← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Twenty

Yang Tidak Pernah Ditanyakan

POV: Evelyn


Aku mengiriminya pesan tiga hari setelah syukuran itu.

Tidak ada alasan kali ini. Tidak ada buku masak, tidak ada barang yang tertinggal, tidak ada apa pun yang bisa kuucapkan ke siapa saja tanpa malu.

Nest, aku mau ketemu. Ada satu hal yang mau aku tanyain. Setelah itu aku nggak akan ganggu lagi.

Aku mengetik kalimat terakhir itu dan menghapusnya, lalu mengetiknya lagi, lalu mengirimnya.

Dibaca dalam dua menit.

Ernest:hari apa


Dia terlambat sebelas menit.

Ini pertama kalinya dalam sepuluh tahun aku mengenalnya bahwa dia terlambat, dan aku duduk di kafe itu selama sebelas menit dengan teh yang mendingin dan menyusun tiga tafsiran, dan ketiganya salah, karena waktu dia datang dia bilang “maaf, ada urusan” dan itu memang cuma ada urusan.

“Katanya mau nanya,” katanya, sebelum duduk sepenuhnya.

Dan dari nada itu aku sudah tahu bagaimana ini akan berakhir, dan aku tetap melanjutkan.

“Iya.”

Dia memesan. Pelayan pergi.

Dan sementara menunggu, aku memperhatikan satu hal yang kemudian tidak bisa kulepas dari kepala.

Dia tidak menaruh ponselnya di meja.

Sepuluh tahun aku mengenal orang ini dan ponselnya selalu di meja, selalu, di semua tempat, sampai aku pernah menyindirnya soal itu waktu kami masih pacaran.

Sekarang ponselnya di saku.

Bukan disembunyikan. Cuma di saku, seperti orang normal, seperti orang yang punya alasan untuk tidak ingin benda itu menyala di depan siapa pun.

Aku tidak bertanya soal itu juga.

Aku sudah menyusun daftar hal yang tidak kutanyakan ke orang ini, dan daftarnya lebih panjang daripada daftar yang kutanyakan.

“Nanya apa?”

Aku sudah melatih ini di mobil. Aku sudah melatihnya di kamar mandi, di dapur, di depan cermin, selama tiga hari.

Aku menarik napas.

“Kenapa waktu itu.”


Dia tidak bertanya “waktu itu yang mana.”

Itu bagian pertama yang menyakitkan. Dia tahu persis waktu itu yang mana, tanpa jeda, tanpa berpikir. Dia sudah menyimpan hari itu di suatu tempat yang gampang diambil, sama sepertiku.

“Vie.”

“Aku nggak minta kamu balik,” kataku cepat. “Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma pengen tau.”

“Buat apa?”

“Buat aku.”

“Nggak akan ngubah apa-apa.”

“Aku tau.”

“Terus buat apa?”

Dan aku, yang sudah menyiapkan jawaban untuk sepuluh pertanyaan lain, tidak menyiapkan yang ini.

“Karena aku nggak bisa tidur,” kataku.

Kalimat itu keluar tanpa persetujuanku dan langsung terdengar sangat memalukan begitu ada di udara.

Ernest menatap gelasnya.

“Aku bilang aku belum siap.”

“Itu bukan alasan.”

“Itu alasan.”

“Nest.” Aku menaruh dua tangan di meja. “Dua minggu sebelumnya kita nentuin tanggal. Kamu udah ketemu Papa. Kamu udah tanya soal seserahan ke Mama aku, sendiri, tanpa aku suruh.”

“Iya.”

“Terus dua minggu kemudian kamu belum siap.”

“Iya.”

“Itu nggak masuk akal.”

“Vie.”

“Aku editor, Nest. Kerjaan aku nyari yang nggak nyambung.” Suaraku naik dan aku menurunkannya. “Itu nggak nyambung.”

Dia diam cukup lama.

Lalu dia bilang, “Kadang orang emang berubah pikiran.”


Aku duduk di sana dan menunggu sisanya.

Tidak ada sisanya.

Itu kalimat lengkapnya. Itu seluruh jawabannya, dua tahun setengah, satu kalimat, dan kalimat itu adalah kalimat yang dipakai orang untuk menutup pembicaraan, bukan untuk menjelaskan sesuatu.

“Itu aja?” tanyaku.

“Itu aja.”

“Nest.”

“Vie, kamu udah nikah.”

Dan di situ dia menang, karena dia benar.

Aku duduk di kursi kafe itu dengan cincin di tangan kanan dan tidak punya satu pun kalimat yang bisa kupakai untuk melawan tiga kata yang seratus persen benar.

“Aku tau,” kataku.

“Suami kamu baik.”

“Aku tau.”

“Terus kenapa kamu di sini?”

Dia tidak mengatakannya dengan kejam. Aku ingin mencatat itu, karena kalau dia kejam semuanya jadi lebih gampang, dan dia tidak.

Dia mengatakannya seperti orang yang benar-benar bingung.

“Aku nggak tau,” kataku.


Kami duduk beberapa saat lagi.

“Aku harus balik,” katanya.

“Iya.”

Dia berdiri. Dia mengambil tasnya. Dan sebelum berbalik, dia berhenti sebentar.

“Vie.”

Aku mengangkat kepala terlalu cepat, lagi, seperti anjing.

“Jangan chat aku lagi ya,” katanya.

Pelan sekali. Tanpa marah sedikit pun. Nadanya nada orang yang minta tolong.

“Bukan karena aku benci sama kamu,” lanjutnya. “Justru sebaliknya. Tapi tiap kali kamu chat, aku harus mikir gimana balesnya biar nggak jahat. Dan aku selalu bales yang salah, dan gara-gara itu kamu chat lagi.”

Aku menatapnya.

“Aku capek, Vie,” katanya. “Maaf.”

Dan dia pergi.


Aku duduk di kafe itu sekitar sepuluh menit lagi, membayar dua minuman, dan berjalan ke mobil.

Hujan mulai waktu aku sampai di parkiran.

Aku masuk, menutup pintu, dan mesinnya menyala, dan aku menyalakan wiper, dan aku memindahkan tuas ke posisi mundur.

Lalu aku memindahkannya kembali ke parkir.

Lalu aku mematikan mesin.

Dan aku duduk di sana.


Aku tidak akan menuliskan bagian ini panjang-panjang, karena tidak ada yang menarik dari orang menangis di mobil dan aku sudah melakukannya cukup sering di parkiran yang berbeda-beda untuk tahu bahwa isinya sama saja.

Yang penting cuma satu hal.

Aku selalu berpikir bahwa aku menunggu jawaban.

Selama sepuluh bulan aku bilang ke diriku sendiri: aku cuma perlu tahu kenapa, lalu aku bisa berhenti. Aku bahkan mengatakannya ke Vira dengan nada orang yang masuk akal.

Aku baru saja bertanya.

Dan yang kudapat bukan jawaban, dan aku tidak marah karena tidak dapat jawaban.

Aku hancur karena dia bilang jangan chat lagi.

Yang artinya yang kutunggu bukan jawaban.

Yang kutunggu adalah izin untuk terus bertanya.

Aku duduk di parkiran itu dengan hujan di kaca depan dan menyadari, untuk pertama kalinya dengan sangat terang, bahwa aku sudah membohongi diriku sendiri selama sepuluh bulan dengan sangat rapi, dan bahwa aku pandai sekali dalam hal itu, dan bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikanku karena tidak ada satu orang pun yang tahu.

Jam menunjukkan enam lewat empat puluh.

Hujannya makin deras.

Aku tidak sanggup menyetir. Bukan kiasan — aku benar-benar tidak sanggup, tanganku gemetar dan pandanganku tidak beres dan aku sudah mencoba sekali dan berhenti lagi setelah lima meter.

Aku duduk di sana sampai jam tujuh lewat.

Lalu aku mengambil ponsel dan menekan nama yang ada di urutan paling atas riwayat panggilan, karena dia satu-satunya orang yang meneleponku secara rutin.


Dia mengangkat di dering kedua.

“Evelyn.”

“Mas.”

Suaraku keluar hancur, langsung, di kata pertama.

Ada jeda setengah detik di seberang sana.

“Kamu di mana.”

“Aku—“ Aku menelan. “Aku di parkiran. Deket Bintaro. Yang ada minimarket di depannya.”

“Kamu sendirian?”

“Iya.”

“Mobilnya kenapa?”

“Mobilnya nggak apa-apa.” Aku menutup mata. “Aku yang nggak bisa nyetir.”

“Oke.”

Tidak ada pertanyaan.

“Kamu di dalam mobil?”

“Iya.”

“Pintu dikunci?”

“Iya.”

“Kirim lokasi. Aku empat puluh menit.”

“Mas—“

“Evelyn, kirim lokasi.”

Aku mengirim lokasi.

“Kamu makan belum?”

Aku hampir tertawa dan malah menangis.

“Belum.”

“Ya udah. Jangan turun. Aku bawain.”

Dan dia menutup telepon.


Aku menunggu tiga puluh empat menit dan selama tiga puluh empat menit itu aku melakukan satu hal.

Aku membuka galeri.

Album bernama “Dokumen”. Empat puluh satu gambar.

Aku membukanya untuk pertama kalinya sejak malam pernikahanku, dan aku menggulirnya dari atas sampai bawah, pelan, seperti orang membaca berkas.

Dan aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya, meskipun aku sudah membacanya empat puluh kali.

Aku menghitung.

Dari empat puluh satu tangkapan layar itu, tiga puluh lima diawali olehku.

Enam olehnya. Dua di antaranya ucapan ulang tahun. Satu memberi tahu nomornya ganti. Satu menanyakan apakah aku menyimpan kunci kosnya. Dua sisanya menjawab hal yang kutanyakan di telepon.

Enam dari empat puluh satu.

Selama sepuluh bulan aku menyebut ini “kami masih ngobrol.”

Aku menghapus album itu di parkiran, dalam hujan, jam tujuh lewat, sambil menangis.

Lalu aku membuka tempat sampah galeri dan mengembalikannya, karena benda yang dihapus masih ada di sana selama tiga puluh hari dan aku tahu itu, dan itu yang membuat penghapusannya tidak berarti apa-apa.

Aku menaruh ponsel di dashboard dan menutup wajah dengan kedua tangan.


Dia sampai tiga puluh empat menit kemudian, bukan empat puluh, dan aku tahu artinya apa dan aku tidak menanyakannya.

Dia mengetuk kaca. Aku membuka kunci. Dia masuk ke kursi penumpang dengan bahu basah dan menaruh kantong plastik di dashboard.

Roti. Air mineral. Dan satu kotak teh kemasan yang dingin, yang aku benci, dan yang tidak dia tahu aku benci karena aku tidak pernah bilang.

“Aku bawa sendiri motornya Yudha,” katanya. “Nanti dia ambil besok. Aku yang nyetir pulang, mobil kamu aku bawa.”

“Oke.”

“Kamu duduk aja.”

“Oke.”

Dia mengelap wajahnya dengan lengan bajunya yang juga basah, yang tidak berhasil, dan diam sebentar.

Lalu dia menyalakan mesin dan menyetel pemanas.

Aku menunggu.

Aku menunggu selama seluruh perjalanan pulang, lima puluh menit, dalam hujan, di kursi penumpang mobilku sendiri.

Aku menunggu dia bertanya aku dari mana, kenapa aku di Bintaro, kenapa jam tujuh malam, kenapa aku menangis, kenapa aku bilang mau ke rumah Vira siang tadi padahal Vira ada di Bandung karena aku sendiri yang bilang begitu dua hari lalu.

Ada dua belas pertanyaan yang tersedia, dan semuanya wajar, dan dia berhak menanyakan semuanya.

Dia tidak menanyakan satu pun.

Dia menyetel wiper. Dia menurunkan volume radio yang menyala sendiri waktu mesin dinyalakan. Dia bilang “hati-hati kepalanya” waktu aku menyandarkan kepala ke jendela, dan menggeser tangannya sebentar ke sana supaya aku tidak terbentur waktu mobil melewati polisi tidur.

Dan sepanjang lima puluh menit itu, aku menunggu satu pertanyaan.

Dan makin lama dia tidak bertanya, makin aku ingin dia bertanya.

Di kilometer entah berapa, dia bicara satu kali.

“Evelyn.”

“Hm.”

“Kamu nggak harus cerita.”

Aku membuka mata.

“Sekarang atau nanti,” lanjutnya, matanya di jalan. “Nggak harus.”

“Oke.”

“Aku cuma mau kamu tau itu.”

“Oke.”

Dan dia tidak melanjutkan.

Aku memandangi sisi wajahnya dalam cahaya lampu jalan yang lewat setiap dua detik dan aku ingin sekali marah kepadanya untuk sesuatu, apa saja, dan tidak ada yang tersedia.


Dan waktu kami masuk kompleks, aku menyadari sesuatu yang membuatku menutup mata dan berpura-pura tidur selama sisa perjalanan.

Aku ingin dia marah.

Bukan karena aku ingin dihukum.

Karena kalau dia marah, artinya ada sesuatu di sana.