Chapter Thirty
Setahun
POV: Evelyn
Aku menghabiskan dua jam berikutnya membersihkan rumah yang tidak kotor.
Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan. Aku sudah pernah melakukannya sekali, sepuluh bulan lalu, hari waktu dia menemukan kardus itu, dan waktu itu aku menghabiskan tiga jam di dapur supaya tanganku sibuk dan wajahku menghadap ke arah lain.
Ini bukan itu.
Ini orang yang sedang menunggu jam enam.
Aku mengelap meja. Aku menyapu. Aku mengganti sarung bantal sofa. Aku menaruh dua piring di meja jam setengah enam padahal aku tahu dia baru pulang jam tujuh, dan aku duduk memandanginya selama sepuluh menit.
Lalu aku mandi.
Lalu aku berdiri di depan lemari selama entah berapa lama dan akhirnya memakai baju rumah yang biasa, karena kalau aku memakai yang lain dia akan bertanya, dan aku belum siap dengan pertanyaan apa pun.
Jam enam aku duduk di sofa dan mencoba mengedit dan tidak membaca satu kalimat pun.
Aku sudah menyusun kalimatnya.
Empat kalimat, seperti biasa, karena aku selalu menyusun empat kalimat.
Mas, aku tau.Aku tau dari Rena, tiga bulan lalu.Aku minta maaf karena aku diem.Dan aku nggak lagi kasihan sama kamu.
Aku menghafalnya sampai bisa mengucapkannya tanpa suaraku goyah, karena aku tahu kalau suaraku goyah dia akan mengira aku sedang membayar sesuatu.
Kunci di pintu jam tujuh lewat dua puluh.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dia masuk, meletakkan tas, melepas sepatu.
Dan aku berdiri dari sofa dan membuka mulut dan tidak satu pun dari empat kalimat itu keluar.
“Kamu udah makan?”
“Belum.”
“Rapatnya gimana?”
Ada jeda seperempat detik yang mungkin cuma ada di kepalaku.
“Lancar,” kataku.
“Ya udah, makan.”
Dan dia masuk ke kamar untuk ganti baju.
Aku berdiri di ruang tengah dengan empat kalimat yang mati di tenggorokan dan menyadari sesuatu yang seharusnya sudah kusadari berbulan-bulan lalu.
Aku tidak bisa mengatakannya.
Bukan karena aku pengecut, meskipun aku pengecut.
Karena setiap versi dari kalimat itu — semua empat, semua cadangan, semua yang pernah kususun di kamar mandi selama tiga bulan — semuanya adalah kalimat yang menempatkan aku sebagai orang yang menjelaskan dan dia sebagai orang yang mendengarkan.
Dan orang ini sudah mendengarkan selama sembilan tahun.
Dia tidak butuh satu penjelasan lagi.
Vira menelepon jam enam kurang, dan aku tidak mengangkat.
Aku menatap namanya di layar sampai berhenti, lalu mengetik.
Vir, nanti aku telepon ya.
Vira:kamu ketemu dia ya
Aku menatap empat kata itu.
Kok tau.
Vira:karena kamu nggak ngangkat
Vira:Vie
Vira:kamu mau aku dateng?
Nggak usah. Aku baik.
Vira:baik beneran atau baik yang kamu
Aku duduk di sofa dengan ponsel di tangan cukup lama.
Vir, dia mutusin buat aku. Utang keluarga. Dia hitung sendiri terus dia pergi.
Butuh Vira dua menit untuk membalas, yang tidak pernah terjadi.
Vira:ya ampun
Vira:Vie
Vira:kamu sadar nggak sih
Sadar apa
Vira:nggak. besok aja.
Vira:malam ini kamu jangan mikir apa apa
Dan aku menutup ponsel dan tidak memikirkan apa yang dia maksud sampai berminggu-minggu kemudian, dan waktu aku akhirnya mengerti, sudah terlambat.
Kami makan.
Dan itu makan malam yang biasa, dan itu yang paling ingin kutuliskan dengan benar.
Dia bercerita soal Fikri yang sekarang sudah memegang satu lantai sendiri. Aku bercerita soal penulis tujuh ratus halaman yang akhirnya setuju memotong tiga ratus lima puluh dan sekarang mengirim pesan setiap dua hari untuk memastikan aku masih menyukainya.
Dia tertawa dua kali.
Aku memperhatikan tangannya waktu dia mengambil gelas. Krim yang kubelikan sepuluh bulan lalu, yang dia bawa ke proyek, ternyata bekerja. Tangannya masih kasar tapi tidak lagi pecah-pecah di sisi ibu jari.
Aku memperhatikan bahwa dia mengambil bawang goreng dari mangkuk dan menaruhnya di piringnya sendiri, dan tidak sekali pun ke arahku, dan gerakannya sudah tidak lagi dia sembunyikan sejak berbulan-bulan lalu karena dia sudah tahu aku tahu.
Aku memperhatikan bahwa dia menaruh gelasku lebih dekat ke tanganku waktu aku sedang bicara.
Setahun.
Dan ada satu hal lagi yang kulihat malam itu, yang paling kecil dari semuanya.
Piringku.
Aku selalu makan lebih sedikit dari dia, selalu, sejak dulu. Dan setiap kali kami makan, porsi di piringku selalu pas — tidak pernah terlalu banyak sampai tersisa, tidak pernah kurang.
Aku tidak pernah menyendok sendiri. Dia yang menyendokkan, sejak bulan kedua, dan aku tidak pernah menyadari kapan itu dimulai.
Setahun.
Dan dia tidak pernah salah takaran sekali pun.
Dan aku duduk di meja itu dan mengerti, akhirnya, kenapa semua kalimatku salah.
Aku sudah menghabiskan tiga bulan mencari cara untuk memberitahunya bahwa aku tahu.
Yang seharusnya kucari bukan itu.
Aku berdiri untuk membawa piring ke dapur.
Dia berdiri juga karena dia selalu berdiri juga.
“Aku aja,” katanya.
“Enggak.”
“Evelyn, aku aja.”
“Mas.”
Dia berhenti.
Dan aku berdiri di sana dengan dua piring di tangan dan menatapnya, dan aku menaruh piring itu kembali di meja.
“Hari ini setahun,” kataku.
Wajahnya berubah.
Cepat sekali, seperempat detik, dan langsung ditarik kembali. Aku sudah cukup lama tinggal bersamanya untuk mengenali gerakan itu sekarang.
“Iya,” katanya.
“Kamu inget?”
“Aku inget.”
“Kenapa nggak bilang?”
Dan dia mengangkat bahu — mengangkat bahu, di hari ulang tahun pernikahannya sendiri — dan bilang, “Nggak apa-apa. Kamu keliatan capek.”
Aku ingin mencatat apa yang terjadi di dalam dadaku waktu dia mengucapkan itu, karena itu bukan yang kuduga.
Bukan sedih.
Aku marah.
Aku marah kepadanya, untuk pertama kalinya dalam setahun, dan marahnya besar dan panas dan sama sekali tidak pantas untuk situasi itu.
Marah karena laki-laki ini akan melewati hari ulang tahun pernikahannya sendiri tanpa menyebutnya, karena istrinya kelihatan capek.
Marah karena dia sudah melakukan ini setiap hari selama setahun, dan sembilan tahun sebelumnya, dan dia akan terus melakukannya sampai mati kalau tidak ada yang menghentikannya.
Marah karena dia berdiri di seberang jalan dalam hujan bulan lalu dan pergi.
Dan marah, paling besar, karena aku tahu persis dari mana kebiasaan itu datang, dan bahwa aku sendiri yang memberinya izin, di sebuah kafe, tiga belas bulan lalu, dengan satu pertanyaan yang kupikir sopan.
Kita sama-sama nggak punya pilihan, kan?
“Mas.”
“Hm.”
“Aku mau ngomong sesuatu dan aku nggak akan ngomong dengan bagus.”
Dia menaruh piring yang sedang dipegangnya.
“Oke.”
“Dan aku nggak mau kamu jawab ‘nggak apa-apa’.” Suaraku bergetar. “Sekali ini aja. Tolong.”
“Evelyn—“
“Tolong, Mas.”
Dia diam.
Dan aku berdiri di dapur rumah kami di hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama, dan aku membuang keempat kalimat yang sudah kuhafal, dan aku mengatakan yang sebenarnya.
“Aku nggak mau kamu tidur jauh-jauh lagi.”
Dia tidak bergerak.
“Evelyn.”
“Aku tau kamu bakal mikir aku ngomong gini karena aku ngerasa berutang,” kataku cepat, sebelum dia sempat. “Aku tau. Kamu udah pernah teriak ke aku gara-gara itu.”
“Aku—“
“Dan kamu salah.”
Dia berhenti.
“Kamu salah, Mas.” Aku menatapnya dan aku tidak mengalihkan pandangan. “Dan aku nggak bisa buktiin sekarang. Aku nggak punya cara buat buktiin. Kamu harus percaya aja.”
Ruangan itu sunyi sekali.
“Dan aku tau itu nggak adil,” kataku, “karena kamu udah percaya sama aku selama setahun tanpa dikasih apa-apa.”
Dia berdiri di dapur dengan tangan di sisi badan.
Dan lalu dia bertanya.
Untuk pertama kalinya dalam setahun, laki-laki itu bertanya.
“Kamu yakin?”
Dan aku bilang, “Iya.”
Aku tidak akan menuliskan sisanya.
Bukan karena malu. Karena ada hal-hal yang kalau ditulis jadi milik orang lain, dan aku sudah cukup lama menyimpan barang orang lain di dalam kardus.
Yang akan kutuliskan cuma tiga hal.
Yang pertama: tangannya gemetar. Bukan sedikit. Laki-laki yang memperbaiki MCB di rumah orang tuaku dalam empat puluh detik, yang menanggung delapan puluh juta tanpa berkedip, yang tidak pernah menaikkan suara kecuali sekali — tangannya gemetar sampai aku harus memegangnya dengan dua tangan supaya berhenti.
Yang kedua: dia bertanya “kamu yakin” tiga kali lagi, dan ketiganya aku bilang iya, dan yang ketiga aku bilang sambil tertawa dan menangis di saat yang sama karena orang ini tidak bisa berhenti memastikan.
Yang ketiga: guling itu berakhir di lantai, dan tidak ada yang mengambilnya sampai pagi.
Aku bangun jam empat.
Kamar masih gelap. AC dua puluh dua. Dan aku terbangun karena tidak biasa — karena ada berat di sisi kiriku yang belum pernah ada di sana dalam setahun.
Dia tidur menghadapku, tangannya di pinggangku, dan wajahnya tidak seperti wajahnya.
Aku belum pernah melihat wajah itu.
Tidak di meja makan, tidak di kafe, tidak di foto prewedding, tidak waktu dia demam. Setahun tinggal serumah dan aku belum pernah sekali pun melihat wajah laki-laki ini waktu dia tidak sedang menahan apa pun.
Aku berbaring di sana dan memandanginya selama mungkin dua puluh menit.
Dan aku berpikir: besok pagi aku akan bilang.
Semuanya. Rena, tiga bulan lalu, kardus, kafe hari Kamis, semuanya. Aku akan bangun dan menyeduh dua gelas sebelum dia bangun, untuk pertama kalinya, dan aku akan duduk di seberangnya dan bilang semuanya dari awal.
Aku menyusun kalimatnya sambil berbaring di sana, dan kali ini aku tidak menyusun empat.
Aku menyusun satu.
Aku tau, Mas. Aku udah tau dari tiga bulan lalu, dan aku minta maaf karena aku diem, dan aku di sini bukan karena itu.
Terlalu panjang. Aku memotongnya.
Aku tau, dan aku tetap di sini.
Enam kata.
Aku mengulanginya di kepalaku beberapa kali sampai terdengar benar, seperti orang berlatih menulis satu kalimat di kertas HVS sampai tangannya hafal, karena aku tidak mau salah.
Aku tertidur lagi dengan rencana itu.
Aku tidak bangun jam lima.
Waktu aku bangun, jam sudah setengah tujuh, dan dia sudah tidak ada di kasur, dan ada dua gelas di meja seperti biasa dengan tutup di atas gelasku.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun reading
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis