Chapter Two

Yang Sudah Mereka Telan

POV: Evelyn


Mereka pulang jam sebelas lewat, dan Mama langsung mencuci piring.

Bukan besok. Bukan direndam dulu. Malam itu juga, semua, sampai wajan. Mama selalu begitu kalau ada sesuatu yang tidak mau dia pikirkan. Aku berdiri di ambang dapur selama satu menit penuh menonton punggungnya, dan aku tahu kalau aku menawarkan bantuan dia akan bilang tidak usah, jadi aku tidak menawarkan.

“Ma.”

“Hm.”

“Aku ke atas ya.”

“Iya.”

Itu saja. Tidak ada kalimat kedua. Tidak ada “kamu yakin”, tidak ada “kalau nggak mau bilang aja”, tidak ada apa-apa. Cuma bunyi air dan bunyi piring.

Aku naik ke kamar dan duduk di lantai bersandar ke ranjang, masih pakai baju yang tadi, dan mulai menghitung.


Orang pikir aku menjawab “boleh” karena aku tidak sempat berpikir.

Aku sempat. Aku sudah berpikir selama empat bulan.

Bukan tentang Mas Azzam — namanya tidak pernah masuk hitungan sampai malam ini. Yang kuhitung sesuatu yang lain, dan aku menghitungnya berulang-ulang sejak Ernest pergi, biasanya jam dua atau jam tiga pagi karena jam-jam itu memang dibuat untuk itu.

Yang kuhitung adalah berapa banyak yang sudah ditelan orang tuaku, dan berapa banyak lagi yang masih bisa mereka telan.

Dua tahun lalu aku duduk di ruang tamu ini dan bilang aku mau pindah agama.

Aku sudah menyiapkan tiga versi penjelasan. Versi panjang, versi pendek, dan versi kalau mereka marah. Aku menghafal ketiganya di kamar mandi selama empat puluh menit.

Tidak satu pun terpakai.

Mama menangis, tapi bukan menangis yang keras. Menangis yang cuma keluar dari mata dan tidak keluar dari suara, dan itu jauh lebih buruk, karena kamu tidak bisa memeluk orang yang tidak bersuara. Papa tidak bicara sama sekali malam itu. Tidak juga besoknya. Tidak juga tiga hari setelahnya.

Hari keempat, Papa masuk ke kamarku, duduk di kursi meja belajarku yang sudah kekecilan sejak aku SMP, dan bertanya satu hal.

“Ini kamu yang mau, atau dia yang mau?”

“Aku,” kataku.

Papa mengangguk. Dia melihat ke jendela cukup lama, lalu berdiri.

“Ya sudah.”

Dua kata itu. Lalu dia keluar, dan sejak hari itu tidak pernah sekali pun membahasnya lagi. Tidak pernah bertanya, tidak pernah menyindir, tidak pernah menyebutnya bahkan waktu sedang bertengkar dengan Mama tentang hal lain. Papa menutup topik itu seperti orang menutup pintu kamar anak yang sedang tidur.

Aku pikir itu artinya beres.

Butuh setahun lebih untuk aku sadar bahwa itu bukan artinya beres. Itu artinya beliau memutuskan untuk menanggungnya sendiri supaya aku tidak perlu ikut menanggung.

Dan setahun setelah percakapan itu, Ernest pergi.


Aku ingin sangat jelas soal satu hal, karena aku sudah lelah dengan cara orang salah paham.

Aku tidak menyesal. Sama sekali tidak.

Yang kuyakini sekarang, kuyakini betul. Aku tidak sedang menunggu jalan pulang, aku tidak diam-diam ingin membatalkan apa pun, dan kalau ada yang menawarkan tombol untuk mengembalikan semuanya seperti dua tahun lalu, aku tidak akan menekannya.

Masalahnya bukan itu.

Masalahnya adalah pertanyaan Papa. Ini kamu yang mau, atau dia yang mau? Dan aku menjawab “aku” dengan sangat yakin, dan aku masih berpikir jawaban itu benar.

Tapi sekarang orangnya tidak ada.

Dan kalau orangnya tidak ada, urutannya jadi terlihat berbeda dari luar. Aku menyeberang, lalu setahun kemudian ditinggal. Siapa pun yang mendengar dua kalimat itu berurutan akan sampai pada satu kesimpulan, dan kesimpulan itu bukan kesimpulan yang mereka ucapkan.

Tidak ada satu orang pun yang pernah mengatakannya ke wajahku. Bukan Mama, bukan Papa, bukan Tante Ratih, bukan tetangga, bukan siapa-siapa.

Semuanya sopan.

Kesopanan itu yang paling berat. Karena kalau ada yang bilang tuh kan, kamu bodoh, aku bisa membantah. Aku sudah menyiapkan bantahannya. Tapi tidak ada yang bilang apa-apa, jadi bantahanku tidak punya tempat untuk keluar, dan benda itu cuma bolak-balik di dalam kepalaku setiap jam dua pagi.

Jadi malam ini, waktu Tante Ratih bilang perjodohan, aku tidak menghitung Mas Azzam.

Aku menghitung wajah Papa waktu bilang “ya sudah.”

Kalau aku menolak, mereka akan bilang tidak apa-apa. Mereka akan bilang itu terus. Dan mereka akan menelan satu hal lagi, diam-diam, sendiri, seperti yang sudah-sudah.

Aku sudah membuat mereka menelan satu hal besar dan hasilnya nol.

Aku tidak sanggup menyuruh mereka menelan yang kedua.


Besoknya aku ke kantor seperti biasa, karena hidup tidak berhenti cuma karena kamu dijodohkan.

Ada naskah masuk 912 halaman dari penulis yang sudah tiga kali menolak diedit siapa pun. Bosku menaruhnya di mejaku jam sembilan pagi dengan kalimat, “Evie, ini yang kemarin. Coba kamu.”

“Coba kamu” di kantor ini artinya semua orang lain sudah menyerah.

Aku membacanya sampai jam empat sore tanpa berhenti makan siang, dan waktu selesai aku tahu persis apa masalahnya. Bukan panjangnya. Bukan gayanya. Masalahnya, penulis ini menulis dua novel sekaligus dan menjahitnya jadi satu karena dia tidak sanggup membuang salah satunya.

Aku menulis surat tiga halaman. Aku tidak menyebut kata “potong” sekali pun. Aku menulis dua sinopsis, satu untuk masing-masing novel yang tersembunyi di dalam naskahnya, lalu bertanya yang mana yang lebih dulu ingin dia selesaikan.

Dia membalas jam sembilan malam.

Mbak, saya nangis. Ini yang saya cari-cari dari kemarin.

Aku menatap balasan itu cukup lama.

Aku bisa melakukan itu untuk naskah orang lain. Aku bisa melihat dua hal yang dijahit jadi satu dan menamainya dalam empat jam.

Untuk hidupku sendiri, sudah dua tahun dan aku masih tidak bisa.


Ponselku bergetar jam dua belas lewat. Vira.

“KAMU DIJODOHIN?”

“Halo juga.”

“Nggak usah halo-halo. Mama kamu udah story. Ada foto meja makan sama caption doa. Ada emot cincin. Evie, ada emot cincin.”

Aku menutup mata. “Mama emang gitu.”

“Sama siapa? Jangan bilang—“

“Mas Azzam.”

Hening tiga detik.

“Azzam yang mana? Azzam anaknya Tante Ratih? Yang rumahnya deket? Yang dulu benerin sepeda kamu waktu SD?”

“Iya.”

“Yang mukanya kayak orang lagi mikirin cicilan terus?”

“Vir.”

“Aku nggak ngejek. Itu tipe yang bagus, tau. Cowok yang keliatan mikirin cicilan biasanya emang mikirin cicilan, artinya dia bayar.” Ada bunyi ranjang berderit di seberang sana. “Terus kamu bilang apa?”

“Boleh.”

Hening lagi. Lebih lama.

“Evie.”

“Apa.”

“Kamu bilang boleh dalam berapa detik?”

Aku tidak menjawab.

“Berapa detik, Evelyn.”

“Nggak sampai lima.”

“Ya Tuhan.”

“Vir, ini nggak kayak yang kamu pikir.”

“Ini persis kayak yang aku pikir.” Suaranya berubah, tidak lagi becanda. “Kamu nggak lagi nikah. Kamu lagi bayar utang yang nggak ada tagihannya.”

Aku duduk di lantai kamarku dan tidak bilang apa-apa, karena kalau aku membuka mulut suaraku akan jelek, dan Vira akan mendengarnya, dan besok dia akan datang ke sini bawa martabak dan itu akan lebih memalukan lagi.

“Evie.”

“Aku masih di sini.”

“Kamu tau nggak apa yang paling bikin aku kesel dari kamu?” katanya. “Kamu selalu ngitung. Semua diitung. Berapa yang orang tua kamu keluarin, berapa yang kamu ambil, berapa yang harus kamu balikin. Kayak kamu punya buku kas di kepala.”

“Ya emang ada.”

“NAH ITU. Itu masalahnya.”

“Vir, kecil dikit.”

“Orang tua tuh bukan investor, Evie.” Dia sama sekali tidak mengecilkan suara. “Mereka nggak nagih. Mereka nggak nyatet. Yang nyatet cuma kamu, terus kamu bayar sendiri ke diri kamu sendiri, terus kamu ngerasa impas. Itu bukan bayar utang, itu nyiksa diri pakai spreadsheet.”

Aku menutup mata.

“Selesai?”

“Belum, tapi aku udah capek.”

“Ya udah.”

“Ya udah.”

Kami diam beberapa detik. Di seberang sana ada bunyi televisi kecil.

“Aku nggak lagi nyiksa diri,” kataku akhirnya.

“Aku tau.”

“Aku beneran nggak.”

“Aku tau, Vie.” Suaranya sudah lembut sekarang, dan aku lebih tidak sanggup dengan yang lembut daripada yang teriak. “Makanya aku takut.”

“Lagian dia juga bukan mau-mau amat,” kataku akhirnya.

“Maksudnya?”

“Ya keliatan. Dia empat bulan nggak pernah ke rumah. Malam ini ngomong mungkin sepuluh kalimat. Terus waktu Om Hendra nanya dia gimana, dia bilang ‘ya, saya ikut aja.’”

“Ikut aja?”

“Ikut aja.”

Vira mengeluarkan suara yang tidak bisa kutulis.

“Jadi kalian berdua sama-sama kepaksa,” katanya. “Bagus. Bagus banget. Ini bukan pernikahan, ini dua orang sandera yang saling sopan.”

“Justru itu enaknya.”

“Apanya yang enak?”

“Nggak ada yang kecewa,” kataku. “Kalau dua-duanya nggak berharap apa-apa, nggak ada yang bisa dikecewain.”

Vira diam lama sekali.

“Aku benci kalau kamu ngomong yang masuk akal,” katanya, lalu menutup telepon.


Sebenarnya ada satu hal kecil malam ini yang tidak kuceritakan ke Vira.

Waktu makan, aku memisahkan bawang goreng ke pinggir piring. Aku selalu begitu, dan aku selalu melakukannya pelan-pelan supaya Mama tidak lihat, karena kalau Mama lihat beliau akan bilang “yah, Evie nggak suka ya,” dengan nada yang bikin aku merasa jahat.

Lalu ada piring kerupuk yang tahu-tahu bergeser ke depanku.

Aku tidak minta. Tidak ada yang bilang apa-apa. Piring itu cuma pindah, dan waktu aku mengangkat kepala, Mas Azzam sudah kembali memandangi gelasnya seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku memikirkannya sebentar di kamar mandi tadi.

Lalu aku menutupnya, karena kesimpulannya jelas. Orang seperti dia memang begitu. Dia yang memperbaiki listrik tanpa disuruh, dia yang mengangkat galon di arisan, dia yang mengantar Tante Ratih ke mana-mana. Kalau ada orang tersedak di ruangan itu, dia juga yang akan berdiri duluan.

Dia bukan memperhatikan aku. Dia memang memperhatikan semua orang.

Itu bahkan lebih menenangkan, sebenarnya. Artinya dia benar-benar tidak mengharapkan apa-apa, dan aku tidak perlu merasa berutang lagi ke satu orang lagi.

Aku sudah cukup punya utang.


Ada kardus di lemari atas kamarku.

Aku tidak akan menjelaskan panjang-panjang. Isinya barang. Bukan barang berharga: tiket bioskop, dua buku, hoodie abu-abu, kartu ucapan, satu kabel charger yang bahkan sudah tidak muat ke ponsel mana pun. Semuanya masuk ke situ dalam satu sore empat bulan lalu, dan sejak itu tidak pernah kubuka lagi.

Mama pernah bertanya sekali, dua bulan lalu, waktu bantu-bantu beres-beres.

“Ini apa, Vie?”

“Barang lama.”

“Dibuang?”

“Nanti.”

Beliau menaruhnya kembali dan tidak bertanya lagi.

Orang pikir menyimpan barang mantan artinya kamu masih berharap. Aku sudah membaca sepuluh artikel yang bilang begitu dan semuanya ditulis oleh orang yang tidak pernah menyeberang.

Aku tidak menyimpannya untuk dia.

Aku menyimpannya karena kalau aku membuangnya, aku harus duduk dan menerima satu kalimat: dua tahun lalu kamu mengubah seluruh hidupmu, dan itu tidak menghasilkan apa-apa.

Kardus itu bukti bahwa ada sesuatu di sana. Bahwa aku tidak sedang mengarang. Bahwa Papa tidak diam selama tiga hari untuk sesuatu yang isinya angin.

Selama kardus itu masih ada, aku belum harus menjawab pertanyaan itu.


Jam satu lewat, aku membuka ponsel.

Aku tidak akan berpura-pura ini kebetulan. Aku membuka aplikasi, aku menggulir ke bawah melewati grup kantor dan grup keluarga dan grup arisan yang tidak pernah kubuka, sampai ke nama yang sudah tidak muncul di atas sejak lama karena tidak ada yang bergerak di dalamnya.

Pesan terakhir dari dia, tiga minggu lalu.

Ernest:iya. makasih ya.

Empat kata. Balasan atas paragraf yang kutulis selama dua puluh menit.

Aku membacanya lagi. Aku sudah membacanya mungkin empat puluh kali dan aku masih membacanya seperti ada bagian yang belum kutemukan.

Lalu aku mengetik.

Nest, ada yang mau aku omongin.

Hapus.

Nest, aku

Hapus.

Aku menaruh ponsel di karpet dan menatap langit-langit selama mungkin sepuluh menit. Di bawah, bunyi air berhenti. Aku mendengar Mama naik tangga, berhenti sebentar di depan pintu kamarku, lalu lanjut ke kamarnya.

Beliau tidak mengetuk.

Aku mengambil ponsel lagi.

Aku dijodohin. Sama anak temen orang tuaku. Udah aku iyain.

Aku menatap kalimat itu.

Tidak ada alasan untuk mengirimnya. Tidak ada. Dia bukan siapa-siapa lagi, dia tidak berhak tahu, dan tidak ada satu pun hal baik yang bisa terjadi dari tombol itu.

Aku menekannya jam satu lewat dua puluh dua.

Lalu aku menaruh ponsel menghadap ke bawah, menariknya lagi tiga detik kemudian untuk memastikan terkirim, menaruhnya lagi, dan berbaring di lantai dengan mata terbuka.

Centangnya biru jam dua kurang sepuluh.

Tidak ada balasan.

Aku masih menunggu sampai jam empat.