← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Twenty Nine

Tujuh Puluh Empat Juta

POV: Evelyn


Emailnya masuk hari Selasa jam sembilan pagi ke alamat kantorku.

Alamat kantorku ada di halaman kredit setiap buku yang kutangani. Siapa pun bisa menemukannya dalam dua menit. Aku selalu tahu itu dan tidak pernah menganggapnya masalah sampai pagi itu.

Dari: ernest.wijaya@— Subjek: (tidak ada subjek)

Vie,

Maaf lewat sini. Aku tau kenapa nomorku nggak masuk dan aku nggak minta dibuka.

Aku pindah Surabaya dua minggu lagi. Permanen.

Sebelum pindah aku mau ngomong satu hal, yang kamu tanyain waktu itu. Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa, dan aku nggak akan email lagi.

Ernest


Aku membacanya empat kali.

Bukan karena isinya berat. Karena tanda bacanya.

Dia tidak pernah menulis begitu. Dia orang yang mengetik tanpa huruf kapital dan tanpa titik. Sepuluh tahun aku mengenalnya dan dia tidak pernah sekali pun menulis kalimat dengan titik di akhir.

Email ini punya paragraf. Punya jeda. Punya kalimat yang jelas disusun ulang.

Orang menyusun ulang kalimat kalau dia takut salah.

Aku menutup laptop dan pergi ke pantry dan berdiri di sana selama sepuluh menit.

Rekan kerjaku masuk dan bertanya apakah aku baik-baik saja dan aku bilang iya, dan dia bilang mukaku pucat, dan aku bilang belum sarapan.

Aku sarapan jam enam pagi.

Dan sepanjang sepuluh menit itu ada satu hal yang mengganggu, dan bukan Ernest.

Yang mengganggu adalah aku sudah tahu, sejak baris kedua, bahwa aku akan datang.

Tiga bulan aku menyusun kalimat untuk memberi tahu suamiku bahwa aku tahu, dan tidak satu pun kalimat itu pernah keluar.

Satu email tanpa subjek dari orang yang sudah kublokir, dan aku sudah tahu jawabannya dalam empat belas detik.

Itu yang bikin aku berdiri di pantry sampai kakiku pegal.


Aku membalas jam dua siang.

Kamis, jam 11. Tempat biasa.

Dan aku ingin mencatat dengan jujur apa yang terjadi selama lima jam di antaranya, karena kalau tidak, aku akan terdengar lebih baik dari yang sebenarnya.

Aku tidak bergulat.

Aku tidak berdiri di persimpangan moral. Aku tidak menimbang apa pun. Aku duduk di meja kerjaku dan menyelesaikan dua bab dan makan siang dengan rekan kerja, dan selama seluruh lima jam itu ada satu kalimat yang berputar di kepalaku dan tidak ada kalimat lain.

Akhirnya.

Itu saja isinya. Satu kata. Berulang-ulang, selama lima jam.

Dan aku membalas jam dua, dan aku tidak memberi tahu siapa pun.

Tidak Vira. Tidak Rena.

Dan tidak dia.


Kamis pagi aku bilang ada rapat di luar kantor.

Aku menyusun kalimatnya semalam. Aku menyebut nama penerbit yang benar-benar ada dan yang benar-benar sedang bekerja sama dengan kami, supaya kalau ditanya nanti aku punya jawaban.

Aku sudah tidak pernah berbohong seperti ini sejak Bab—sejak berbulan-bulan lalu. Sejak malam hujan itu.

Dan pagi itu aku melakukannya lagi, dan lebih rapi daripada sebelumnya, dan itu yang paling tidak bisa kumaafkan.

“Rapatnya di mana?”

“Kuningan.”

“Jauh.”

“Iya.”

“Kamu bawa mobil?”

“Iya.”

“Hati-hati.”

“Iya.”

Dan dia mengangguk dan berangkat kerja, dan aku berdiri di dapur dengan gelas teh yang masih panas dan tidak meminumnya sampai dingin.


Ernest sudah di sana waktu aku sampai.

Dia kelihatan lebih baik. Itu hal pertama yang kusadari. Bukan lebih segar — lebih ringan. Bahunya tidak sama.

“Vie.”

“Hai.”

Aku duduk. Dia tidak memesan apa-apa untukku, yang benar, karena dia sudah tidak berhak.

“Makasih udah dateng.”

“Iya.”

Dia menaruh dua tangannya di meja dan menarik napas.

“Aku bakal ngomong sampai selesai,” katanya. “Boleh?”

“Boleh.”


Ini yang dia katakan.

Bulan Juni dua tahun lalu, usaha ayahnya kolaps. Distributor bahan bangunan, dua gudang, delapan karyawan. Ada satu proyek besar yang tidak dibayar dan satu pinjaman yang dijamin dengan rumah.

Ayahnya kena stroke ringan bulan berikutnya.

Sisa utangnya, setelah rumah dilepas, tujuh ratus empat puluh juta.

“Aku anak pertama,” katanya. “Adikku masih kuliah. Ibuku nggak kerja.”

Dia bicara dengan sangat rata. Seperti orang membacakan laporan.

“Aku hitung waktu itu. Gaji aku waktu itu delapan juta. Kalau aku setor tujuh, dua puluh tahun.”

“Nest—“

“Aku belum selesai.”

Aku menutup mulut.

“Bulan Juli aku ke rumah kamu,” lanjutnya. “Ketemu Om Gunawan. Ngobrol soal seserahan sama Tante Wulan.”

“Iya.”

“Dan aku duduk di ruang tamu kamu dan mikirin gimana caranya ngomong.” Dia memutar gelasnya. “Terus Tante Wulan cerita soal kamu.”

“Cerita apa?”

“Soal tiga hari.”

Aku tidak mengerti selama dua detik.

Lalu aku mengerti.

“Papa kamu nggak ngomong tiga hari,” katanya. “Tante Wulan cerita itu ke aku sambil ketawa. Katanya ‘ya sekarang udah nggak apa-apa kok, Nak.’”

Aku memegang gelasku dengan dua tangan.

“Dan aku duduk di situ,” katanya, “dan aku mikir: perempuan ini udah bikin bapaknya diem tiga hari. Buat aku.”

“Nest—“

“Terus aku bakal minta dia nunggu dua puluh tahun.”


Aku duduk di kafe itu dan tidak bisa bicara.

“Aku putusin dua minggu kemudian,” katanya. “Aku nggak jelasin karena kalau aku jelasin kamu bakal bilang nggak apa-apa.”

“Aku bakal bilang nggak apa-apa.”

“Aku tau.”

“Nest, aku bakal bilang nggak apa-apa.”

“AKU TAU.”

Suaranya naik satu kali dan langsung turun lagi, dan dia menutup mata sebentar.

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku tau kamu bakal bilang nggak apa-apa,” katanya, pelan sekarang. “Makanya aku nggak nanya.”


Tujuh ratus empat puluh juta.

Sisanya sekarang tujuh puluh empat.

Tiga tahun. Dia pindah ke kos yang lebih murah, dia ambil kerjaan tambahan, ibunya jualan, adiknya cuti satu semester lalu lanjut sambil kerja.

Sekarang tinggal sepersepuluh, dan pekerjaan di Surabaya membayar dua kali lipat, dan dalam setahun lagi selesai.

“Aku pindah karena itu,” katanya. “Bukan karena kamu.”

“Iya.”

“Aku mau kamu tau itu.”

“Iya.”


Dan begini yang terjadi di dalam dadaku.

Tidak ada apa-apa.

Aku menunggunya. Aku benar-benar menunggu. Selama sepuluh bulan aku membayangkan momen ini — momen di mana aku akhirnya tahu — dan aku sudah membayangkan bahwa aku akan hancur, atau lega, atau marah.

Aku duduk di sana dan tidak merasakan satu pun dari itu.

Yang kurasakan cuma kosong. Seperti waktu kamu mendorong pintu yang kamu kira terkunci dan ternyata tidak ada pintunya sama sekali.

Karena begini.

Selama sepuluh bulan aku bilang ke diriku sendiri bahwa aku menunggu jawaban.

Dan sekarang aku punya jawabannya, dan jawabannya bukan sesuatu yang bisa kupegang.

Jawabannya adalah: seseorang duduk di ruang tamu rumah orang tuaku, mendengar cerita tentang berapa banyak yang sudah kubayar, dan memutuskan sendiri bahwa aku tidak sanggup membayar lebih.

Dia tidak bertanya.

Dia menghitung, dia memutuskan, dan dia pergi.

Dan seluruh dua tahun setelah itu — semua chat, semua kafe, semua jam dua pagi, kardus di lemari atas, empat puluh satu tangkapan layar dalam album bernama Dokumen — semuanya adalah aku menunggu di depan pintu yang dikunci orang lain dari dalam, tanpa memberitahuku.

Aku menghabiskan dua tahun mencoba masuk ke ruangan yang sudah dikosongkan sebelum aku sampai.


“Vie.”

“Hm.”

“Kamu nggak apa-apa?”

Dan aku, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, menjawab pertanyaan itu dengan jujur.

“Enggak,” kataku. “Tapi bukan gara-gara yang barusan.”

Dia menunggu.

“Nest, kamu tau nggak yang paling nyakitin dari semua ini?”

“Apa?”

“Bukan kamu pergi.” Aku menatapnya. “Kamu mutusin buat aku.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Aku ngelakuin itu buat—“

“Aku tau kamu ngelakuin itu buat aku.” Suaraku bergetar dan aku membiarkannya. “Itu masalahnya. Kamu duduk sendirian, kamu hitung berapa yang aku sanggup, kamu putusin aku nggak sanggup, terus kamu jalanin keputusan itu sendirian selama tiga tahun.”

“Vie—“

“Aku nggak dikasih pilihan, Nest.”

Kafe itu jadi sunyi di meja kami.

“Aku mungkin bakal bilang nggak apa-apa dan aku mungkin bakal nyesel di tahun ketiga,” kataku. “Mungkin. Kita nggak akan pernah tau, karena kamu nggak pernah nanya.”

Ernest menunduk ke gelasnya cukup lama.

“Iya,” katanya akhirnya. “Bener.”

Dan dia tidak membela dirinya sama sekali, dan itu yang membuatku menangis di kafe itu untuk pertama kali di depannya dalam dua tahun.


“Boleh aku nanya satu hal lagi?” kataku.

“Boleh.”

“Kenapa kamu bales-bales aku selama dua tahun?”

Dia menunduk.

“Kalau kamu udah selesai,” lanjutku, “kenapa nggak dari dulu kamu bilang jangan chat aku lagi? Kenapa nunggu sampai tahun kedua?”

Dia diam cukup lama.

“Karena aku ngerasa berutang,” katanya.

Aku menutup mata.

“Aku ninggalin kamu tanpa alasan,” katanya. “Terus tiap kali kamu chat, aku mikir: kalau aku nggak bales, itu jahat kedua kalinya.”

“Terus kamu bales.”

“Aku bales pendek. Aku pikir kalau pendek, kamu bakal ngerti sendiri terus berhenti.”

“Nest, itu justru yang bikin aku nggak berhenti.”

“Aku tau.” Dia mengusap wajahnya. “Aku tau sekarang. Waktu itu aku nggak tau.”

Dan aku duduk di kafe itu dan mengerti bahwa aku baru saja mendengar dua orang di meja ini melakukan hal yang sama persis selama dua tahun: menyakiti orang lain sambil berusaha keras tidak menyakitinya, dan gagal, karena tidak satu pun dari kami mau membuka mulut.


Kami duduk mungkin dua puluh menit lagi setelah itu, dan pembicaraannya jadi hal-hal kecil.

Adiknya sudah semester akhir. Ibunya masih jualan tapi lebih untuk kegiatan daripada uang. Dia sudah punya kucing, yang aneh sekali, karena dia dulu tidak suka kucing.

Waktu kami berdiri, dia bilang, “Vie.”

“Hm.”

“Suami kamu tuh yang mana?”

“Maksudnya?”

“Aku pernah liat sekali. Di depan kafe ini, bulan lalu.” Dia mengangkat bahu. “Ada cowok berdiri di seberang jalan lumayan lama terus pergi. Aku pikir aku salah liat.”

Ruangan itu terasa miring selama sekitar dua detik.

“Kapan?”

“Nggak inget tanggalnya.” Dia mengambil tasnya. “Hujan. Sore.”


Aku berjalan ke mobil dan tidak menyalakan mesin selama lima belas menit.

Bukan karena aku hancur.

Karena ada sesuatu yang baru saja bergeser, dan aku perlu waktu untuk melihat bentuknya yang baru.

Kamu mutusin buat aku.

Aku baru saja mengatakan itu ke seseorang, dengan suara keras, di kafe, sambil menangis.

Dan sepanjang perjalanan pulang, empat puluh menit, kalimat itu terus berputar, dan setiap kali berputar bunyinya makin tidak enak.

Karena ada orang lain juga yang menghitung sendirian.

Ada orang lain juga yang memutuskan berapa banyak yang aku sanggup dengar, sendirian, tanpa bertanya, selama sembilan tahun.

Dan orang itu sedang di rumah sekarang, dan dia berdiri di seberang jalan dalam hujan bulan lalu dan pergi tanpa bilang apa-apa, dan malam itu dia menjemputku dan bertanya apakah aku sudah makan.

Aku sampai kompleks jam empat sore.

Aku memarkir mobil di depan rumah dan duduk di sana beberapa menit.

Dan untuk pertama kalinya sejak Rena datang ke rumah ini, aku tahu persis apa yang akan kulakukan.