kamu nggak pernah kasih aku kesempatan buat jadi orang yang bisa salah.”
Dia bersandar ke dinding.
Bukan bersandar dengan gaya. Bersandar seperti orang yang kakinya berhenti bekerja.
“Aku pengen bilang satu hal lagi,” kataku, “terus aku pulang.”
Dia mengangkat kepala.
“Kamu bilang kamu takut aku bertahan gara-gara nggak sanggup nyia-nyiain sembilan tahun kamu.”
“Iya.”
“Mas, aku emang gitu.”
Dia berkedip.
“Aku emang orang kayak gitu,” kataku. “Vira udah bilang berkali-kali. Aku punya buku kas di kepala. Aku ngitung semua yang orang keluarin buat aku terus aku bayar sampai impas. Aku begitu ke Mama, ke Papa, ke Ernest, ke semua orang.”
Aku menarik napas.
“Dan kamu bener bahwa itu bahaya.” Aku menatapnya. “Tapi kamu tau apa yang kamu lakuin sama informasi itu?”
Dia tidak menjawab.
“Kamu pakai buat mutusin sendiri,” kataku. “Kamu bilang: ‘dia orangnya begitu, jadi aku tau apa yang bakal dia lakuin, jadi aku nggak usah nanya.’”
Suaraku pecah di kata terakhir.
“Kamu kenal aku sembilan tahun dan kamu pakai itu buat berhenti nanya.”
“Dan satu hal lagi,” kataku.
Dia mengangkat kepala.
“Kamu bilang minggu lalu kamu percaya sama aku. Kamu bilang kamu percaya aku beneran mau.”
“Iya.”
“Terus kamu tetep pergi.”
Aku menyeka wajahku.
“Mas, kamu tau itu artinya apa?” kataku. “Artinya kamu denger jawabannya, terus kamu buang, terus kamu pakai jawaban yang udah kamu siapin duluan.”
“Aku nggak—“
“Itu bukan orang yang nggak percaya sama aku,” kataku. “Itu orang yang nggak percaya sama dirinya sendiri, terus dia bikin aku yang bayar.”
Dan dia berdiri di dekat dinding itu dan menutup mata.
Ada mungkin dua puluh detik di mana tidak ada yang bergerak di ruangan itu.
Dia berdiri bersandar ke dinding dengan kepala menunduk, dan aku berdiri di tengah, dan di luar ada anak-anak main dan ada tukang bakso lewat.
Aku mengambil tasku.
“Aku pulang,” kataku.
Aku berjalan ke pintu.
Aku sudah memegang gagangnya.
Dan dari belakang, suaranya datang, dan suaranya sudah bukan suara yang sama.
“Evelyn.”
Aku berhenti.
“Aku mau nanya sesuatu.”
Aku berbalik.
Dia masih bersandar ke dinding, dan wajahnya basah, dan aku belum pernah melihat wajah itu seumur hidupku.
“Sekarang?” kataku.
“Sekarang.”
“Sembilan tahun, terus sekarang?”
“Iya.”
Dan aku berdiri di depan pintu kontrakan berukuran satu kamar di gang yang cuma muat satu mobil, dengan tangan masih di gagang pintu, dan bilang:
“Ya udah. Tanya.”
Dia menarik napas.
Dan laki-laki itu, untuk pertama kalinya sejak dia berumur tujuh belas tahun, bertanya.
“Kamu mau apa?”
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua reading
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis