Chapter Seventeen
Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
POV: Azzam
Aku kehujanan hari Selasa dan menganggapnya tidak penting, karena aku selalu menganggapnya tidak penting.
Cor pelat lantai lima dijadwalkan sejak dua minggu sebelumnya. Ready-mix datang jam empat sore, hujan mulai jam lima, dan beton yang sudah dituang tidak bisa disuruh menunggu sampai cuaca membaik. Kami memasang terpal, dan terpal itu jebol dua kali, dan aku ikut naik karena mandornya kurang orang.
Selesai jam sepuluh malam.
Aku pulang jam sebelas dengan baju yang sudah kering di badan, yang mana adalah cara terburuk baju bisa mengering.
“Kok basah?”
“Udah kering.”
“Itu bukan kering, Mas, itu lembab.” Evelyn berdiri dari sofa. “Mandi air anget.”
“Ngantuk.”
“Mandi.”
Aku mandi.
Rabu pagi aku bangun jam lima seperti biasa, menyeduh dua gelas seperti biasa, dan berangkat.
Rabu sore aku pulang lebih awal karena kepalaku terasa seperti dipakai orang lain.
Kamis jam dua pagi aku bangun karena menggigil.
Aku ingat bagian ini dengan cukup jelas, yang mengherankan mengingat sisanya tidak. Aku menggigil sampai kasurnya bergetar, dan aku ingat berpikir bahwa aku harus berhenti karena nanti dia terbangun.
Aku mencoba berhenti menggigil dengan menahan napas.
Itu tidak berhasil, dan aku ingat berpikir bahwa itu ide yang bodoh, dan aku ingat merasa sangat lelah dengan diriku sendiri.
Lampu menyala.
“Mas?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu—“ Ada tangan di dahiku. “Ya ampun.”
Itu pertama kalinya dia menyentuhku dengan sengaja.
Delapan bulan menikah. Aku ingin mencatat angkanya karena aku memang menghitungnya, bahkan dalam kondisi itu, bahkan sambil menggigil sampai gigi bergemeletuk.
Tangannya dingin. Atau dahiku panas. Salah satunya.
“Aku ambil termometer.”
“Nggak usah.”
“Mas Azzam.” Suaranya berubah jadi suara yang belum pernah kudengar sebelumnya, yang tidak menerima pendapat. “Diem.”
Aku diam.
Tiga puluh sembilan koma dua.
“Aku bawa ke IGD.”
“Nggak usah.”
“Mas—“
“Besok pagi ke klinik. Sekarang jam dua.” Aku menarik selimut. “IGD jam dua itu buat yang darurat. Aku cuma demam.”
“Tiga puluh sembilan koma dua.”
“Itu demam.”
Dia berdiri di samping ranjang dengan termometer di tangan selama beberapa detik, dan aku bisa melihat dia sedang menimbang apakah akan melawan.
“Ya udah,” katanya. “Tapi kalau naik lagi, kita berangkat. Aku nggak nanya.”
“Iya.”
Dia keluar dan kembali empat menit kemudian dengan baskom, handuk kecil, air, dan dua botol air mineral.
Dia duduk di tepi kasur di sisiku — sisiku, bukan sisinya, dan guling itu sudah tidak ada di antara kami karena dia menyingkirkannya untuk duduk — dan mulai mengompres.
Aku ingin menjelaskan sesuatu yang mungkin terdengar berlebihan.
Aku tidak pernah dirawat orang.
Bukan tidak pernah sakit. Aku sakit seperti orang lain. Tapi caranya begini: aku sakit, aku minum obat, aku tidur, aku bangun, aku kerja. Kalau parah, Ibu akan membuatkan bubur dan menaruhnya di depan pintu kamar dan berteriak dari luar.
Waktu tipes tahun 2021, Yudha yang membelikan obat, dan dia menaruhnya di meja kantor dan bilang “nih” dan pergi.
Itu bentuk perawatan yang kukenal. Barang, dari jarak tertentu.
Bukan seseorang duduk di tepi kasur jam dua pagi, mengangkat handuk, memerasnya, melipatnya jadi persegi, dan menaruhnya di dahimu, lalu mengambilnya lagi empat menit kemudian dan mengulangi semuanya.
Berkali-kali.
Aku tidak tahu harus bagaimana. Itu masalahnya. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, dan yang kulakukan adalah berbaring kaku seperti orang yang sedang diperiksa.
“Rileks, Mas.”
“Aku rileks.”
“Kamu kayak papan.”
“Ini emang bentuk badanku.”
Dia tertawa sekali, pelan, dan mengganti handuknya lagi.
“Mas, kamu tau nggak kenapa aku tau kamu bakal nolak ke IGD?”
“Kenapa.”
“Karena Rena pernah cerita.” Dia memeras handuk. “Waktu kamu kelas dua kuliah, kamu jatuh dari motor dan tulang selangkanya retak, terus kamu pulang sendiri naik angkot dan baru bilang tiga hari kemudian pas Tante Ratih liat kamu nggak bisa ngangkat tangan.”
“Itu dilebih-lebihin.”
“Retaknya dilebih-lebihin atau tiga harinya?”
“...Tiga harinya dua hari.”
“Astaga.”
“Waktu itu lagi UTS.”
“Mas Azzam.” Dia menaruh handuk itu di dahiku agak lebih keras dari yang perlu. “Kamu tuh sadar nggak sih kalau itu bukan cerita lucu?”
Aku tidak menjawab.
Aku tidak menjawab karena aku memang tidak pernah menganggapnya cerita lucu maupun cerita sedih. Aku menganggapnya cerita tentang UTS.
Jam tiga aku mulai kacau.
Aku tahu aku mulai kacau karena aku mendengar diriku sendiri bicara dan tidak ingat memutuskan untuk bicara.
“Terpalnya jebol dua kali.”
“Iya?”
“Yang kedua di sudut barat. Harusnya aku pasang tali tambahan dari kemarin.”
“Ya udah, besok dipasang.”
“Nggak bisa besok. Betonnya udah dituang.”
“Ya udah lusa.”
“Kamu nggak ngerti.”
“Aku nggak ngerti,” katanya, sabar sekali. “Tidur, Mas.”
Lalu ada bagian di mana aku tidak yakin berapa lama.
Lalu aku ingat bilang, “Maaf ya.”
Handuk berhenti bergerak.
“Maaf kenapa?”
Dan aku ingin sangat jelas soal apa yang terjadi berikutnya, karena ini yang paling penting dari seluruh malam itu.
Aku hampir mengatakannya.
Kalimatnya sudah lengkap di kepalaku, sudah tersusun, sudah punya urutan. Sembilan tahun. Gerbang sekolah. Satu jam empat puluh menit. Kata “iya” di kafe. Enam aturan di aplikasi catatan. Semuanya, dari awal, dalam satu napas.
Demam itu membuka semua pintu di rumah yang sudah kukunci selama sembilan tahun, dan aku berbaring di sana dengan semua pintu terbuka dan seseorang duduk di tepi kasur menunggu jawaban.
“Mas?”
“Maaf,” kataku, “kamu jadi nggak tidur.”
Handuk itu bergerak lagi.
“Astaga,” katanya. “Aku pikir apa.”
“Kamu kerja besok.”
“Aku udah izin.”
“Kapan?”
“Barusan. Jam dua lewat. Aku chat bos aku, dia bakal baca jam tujuh.”
“Nggak usah izin.”
“Mas, kalau kamu ngomong ‘nggak usah’ sekali lagi malam ini aku sumpahin demam kamu naik.”
Aku menutup mulut.
Dan aku ingat, samar sekali, memikirkan bahwa ini pertama kalinya dalam hidupku ada orang memarahiku karena aku terlalu sedikit meminta.
Aku tidur sekitar jam empat dan bangun jam sepuluh pagi dengan bantal yang sudah diganti dan baju yang sudah diganti dan tidak ada satu pun ingatan tentang bagaimana keduanya terjadi.
Dia di kursi meja belajar yang ditarik ke samping ranjang, dengan laptop di pangkuan, mengedit.
“Pagi.”
“Siang,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Tiga puluh tujuh lima. Turun.”
“Kamu kerja?”
“Aku izin, bukan cuti. Beda.” Dia mengetik. “Bubur di dapur. Jangan bangun, aku ambilin.”
“Aku bisa—“
“Mas.”
Aku berbaring lagi.
Ibu dan Tante Wulan datang jam satu siang.
Mereka datang bersama, dalam satu mobil, dengan tiga rantang dan satu tas berisi obat-obatan yang jumlahnya cukup untuk sebuah klinik kecil.
“Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit?”
“Nggak mau, Tante,” kata Evelyn.
“Ya dipaksa.”
“Udah, Tante. Dia nggak bisa dipaksa.”
“Bisa.” Ibu berdiri di pintu kamar sambil melipat tangan. “Azzam. Bangun. Kita ke rumah sakit.”
“Nggak, Bu.”
“AZZAM.”
“Ratih,” kata Tante Wulan, “kalau dia bisa nolak sekeras itu berarti dia belum parah.”
“Itu bukan tolok ukur medis, Wulan.”
“Itu tolok ukur ibu-ibu.”
“Bubur ini kurang kecap.”
“Bubur nggak pakai kecap, Ratih.”
“Bubur pakai kecap.”
“Itu bukan bubur namanya kalau pakai kecap.”
“Terus namanya apa?”
“Nasi hancur berkecap.”
Aku mendengar semuanya dari kamar dan aku demam tiga puluh delapan koma sekian dan aku tetap tertawa sampai batuk.
“Kamu ketawa?” Evelyn menoleh dari kursinya.
“Enggak.”
“Aku denger.”
“Batuk.”
“Ketawa.”
Mereka berdebat empat puluh menit tentang apakah bubur boleh diberi kecap dan berakhir dengan dua mangkuk, satu berkecap satu tidak, yang keduanya diletakkan di nampan dan dibawa masuk oleh Evelyn dengan wajah orang yang membawa hasil perundingan damai.
“Kamu harus makan dua-duanya.”
“Dua mangkuk?”
“Setengah-setengah. Terus nanti kamu bilang dua-duanya enak.”
“Aku nggak bisa bohong.”
“Mas.”
“Aku serius, aku nggak pinter bohong.”
Dia menatapku beberapa detik dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca waktu itu.
“Iya,” katanya akhirnya. “Kayaknya emang enggak.”
Aku memakan dua-duanya dan bilang dua-duanya enak, dan itu bohong, dan yang berkecap jauh lebih enak.
Rena datang jam tiga, langsung masuk kamar, berdiri di kaki ranjang, dan menatapku.
“Mas keliatan jelek banget.”
“Makasih.”
“Serius. Kayak jenazah yang bandel.”
“Rena,” kata Evelyn dari kursi.
“Kak Evelyn dari kapan di sini?”
“Dari jam dua pagi.”
Rena menoleh ke arahnya.
Aku melihat itu terjadi. Aku sedang demam tiga puluh tujuh lima dan aku tetap melihatnya: Rena menoleh, memandangi Evelyn selama sekitar dua detik, memandangi laptop di pangkuannya, memandangi baskom dan handuk di meja.
Lalu dia menoleh ke arahku.
Dan wajahnya, untuk sepersekian detik, jadi wajah yang benar-benar tidak cocok dengan lelucon jenazah bandel.
“Ya udah,” kata Rena. “Aku bikinin teh.”
Dia keluar.
Mereka pulang jam enam. Rumah jadi sunyi lagi.
Evelyn masuk membawa dua gelas.
Dia menaruh satu di meja samping ranjang, dan gelas itu bukan teh.
“Apa ini?”
“Kopi.”
“Aku sakit.”
“Setengah takaran. Kamu dari tadi ngomong kepala kamu berat.” Dia duduk. “Bukan aku yang bilang, Mama aku yang bilang. Katanya kalau orang biasa ngopi terus berhenti mendadak, kepalanya jadi lebih parah dari demamnya.”
Aku mengambil gelas itu.
“Kamu nanya ke Tante Wulan soal aku?”
Dia berhenti sebentar.
“Aku nanya soal orang yang biasa ngopi,” katanya.
“Oh.”
“Iya.”
Kami minum.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu selalu gitu ya.”
“Gitu gimana.”
“Nggak mau ngerepotin.” Dia memegang gelasnya dengan dua tangan. “Dari jam dua pagi kamu ngomong ‘nggak usah’ delapan kali. Aku ngitung.”
“Kamu ngitung?”
“Aku selalu ngitung.”
Aku menatapnya.
“Delapan?”
“Delapan.”
Aku minum kopiku.
“Aku nggak sadar,” kataku.
“Aku tau.” Dia menaruh gelasnya. “Itu yang aneh.”
Malam itu aku tidur nyenyak untuk pertama kalinya sejak Selasa, dan waktu aku setengah bangun sekitar jam satu, aku menyadari dua hal.
Yang pertama: guling itu tidak dikembalikan ke tengah.
Yang kedua: dia tidur menghadap ke arahku, bukan menghadap jendela.
Aku berbaring diam sekali supaya tidak mengubah apa pun, dan aku tetap begitu selama mungkin dua puluh menit sebelum tertidur lagi.
Minggu pagi aku sudah bisa duduk lama dan dia menyuruhku tetap di kamar, dan aku menolak, dan kami berkompromi di sofa.
Dia menyalakan drama yang biasa dia tonton dengan Rena.
“Kamu nggak bakal ngerti.”
“Coba.”
“Ini udah episode lima belas.”
“Ceritain.”
Dia menceritakannya dua puluh menit. Ada dua bersaudara, satu perusahaan, satu perjanjian yang ditandatangani ayah mereka, dan seseorang yang menyamar jadi orang lain karena alasan yang bahkan dia sendiri akui tidak masuk akal.
“Terus kenapa kamu nonton?”
“Karena aku pengen tau si Ha-jun akhirnya ngomong nggak.”
“Ngomong apa?”
“Ya... “ Dia mengibaskan tangan ke arah layar. “Dia suka sama Seo-yeon dari episode satu. Semua orang tau kecuali Seo-yeon.”
Aku menatap layar.
“Kenapa dia nggak bilang aja?”
“Karena kalau dia bilang, Seo-yeon bakal ngerasa nggak enak.”
“Terus?”
“Terus dia nunggu sampai Seo-yeon sadar sendiri.”
“Itu bodoh.”
Dia menoleh ke arahku.
“Kenapa bodoh?”
Dan aku, dengan demam tiga puluh tujuh koma sekian, di sofa rumahku sendiri, hampir menjawab pertanyaan itu dengan jujur.
“Karena orang nggak sadar sendiri,” kataku.
Dia menatapku sedetik lebih lama.
“Iya,” katanya. “Emang.”
Lalu dia kembali ke layar, dan aku kembali ke layar, dan tidak satu pun dari kami yang bicara sampai episode itu selesai.
Hari Senin aku kembali kerja, dan Yudha melihat wajahku dan bilang, “Kamu tipes lagi?”
“Demam biasa.”
“Siapa yang ngerawat?”
Aku membuka laptop.
“Zam.”
“Istriku,” kataku.
Yudha diam agak lama.
Lalu dia bilang, “Ya udah bagus,” dan tidak melanjutkan, dan aku berterima kasih untuk itu juga.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua reading
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis