Chapter Thirty Two
Simpan Saja (2)
POV: Azzam
Aku memilih hari Minggu karena hari Minggu dia tidak harus ke kantor besoknya.
Aku memikirkan hal-hal seperti itu. Aku ingin itu tercatat, karena nanti akan ada yang bilang aku melakukannya karena panik, dan aku tidak panik. Aku merencanakannya seperti aku merencanakan pekerjaan.
Aku mengurus semuanya lebih dulu.
Hari Kamis aku ke bank. Hari Jumat aku bicara dengan orang di kantor notaris tentang mengubah nama di sertifikat, dan orang itu bertanya apakah saya yakin, dan saya bilang iya, dan dia bilang biasanya urusan ini butuh dua pihak, dan saya bilang saya tahu.
Hari Sabtu aku menulis daftar.
Bukan enam aturan. Daftar yang lain.
Rumah ke dia. KPR sisa tiga tahun, aku lanjut bayar.Mobil dia sudah atas nama dia.Tabungan bersama dibagi. Yang bulanan buat dia sampai setahun.Ke orang tua: aku yang bilang. Semua. Berdua sekaligus, jangan sendiri-sendiri.Jangan sebut Ernest. Sekali pun.Jangan bikin dia harus jawab apa-apa.
Aku membacanya empat kali dan menghapus baris terakhir dan menulisnya ulang lebih pendek.
Jangan tanya apa-apa.
Dan aku menatap baris itu cukup lama, karena aku sadar aku baru saja menulis aturan yang sama untuk terakhir kalinya, dan bahwa aku akan mengakhiri pernikahan ini dengan cara yang persis sama seperti aku menjalaninya.
Aku tetap tidak menghapusnya.
Sabtu malam Rena menelepon.
“Mas.”
“Hm.”
“Mas kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Mas.”
“Rena, aku lagi capek.”
Hening di seberang.
“Mas mau ngelakuin sesuatu ya.”
Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain.
“Enggak.”
“Mas.”
“Enggak, Rena.”
“Mas, jangan.” Suaranya sudah berubah. “Aku nggak tau apa, tapi jangan. Tunggu dulu. Tunggu sampai—“
“Sampai apa?”
Dan Rena berhenti.
Dia berhenti selama sekitar empat detik, dan dalam empat detik itu adikku sedang memutuskan apakah akan mengkhianati janji yang dia buat kepada perempuan lain, dan aku tidak tahu itu, dan aku tidak akan tahu itu selama enam minggu.
“Nggak,” katanya akhirnya. “Nggak apa-apa.”
“Ya udah.”
“Mas.”
“Hm.”
“Aku sayang sama Mas.”
“Iya. Aku juga.”
Dan dia menutup telepon, dan aku menaruh ponsel di meja dan melanjutkan menyiapkan tas.
Itu kesempatan kedua yang pernah kupunya untuk tahu lebih cepat.
Aku membuangnya juga.
Minggu pagi kami sarapan.
Dia membuat telur. Kegaraman, seperti biasa, dan dia menyadarinya setelah butirnya masuk semua, seperti biasa, dan aku menuang setengahnya ke mangkuk kedua dan menambah dua telur, seperti biasa.
“Kamu ini kalau ada masalah langsung ada solusinya ya,” katanya.
Dia sudah mengatakan itu sepuluh bulan lalu, kalimat yang persis sama, di dapur yang sama, di hari dia mengetahui aku menemukan kardusnya.
Aku tidak tahu apakah dia ingat.
“Ini telur,” kataku.
“Aku tau ini telur.” Dia mengambil mangkuknya. “Tapi tetep.”
Dan dia tersenyum, dan aku menggoreng dua porsi telur, dan kami makan.
Aku menunggu sampai jam sebelas.
Aku menunggu karena aku ingin dia sudah selesai mandi, sudah minum, sudah tidak lapar. Aku sudah cukup sering menyampaikan berita buruk di proyek untuk tahu bahwa orang mendengarkan lebih baik kalau tubuhnya tidak sedang menuntut apa-apa.
Aku memikirkan hal-hal seperti itu sampai ke detail terakhir.
Dia sedang duduk di sofa dengan laptop.
“Evelyn.”
“Hm.”
“Boleh aku ngomong sesuatu?”
Dia menutup laptop dan menoleh, dan wajahnya cerah, dan aku hampir batal karena wajahnya cerah.
“Boleh.”
Aku duduk di kursi seberang. Bukan di sofa. Di kursi, karena aku tidak bisa mengatakan ini dari jarak yang sama.
“Aku mau kita pisah.”
Ruangan itu tidak melakukan apa-apa.
Itu yang paling aneh dari semuanya. Aku sudah membayangkan bahwa ada sesuatu yang berubah di ruangan waktu kalimat itu keluar, dan tidak ada. Kulkas tetap berdengung. Ada motor lewat di luar.
“Apa?”
“Aku udah urus semuanya,” kataku. “Rumah ini atas nama kamu. Aku lanjut bayar sisanya, tiga tahun lagi. Mobil udah atas nama kamu dari dulu. Tabungan aku bagi, dan yang bulanan tetep jalan sampai setahun, biar kamu nggak perlu mikirin apa-apa dulu.”
Aku bicara terlalu cepat dan aku tahu aku bicara terlalu cepat.
“Aku yang bilang ke orang tua. Berdua sekaligus, biar nggak ada yang denger versi setengah-setengah. Aku bilang ini dari aku.”
“Mas.”
“Kamu nggak perlu jelasin apa-apa ke siapa pun. Kalau ada yang nanya, suruh nanya aku.”
“Mas.”
“Aku bakal—“
“AZZAM.”
Aku berhenti.
Dia sudah berdiri. Laptopnya jatuh dari pangkuan ke sofa dan dia tidak melihatnya.
“Apa maksud kamu?”
“Evelyn—“
“Tiga hari.”
“Aku tau.”
“Tiga hari yang lalu—“
“Aku tau.”
“KAMU BILANG APA?”
Dan aku duduk di kursi itu dengan tangan di lutut dan mengucapkan kalimat yang sudah kususun selama empat hari, dan aku mengucapkannya dengan sangat tenang, dan ketenangan itu adalah hal paling kejam yang pernah kulakukan kepada siapa pun seumur hidupku.
“Kamu nggak pernah milih aku.”
Dia berdiri di tengah ruang tengah dan tidak bergerak.
“Apa?”
“Kamu nggak pernah milih.” Aku menatap lantai. “Orang tua kita yang mutusin. Kamu bilang boleh dalam lima detik karena kamu ngerasa berutang sama mereka. Aku tau itu, Evelyn. Aku udah tau dari malam itu.”
“Kamu nggak tau apa-apa tentang—“
“Dan setahun ini kamu nggak punya jalan keluar.” Aku mengangkat kepala. “Kamu tinggal di rumah aku, kamu ketemu keluarga aku tiap minggu, orang tua kamu seneng. Nggak ada satu pun pintu.”
“Mas—“
“Dan sekarang ada.”
Ruangan itu sunyi.
“Sekarang kamu bisa milih,” kataku. “Beneran milih. Tanpa rumah ini, tanpa orang tua, tanpa harus mikirin siapa yang kecewa.”
Aku berdiri.
“Dan aku pengen kamu punya itu,” kataku. “Sekali aja. Aku pengen ada satu hal dalam dua tahun terakhir yang kamu putusin sendiri dari nol.”
Dia menatapku selama sekitar sepuluh detik.
Dan lalu dia bilang sesuatu yang tidak kuduga sama sekali, dan yang membuatku hampir jatuh.
“Kamu liat aku hari Kamis.”
Aku tidak bergerak.
“Kamu liat aku di kafe hari Kamis.”
“Evelyn—“
“Jawab.”
“Iya.”
Dan dia menutup mata.
“Ini bukan soal itu,” kataku cepat. “Aku bersumpah ini bukan soal itu. Aku nggak marah, aku nggak—“
“Aku tau kamu nggak marah.” Suaranya keluar sangat rata. “Itu masalahnya, Mas. Kamu nggak pernah marah.”
“Evelyn.”
“Kamu liat aku hari Kamis, terus kamu pulang, terus kamu makan malem sama aku, terus kamu ketawa dua kali.” Dia membuka mata dan matanya sudah basah. “Terus tiga hari kamu diem. Terus sekarang kamu ngomong ini.”
“Aku—“
“Kamu nggak nanya aku ngapain di sana.”
Dan aku berdiri di ruang tengah rumahku sendiri dan tidak punya jawaban, karena dia benar, dan karena tidak bertanya adalah satu-satunya hal yang benar-benar kukuasai.
“Mas.”
“Hm.”
“Kalau aku bilang aku mau tinggal, kamu bakal gimana?”
Dan aku sudah menyiapkan jawaban untuk ini.
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk ini selama empat hari, karena aku tahu dia akan menanyakannya, karena perempuan ini akan mengambil apa pun demi tidak membuat orang lain kecewa dan itu justru masalahnya.
“Aku bakal tanya kamu kenapa,” kataku. “Dan aku bakal tau jawabannya sebelum kamu jawab.”
“Kamu nggak tau.”
“Kamu bakal tinggal karena kamu nggak sanggup ninggalin orang yang udah nunggu lama.”
Dan wajahnya berubah, dan aku melihat perubahan itu, dan aku salah membacanya untuk terakhir kalinya.
Aku pikir itu wajah orang yang ketahuan.
Aku baru mengerti berbulan-bulan kemudian bahwa itu wajah orang yang baru saja mendengar seluruh isi kepalanya diucapkan kembali kepadanya oleh orang yang salah, dengan urutan yang salah, dan tidak punya cara untuk membetulkannya tanpa membongkar semuanya.
“Kamu nunggu lama?” katanya.
Dan aku, yang sudah menjaga satu rahasia selama sembilan tahun, hampir kehilangan seluruhnya di detik itu.
“Setahun,” kataku.
Dia menatapku.
“Setahun,” ulangnya.
“Iya.”
Dan dia tertawa satu kali, pendek, dan bunyinya jelek sekali.
Aku mengeluarkan cincinku.
Bukan cincin nikahku — itu masih di jariku dan akan tetap di sana selama beberapa bulan lagi karena aku tidak sanggup melepasnya dan itu urusanku sendiri.
Aku mengeluarkan kotak beludru kecil dari saku, yang isinya cincin lamaran yang kubeli sendiri hari Rabu di toko yang penjaganya bertanya kenapa aku yakin sekali dengan ukurannya.
Dia sudah melepasnya sepuluh menit lalu, entah kapan, dan menaruhnya di meja waktu aku sedang bicara, dan aku bahkan tidak melihatnya melakukan itu.
Aku mengambilnya dari meja dan memasukkannya ke kotak.
Lalu aku menaruh kotak itu di depannya.
“Simpan saja.”
Dia menatap kotak itu.
“Apa?”
“Nggak usah dibalikin.” Aku menarik tanganku. “Ukurannya dua belas. Nggak bakal muat di siapa-siapa.”
“Mas—“
“Kalau kamu nggak mau, buang aja. Tapi jangan kasih ke aku.”
Dan aku ingin sekali bisa menuliskan bahwa aku mengatakannya dengan getir, atau dengan pahit, atau dengan sesuatu yang menunjukkan bahwa itu menyakitkan.
Aku mengatakannya dengan cara yang persis sama seperti sepuluh bulan lalu di depan pintu gudang.
Lembut. Tanpa nada menuduh. Suara orang yang tidak keberatan.
Aku mengucapkan dua kata yang sama, di rumah yang sama, ke orang yang sama, untuk mengakhiri hal yang sepuluh bulan lalu kuselamatkan dengan dua kata itu.
Dan aku bahkan tidak menyadarinya waktu itu.
Aku mengambil tas yang sudah kusiapkan sejak semalam dan kutaruh di gudang supaya dia tidak melihatnya.
Aku ke gudang untuk mengambilnya.
Kardus sepatu itu ada di rak paling depan, selotipnya menghadap pintu, tempat dia meletakkannya berbulan-bulan lalu.
Aku berdiri di gudang itu memandanginya selama sekitar lima detik.
Lalu aku mengambil tasku dan keluar.
Dia berdiri di ruang tengah, di tempat yang sama.
“Aku nginep di rumah Ibu dulu,” kataku. “Nanti aku cari kontrakan. Kamu nggak usah ke mana-mana.”
“Azzam.”
“Kalau ada yang rusak, telepon aku. Serius. Apa aja.”
“Azzam.”
Aku memakai sepatu.
“Air panasnya kadang lama keluarnya,” kataku. “Nyalain dulu dua menit.”
Dan aku pergi.
Aku menyetir dua puluh menit ke rumah orang tuaku dan aku tidak menangis.
Aku sudah menangis sekali di mobil ini, tiga bulan lalu, sebelas menit, di depan rumah yang baru saja kutinggalkan.
Itu satu-satunya kali.
Yang kurasakan dalam perjalanan itu bukan sedih. Aku sudah memikirkannya berulang-ulang sesudahnya dan yang paling dekat begini:
Aku merasa seperti orang yang baru menyelesaikan pekerjaan.
Aku sudah menghitungnya, aku sudah menyiapkan tiga opsi, aku sudah memilih yang paling tidak merusak, aku sudah mengurus semuanya sampai ke sertifikat.
Aku memberinya pilihan.
Itu yang kubilang ke diriku sendiri sepanjang dua puluh menit itu, dan aku mengulanginya sampai terdengar benar.
Aku ngasih dia pilihan.
Butuh enam minggu sampai ada orang yang menjelaskan kepadaku bahwa memberi seseorang pilihan tanpa memberitahunya seluruh isi soal bukan memberi pilihan.
Itu ujian yang sudah kamu isi sendiri jawabannya.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2) reading
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis