← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Forty Six

Extra 6: Dua Garis

POV: Evelyn


Aku tahu hari Senin.

Aku tahu sendirian, di kamar mandi kantor, jam sepuluh pagi, sambil duduk di lantai bilik dengan pintu terkunci selama sebelas menit.

Aku menghitung sebelas menit itu.

Lalu aku berdiri, mencuci muka, memperbaiki riasan yang tidak seberapa, dan kembali ke meja kerjaku dan menyelesaikan dua bab.

Dan aku memutuskan untuk tidak memberitahunya.

Belum.


Aku ingin menjelaskan kenapa, karena kalau tidak, ini akan terdengar kejam.

Aku sudah membayangkan momen ini selama dua tahun.

Bukan hasilnya. Momennya. Momen di mana aku memberitahunya, dan wajahnya, dan apa yang dia lakukan dengan tangannya.

Dan setiap kali aku membayangkannya, aku membayangkan diriku menyusun kalimat. Empat kalimat. Tiga skenario cadangan. Dilatih di kamar mandi sampai suaraku tidak goyah.

Aku sudah berumur tiga puluh dua dan aku masih orang yang begitu.

Jadi hari Senin itu aku duduk di meja kerjaku dan memutuskan bahwa untuk satu hal ini, satu-satunya kali dalam hidupku, aku tidak akan menyusun apa-apa.

Aku akan menunggu sampai momennya datang sendiri.

Dan sementara menunggu, aku akan bersenang-senang.


Senin malam.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu tau nggak, aku lagi mikirin sesuatu.”

“Apa?”

“Nanti.”

Dia menoleh dari wastafel.

“Nanti kapan?”

“Nanti.”

“Evelyn.”

“Nanti, Mas.”

Dan dia mengangkat bahu dan melanjutkan mencuci piring, dan aku duduk di meja makan dan menghitung: sembilan detik sebelum dia bertanya lagi.

Delapan.

“Nanti itu berapa lama?”

Delapan detik.

Aku mencatatnya di kepalaku.


Selasa.

Aku tidak minum kopi.

Aku tidak pernah minum kopi. Ini tidak berarti apa-apa. Tapi aku sengaja berdiri lama di depan rak kopi di minimarket sambil dia menunggu di belakangku, dan aku bilang “kayaknya aku mau berhenti minum kopi deh,” dan dia bilang:

“Kamu nggak minum kopi.”

“Oh iya.”

“Evelyn.”

“Apa?”

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Dan aku berjalan ke kasir dan meninggalkan dia berdiri di depan rak kopi.


Rabu.

Aku muntah pagi-pagi dan dia mendengarnya dari dapur.

Ini bukan bagian dari rencana. Ini kecelakaan.

Dia berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Evelyn.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kamu muntah.”

“Aku kayaknya masuk angin.”

“Masuk angin nggak bikin muntah.”

“Bisa.”

“Aku bawa ke dokter.”

“Mas, nggak usah—“

“Aku bawa ke dokter, Evelyn.”

Dan aku membuka pintu dan berdiri di sana dengan wajah pucat dan bilang, “Aku beneran nggak apa-apa,” dan dia menatapku dengan tatapan yang sudah kuhafal.

Tatapan orang yang tidak percaya “nggak apa-apa” sejak empat tahun lalu.

“Kamu bohong.”

“Aku nggak bohong.”

“Kamu bohong dan kamu jelek banget bohongnya.”

Dan aku hampir mengatakannya di situ, di depan pintu kamar mandi, jam setengah tujuh pagi, dengan bau yang tidak enak dan rambut berantakan.

Aku menahannya.

“Nanti aku ke dokter sendiri,” kataku. “Janji.”

Dan dia menatapku lama sekali dan bilang, “Kamu janji?”

“Aku janji.”

Dan dia berangkat kerja, dan aku tahu dari cara dia menutup pintu bahwa dia akan memikirkan itu sepanjang hari.


Rabu malam.

Dia pulang jam enam.

Jam enam. Bukan setengah delapan.

“Kok cepet?”

“Aku pulang.”

“Iya, tapi kenapa jam enam?”

“Emangnya nggak boleh?”

Dan dia menaruh tasnya dan duduk di sofa dan tidak menyalakan televisi dan tidak membuka laptop dan tidak melakukan apa pun.

Dia cuma duduk.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu ngapain?”

“Nunggu.”

“Nunggu apa?”

“Nunggu kamu cerita.”

Dan aku berdiri di ruang tengah dan hampir menangis, dan bukan karena hormon, meskipun mungkin sebagian karena hormon.


Aku ingin mencatat hal ini karena ini yang paling penting dari seluruh extra ini.

Empat tahun lalu, laki-laki ini duduk di rumah yang sama, di sofa yang sama, dan tahu istrinya menyembunyikan sesuatu, dan tidak mengatakan satu kata pun.

Setahun.

Dan sekarang dia pulang jam enam dan duduk di sofa tanpa menyalakan apa pun dan bilang “nunggu kamu cerita” dengan wajah biasa saja.

Itu perubahan yang butuh empat tahun.

Dan aku sedang menggunakannya untuk bercanda.


Kamis.

Aku bercanda satu hari lagi.

Aku minta maaf. Aku sudah minta maaf ke dia juga, dan dia bilang “nggak apa-apa” dan aku bilang “jangan bilang nggak apa-apa” dan dia bilang “ya udah aku marah” dan aku bilang “kamu nggak marah” dan dia bilang “ya makanya.”

Kamis aku pulang membawa kantong plastik apotek.

Aku menaruhnya di meja makan dan tidak bilang apa-apa dan pergi mandi.

Isinya vitamin.

Vitamin biasa. Yang dijual bebas. Yang bisa diminum siapa saja.

Waktu aku keluar dari kamar mandi, dia sedang berdiri di meja makan dengan botol itu di tangan, membacanya.

Membacanya.

Punggung botol, tulisan kecil, komposisi.

Dia berdiri di situ selama mungkin satu menit penuh.

Lalu dia menaruhnya kembali.

Dan dia tidak bertanya.


Aku berdiri di ambang pintu kamar dengan handuk di kepala dan menonton laki-laki itu tidak bertanya, dan aku mengerti kenapa.

Bukan karena dia kembali ke kebiasaan lama.

Karena dia sudah tahu.

Dia sudah tahu sejak Rabu pagi, mungkin sejak Selasa di depan rak kopi, dan dia menghabiskan tiga hari menunggu, dan sekarang dia berdiri di dapur memegang botol vitamin dan memutuskan untuk tidak mengambil momen itu dariku.

Dia menunggu supaya aku yang mengatakannya.

Empat tahun lalu dia menunggu karena takut.

Sekarang dia menunggu karena dia tahu ini punyaku.


Aku berjalan ke dapur.

“Mas.”

“Hm.”

Dia tidak berbalik. Dia sedang mengelap meja yang tidak kotor.

“Berhenti dulu.”

Dia berhenti.

Dan aku berdiri di belakangnya dan tidak punya satu pun kalimat yang tersusun, untuk pertama kalinya dalam hidupku, di momen paling penting dalam hidupku.

“Balik badan.”

Dia berbalik.

Dan aku menatapnya dan membuka mulut dan yang keluar adalah:

“Dua garis.”


Aku ingin mencatat wajahnya dan aku tidak bisa.

Aku sudah mencoba menuliskannya belasan kali di kepalaku sejak malam itu dan aku tidak pernah bisa.

Yang bisa kutuliskan cuma ini:

Dia tidak bergerak selama sekitar empat detik.

Lalu lap yang ada di tangannya jatuh ke lantai.

Lalu dia bilang, “Sejak kapan?”

“Senin.”

“Senin.”

“Iya.”

“Empat hari?”

“Iya.”

Dan dia menutup wajah dengan dua tangan dan berdiri seperti itu di dapur selama mungkin sepuluh detik.

Lalu dia menurunkan tangannya dan wajahnya basah.

Yang ketiga.

Seumur hidupnya, tiga kali, dan aku sudah tahu ketiganya.


“Kamu—“ Suaranya tidak keluar dengan benar. “Kamu tau hari Senin terus kamu—“

“Aku ngerjain kamu, Mas.”

“Kamu—“

“Aku minta maaf.”

“KAMU BIKIN AKU MIKIRIN ITU EMPAT HARI.”

“Aku tau.”

“Aku pulang jam enam!”

“Aku tau.”

“Aku baca botol vitamin, Evelyn! Aku berdiri di sini baca komposisi kayak orang bego!”

Dan aku tertawa dan menangis di saat yang sama dan dia menarikku dan memelukku terlalu keras.

“Sakit.”

“Nggak.”

“Mas, sakit.”

“Diem bentar.”

Dan aku diam.


Kami duduk di lantai dapur.

Bukan di kursi. Di lantai, bersandar ke lemari bawah, tempat aku pernah duduk empat tahun lalu waktu Rena memberitahuku bahwa laki-laki ini sudah menyimpan sembilan tahun sendirian.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu udah tau ya.”

“Dari Rabu.”

“Kenapa nggak nanya?”

Dan dia mengambil tanganku dan memutar-mutar cincin di jari manisku dengan ibu jarinya, yang sudah jadi kebiasaannya sejak tahun kedua.

“Karena aku sembilan tahun mutusin sendiri apa yang kamu perlu tau,” katanya. “Aku nggak akan ngambil yang ini.”

Aku menutup mata dan menyandarkan kepala ke bahunya.


Kami duduk di lantai itu sampai jam sepuluh.

Dia bertanya empat puluh kali. Aku menghitung sampai dua puluh lalu berhenti.

“Kamu makan apa hari ini?”

“Roti.”

“Cuma roti?”

“Sama teh.”

“Evelyn.”

“Aku mual, Mas.”

“Ya makanya harus makan.”

“Kamu tau apa soal ginian?”

“Aku nonton video.”

“KAPAN?”

“Rabu malem.”

“KAMU UDAH NONTON VIDEO DARI RABU MALEM?”

“Empat video.”

“YA AMPUN.”

“Ada yang durasinya lima puluh menit.”

Dan aku memukul lengannya dan dia tidak bergerak sedikit pun, dan aku memukulnya lagi, dan dia bilang “sakit” dengan wajah yang jelas tidak sakit sama sekali.


Aku menghubungi Mama jam sebelas.

Dia menghubungi Tante Ratih di detik yang sama, dan aku bisa mendengar dari seberang ruangan Tante Ratih menjerit, dan tiga menit kemudian Rena menelepon aku sambil menangis dan berteriak bergantian selama enam menit tanpa satu kalimat yang bisa kupahami.

Papa tidak menelepon.

Papa datang, besok paginya, jam tujuh, membawa dua kantong plastik dari warung yang tidak masuk akal karena rumah ini penuh makanan.

Beliau duduk di kursi yang biasa diduduki Mas Azzam dan bilang, “Bapak nggak lama.”

“Pa—“

“Bapak cuma mau liat.”

Dan beliau duduk di situ dua puluh menit, minum teh, mengomentari tanaman di dekat jendela yang sudah mati untuk kedua kalinya, dan pulang.

Dan di gerbang, tanpa menoleh, beliau bilang:

“Evie.”

“Iya, Pa.”

“Nanti kalau anak itu mutusin sesuatu sendiri, jangan diem tiga hari.”

Dan beliau masuk ke mobil dan pergi, dan aku berdiri di gerbang rumahku sendiri jam setengah delapan pagi dan menangis di depan tetangga yang sedang menyapu.


Malamnya kami di sofa.

Sofa yang sama. Panjang seratus enam puluh sentimeter.

Kakiku di pangkuannya, seperti biasa, dan tangannya di pergelangan kakiku, seperti biasa.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu takut nggak?”

Dan dia memikirkannya cukup lama, karena orang ini tidak pernah menjawab pertanyaan besar dengan cepat.

“Takut,” katanya.

“Takut apa?”

“Takut aku ngelakuin hal yang sama.”

Aku menoleh.

“Maksudnya?”

“Aku bisa mutusin sendiri apa yang orang perlu tau.” Dia mengangkat bahu. “Aku udah sembilan tahun latihan. Aku bisa ngelakuin itu ke anak juga.”

Dan aku duduk tegak dan menatapnya.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu tau kamu barusan ngapain?”

“Apa?”

“Kamu ngomongin ketakutan kamu keras-keras.”

Dia diam.

“Sebelum kejadian,” kataku. “Ke aku. Tanpa aku pancing.”

Dan dia memandangi kakiku di pangkuannya dan tidak bilang apa-apa selama beberapa detik.

“Iya ya,” katanya.

“Iya.”

“Aku nggak sadar.”

“Aku tau.”


Aku menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan menutup mata.

Di luar tidak hujan.

Di dapur ada dua gelas yang belum dicuci karena aku melarangnya berdiri.

Di rak, di ruangan yang dulu gudang, ada buku bersampul gading dengan namaku dicetak di tengahnya.

Dua puluh halaman kosong.

Aku sudah mengisi tiga.

Belum bagus. Belum tahu mau ke mana. Aku menulisnya pelan-pelan, malam-malam, di meja dengan lampu yang bisa diatur hangat atau putih, yang dibeli seseorang sebelum aku pindah ke rumah ini dan yang tidak pernah dia sebut sekali pun.

“Mas.”

“Hm.”

“Kalau anaknya perempuan gimana?”

“Ya perempuan.”

“Kalau dia kayak aku gimana?”

“Ya bagus.”

“Mas, aku ngitung semua hal di kepala aku. Aku punya buku kas. Vira bilang aku nyiksa diri pakai spreadsheet.”

Dan dia menoleh ke arahku dan bilang, dengan wajah yang sepenuhnya biasa:

“Ya kita ajarin dia minta.”

Aku menatapnya.

“Gitu doang?”

“Gitu doang.”

“Kamu yakin bisa?”

Dan dia mengangkat bahu dan kembali memandang ke depan dan bilang:

“Kita nggak perlu buru-buru, Evelyn.”


TAMAT