Chapter Twenty One
Sampai Kau Berhenti Menoleh
POV: Azzam
Dua minggu setelah malam hujan itu, dia jadi baik sekali.
Aku tahu bagaimana ini terdengar. Aku tahu bahwa menuliskan “istriku jadi baik sekali” lalu melanjutkannya dengan keluhan adalah salah satu hal paling tidak tahu diri yang bisa dilakukan manusia.
Aku tetap akan menuliskannya, karena itu yang terjadi.
Dia mulai masak lima kali seminggu, bukan dua. Dia mulai mengangkat jemuran. Dia membeli keset baru untuk kamar mandi karena yang lama sudah tipis dan aku bahkan tidak menyadari yang lama sudah tipis.
Hari keempat dia menunggu di ruang tengah sampai aku pulang jam setengah sembilan, padahal biasanya dia sudah di kamar dengan laptop.
“Kamu belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
“Jam segini kamu biasanya udah di kamar.”
“Ya nggak selalu.”
Dia menonton drama itu tanpa suara dengan subtitle menyala, yang artinya dia menontonnya bukan untuk menonton.
Hari keenam dia menyetrika kemejaku.
Aku menemukannya digantung di gagang pintu kamar, lima potong, disusun sesuai warna karena begitulah aku menyusunnya di lemari dan dia sudah menghafal itu entah kapan.
Aku berdiri di depan pintu itu selama sekitar lima belas detik.
“Kamu setrika kemejaku?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Ya... “ Dia mengangkat bahu dari meja makan. “Numpuk.”
Kemeja itu tidak menumpuk. Aku menyetrika sendiri tiap Minggu malam dan Minggu kemarin sudah kuselesaikan.
“Makasih,” kataku.
“Iya.”
Dan aku masuk ke kamar dan menutup pintu dan berdiri di dalam sana beberapa detik sambil memegang gagang, karena ada perasaan yang datang dan aku tidak menyukai bentuknya.
Semua yang dia lakukan minggu itu adalah hal yang bagus.
Dan semuanya berbunyi seperti orang yang sedang membayar sesuatu.
Hari kesembilan dia bertanya, “Fikri masih ngirim foto?”
Aku sedang makan dan berhenti mengunyah.
“Apa?”
“Fikri. Anak buah kamu.” Dia menaruh sendoknya. “Yang dulu tiap hari kamu suruh kirim foto staking.”
“Kamu inget namanya?”
“Ya inget.”
“Kamu inget dari kapan?”
“Mas, kamu cerita berkali-kali.”
Aku menaruh sendokku juga.
“Tiga kali,” kataku. “Dalam sebelas bulan.”
Dia menatapku.
“Ya... “ Dia mengangkat bahu, dan gerakan itu terlalu cepat. “Aku editor. Aku inget nama orang.”
“Oh.”
“Jadi masih ngirim nggak?”
“Udah enggak. Setahun udah lewat.”
“Terus dia gimana sekarang?”
“Bagus. Dia yang paling teliti di lapangan sekarang.”
“Karena kamu.”
“Karena dia.”
Dia tersenyum ke arah piringnya dan tidak melanjutkan, dan aku menghabiskan makan malam itu dengan sesuatu yang tidak enak duduk di dadaku, dan aku butuh dua hari untuk menamainya.
Orang tidak tiba-tiba menanyakan pekerjaan suaminya di bulan kesebelas.
Orang tiba-tiba menanyakan pekerjaan suaminya kalau dia baru berutang sesuatu.
Hari kesebelas Yudha menanyakan motornya.
“Zam, motorku kok bensinnya penuh?”
“Aku isi.”
“Aku pinjemin doang, bukan minta diisi.”
“Aku pakai malem-malem, hujan, jauh.” Aku tidak mengangkat kepala dari layar. “Udah, jangan dibahas.”
Yudha duduk di kursi seberang mejaku dan tidak pergi.
“Bintaro ya?”
Aku berhenti mengetik.
“Kamu ngapain ngecek?”
“Aku nggak ngecek.” Dia mengangkat bahu. “Odometer. Aku catat tiap isi bensin. Aku orangnya gitu.”
“Yudh.”
“Aku nggak nanya kenapa.” Dia berdiri. “Aku cuma mau bilang, kalau kamu butuh motor lagi, ambil aja. Nggak usah izin.”
Dia kembali ke mejanya sendiri.
Sepuluh menit kemudian dia berteriak dari seberang ruangan, “TAPI ISIIN BENSIN.”
Tiga orang di kantor tertawa dan aku ikut tertawa, dan itu berhasil selama sekitar empat detik.
Hari Sabtu aku mencuci mobilnya.
Bukan karena apa-apa. Mobil itu belum dicuci sejak malam hujan dan sudah ada garis-garis di kap dan aku tidak tahan melihatnya.
Aku membersihkan bagian dalam juga. Vacuum, lap dashboard, kosongkan tempat sampah kecil yang digantung di belakang kursi.
Di tempat sampah itu ada tiga bungkus permen, satu struk minimarket, dan satu karcis parkir.
Aku sudah membuangnya ke kantong sebelum otakku selesai membaca.
Lalu aku mengambilnya kembali.
Aku duduk di kursi pengemudi mobilnya dengan pintu terbuka dan kaki di luar, memegang secarik karcis parkir seukuran telapak tangan.
MASUK 10:52KELUAR 19:38
Delapan jam empat puluh enam menit.
Aku duduk di sana dan mulai bekerja, karena itu yang kulakukan kalau ada angka di depanku.
Dia meneleponku jam sembilan belas kosong tujuh. Aku ingat karena aku melihat layarnya.
Kami keluar dari parkiran itu jam sembilan belas tiga puluh delapan, yang berarti karcis ini keluar bersama kami, yang berarti kami keluar tiga puluh satu menit setelah dia menelepon, yang cocok karena aku sampai jam sembilan belas empat puluh dan kami sempat duduk beberapa menit sebelum jalan.
Jadi angka yang penting bukan yang itu.
Angka yang penting: dia masuk jam sepuluh lima puluh dua.
Delapan jam lima belas menit sebelum dia meneleponku.
Aku duduk di kursi itu cukup lama dengan air sabun mengering di kap mobil.
Aku sudah tahu ke mana dia pergi hari itu. Aku sudah tahu sejak dia mengangkat telepon dengan suara seperti itu, dan aku sudah tahu lebih pasti lagi waktu dia tidak menjelaskan apa pun sepanjang lima puluh menit di jalan.
Yang tidak kutahu adalah delapan jam.
Sebuah pertemuan tidak makan waktu delapan jam. Aku sudah cukup sering rapat untuk tahu bahwa apa pun yang terjadi di kafe itu selesai dalam satu jam, mungkin kurang.
Sisanya, dia di sana.
Di parkiran itu, di mobil ini, di kursi yang sedang kududuki, sendirian, selama entah berapa jam, dalam hujan.
Dan pada suatu titik dia mengambil ponselnya.
Dan aku bukan panggilan pertama. Aku tahu itu, bukan karena aku memeriksa apa pun, tapi karena tidak ada orang yang butuh berjam-jam untuk menekan nama orang pertama.
Aku orang yang dia telepon setelah dia kehabisan cara lain untuk pulang.
Aku ingin mencatat apa yang tidak kurasakan waktu itu, karena itu bagian yang paling membingungkan.
Aku tidak marah kepadanya.
Sungguh. Aku sudah menunggu perasaan itu datang selama beberapa menit, seperti orang menunggu obat bekerja, dan tidak datang.
Yang datang adalah sesuatu yang jauh lebih jelek, dan aku baru menemukan namanya sekitar dua puluh menit kemudian, sambil membilas kap mobil dengan selang.
Aku merasa cukup.
Aku merasa cukup karena dia meneleponku sama sekali.
Itu isi kepalaku, jam sepuluh pagi hari Sabtu, sambil menyemprot mobil istriku: setidaknya dia telepon aku.
Aku sudah menurunkan standar hidupku ke titik di mana dijadikan pilihan terakhir terasa seperti kemenangan.
Ada satu momen yang belum kutulis dan aku hampir melewatinya karena aku tidak ingin menuliskannya.
Sebelum aku menaruh karcis itu kembali, aku memotretnya.
Dengan ponselku. Di parkiran rumahku sendiri. Dua jam sebelum makan siang.
Aku tidak tahu untuk apa. Aku benar-benar tidak tahu untuk apa. Tidak ada satu skenario pun di mana aku akan menunjukkan foto karcis parkir kepada siapa pun.
Aku menghapusnya sepuluh detik kemudian.
Lalu aku duduk di kursi itu dan menyadari apa yang barusan kulakukan, dan yang paling mengganggu bukan bahwa aku memotretnya.
Yang paling mengganggu adalah aku tahu persis siapa lagi di rumah ini yang menyimpan tangkapan layar dari sesuatu yang seharusnya dia buang.
Kami sedang mengerjakan hal yang sama, di rumah yang sama, dan tidak satu pun dari kami tahu.
Aku menyelesaikan mobil itu jam sebelas.
Aku menaruh karcis itu kembali ke tempat sampah kecil di belakang kursi, dan aku melakukannya dengan hati-hati sekali, dan aku mengaturnya supaya posisinya sama seperti waktu kutemukan, di bawah bungkus permen.
Aku sudah punya keahlian ini sekarang. Aku sudah melakukannya dengan kardus, dan sekarang dengan karcis, dan aku curiga aku akan melakukannya lagi.
Lalu aku masuk ke rumah dan mandi.
Dia sedang di dapur waktu aku keluar, membuat sesuatu yang berbunyi.
“Udah?”
“Udah.”
“Bersih banget.”
“Dalemnya juga.”
Ada jeda setengah detik yang mungkin tidak ada.
“Makasih ya,” katanya.
“Hm.”
Malamnya kami menonton drama itu bersama, yang sudah jadi kebiasaan sejak aku sakit.
Ha-jun masih belum bilang. Sudah dua puluh dua episode.
“Ini nyebelin banget,” kataku.
“Kan.”
“Berapa episode lagi?”
“Enam belas.”
“Enam belas?”
“Iya.”
“Dia bakal ngomong nggak?”
“Kata orang di internet, episode tiga puluh dua.”
“Berarti sepuluh episode lagi dia diem?”
“Iya.”
Aku menatap layar.
“Ngapain aja sepuluh episode?”
“Ya... nolongin Seo-yeon.” Evelyn menarik kaki ke sofa. “Terus Seo-yeon nggak sadar. Terus dia nolongin lagi.”
“Terus Seo-yeon nggak sadar lagi.”
“Iya.”
“Kenapa Seo-yeon nggak sadar-sadar sih?”
Dan Evelyn, dengan wajah yang benar-benar biasa, sambil memasukkan keripik ke mulut, bilang:
“Karena Ha-jun terlalu jago nyembunyiinnya. Kalau kamu terlalu jago, orang nggak akan pernah nyari.”
Aku menoleh ke arahnya.
Dia menonton layar. Dia tidak menyadari apa-apa. Dia tidak sedang bicara tentang siapa pun.
“Iya,” kataku.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Aku berbaring terjaga malam itu sampai lewat jam satu, seperti biasa, dengan guling di tengah dan napasnya sudah berubah di sisi lain.
Dan aku melakukan hitungan yang paling bodoh yang pernah kulakukan.
Sebelas bulan menikah. Sembilan tahun sebelum itu.
Kalau seseorang butuh dua tahun untuk berhenti menoleh, aku sudah menghabiskan sepersepuluh dari waktu itu.
Kalau lima tahun, aku baru seperlima.
Kalau tidak pernah, tidak ada angkanya.
Aku memandang langit-langit dan menyusun kalimat itu untuk pertama kalinya dengan lengkap, dan aku ingat kalimatnya persis karena aku mengulanginya cukup banyak setelah malam itu.
Aku bisa tunggu.
Aku bisa tunggu sampai kau berhenti menoleh.
Dan aku ingin, kalau ada yang membaca ini, satu hal saja diperhatikan.
Aku menyusun kalimat itu seperti orang menyusun janji.
Bukan seperti orang menyusun ancaman.
Aku tidak tahu waktu itu bahwa itu ancaman. Aku pikir itu kesabaran. Aku pikir itu semacam hadiah yang kuberikan kepada perempuan yang tidur delapan puluh sentimeter dariku.
Butuh sepuluh bulan lagi sampai aku mengerti bahwa aku baru saja memberi diriku sendiri izin untuk tidak melakukan apa-apa, tanpa batas waktu, dan menyebutnya cinta.
Karena “aku bisa tunggu” punya syarat.
Dan syaratnya adalah dia harus berubah.
Bukan aku.
Aku tidur sekitar jam dua.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh reading
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis