← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Forty Two

Extra 2: Perkara Sendok

POV: Azzam


Aku ingin mencatat sejak awal bahwa aku tidak tahu apa yang kulakukan salah.

Aku menuliskan itu bukan untuk membela diri. Aku menuliskannya karena itu fakta paling penting dari seluruh kejadian ini, dan karena itu yang membuat sembilan jam berikutnya jadi sembilan jam terpanjang dalam hidupku sejak tahun kedua pernikahanku.

Hari Rabu. Jam tujuh malam. Rumah normal. Tidak ada apa-apa.

Kami makan.

Dan di suatu titik, entah kapan, Evelyn berhenti bicara.


Aku baru menyadarinya sekitar delapan menit kemudian.

Delapan menit adalah waktu yang sangat lama untuk perempuan ini tidak bicara di meja makan. Rekor sebelumnya empat menit dan itu waktu dia sedang mengunyah tulang ayam yang keras.

“Evelyn.”

“Hm.”

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Dan aku menaruh sendokku, karena tiga tahun terakhir sudah mengajariku satu hal, dan satu hal itu adalah bahwa “nggak apa-apa” di rumah ini adalah kata sandi.

“Aku nggak percaya.”

Dia mengangkat kepala.

“Apa?”

“Aku nggak percaya kamu nggak apa-apa.”

Dan dia menatapku selama sekitar dua detik dengan wajah yang tidak bisa kubaca sama sekali, lalu bilang:

“Bagus.”

Dan berdiri dan membawa piringnya ke dapur.


Aku duduk di meja itu dengan sendok di tangan dan otak yang sudah mulai bekerja.

Aku menyusun daftar. Aku selalu menyusun daftar.

Satu. Aku pulang jam berapa? Setengah delapan. Normal. Dua. Aku bawa apa? Nasi uduk. Yang dia minta kemarin. Tiga. Aku bilang apa waktu masuk? “Aku bawain nasi uduk.” Dia bilang “makasih.” Nadanya normal. Empat. Ada telepon? Rena, jam enam, soal kunci mobil. Tiga menit. Lima. Ada yang aku janjiin dan lupa?

Aku berhenti di nomor lima selama sekitar empat puluh detik.

Tidak ada.

Aku memeriksa aplikasi catatan di ponselku, yang sekarang isinya bukan enam aturan tapi daftar belanja dan nomor tukang, dan tidak ada satu pun yang belum kucentang.

Aku mencuci piring.

Dan sambil mencuci piring aku melakukan sesuatu yang sangat memalukan: aku menelepon Rena.

“Mas?”

“Ren.”

“Kenapa? Ini jam delapan.”

“Aku mau nanya.”

“Nanya apa?”

“Perempuan biasanya marah gara-gara apa?”

Hening tiga detik di seberang.

“Mas.”

“Hm.”

“Itu pertanyaan paling luas yang pernah ada.”

“Aku serius.”

“Mas, aku perempuan dan aku nggak tau.”

“Kamu nggak nolongin.”

“Ya kan aku nggak tau apa yang terjadi!” Suaranya naik. “Mas ngapain?”

“Aku nggak ngapa-ngapain.”

“Pasti ngapa-ngapain.”

“Aku pulang, aku bawa nasi uduk, aku makan.”

“Terus?”

“Terus dia berhenti ngomong.”

Rena diam agak lama.

“Mas.”

“Hm.”

“Coba inget-inget seminggu terakhir.”

“Aku udah.”

“Ada barang yang Mas pindahin?”

Dan aku berdiri di depan bak cuci piring dengan tangan basah dan tidak menjawab selama sekitar empat detik, karena tidak ada satu pun yang muncul di kepalaku, karena aku benar-benar tidak ingat.

“Nggak ada,” kataku.

“Ya udah, Mas nggak akan nemu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau Mas bisa nemu sendiri, Mas nggak akan pernah ngelakuinnya dari awal.”

Dan adikku yang berumur dua puluh enam tahun menutup telepon, dan aku berdiri di dapur dan merasa dihakimi oleh anak kecil.



Dia di sofa dengan laptop.

Aku duduk di kursi seberangnya.

“Evelyn.”

“Hm.”

“Aku salah apa?”

“Nggak salah apa-apa.”

“Kamu marah.”

“Aku nggak marah.”

“Kamu marah, dan kamu nggak mau bilang, dan itu hak kamu.” Aku menaruh tangan di lutut. “Tapi aku beneran nggak tau.”

Dan dia menutup laptop.

Dan dia bilang, dengan sangat tenang:

“Kamu inget nggak sendok yang aku beli bulan lalu?”


Aku menatapnya.

“Sendok?”

“Iya.”

“Sendok yang mana?”

“YANG AKU BELI BULAN LALU, MAS.”

“Evelyn, kita punya banyak sendok—“

“Yang gagangnya kayu.”

Dan ada tiga detik di mana aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupku.

“Yang gagangnya kayu,” ulangku.

“Iya.”

“Yang buat masak?”

“IYA.”

“Kenapa sama sendoknya?”

Dan Evelyn menatapku, dan matanya sudah basah, yang membuat seluruh situasi ini jadi seribu kali lebih menakutkan, dan dia bilang:

“Kamu pakai buat ngaduk cat.”


Aku pernah menghadapi rapat dengan sebelas orang yang semuanya marah.

Aku pernah menelepon owner dan mengaku menghabiskan delapan puluh juta uang perusahaan.

Aku pernah berdiri di depan tiga puluh anggota keluarga dan menegur tante dari Semarang.

Tidak ada satu pun dari itu yang menyiapkan aku untuk berdiri di ruang tengah rumahku sendiri dan menyadari bahwa aku mengaduk cat tembok dengan sendok kayu istriku.

“Aku—“

“Hari Minggu,” katanya. “Waktu kamu ngecat pagar.”

“Itu sendok yang di gudang.”

“Itu bukan yang di gudang, Mas.”

“Aku ambil dari laci—“

“Laci dapur.”

“...Iya.”

“Sendok masak ada di laci dapur, Azzam.”

Dan dia berdiri dan masuk ke kamar dan menutup pintu, tidak dibanting, ditutup, yang jauh lebih buruk.


Jam delapan lewat.

Aku duduk di sofa selama dua puluh menit dan melakukan apa yang selalu kulakukan kalau ada masalah, yaitu mencari solusi teknis.

Aku pergi ke gudang. Aku menemukan sendok itu.

Ada cat putih kering di ujung gagangnya dan di sepertiga bagian sendoknya.

Aku menghabiskan empat puluh lima menit membersihkannya. Air panas. Sabun. Sikat gigi bekas. Cat tembok berbahan air jadi sebenarnya bisa hilang kalau kamu cukup sabar, dan aku sangat sabar, dan jam sembilan lewat sendok itu bersih seratus persen.

Aku membawanya ke depan pintu kamar.

Aku mengetuk.

“Evelyn.”

Tidak ada jawaban.

“Sendoknya udah bersih.”

Hening.

“Aku sikat empat puluh lima menit. Beneran bersih. Nggak ada bekas.”

Hening.

Dan lalu, dari dalam kamar, suaranya datang.

“MAS.”

“Iya?”

“MASALAHNYA BUKAN BERSIH ATAU ENGGAK.”


Aku duduk di lantai di depan pintu kamar dengan sendok kayu di tangan.

Dan aku berpikir.

Aku berpikir cukup lama, dan pada suatu titik sekitar jam setengah sepuluh aku menemukan sesuatu, dan yang kutemukan itu membuatku merasa seperti orang paling bodoh di Asia Tenggara.

Aku mengetuk lagi.

“Evelyn.”

“Apa.”

“Kamu beli sendok itu di mana?”

Hening.

Lalu, lebih pelan:

“Pasar.”

“Pasar mana?”

“Yang deket kantor.”

“Kamu jalan ke sana?”

Hening lebih lama.

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Jam istirahat.”

Dan aku duduk di lantai di depan pintu kamar rumahku sendiri jam setengah sepuluh malam dan menutup mata.

“Kamu jalan ke pasar pas jam istirahat,” kataku, “buat beli sendok.”

“Iya.”

“Buat masak di rumah ini.”

Hening.

“Iya,” katanya.


Pintu terbuka.

Dia berdiri di ambang dengan mata bengkak dan wajah orang yang sangat kesal pada dirinya sendiri karena menangis untuk sendok.

“Ini konyol banget,” katanya.

“Enggak.”

“Ini konyol banget, Mas. Aku nangis gara-gara sendok.”

“Kamu nggak nangis gara-gara sendok.”

Dan dia menatapku, dan dia sudah tahu, dan dia tidak mau mengatakannya, jadi aku yang mengatakannya.

“Kamu tiga tahun nggak bisa ngasih aku apa-apa,” kataku, dari lantai. “Karena aku ngurus semuanya sendiri.”

Dia menutup mata.

“Terus kamu beli sendok,” lanjutku. “Kamu jalan ke pasar pas jam istirahat buat beli sendok kayu supaya ada satu benda di rumah ini yang kamu yang bawa.”

“Mas—“

“Terus aku pakai buat ngaduk cat.”

Dan Evelyn duduk di lantai di ambang pintu itu dan menutup wajahnya, dan bahunya bergetar, dan aku tidak yakin apakah dia menangis atau tertawa dan ternyata dua-duanya.


“Aku bego banget,” kataku.

“Iya.”

“Aku beneran bego.”

“IYA.”

“Aku bisa beliin yang baru.”

“Aku nggak mau yang baru.”

“Aku tau.” Aku menyerahkan sendok itu. “Makanya aku sikat empat puluh lima menit.”

Dia mengambilnya.

Dia memeriksanya, memutarnya, mengangkatnya ke arah lampu.

“Bersih beneran.”

“Aku bilang.”

“Kamu pakai apa?”

“Sikat gigi.”

“Sikat gigi siapa?”

Aku diam sepersekian detik.

“AZZAM.”

“Yang lama! Yang udah aku ganti!”

“KAPAN KAMU GANTI SIKAT GIGI?”

“Bulan lalu!”

“Aku nggak tau kamu ganti sikat gigi bulan lalu!”

“Ya kan aku nggak lapor tiap ganti sikat gigi—“

“HARUSNYA LAPOR.”

Dan kami berdua duduk di lantai di ambang pintu kamar jam sepuluh malam dan berdebat selama sembilan menit tentang apakah pergantian sikat gigi termasuk informasi yang perlu dilaporkan dalam rumah tangga.

Kesimpulannya: iya.

Aku kalah.


Kami pindah ke sofa jam setengah sebelas.

Dia duduk dengan kaki di pangkuanku, yang sudah jadi posisi standar sejak entah kapan, dan sendok kayu itu ditaruh di meja seperti barang bukti.

“Mas.”

“Hm.”

“Maaf ya.”

“Buat apa?”

“Buat ngambek sembilan jam gara-gara sendok.”

“Tiga jam.”

“Sembilan. Aku mulai dari jam tujuh.”

“Kamu ngitung?”

“Aku selalu ngitung.”

Aku memijat pergelangan kakinya, karena itu juga sudah jadi kebiasaan, dan karena itu satu-satunya hal yang membuat perempuan ini diam.

“Evelyn.”

“Hm.”

“Beli sendok lagi.”

Dia membuka mata. “Hah?”

“Beli lagi. Yang lain.” Aku mengangkat bahu. “Spatula, talenan, apa aja.”

“Kenapa?”

“Karena aku pengen ada banyak barang di rumah ini yang kamu yang bawa.”

Dan dia menatapku dari ujung sofa cukup lama.

“Kamu tau nggak,” katanya akhirnya, “kamu tuh kalau lagi bego, bego banget. Tapi kalau lagi—“

“Kalau lagi apa?”

“Nggak jadi.”

“Evelyn.”

“Nggak jadi, Mas.”

Dan dia menutup mata dan berpura-pura tidur, dan telinganya merah, dan aku memutuskan untuk tidak mengomentari telinganya karena aku sudah cukup kalah malam itu.


Besoknya dia pulang membawa spatula kayu.

Hari Jumat, talenan.

Minggu berikutnya, satu set mangkuk keramik warna hijau yang menurutku terlalu mahal untuk mangkuk dan yang tidak pernah kukomentari sekali pun.

Bulan ketiga, dapur kami sudah setengahnya dia.

Dan aku tidak pernah lagi menyentuh satu pun benda di laci dapur untuk keperluan di luar dapur, dan aku membeli satu set pengaduk cat sendiri yang kutaruh di gudang di kotak terpisah yang kutulisi dengan spidol:

BUKAN PUNYA EVELYN

Dia menemukannya dua minggu kemudian dan tertawa sampai batuk dan mengirim fotonya ke Rena, dan Rena mengirimnya ke grup keluarga, dan Ibu meneleponku untuk bertanya apakah kami sedang bertengkar.