Chapter Twelve
2022 – 2024
POV: Azzam
Bulan ketiga, hujan mulai turun tiap sore, dan atap gudang belakang bocor.
Bukan bocor besar. Cuma satu titik di sambungan asbes, yang menetes pelan ke lantai dan meninggalkan lingkaran gelap sebesar piring.
Aku menemukannya hari Kamis. Aku baru sempat mengurusnya hari Minggu.
“Aku beresin gudang ya,” kataku pagi itu.
Evelyn sedang duduk di meja makan dengan laptop dan tiga tumpuk kertas dan wajah orang yang deadline-nya besok.
“Hm?”
“Gudang. Bocor.”
“Oh.” Dia tidak mengangkat kepala. “Iya, iya.”
“Barang kamu ada di sana nggak?”
Dan dia berhenti mengetik.
Tidak lama. Mungkin satu setengah detik. Kalau kamu tidak sedang memperhatikan, kamu tidak akan menyadarinya.
“Nggak ada,” katanya. “Kardus-kardus doang.”
“Oke.”
Aku mengambil kunci inggris dan sealant dari rak, dan waktu aku lewat di belakangnya dia menambahkan, masih tanpa mengangkat kepala, dengan nada yang sangat biasa:
“Nanti aja deh, Mas. Kamu kan capek.”
“Nggak capek.”
“Ya udah.”
Dan dia lanjut mengetik.
Aku mulai jam sembilan.
Gudangnya sempit, mungkin dua kali dua setengah meter, dan sekarang isinya sudah bukan dua kardus lagi. Ada tujuh. Ada tangga lipat, ada kipas angin rusak yang aku terus bilang akan kuperbaiki, ada dua karung berisi kado pernikahan yang belum sempat dibuka.
Aku memindahkan semuanya ke ruang tengah dulu supaya lantai kosong.
Evelyn mengangkat kepala waktu kardus keempat lewat.
“Mas, itu semua dikeluarin?”
“Iya, lantainya harus kosong.”
“Nggak usah semua kali.”
“Kalau nggak semua, nanti nginjek.”
“Ya udah.” Dia kembali ke layarnya. “Tapi nanti dibalikin ya, jangan dibiarin di situ.”
“Iya.”
“Aku serius, Mas. Nanti jadi kayak gudang kedua.”
“Iya, Evelyn.”
Dia mengetik lagi. Lalu berhenti lagi.
“Mas.”
“Hm.”
“Nanti aku bantu balikin deh.”
“Nggak usah, kamu deadline.”
“Aku bisa istirahat bentar.”
“Nggak usah.”
Ada jeda tiga detik.
“Ya udah,” katanya.
Dan dia kembali mengetik, dan aku membawa kardus kelima keluar, dan pada saat itu aku belum menghubungkan apa pun. Aku benar-benar berpikir dia cuma tidak mau rumah jadi berantakan.
Titik bocornya di sudut belakang kanan. Aku naik tangga, membersihkan sambungannya, mengeringkan, dan menembakkan sealant sepanjang empat puluh senti. Kering satu jam. Aku sekalian mengganti fitting lampu yang sudah longgar dan memasang satu rak dinding supaya karung-karung itu tidak lagi di lantai.
Selesai jam setengah dua belas.
Lalu aku mulai mengembalikan barang.
Kardus itu ada di tumpukan keempat.
Lebih kecil dari yang lain. Kardus bekas sepatu, ukuran sedang, dengan tutup yang masih utuh dan sudut yang belum penyok.
Aku mengangkatnya untuk memindahkan, dan ada selotip kertas di sisi kanan atas.
Selotip kertas yang ditulisi spidol.
Tulisan tangannya. Aku sudah tahu tulisan tangannya sejak SMP karena dulu dia yang menulis nama di semua buku tugas kelompok, karena tulisannya paling rapi.
Di selotip itu tertulis:
2022 – 2024
Tidak ada yang lain. Tidak ada nama, tidak ada kata, tidak ada penjelasan.
Cuma dua angka dan satu garis.
Aku berdiri di gudang seluas dua kali dua setengah meter dengan kardus itu di tangan dan tidak bergerak selama waktu yang tidak bisa kuperkirakan.
Kardus ini tidak berat.
Itu hal pertama yang kupikirkan, dan aku benci bahwa itu hal pertama yang kupikirkan. Mungkin dua kilo. Isinya bukan barang berat. Isinya kain, kertas, benda-benda kecil.
Kamu bisa mengangkatnya dengan satu tangan.
Aku memindahkannya ke satu tangan untuk membuktikan itu, lalu langsung memindahkannya kembali ke dua tangan, karena entah kenapa memegangnya dengan satu tangan terasa tidak sopan.
Dua ribu dua puluh dua.
Aku tahu tahun itu karena Rena menyebutkannya di parkiran taman. Anniversary pertama mereka. Dua ribu dua puluh dua.
Anniversary pertama artinya mereka mulai dua ribu dua puluh satu. Berarti dua puluh dua ini bukan awalnya.
Aku berdiri di situ dan mengerjakan aritmatika yang paling tidak berguna dalam hidupku, dan butuh mungkin dua puluh detik sampai aku sampai ke jawaban yang benar.
Dua ribu dua puluh dua bukan tahun mereka mulai pacaran.
Dua ribu dua puluh dua adalah tahun Evelyn menyeberang.
Dan dua ribu dua puluh empat adalah tahun laki-laki itu pergi.
Bukan dua tahun hubungan. Dua tahun sesudah.
Yang dia beri tanggal, yang dia kotakkan, yang dia bawa ke rumah suaminya dan sembunyikan di sudut gudang di belakang dua kardus lain — bukan pacarnya.
Yang dia simpan adalah dua tahun di mana dia mengubah seluruh hidupnya, dan buktinya.
Aku menaruh kardus itu di lantai.
Aku duduk di lantai juga, bersandar ke dinding gudang yang masih bau sealant, dengan lutut ditekuk dan tangan di atas lutut.
Aku ingin membukanya.
Aku ingin sekali membukanya, dan aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Selama mungkin tiga menit penuh aku duduk di sana dan menyusun izin untuk diriku sendiri, dan aku pandai menyusun izin.
Ini rumahku.
Aku cuma mau tau seberapa parah, biar aku bisa siap.
Kalau aku tau isinya, aku bisa bantu.
Yang terakhir itu yang paling licin, karena kedengarannya paling baik.
Aku mengangkat tutupnya sekitar setengah sentimeter.
Aku ingin itu tercatat, karena kalau aku menulis bahwa aku tidak membukanya sama sekali itu tidak jujur.
Setengah sentimeter. Cukup untuk masuk udara, tidak cukup untuk melihat apa pun. Aku bisa merasakan tutupnya lepas dari sisi kardus, bunyinya kecil sekali, bunyi karton yang berpisah dari karton.
Lalu aku menekannya kembali.
Aku tidak membukanya.
Bukan karena aku mulia. Aku tidak membukanya karena aturan nomor dua, dan karena aku tahu, dengan sangat jelas, apa yang akan terjadi kalau aku membuka.
Aku akan melihat sesuatu.
Dan mulai besok, tiap kali dia lewat di depanku, tiap kali dia tertawa, tiap kali dia bercerita soal rapat redaksi, aku akan melihat benda itu juga.
Sekali kamu melihat isi kardus, kardus itu tidak bisa ditutup lagi di kepalamu.
Aku mengembalikannya.
Dan ini bagian yang paling ingin kutuliskan dengan tepat, karena kalau ditulis salah akan kedengaran manis, dan tidak ada yang manis di dalamnya.
Aku tidak cuma menaruhnya kembali.
Aku memperhatikan posisi kardus yang lain lebih dulu. Aku menaruh yang besar di depan, dua tumpuk, seperti sebelumnya. Aku menaruh kardus sepatu itu di belakangnya, di sudut, dengan sisi bertuliskan selotip menghadap dinding.
Persis seperti waktu aku menemukannya.
Aku mundur ke pintu untuk mengeceknya dari sana, dari sudut pandang orang yang berdiri di ambang gudang.
Tidak kelihatan.
Aku menggeser satu karung dua puluh sentimeter ke kiri karena masih ada celah, lalu mengecek lagi.
Sekarang tidak kelihatan sama sekali.
Aku berdiri di ambang pintu gudang rumahku sendiri jam satu siang hari Minggu, memastikan bahwa istriku tidak akan tahu bahwa aku tahu.
Dan aku merasa puas.
Itu yang mengerikan. Aku merasa puas, seperti orang yang baru menyelesaikan pekerjaan dengan rapi.
Sebelum keluar dari gudang, aku berdiri di ambang pintu satu kali lagi dan melihat ke dalam.
Rak baru sudah terpasang. Karung-karung sudah naik. Fitting lampu sudah diganti dan sekarang tidak berkedip. Sudut yang bocor sudah kering dan sealant-nya sudah keras.
Ruangan itu jauh lebih baik dari empat jam lalu.
Aku mengerjakan semuanya dengan benar. Aku bahkan menyapu.
Dan satu-satunya hal yang benar-benar penting di ruangan itu adalah satu kardus sepatu yang sengaja kuletakkan supaya tidak kelihatan.
Itu ringkasan yang cukup adil untuk seluruh pernikahanku, kalau kupikir-pikir sekarang. Semuanya diurus dengan baik, kecuali satu hal, dan satu hal itu yang menentukan.
Aku mandi. Aku mengganti baju. Aku ke dapur dan menggoreng nasi karena sudah jam dua dan tidak ada yang makan.
Evelyn keluar dari kamar jam setengah tiga dengan rambut diikat asal dan kacamata baca yang jarang dia pakai di depan orang.
“Wangi.”
“Nasi goreng.”
“Pedes?”
“Enggak.”
“Kok tau aku nggak—“
“Aku tau.”
Dia duduk di meja dan menopang dagu dan menonton aku memindahkan nasi ke piring.
“Gudangnya udah?”
“Udah.”
“Nggak bocor lagi?”
“Nggak.”
“Makasih ya.”
“Hm.”
Aku menaruh piring di depannya. Dia mengambil sendok, lalu berhenti.
“Mas.”
“Hm.”
“Kardusnya banyak nggak?”
Aku sedang menuang air ke gelas.
Aku menuang sampai penuh, menaruh teko, dan duduk di seberangnya.
“Lumayan,” kataku. “Aku rapiin ke rak.”
“Oh.” Dia mengangguk. “Rak.”
“Iya.”
Dia mulai makan.
Empat suap kemudian dia bilang, “Enak.”
“Iya?”
“Iya. Kamu bisa masak ternyata.”
“Cuma nasi goreng.”
“Nasi goreng juga masak.”
Kami makan dalam diam selama beberapa menit, dan di menit-menit itu dia bertanya soal pekerjaanku minggu depan dan aku menjawab, dan aku bertanya soal deadline-nya dan dia mengeluh selama enam menit, dan kami tertawa dua kali.
Di tengah itu dia berdiri untuk mengambil air, dan waktu lewat di belakang kursiku dia menepuk bahuku sekali dengan punggung tangan.
Bukan apa-apa. Gerakan yang orang lakukan ke siapa saja.
Dia melakukannya untuk pertama kalinya hari itu.
Aku menghitung.
Aku benci bahwa aku menghitung, dan aku menghitung.
Itu makan siang yang menyenangkan.
Aku ingin itu tercatat: itu benar-benar makan siang yang menyenangkan.
Sore itu hujan lagi, dan kami duduk di ruang tengah, dia dengan laptopnya di satu ujung sofa dan aku dengan gambar kerja di ujung lain.
Jam lima dia menutup laptop dan mengangkat kaki ke sofa dan mengeluarkan suara yang artinya selesai.
“Udah?”
“Udah. Kirim.”
“Mau makan apa?”
“Nggak tau. Kamu?”
“Terserah.”
“Mas, jangan terserah.”
“Kamu yang barusan nggak tau.”
“Nggak tau itu beda sama terserah.” Dia menunjuk ke arahku dengan kaki. “Nggak tau itu jujur. Terserah itu males.”
“Oke. Aku males.”
Dia tertawa dan menendang pelan lututku, sekali, dan kembali menatap langit-langit.
Kami duduk begitu selama mungkin sepuluh menit tanpa bicara, dengan hujan di luar, dan tidak ada satu detik pun yang canggung.
Aku ingin menuliskan itu sejelas mungkin karena nanti akan ada orang yang bertanya kenapa aku bertahan.
Ini jawabannya. Bukan pengorbanan, bukan kesabaran, bukan hal-hal besar.
Sepuluh menit hujan, kaki di sofa, dan tidak ada yang canggung.
Aku akan menukar banyak hal untuk itu, dan aku memang menukar banyak hal.
Malamnya, jam sebelas, di kasur dengan guling di tengah yang sudah tidak pernah lagi dipindahkan oleh siapa pun, aku berbaring menatap langit-langit dan menyadari satu hal.
Sampai siang ini, aku selalu bilang ke diriku sendiri bahwa aku sedang bersabar.
Sabar itu artinya menunggu sesuatu selesai.
Tapi selotip di kardus itu tidak menunggu apa-apa. Selotip itu sudah punya tanggal mulai dan tanggal berakhir. Orang tidak menulis tahun di kardus untuk sesuatu yang masih berjalan. Orang menulis tahun untuk sesuatu yang sudah ditutup dan disimpan.
Yang artinya dia tahu itu selesai.
Dia sudah tahu, dan dia tetap membawanya, dan dia menyembunyikannya di belakang dua kardus lain di rumahku.
Aku berbaring di sana cukup lama.
Di sisi lain guling, napasnya sudah berubah jadi napas orang tidur sejak dua puluh menit lalu.
Dan aku menyadari bahwa yang selama ini kusebut sabar sebenarnya punya nama lain, dan bahwa aku sudah mengetahui namanya sejak lama, dan bahwa aku baru sanggup menyebutnya malam itu.
Aku bukan sedang menunggu dia selesai.
Aku sedang menunggu dia berhenti menoleh.
Dan itu bukan hal yang sama, dan tidak ada satu pun yang menjamin bahwa hal kedua akan pernah terjadi.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024 reading
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis