← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Twenty Two

Papan Caturnya Memang Miring

POV: Azzam


Aku main catur dengan Om Gunawan hari Minggu, dan aku kalah dua dari tiga.

Kami sudah main empat kali sejak menikah, kira-kira sebulan sekali, dan setiap kali beliau menang beliau menyalahkan papan caturnya waktu kalah dan memuji strateginya sendiri waktu menang, dan itu tidak pernah tidak lucu.

Evelyn tidak ikut hari itu. Ada rapat mendadak, katanya, hari Minggu, yang sebenarnya masuk akal karena penerbit memang begitu di minggu terakhir sebelum cetak.

Aku tidak memeriksa apa pun. Aku ingin mencatat itu.

Aku sudah berhenti memeriksa sejak karcis parkir, bukan karena aku jadi lebih baik, tapi karena aku menemukan bahwa memeriksa itu tidak mengubah apa pun dan cuma menambah angka di kepalaku, dan kepalaku sudah cukup penuh dengan angka.

Yang pertama kalah wajar. Yang kedua aku menang karena beliau terlalu percaya diri dengan menterinya. Yang ketiga aku kalah dalam dua puluh sembilan langkah dan beliau tidak berhenti membicarakannya selama dua puluh menit berikutnya.

“Kamu kebanyakan mikir.”

“Saya emang gitu, Om.”

“Bukan mikir yang bagus. Mikir yang kelamaan.” Beliau menyusun bidak lagi. “Kamu udah tau mau ke mana dari langkah delapan. Terus kamu tahan sampai langkah dua puluh.”

“Saya nunggu Om buka.”

“Om nggak bakal buka.” Beliau menaruh raja di tempatnya. “Om nunggu kamu.”

“Berarti kita berdua nunggu.”

“Iya. Terus siapa yang menang?”

Aku diam.

“Yang gerak duluan, Zam,” kata beliau. “Selalu yang gerak duluan.”

Tante Wulan lewat membawa dua gelas dan berkata, tanpa berhenti berjalan, “Papanya kalah ya?”

“Menang, Ma,” kata Om Gunawan.

“Nada suaranya kalah.”

“Wulan.”

“Papan caturnya miring lagi?”

“MEMANG MIRING.”

Aku tertawa dan Om Gunawan menunjuk ke arahku dengan bidak kuda dan bilang “kamu jangan ikut-ikutan,” dan aku minta maaf sambil masih tertawa.

Itu sore yang bagus. Aku ingin itu tercatat sebelum sisanya.


Jam lima, waktu aku sudah pamit dan sedang memakai sepatu di teras, Om Gunawan keluar.

“Zam.”

“Iya, Om.”

Beliau berdiri di ambang pintu dengan tangan di saku sarung, dan aku tahu dari cara beliau berdiri bahwa ini bukan basa-basi pintu.

“Evie ke sini Kamis kemarin.”

“Iya, dia bilang.”

“Dia bantuin Mamanya beresin lemari.” Beliau melihat ke halaman. “Terus dia ketawa.”

Aku berhenti mengikat tali sepatu.

“Om nggak inget kapan terakhir dengar dia ketawa di rumah ini,” lanjut beliau. “Om beneran nggak inget. Om coba inget-inget semalem sampai nggak bisa tidur.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Mamanya sampai keluar dari kamar buat liat.” Beliau tertawa kecil, dan tawanya tidak enak didengar. “Kayak orang denger burung yang udah lama nggak ada.”

Aku menyelesaikan tali sepatuku dengan sangat pelan.

“Om nggak tau kamu ngapain,” katanya. “Om nggak akan nanya juga. Tapi apa pun itu, terusin.”

Aku berdiri.

“Iya, Om.”

“Makasih ya, Zam.”

Dan beliau menepuk bahuku dua kali, seperti waktu akad, dan masuk kembali ke rumah.


Tante Wulan mengantarku sampai gerbang, yang tidak biasa, karena biasanya beliau melambai dari teras.

“Zam.”

“Iya, Tante.”

Beliau berdiri di samping mobil dengan tangan memegang pagar.

“Kamu ingat nggak yang Tante bilang waktu lamaran?”

Aku ingat persis. Aku mengingatnya rata-rata dua kali sebulan selama setahun terakhir.

“Ingat, Tante.”

“Yang mana?”

“Jangan percaya kalau dia bilang nggak apa-apa.”

Tante Wulan mengangguk pelan.

“Kamu udah pakai belum?”

Aku memegang setir dan tidak menjawab selama satu detik terlalu lama.

“Belum,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena kalau saya nggak percaya, saya harus nanya.”

“Terus?”

“Terus dia harus jawab.”

Tante Wulan menatapku lewat jendela mobil selama beberapa detik.

“Zam,” katanya. “Tante nitipin dia ke kamu, bukan ke orang yang nggak mau ganggu dia.”

Beliau menepuk kap mobil dua kali dan mundur.

Aku menyetir pulang delapan menit.

Aku memarkir mobil di depan rumah, di bawah pohon mangga tetangga yang selalu menjatuhkan sesuatu ke kap, dan aku mematikan mesin.

Aku tidak turun.


Begini yang terjadi di kepalaku, dan aku akan menuliskannya seperti bentuknya, bukan seperti yang lebih rapi.

Evelyn tertawa hari Kamis.

Aku tahu kenapa dia tertawa hari Kamis. Aku tahu persis kenapa, karena tiga hari sebelumnya aku bilang kepadanya bahwa aku tidak menunggu apa pun darinya, tidak sekarang, tidak bulan depan, tidak tahun depan.

Bahunya turun malam itu.

Dan dua hari kemudian dia ke rumah orang tuanya dan tertawa untuk pertama kalinya sejak entah kapan, cukup keras sampai ibunya keluar dari kamar untuk melihat, dan ayahnya tidak bisa tidur semalaman karena mencoba mengingat kapan terakhir kali.

Dan hari ini ayahnya berdiri di ambang pintu dan berterima kasih kepadaku.

Berterima kasih.

Karena aku berhasil meyakinkan anaknya bahwa suaminya tidak menginginkannya.

Itu yang kulakukan. Itu persis yang kulakukan, dan itu berhasil, dan hasilnya adalah perempuan itu bisa bernapas di rumah orang tuanya untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Aku duduk di mobil di depan rumahku sendiri dan mengerti, dengan sangat jelas dan sangat lengkap, bahwa aku bisa memberinya hidup yang baik.

Aku bisa. Aku sudah membuktikannya.

Syaratnya cuma satu: dia tidak boleh pernah tahu.


Dan ada satu hal lagi, yang lebih kecil, dan yang justru itu yang membuka.

Om Gunawan bilang “makasih ya, Zam.”

Aku sudah dengar kalimat itu ratusan kali seumur hidup. Dari owner, dari mandor, dari tetangga, dari orang di jalan yang bannya kubantu ganti.

Aku selalu bisa menerimanya.

Yang tidak bisa kuterima adalah bahwa untuk pertama kalinya, kalimat itu diberikan kepadaku untuk sesuatu yang sebenarnya kerusakan.

Dan aku tidak bisa mengembalikannya, karena mengembalikannya berarti menjelaskan.

Aku menangis di mobil itu selama sekitar sebelas menit.

Aku menuliskan angkanya karena aku tahu angkanya, karena aku melihat jam di dashboard waktu mulai dan waktu berhenti, dan aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku sehingga aku melihat jam.

Aku tidak akan menjelaskan bagaimana rasanya. Semua orang tahu bagaimana rasanya.

Yang mungkin belum semua orang tahu adalah ini: sebelas menit itu adalah satu-satunya kali aku menangis sepanjang seluruh cerita ini.

Bukan waktu dia bilang boleh di meja makan. Bukan waktu aku bilang iya di kafe. Bukan waktu kardus itu, bukan waktu karcis parkir itu, bukan nanti waktu semuanya selesai.

Sebelas menit ini.

Karena semua yang lain adalah hal yang menimpaku.

Yang ini adalah hal yang kulakukan.


Pintu penumpang terbuka.

Aku belum sempat mengelap wajahku dan tidak ada waktu untuk itu, jadi aku cuma menoleh ke arah jendela dan tidak bergerak.

Rena masuk, menutup pintu, dan duduk.

Dia memegang rantang.

Kami duduk begitu selama mungkin dua puluh detik. Aku menghadap ke depan. Dia menghadap ke depan.

“Mama nyuruh anter ini,” katanya akhirnya. “Isinya rendang. Katanya jangan dimakan malam ini, panasin besok.”

“Iya.”

“Katanya jangan dipanasin dua kali.”

“Iya.”

Hening lagi.

“Mas.”

“Rena, jangan.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Aku tau kamu mau ngomong apa.”

“Enggak,” katanya. “Nggak tau.”

Aku mengelap wajahku dengan lengan, akhirnya, karena tidak ada gunanya lagi.

Rena memandangi rantang di pangkuannya.

“Aku pernah liat Mas nangis dua kali seumur hidup,” katanya. “Yang pertama waktu Miko mati.”

Miko anjing tetangga yang setengah milik kami karena tidur di teras rumah kami setiap malam selama enam tahun.

“Waktu itu Mas kelas tiga SMA.”

“Iya.”

“Sekarang yang kedua.”

Aku tidak menjawab.

“Mas.”

“Hm.”

“Ini yang kedua ya. Bukan yang kedelapan yang aku baru liat dua.”

Aku menoleh ke arahnya.

“Yang kedua,” kataku.

Dan Rena, adikku yang tidak pernah berhenti bicara sejak umur dua tahun, menutup mulutnya dengan tangan dan mulai menangis.


“Aku nggak kuat, Mas.”

“Rena.”

“Aku beneran nggak kuat.” Dia menyeka wajahnya dengan punggung tangan, marah, kesal, persis seperti waktu kecil. “Aku ke rumah kalian dua kali seminggu. Aku nonton drama sama Kak Evelyn. Aku sayang sama dia. Aku sayang banget sama dia.”

“Aku tau.”

“Terus aku pulang, terus aku mikirin Mas, terus aku nggak bisa tidur.” Suaranya naik. “Aku dua puluh tiga tahun, Mas. Ini bukan urusan aku. Kenapa ini jadi urusan aku?”

“Nggak usah jadi urusan kamu.”

“YA GIMANA CARANYA.”

Aku diam.

Dia menarik napas beberapa kali sampai lebih tenang.

Lalu dia bertanya.

“Mas.”

“Hm.”

“Kalau aku kasih tau dia, Mas bakal marah?”

Aku menatap kaca depan.

Ada daun mangga yang jatuh dan menempel di sana, dan aku memandangi daun itu, dan pertanyaan itu menggantung di mobil selama mungkin sepuluh detik.

“Iya,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena kamu bakal ngerusak satu-satunya hal yang jalan.”

“Mas—“

“Rena, dia ketawa hari Kamis.” Aku menoleh ke arahnya. “Om Gunawan sampai nggak bisa tidur saking senengnya. Kamu tau kenapa dia bisa ketawa?”

“Kenapa.”

“Karena dia yakin nggak ada yang ngarepin apa-apa dari dia di rumah ini.”

Rena menatapku dengan mata merah.

“Itu bohong,” katanya.

“Iya.”

“Itu bohong, Mas.”

“Aku tau.”

“Terus kenapa Mas—“

“Karena bohongnya bikin dia bisa napas,” kataku. “Dan yang jujur enggak.”

Rena menunduk ke rantang.

“Oke,” katanya.

“Rena.”

“Aku bilang oke.”

“Rena, janji.”

Dia mengangkat kepala dan menatapku, dan matanya masih basah, dan dia bilang, dengan suara yang sangat rata:

“Aku nggak janji apa-apa, Mas.”

Lalu dia menaruh rantang di dashboard, keluar dari mobil, menutup pintu, dan berjalan pulang.

Aku duduk di sana beberapa menit lagi, lalu mengambil rantang itu dan masuk ke rumah.

Evelyn di dapur.

“Dari Tante Ratih?”

“Iya. Rendang.”

“Rena mana? Kok nggak masuk?”

“Buru-buru.”

Dia mengambil rantang itu dari tanganku dan membukanya dan mencium isinya dan bilang, “Ya ampun, ini yang bumbunya banyak.”

Dan aku bilang, “Iya,” dan pergi mandi.