Chapter Four

Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau

POV: Azzam


Telepon itu masuk jam lima lewat dua puluh pagi, dan aku sudah bangun, karena aku selalu sudah bangun.

“Pak. Kolom C-4.”

Namanya Fikri. Dua puluh empat tahun, baru delapan bulan, dan suaranya pagi itu terdengar seperti orang yang belum tidur.

“Kenapa C-4.”

“Posisinya... Pak, ini geser.”

“Geser berapa.”

Hening.

“Fikri. Geser berapa.”

“Dua belas senti.”

Aku duduk di tepi ranjang dan menatap lantai selama tiga detik. Pengecoran kolom lantai tiga selesai kemarin sore. Beton kemarin sore artinya beton yang sudah tidak bisa diajak berdiskusi.

“Kamu sendirian di sana?”

“Iya, Pak. Saya semaleman ngukur ulang. Saya ukur empat kali.”

“Ya udah. Jangan ngukur lagi.”

“Pak, saya—“

“Fikri. Jangan ngukur lagi, jangan telepon siapa-siapa, jangan bikin laporan dulu. Duduk. Sarapan.” Aku sudah berdiri dan mengambil celana. “Saya ke sana empat puluh menit.”


Aku sampai jam enam kurang.

Fikri berdiri di dekat kolom itu dengan meteran masih di tangan, jelas tidak menuruti satu pun dari tiga instruksiku. Matanya merah.

“Pak, ini salah saya.”

“Nanti.”

“Saya yang staking. Saya yang—“

“Fikri.” Aku menaruh tangan di bahunya sebentar, lalu melepaskannya. “Nanti. Sekarang saya perlu kamu ngasih tau saya kondisi lapangan, bukan ngasih tau saya kamu orang jahat. Bisa?”

Dia mengangguk.

Kami jalan bersama sepanjang lantai tiga selama satu jam. Aku mengukur sendiri, bukan karena aku tidak percaya dia, tapi karena aku perlu melihatnya dengan mata sendiri sebelum aku menelepon siapa pun. Dua belas senti ke arah barat. Satu kolom. Yang lain aman.

Jam tujuh aku duduk di kontainer kantor proyek dengan gambar struktur dibuka lebar-lebar di meja dan kopi yang sudah dingin sebelum sempat diminum, dan mulai bekerja.

Jam delapan aku menelepon konsultan struktur. Namanya Pak Broto, umurnya enam puluh dua, dan beliau mengangkat telepon dengan suara orang yang belum mau bicara dengan siapa pun.

“Pak, ada kolom geser dua belas senti. Sudah dicor.”

“Ya ampun.”

“Saya sudah bikin tiga opsi. Yang pertama bongkar, yang kedua kolom baru di samping dengan balok transfer, yang ketiga perbesar pile cap dan tambah pembesian. Saya lampirin hitungan kasarnya semua di email, sudah saya kirim jam tujuh lima puluh.”

Ada bunyi kursi di seberang.

“Kamu udah kirim?”

“Sudah, Pak.”

“Kamu bikin tiga opsi dalam satu jam?”

“Belum lengkap, Pak. Baru kasar. Saya butuh Bapak yang benerin.”

Beliau diam sebentar. Lalu tertawa kecil.

“Bentar. Saya buka laptop.”


Jam sembilan lewat, mandor datang ke kontainer tanpa mengetuk.

Namanya Pak Sar. Enam puluh tahun, tiga puluh delapan tahun di lapangan, dan sudah memutuskan sejak hari pertama bahwa aku terlalu muda untuk diajak serius.

“Pak, ini kalau menurut saya ya, kolomnya diplester tebel aja di satu sisi. Nggak keliatan.”

“Enggak.”

“Lho, tapi—“

“Pak Sar.” Aku tidak mengangkat kepala dari gambar. “Kalau nanti gedung ini isinya tiga ratus orang, dan salah satu kolom lantai tiga posisinya nggak sesuai gambar tapi di berita acara ditulis sesuai, siapa yang tanda tangan?”

“Ya Bapak.”

“Iya. Saya.” Sekarang aku mengangkat kepala. “Jadi Bapak nggak usah nawarin saya cara buat nggak keliatan. Saya nggak beli.”

Beliau berdiri di situ beberapa detik.

“Anak Bapak yang di Bekasi udah sembuh?” tanyaku.

“Udah, Pak. Alhamdulillah.”

“Bagus. Tolong panggilin tim besi jam sepuluh, saya perlu ngomong.”

Beliau keluar. Dua tahun lagi beliau masih akan menawarkan jalan pintas dan aku masih akan menolak, dan kami akan tetap bekerja bareng sampai proyek ini selesai, karena begitulah cara kerjanya.

Jam sebelas kami sudah punya jawabannya. Opsi dua, dengan modifikasi. Kolom tambahan di samping yang salah, balok transfer di atasnya, dan yang salah dibiarkan berdiri sebagai kolom sekunder. Tidak murah, tidak cantik, tapi tidak membongkar apa pun dan tidak menggeser jadwal lebih dari sembilan hari.

Pak Broto menelepon balik jam setengah sebelas.

“Zam.”

“Iya, Pak.”

“Yang opsi tiga kamu itu, yang perbesar pile cap.”

“Iya.”

“Itu sebenernya paling murah.”

“Iya, Pak.”

“Kenapa kamu nggak dorong itu?”

“Karena hitungannya baru aman kalau tanahnya sesuai sondir, dan sondirnya diambil tiga puluh meter dari titik itu.” Aku menyandarkan punggung. “Kalau saya dorong yang itu, Bapak yang tanda tangan. Saya nggak mau Bapak tanda tangan di atas asumsi.”

Beliau diam.

“Kamu ini bikin susah orang,” katanya, dan menutup telepon.

Jam dua belas aku menelepon owner.

Ini bagian yang biasanya orang hindari, dan aku tidak pernah paham kenapa. Kalau kamu menelepon duluan dengan masalah dan solusi, kamu orang yang mengurus. Kalau kamu menunggu dan mereka yang menemukan, kamu orang yang menyembunyikan. Isinya sama persis. Bedanya cuma siapa yang menelepon duluan.

“Pak, ada kesalahan posisi kolom di lantai tiga. Dua belas senti. Saya sudah koordinasi dengan konsultan struktur, perbaikannya pakai kolom tambahan dan balok transfer, tambahan biaya sekitar delapan puluh juta, saya minta ditanggung kontraktor. Jadwal mundur sembilan hari, saya sudah geser pekerjaan arsitektur maju supaya nggak numpuk di belakang.”

“Siapa yang salah?”

“Saya, Pak.”

Fikri, yang berdiri di pintu kontainer, mengangkat kepala.

“Kamu?”

“Saya yang approve staking-nya. Saya nggak cek ulang.” Itu benar, kebetulan. Aku memang tidak mengecek ulang. “Kalau Bapak mau ada konsekuensi, ke saya.”

Owner-nya diam agak lama.

“Ya udah. Jalan aja. Kirim berita acaranya.”

Aku menutup telepon.

Fikri masih berdiri di pintu.

“Pak—“

“Kamu masih di situ?”

“Kenapa Bapak bilang—“

“Karena kalau saya bilang nama kamu, kamu selesai.” Aku menggulung gambar. “Bukan karena kamu payah. Karena kamu delapan bulan dan nggak ada yang bakal ngasih kesempatan kedua ke anak delapan bulan. Saya udah tujuh tahun. Saya masih dikasih.”

“Tapi—“

“Fikri.” Aku menaruh gulungan itu. “Ini bukan hadiah. Mulai besok kamu ngukur ulang tiap staking dan kamu kirim foto ke saya tiap kali, sampai saya bosen. Setahun. Kamu bakal benci saya.”

Dia mengangguk cepat sekali, dua kali.

Lalu dia keluar dan aku mendengar dia mengembuskan napas panjang di luar pintu, dan aku pura-pura tidak mendengar.


Yudha datang jam dua bawa dua bungkus nasi padang dan wajah orang yang sudah mendengar semuanya dari grup.

“Delapan puluh juta.”

“Iya.”

“Kamu ngaku.”

“Iya.”

“Kamu ini kenapa sih.” Dia duduk dan membuka bungkusnya. “Suatu hari kamu bakal ngaku bunuh orang cuma karena kasihan sama tersangkanya.”

“Makan aja.”

Kami makan sepuluh menit tanpa bicara, yang merupakan rekor untuk Yudha.

Lalu dia bilang, “Denger-denger kamu mau kawin.”

Aku berhenti mengunyah.

“Dari mana.”

“Dari ibumu.”

“Kamu nggak kenal ibuku.”

“Ibumu nge-add aku di Facebook tiga tahun lalu, Zam. Ibumu nge-add semua orang.” Dia menjilat jarinya. “Ada foto meja makan. Ada emot cincin.”

Aku menaruh sendok.

“Terus,” katanya, “namanya siapa?”

“Nggak usah.”

“Nggak usah gimana? Kita kerja bareng tujuh tahun—“

“Yudh.”

“—aku pernah nginep di rumahmu waktu banjir, aku pernah beliin kamu obat waktu kamu tipes—“

“Evelyn.”

Yudha berhenti.

Aku tidak melihat ke arahnya. Aku melihat ke gambar di meja yang sudah tidak perlu kulihat lagi.

“Evelyn,” katanya pelan.

“Iya.”

“Evelyn yang itu?”

“Nggak ada ‘yang itu’.”

“Ada.” Dia meletakkan bungkusnya. “Ada ‘yang itu’. Tahun berapa itu, 2019? 2020? Kita lembur tiga hari di proyek Cibubur, kamu tidur di mobil, terus subuh-subuh kamu ngomong sendiri dan aku denger.”

“Aku nggak inget.”

“Kamu inget.”

Aku ingat.

Aku ingat persis. Aku ingat aku bangun dan Yudha sedang menatapku dari kursi depan dengan wajah orang yang baru mendengar sesuatu yang tidak seharusnya dia dengar, dan dia tidak bertanya apa-apa waktu itu, dan aku selalu berterima kasih untuk itu.

“Tujuh tahun aku nggak nanya,” katanya.

“Iya.”

“Sekarang juga aku nggak nanya.” Dia mengangkat bungkusnya lagi dan lanjut makan. “Aku cuma mau bilang satu hal terus aku diem.”

“Apa.”

“Orang yang nawarin diri buat nanggung delapan puluh juta biar anak buahnya selamat, terus pulang ke rumah dan nanggung yang lebih gede lagi diem-diem.” Dia mengunyah. “Itu bukan orang baik, Zam. Itu orang yang nggak bisa berhenti.”

“Kamu bilang mau diem.”

“Iya. Ini yang terakhir.”

Dia diam. Lima menit. Rekor kedua hari itu.


Jam enam sore aku sempat pulang sebentar untuk mandi, dan Rena sedang di ruang tengah dengan laptop di pangkuan.

“Mas.”

“Hm.”

“Mama nanyain kamu balesin chat Kak Evelyn belum.”

Aku berhenti di tengah tangga. “Mama tau dia chat aku?”

“Mama tau semua hal yang terjadi dalam radius satu kilometer.” Rena tidak mengangkat kepala dari layar. “Mama juga nanya kenapa kamu belum minta nomornya dari kemarin. Aku bilang mungkin Mas malu.”

“Aku nggak minta karena aku udah punya.”

Sekarang dia mengangkat kepala.

Aku sadar apa yang barusan kukatakan sekitar setengah detik terlambat.

“Dari?”

“Grup keluarga.”

“Grup keluarga nggak nyimpen nomor, Mas. Itu bukan cara kerja grup keluarga.”

“Rena.”

“Aku cuma nanya.”

“Kamu nggak cuma nanya.”

Dia kembali ke layarnya, dan tepat sebelum aku naik, dia bilang, tanpa melihat, “Mas, kalau nanti kamu capek, ngomong ya.”

“Capek kenapa?”

“Nggak tau. Kayaknya bakal.”

Aku pulang lagi ke proyek jam tujuh dan baru benar-benar selesai jam delapan, lalu mampir ke toko elektronik yang hampir tutup.

Penanak nasi. Yang sedang, bukan yang paling mahal, karena kalau terlalu mahal Tante Wulan akan menolak dan akan ada perdebatan setengah jam yang tidak perlu.

Waktu antre di kasir, aku lewat rak lain dan berhenti.

Ada lampu meja kecil di sana. Yang bisa diatur hangat atau putih. Aku berdiri di depan rak itu selama mungkin dua puluh detik, memikirkan meja di pojok kafe kemarin, dan laptop yang dibuka lalu ditutup lagi, dan seseorang yang bekerja sampai malam mengedit naskah 900 halaman.

Aku mengambilnya.

Lalu aku berdiri di antrean kasir dengan penanak nasi di tangan kanan dan lampu itu di tangan kiri, dan mulai menyusun kalimat.

Kebetulan lagi diskon. Tidak masuk akal, dia akan tanya diskon apa.

Buat kerja malem. Terlalu jelas aku memperhatikan.

Ini bonus dari toko. Bodoh.

Semua yang bisa kupikirkan akan membuat dia bertanya kenapa, dan pertanyaan itu akan sampai ke tempat yang sudah kututup kemarin di parkiran dengan satu kata.

Aku keluar dari antrean dan menaruh lampu itu kembali ke rak.

Aku membetulkan posisinya supaya lurus dengan yang lain, karena entah kenapa itu terasa penting.

Lalu aku bayar penanak nasinya dan pulang.

Di mobil, ponselku bergetar. Nomor yang belum tersimpan, tapi aku tahu empat digit terakhirnya sejak SMA dan aku tidak akan menjelaskan kenapa.

Evelyn:Mas, maaf ganggu. Mama nanya soal tanggal. Katanya ada dua pilihan, bulan depan minggu ketiga atau dua bulan lagi. Kamu bisanya kapan?

Kalimat yang sangat biasa. Tidak ada apa-apa di dalamnya. Ada koma yang benar semua, karena dia editor.

Aku membacanya empat kali di parkiran toko elektronik.

Lalu aku menyimpan nomornya, dan berhenti di kolom nama lebih lama dari yang wajar, karena ternyata itu keputusan juga.

Evelyn.

Bukan Evie. Evie yang dipakai orang tua. Bukan juga Evelyn S atau apa pun yang lucu-lucu, karena tidak ada yang lucu.

Aku mengetik balasan tiga kali.

Yang pertama terlalu panjang. Yang kedua ada kata “terserah kamu aja” yang terdengar seperti orang yang tidak peduli, dan aku menghapusnya karena aku tidak sanggup dia membaca itu.

Yang ketiga kukirim.

Dua-duanya bisa. Tapi kalau bulan depan, aku bisa ambil cuti lebih panjang. Kamu maunya yang mana?

Balasannya datang empat menit kemudian.

Evelyn:Bulan depan aja ya. Biar cepet selesai.

Aku duduk di mobil di parkiran toko elektronik dengan penanak nasi di kursi sebelah, membaca tiga kata terakhir itu.

Biar cepet selesai.

Aku menyalakan mesin.

Ada versi diriku yang lebih waras yang seharusnya berhenti di titik ini. Yang seharusnya mengerti bahwa perempuan yang ingin sesuatu cepat selesai adalah perempuan yang sedang menahan napas, dan kamu tidak membangun apa pun di atas orang yang sedang menahan napas.

Aku tahu itu.

Aku tetap pulang dan bilang ke ibuku bulan depan.