Chapter Thirteen
Isi
POV: Azzam
Aku bertahan enam minggu.
Enam minggu itu bukan enam minggu yang berat. Justru sebaliknya, dan itu penting untuk kucatat sebelum sisanya, karena kalau tidak, nanti kelihatan seperti aku menghitung mundur menuju sesuatu.
Aku tidak menghitung mundur. Aku hidup.
Bulan keempat, kami mulai punya hal-hal kecil.
Kami punya warung nasi uduk hari Sabtu yang kami sebut “warung Bu Yang Itu” karena tidak ada yang tahu namanya. Kami punya kesepakatan bahwa siapa pun yang pulang terakhir mematikan lampu teras dan siapa pun yang bangun duluan tidak boleh menyalakan blender. Kami punya satu tanaman di dekat jendela yang dia beli tanpa alasan dan yang mati dalam tiga minggu, lalu diganti tanaman kedua yang lebih tahan banting dan yang kami perlakukan seperti hewan peliharaan.
Kami punya kebiasaan: kalau salah satu pulang telat, yang di rumah tidak makan duluan.
Dia yang memulai itu. Malam ketiga puluh sekian, aku pulang jam sembilan dan menemukan dua piring kosong di meja dan dia duduk di sofa dengan laptop.
“Kamu belum makan?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Nggak enak makan sendirian.”
Aku berdiri di ruang tengah dengan tas masih di bahu dan tidak tahu harus melakukan apa dengan diriku sendiri selama sekitar dua detik.
Setelah itu jadi aturan, dan aturan itu bertahan sampai bulan kesembilan.
Bulan keempat juga bulan pertama Rena mulai datang tanpa diundang.
“Aku laper.”
“Rumahmu ada dapur.”
“Dapur rumahku ada Mama.” Dia sudah duduk di meja makan sebelum menyelesaikan kalimatnya. “Kak Evelyn mana?”
“Kerja.”
“Kalau gitu aku pulang.” Dia berdiri.
“Rena.”
“Bercanda.” Dia duduk lagi. “Tapi setengah.”
Rena datang mungkin dua kali seminggu setelah itu, dan dia dan Evelyn punya kebiasaan sendiri yang tidak melibatkanku sama sekali: menonton drama di ponsel Evelyn dengan satu earphone masing-masing, sambil mengomentari, sambil aku mencuci piring di belakang mereka.
Aku suka suara itu.
Aku ingin mencatat ini juga: aku benar-benar suka suara itu. Dua perempuan tertawa di sofa ruang tengah rumahku sendiri, sementara aku mencuci piring, jam sembilan malam, di bulan keempat pernikahan yang seharusnya paling canggung sedunia.
Kalau kamu memotret hidupku di bulan keempat, kamu akan bilang laki-laki ini beruntung.
Kamu tidak akan salah.
Hari Sabtu di minggu keenam, kipas angin rusak di gudang akhirnya kuurus.
Aku sudah menjanjikannya sejak sebelum menikah. Evelyn menyindirnya empat kali dalam empat bulan, terakhir dua hari lalu, sambil mengipasi diri dengan map.
“Mas, kipasnya.”
“Iya.”
“Kamu bilang ‘iya’ bulan lalu juga.”
“Iya.”
“Aku catat lho.”
“Kamu nggak nyatat.”
“Aku nyatat.” Dia mengangkat ponselnya. “Ada di notes. ‘Kipas — 14 Mei, 2 Juni, 19 Juni.’”
Aku menatapnya.
“Kamu beneran nyatat.”
“Aku editor, Mas. Aku hidup dari nyatat orang yang bilang bakal ngirim revisi.”
Jadi Sabtu itu, jam sembilan pagi, waktu dia sudah berangkat ke kantor untuk rapat setengah hari, aku masuk ke gudang.
Aku melihatnya begitu membuka pintu.
Bukan karena aku mencari. Aku bahkan tidak sedang berpikir tentangnya. Aku masuk untuk mengambil kipas angin, dan kipas anginnya ada di kiri, dan aku melihat ke kanan karena manusia melihat ke seluruh ruangan waktu masuk ke ruangan.
Kardus sepatu itu masih di sudut, di belakang dua kardus besar, di tempat yang sama.
Selotipnya menghadap keluar.
2022 – 2024
Menghadap pintu. Terbaca dari ambang, dari tempat aku berdiri, dari jarak dua setengah meter.
Aku memutarnya menghadap dinding enam minggu lalu.
Aku ingat karena aku mundur ke pintu untuk mengeceknya dari sana. Aku ingat karena aku menggeser satu karung dua puluh sentimeter ke kiri supaya celahnya tertutup.
Karung itu juga sudah tidak di tempatnya.
Aku berdiri di ambang pintu gudang itu cukup lama.
Ada beberapa kemungkinan dan aku menyusun semuanya dengan tertib, karena itu yang kulakukan kalau ada masalah. Mungkin dia mencari sesuatu yang lain dan tidak sengaja menggesernya. Mungkin dia memindahkan karung untuk mengambil kado yang belum dibuka. Mungkin ada tikus.
Semua kemungkinan itu masuk akal.
Tidak satu pun yang kupercaya.
Karena kardus itu diputar. Bukan digeser, bukan dijatuhkan, bukan dipindah. Diputar seratus delapan puluh derajat sehingga sisi yang ada tulisannya menghadap keluar.
Orang tidak memutar kardus secara tidak sengaja.
Orang memutar kardus supaya bisa menemukannya lebih cepat lain kali.
Aku mengambil kipas anginnya.
Aku membawanya keluar, menaruhnya di teras belakang, mengambil obeng, dan membongkar tutup belakangnya. Bearing-nya kering. Aku sudah tahu itu dari suaranya empat bulan lalu.
Aku membersihkannya. Aku melumasinya. Aku memasangnya kembali dan mencolokkannya dan kipas itu berputar, mulus, tanpa suara, seperti kipas baru.
Selesai jam setengah sepuluh.
Aku membawanya ke ruang tengah dan menaruhnya di sudut yang biasa.
Lalu aku duduk di sofa.
Lalu aku berdiri.
Lalu aku ke dapur dan minum air.
Lalu aku kembali ke sofa dan duduk lagi dan mengambil ponsel dan membuka aplikasi berita dan menutupnya tanpa membaca apa pun.
Aku melakukan itu selama sekitar dua puluh menit.
Aku sempat menelepon Yudha.
Itu bagian yang paling memalukan. Aku menekan namanya, mendengarkan dua nada sambung, lalu menutupnya sebelum diangkat.
Dia menelepon balik lima belas detik kemudian.
“Zam.”
“Salah pencet.”
“Bohong.”
“Yudh, aku salah pencet.”
Hening di seberang.
“Kamu di rumah?”
“Iya.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Yudha diam agak lama. Di belakangnya ada suara anak kecil dan televisi.
“Zam, aku nggak nanya,” katanya akhirnya. “Aku cuma mau bilang: apa pun yang mau kamu lakuin sekarang, tunggu sampai besok.”
“Kenapa besok?”
“Karena kalau besok kamu masih mau, berarti emang perlu. Kalau besok kamu udah nggak mau, berarti tadi cuma sakit.”
Aku menutup telepon dan berterima kasih.
Aku tidak menunggu sampai besok.
Aku tidak akan berpura-pura bahwa ada pergulatan besar di dalam kepalaku. Tidak ada. Aku sudah tahu apa yang akan kulakukan sejak aku melihat selotip itu menghadap pintu.
Dua puluh menit itu cuma waktu yang kubutuhkan untuk berhenti berpura-pura tidak tahu.
Aku mengangkatnya ke ruang tengah dan menaruhnya di lantai dan duduk bersila di depannya.
Aku membuka tutupnya.
Yang paling atas hoodie abu-abu.
Terlipat, tapi dilipat asal, bukan dilipat rapi. Ukurannya laki-laki. Aku tidak mengangkatnya, cuma menggesernya ke pinggir dengan dua jari, dan waktu bergerak ada bau yang naik.
Deterjen. Bukan yang kami pakai. Yang wangi bunga, yang murah, yang dipakai setengah rumah tangga di Indonesia.
Empat bulan menikah dan aku sudah hafal bau cucian di rumah kami sendiri, dan aku sudah cukup sering mengangkat jemuran untuk tahu bahwa bau ini bukan dari rumah ini.
Yang artinya benda ini sudah dicuci setelah dia pindah ke sini.
Aku menutup mata sebentar dan membukanya lagi.
Di bawah hoodie, tiket. Tidak banyak, mungkin dua belas. Bioskop, konser, tiket masuk kebun raya, satu boarding pass ke Yogyakarta. Semuanya dijepit dengan penjepit kertas hitam.
Dua buku. Yang satu novel terjemahan, yang satu buku masak. Di halaman depan buku masak ada tulisan tangan yang bukan tulisannya.
Kabel charger yang sudah tidak muat ke ponsel mana pun.
Satu kartu ucapan. Aku tidak membukanya. Ada garis yang tetap kutarik, dan garis itu ternyata sangat sewenang-wenang, dan aku tidak akan membelanya.
Foto. Enam lembar, dicetak, yang artinya sengaja dicetak, karena tidak ada yang mencetak foto lagi kecuali kalau mau menaruhnya di suatu tempat.
Aku melihat enam-enamnya.
Di lima foto dia tersenyum.
Di satu foto dia tidak tersenyum, dan itu foto yang paling lama kupandangi. Diambil dari samping, jelas tanpa dia tahu, di suatu tempat yang kelihatannya kafe. Dia sedang membaca sesuatu. Wajahnya sepenuhnya tenang.
Aku belum pernah melihat wajah itu.
Empat bulan tinggal di rumah yang sama dan aku belum pernah sekali pun melihat wajah itu, dan aku menghabiskan mungkin satu menit penuh untuk mencoba mengingat kalau-kalau aku pernah dan lupa.
Aku tidak pernah.
Di dasar kardus ada map plastik bening.
Isinya kertas. Empat lembar, HVS biasa, terlipat dua.
Aku membukanya.
Tulisan tangannya. Tulisan tangan yang sama dengan yang di selotip, yang sama dengan yang di buku tugas kelompok SMP.
Baris demi baris, dari atas sampai bawah, empat halaman penuh.
Kalimat yang sama, ditulis ulang berkali-kali.
Yang pertama besar-besar dan agak goyah. Yang kelima lebih rapi. Yang di halaman kedua sudah lancar. Yang di halaman keempat sudah kecil dan cepat dan tidak lagi berhenti di tengah kata.
Orang berlatih.
Aku duduk di lantai ruang tengah rumahku dengan empat halaman itu di tangan dan sesuatu di dadaku berubah bentuk.
Karena aku sudah salah selama enam bulan.
Aku pikir isi kardus ini laki-laki itu. Aku pikir aku akan menemukan bukti bahwa istriku masih mencintai orang lain, dan aku sudah menyiapkan diri untuk itu selama berminggu-minggu, dan aku pikir aku sudah tahu bagaimana rasanya.
Yang ada di dasar kardus ini bukan laki-laki itu.
Yang ada di dasar kardus ini seorang perempuan dua puluh lima tahun yang duduk sendirian di suatu tempat dan menulis satu kalimat berulang-ulang sampai tangannya hafal, karena dia tidak mau salah, karena itu penting baginya, karena dia sungguh-sungguh.
Dan dua tahun kemudian orang yang membawanya ke sana pergi dan tidak menjelaskan apa pun.
Dan sekarang semua yang pernah kudengar orang bisikkan tentang dia — di resepsi, di arisan, di grup keluarga, dengan sangat sopan, tidak pernah sekali pun ke wajahnya — semuanya berdiri di atas satu asumsi.
Dia melakukannya untuk laki-laki itu.
Kardus ini bantahannya.
Kardus ini satu-satunya bantahan yang dia punya, dan tidak ada satu orang pun yang pernah memintanya.
Aku melipat kertas itu kembali persis di lipatan lamanya.
Aku memasukkannya ke map. Aku menaruh map di dasar. Foto di atasnya, kartu ucapan, kabel, buku, tiket.
Hoodie di paling atas, dilipat asal, seperti tadi.
Aku menutupnya.
Aku duduk di lantai dengan tangan di atas tutup kardus itu selama beberapa saat, dan aku sadar aku sedang menangis, yang mengejutkan karena aku tidak merasa sedang menangis.
Bukan untuk diriku sendiri. Aku ingin sangat jelas soal itu, karena aku sudah cukup banyak menangis untuk diriku sendiri di tempat lain.
Aku menangis karena selama enam minggu aku menyimpan kalimat di kepalaku yang berbunyi kenapa dia nggak bisa buang aja, dan sekarang aku tahu jawabannya, dan jawabannya membuat pertanyaan itu jadi pertanyaan yang paling kejam yang pernah kususun.
Dia tidak bisa membuangnya karena membuangnya berarti menyetujui semua orang.
Termasuk aku.
Karena aku juga pernah menghitungnya. Aku ingat kapan. Malam pertama, di sofa yang panjangnya seratus enam puluh sentimeter, aku berbaring dan berpikir bahwa perempuan di kamar sebelah sudah kehilangan sesuatu yang besar dan tidak mendapatkan apa-apa, dan aku merasa kasihan.
Kasihan.
Aku duduk di lantai ruang tenganku sendiri dan menyadari bahwa aku, yang selama ini merasa paling mengerti dia, pernah sampai ke kesimpulan yang persis sama dengan tetangga yang berbisik di resepsi.
Bedanya cuma nada.
Aku mengelap wajah dengan lengan.
Aku mengangkat kardus itu untuk mengembalikannya ke gudang.
Dan waktu aku berdiri, ada bunyi gerbang.
Bunyi rantai, lalu bunyi roda mobil di paving, lalu mesin mati.
Rapatnya setengah hari.
Jam sebelas lewat dua puluh.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi reading
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis