Chapter Twenty Five
Tempat Sampah di Ujung Gang
POV: Evelyn
Aku mulai hari Kamis.
Yang pertama gampang. Aku membuka galeri, masuk ke tempat sampah, dan mengosongkannya. Empat puluh satu gambar hilang permanen dalam satu ketukan, dan tidak ada apa pun yang terjadi di dalam dadaku, dan itu justru yang aneh.
Yang kedua juga gampang. Aku memblokir nomornya.
Aku memikirkan itu selama tiga hari sebelumnya dan menyusun sepuluh alasan kenapa itu berlebihan.
Dia nggak akan chat duluan, jadi ngapain.Nanti kalau ada urusan gimana.Blokir itu kayak orang yang masih peduli.
Yang terakhir itu yang paling licin, dan aku menyimpannya paling lama, karena bunyinya paling dewasa.
Hari Kamis aku melakukannya dalam empat detik.
Dan aku duduk di kursi kantor setelahnya menunggu sesuatu terjadi di dalam dadaku, dan yang datang bukan sedih.
Yang datang malu.
Malu karena aku baru menyadari, dengan pemblokiran itu, bahwa selama sepuluh bulan aku tidak pernah sekali pun menganggap ini sebagai sesuatu yang bisa kuhentikan.
Aku memperlakukannya seperti cuaca.
Ternyata ada tombolnya, dan tombolnya ada di tanganku sejak awal, dan butuh empat detik.
Aku memikirkan itu selama tiga hari sebelumnya dan menyusun sepuluh alasan kenapa itu berlebihan, dan hari Kamis aku melakukannya dalam empat detik.
Yang ketiga tidak gampang.
Sabtu pagi Mas Azzam ke proyek dan aku sendirian di rumah.
Aku masuk ke gudang jam sembilan.
Aku menggeser dua kardus besar. Aku menggeser karung. Aku mengangkat kardus sepatu itu keluar, dan aku membawanya ke ruang tengah, dan aku menaruhnya di lantai.
Lalu aku mengambil kantong sampah hitam yang besar.
Tempat sampah kompleks ada di ujung gang, sekitar delapan puluh meter dari rumah. Petugasnya datang Senin dan Kamis. Kalau aku menaruhnya Sabtu pagi, benda itu akan berada di sana selama dua hari, dan aku akan melewatinya empat kali sehari.
Aku memikirkan itu juga. Aku memikirkan semuanya.
Aku memasukkan kardus itu ke kantong hitam tanpa membukanya. Aku mengikat kantongnya dua kali.
Aku memakai sandal. Aku keluar. Aku berjalan delapan puluh meter.
Aku berdiri di depan bak sampah itu selama sekitar dua belas menit.
Ada ibu-ibu lewat dan menyapa dan aku menyapa balik dan dia bertanya “buang sampah, Bu?” dan aku bilang iya dan dia jalan terus.
Aku berdiri di sana dengan kantong hitam di tangan kanan dan tidak bisa mengangkat tangan itu.
Dan sekitar menit kedelapan aku mengerti kenapa, dan alasannya bukan alasan yang kuduga.
Aku pikir aku akan berdiri di sana dan berpikir tentang Ernest.
Aku tidak berpikir tentang Ernest sama sekali. Aku tidak berpikir tentang dia sedetik pun sepanjang dua belas menit itu, dan aku ingin itu tercatat, karena itu penting untuk semua yang datang setelahnya.
Yang kupikirkan adalah ini:
Kalau aku buang sekarang, aku buang karena aku ngerasa berutang.
Tiga hari lalu aku tidak akan membuangnya. Tiga hari lalu benda ini adalah satu-satunya bukti bahwa dua tahun dalam hidupku benar-benar terjadi, dan aku akan mempertahankannya dari siapa pun.
Yang berubah bukan isinya.
Yang berubah adalah sekarang aku tahu ada orang yang menunggu sembilan tahun, dan setiap benda di rumah ini yang tidak berhubungan dengannya terasa seperti tagihan yang belum kubayar.
Dan kalau aku membuang benda ini untuk membayar tagihan itu, maka aku tidak sedang selesai dengan apa pun.
Aku cuma memindahkan utang dari satu orang ke orang lain.
Aku sudah melakukan itu seumur hidupku. Aku melakukannya waktu bilang “boleh” dalam lima detik di meja makan. Vira sudah menamainya delapan bulan lalu dan aku tidak mendengarkan.
Itu bukan bayar utang, itu nyiksa diri pakai spreadsheet.
Aku berdiri di depan bak sampah kompleks jam sembilan lewat dua puluh pagi dan memutuskan sesuatu yang membuatku merasa seperti pengecut selama berminggu-minggu setelahnya, dan yang sampai sekarang masih kupikir benar.
Aku membawanya pulang.
Aku mengembalikannya ke gudang.
Dan aku menaruhnya di depan.
Bukan di sudut, bukan di belakang dua kardus besar, bukan menghadap dinding. Di depan, di rak yang dia pasang, dengan selotipnya menghadap pintu.
Terlihat dari ambang.
Kalau ada yang bertanya kenapa aku melakukan itu, aku tidak punya jawaban yang rapi. Yang paling dekat begini: aku sudah cukup lama tinggal di rumah yang isinya dua orang yang menyembunyikan hal yang sama dari satu sama lain, dan aku tidak sanggup menambah satu hari lagi.
Aku tidak bisa membuangnya.
Tapi aku bisa berhenti menyembunyikannya.
Yang ketiga, yang paling tidak bisa kutanggung, adalah ini.
Aku mulai menyembunyikan sesuatu yang lain.
Aku menyembunyikan bahwa aku tahu.
Rena datang hari Rabu dan aku berjanji tidak akan bilang, dan janji itu masuk akal waktu diucapkan, dan mulai hari Kamis janji itu jadi sesuatu yang kubawa ke mana-mana.
Aku ingin sangat jelas soal perbedaannya, karena ini yang tidak kumengerti sampai jauh belakangan.
Selama tiga belas bulan aku menyembunyikan chat, pertemuan, kardus. Itu berat, tapi bentuk beratnya sederhana: aku malu, dan malu itu bisa kubawa sendirian.
Yang ini beda.
Ini pertama kalinya aku menyembunyikan sesuatu karena aku takut kehilangan.
Kalau aku bilang aku tahu, dia akan tahu Rena yang bilang. Rena akan hancur. Dan Mas Azzam akan tahu bahwa aku tahu, dan mulai detik itu setiap hal yang dia lakukan selama sebelas bulan akan berubah jadi sesuatu yang harus dibicarakan.
Dan aku tidak tahu apa yang akan tersisa setelah dibicarakan.
Jadi aku diam.
Dan mulai hari itu, kami berdua tinggal di rumah yang sama dan menyembunyikan hal yang persis sama dari satu sama lain, dari dua arah yang berlawanan.
Yang keempat, dan ini yang tidak bisa kukendalikan sama sekali:
Aku tidak bisa berhenti melakukan sesuatu untuknya.
Aku menyetrika kemejanya. Aku sudah menyetrikanya minggu lalu dan aku menyetrikanya lagi.
Aku menunggu sampai jam sembilan supaya bisa makan bersama, padahal aku lapar jam tujuh.
Aku beli kopi bubuk yang lebih mahal, jenis yang kata orang di internet lebih bagus, dan menaruhnya di rak tanpa bilang apa-apa. Dia menggunakannya empat hari kemudian dan tidak berkomentar.
Hari Selasa aku pulang lewat toko dan berdiri di depan rak kaus kaki selama enam menit.
Aku tidak membelinya. Aku tidak tahu ukurannya.
Aku berdiri di toko itu dan menyadari bahwa aku tidak tahu ukuran kaus kaki suamiku, dan bahwa dia tahu ukuran cincinku dari permainan bodoh di resepsi sepupuku tujuh tahun lalu, dan aku pergi dari toko itu tanpa membeli apa pun karena aku tidak sanggup berdiri di sana lebih lama.
Hari Senin, Rena datang membawa martabak yang jelas dibeli untuk dirinya sendiri.
“Kak.”
“Hm.”
“Kakak udah ngomong?”
“Belum.”
“Oh.” Dia menggigit. “Ya udah.”
“Rena.”
“Aku nggak maksa.”
“Kamu keliatan banget lagi maksa.”
“Aku emang lagi maksa,” katanya, dengan mulut penuh. “Tapi aku nggak akan bilang.”
Kami makan martabak itu di lantai ruang tengah dengan kotaknya di antara kami, dan drama yang biasa kami tonton menyala tanpa ada yang benar-benar menonton.
“Kak.”
“Hm.”
“Aku takut.”
Aku menoleh.
“Takut kenapa?”
“Takut aku salah.” Rena memandangi kotaknya. “Aku mikirin ini tiap malam. Kalau Mas jadi lebih sedih gara-gara aku ngomong, itu aku.”
“Rena.”
“Aku dua puluh tiga tahun, Kak. Aku nggak tau apa-apa. Aku cuma liat kakakku nangis terus aku panik.”
Aku menaruh potongan martabak yang sedang kupegang.
“Ren.”
“Iya.”
“Kamu satu-satunya orang di seluruh cerita ini yang ngomong.”
Dia mengangkat kepala.
“Semua orang di sekeliling aku diem selama dua tahun,” kataku. “Semuanya. Sopan semua. Kamu satu-satunya yang buka mulut.”
“Tapi kalau salah gimana.”
“Ya salah.” Aku mengangkat bahu. “Tapi setidaknya ada yang gerak.”
Rena mengusap wajahnya dan bilang “ih, jangan bikin aku nangis, mataku udah jelek dari kemarin,” dan mengambil potongan terbesar sebagai kompensasi.
Vira menelepon hari Kamis.
“Kamu udah ngomong?”
“Belum.”
“Kapan?”
“Aku nggak tau.”
“Vie.”
“Vir, aku nggak tau harus ngomong apa.” Aku duduk di tangga kantor. “Aku nggak bisa bilang ‘aku tau kamu suka sama aku.’ Itu gila.”
“Kenapa gila?”
“Karena setelah itu apa?”
Vira diam.
“Terus aku bilang apa, Vir? ‘Makasih ya’? ‘Maaf ya’?” Suaraku naik dan aku menurunkannya. “Semua kalimat yang aku punya bunyinya kayak orang mau bayar.”
“Ya udah jangan pakai kalimat.”
“Maksudnya?”
“Nggak semua hal harus diomongin, Vie.” Ada suara dia menyeruput sesuatu. “Kamu tuh editor. Kamu pikir semuanya harus dijadiin kalimat yang bener.”
“Terus caranya?”
“Aku nggak tau.” Dia menghela napas. “Tapi aku tau satu hal: apa pun yang kamu lakuin sekarang, dia bakal salah baca.”
Aku menutup mata di tangga kantor.
“Kenapa?”
“Karena orang yang nunggu sembilan tahun tuh udah punya versi cerita sendiri di kepalanya,” kata Vira. “Dan versi dia nggak ada bagian di mana kamu tiba-tiba baik.”
Sabtu malam dia pulang jam delapan dan berhenti di ruang tengah.
“Kamu belum makan lagi?”
“Belum.”
“Evelyn, kamu udah nungguin aku empat hari berturut-turut sampai jam segini.”
“Kan emang aturannya gitu.”
“Aturannya kalau salah satu telat. Bukan kalau salah satu lembur tiap hari.”
“Ya udah, hari ini aja.”
Dia meletakkan tasnya dan menatapku.
Dan aku, yang sudah tiga hari melakukan segala hal dengan sangat hati-hati, melakukan kesalahan pertama.
“Kamu capek nggak?” tanyaku.
“Enggak.”
“Bohong.”
“Evelyn—“
“Kamu tiap hari bangun jam lima,” kataku.
Dan ruangan itu jadi diam.
Aku melihat wajahnya berubah — bukan berubah besar, cuma sesuatu di sekitar matanya yang mengeras selama sepersekian detik.
“Kamu tau aku bangun jam lima?”
Aku sudah tinggal serumah dengannya selama sebelas bulan dan tidak pernah sekali pun menyebutkan angka itu.
“Ya... kira-kira.”
“Kira-kira.”
“Iya.”
Dia menatapku beberapa detik lagi.
“Aku mandi dulu,” katanya.
Dan dia masuk kamar mandi, dan aku berdiri di ruang tengah dengan dua piring kosong di meja yang sudah kutata sejak jam tujuh, dan aku tahu aku baru saja membuka sesuatu yang tidak bisa kututup lagi.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang reading
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis