Chapter Six

Dua Sentimeter

POV: Azzam


Aku membeli cincinnya sendirian, hari Rabu, jam dua siang, di sela jadwal yang tidak punya sela.

Rena menawarkan diri ikut dan aku bilang tidak usah, dan dia tersinggung selama satu setengah hari, dan aku tetap tidak mengajaknya.

Bukan karena aku mau romantis. Karena kalau Rena ikut, Rena akan bertanya kenapa aku tahu ukurannya.


Mbak penjaga tokonya menaruh nampan beludru di depanku dan mulai menjelaskan.

“Kalau yang ini emas putih, Mas. Yang ini rose gold, lagi tren. Yang ini—“

“Yang paling tipis mana?”

Dia berhenti. “Tipis?”

“Iya. Yang nggak nyangkut kalau dipakai kerja.”

“Oh.” Dia menggeser satu nampan. “Calon istrinya kerja apa, Mas?”

“Editor.”

“Ngetik terus?”

“Ngetik terus.”

Dia mengangguk seperti orang yang baru mendapat data penting, dan mengeluarkan nampan lain dari bawah. Yang ini isinya cincin-cincin yang tidak difoto untuk katalog.

“Kalau ngetik, jangan yang ada mata di tengahnya. Nyangkut di keyboard, nanti lama-lama nggak dipakai, terus disimpen di laci.” Dia mengambil satu. “Yang begini. Rata. Bisa dipakai tidur juga.”

Aku mengambilnya.

“Ukuran berapa, Mas?”

Dan di situ aku diam sepersekian detik.

“Dua belas.”

Dia mengangguk dan berbalik untuk mengambil kotaknya.

“Kok yakin banget, Mas? Biasanya cowok nanya dulu ke temennya, atau minjem cincin lama.”

“Nggak punya cincin lama.”

“Ya kan bisa nanya.”

“Bisa.”

Dia menunggu kelanjutannya, tidak dapat, dan akhirnya mengangkat bahu.

Aku tidak tahu ukuran cincin Evelyn.

Yang aku tahu adalah, tujuh tahun lalu, di resepsi pernikahan sepupunya, ada permainan bodoh yang diadakan MC di mana tamu perempuan disuruh mencoba cincin plastik dan yang muat dapat suvenir. Evelyn tidak dapat. Dia bilang jarinya terlalu kecil dan cincin plastiknya semua ukuran empat belas.

Aku ingat itu.

Aku ingat itu selama tujuh tahun, dan aku tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang kusimpan sampai aku berdiri di toko itu dan angkanya keluar dari mulutku tanpa harus dicari.

“Dua belas ya, Mas?”

“Iya.”

“Nanti kalau kekecilan bisa dibesarin gratis, tiga bulan.”

“Nggak akan kekecilan.”

Dia tertawa. “Yakin banget.”


Lamarannya hari Minggu di rumah Om Gunawan.

Ibu sudah mempersiapkan ini seperti orang mempersiapkan pendaratan di bulan. Ada daftar. Daftarnya diprint. Diprint dua rangkap, satu untuk beliau dan satu untuk Ayah, dan Ayah kehilangan miliknya dalam waktu empat jam.

“Hendra.”

“Bentar.”

“Kertasnya di mana.”

“Bentar, Ratih.”

“Empat jam, Hendra. Empat jam.”

Rena, di kursi belakang mobil, merekam semuanya diam-diam untuk arsip pribadinya.

Kami datang jam sepuluh. Rombongan kami tujuh orang termasuk dua om yang aku sendiri tidak yakin masih hidup di kota ini. Rombongan mereka lebih sedikit tapi lebih rapi, karena keluarga Evelyn selalu lebih rapi.

Hantarannya delapan kotak. Ibu menghitungnya tiga kali di teras sebelum masuk.

“Ratih, ini kurang satu.”

“Nggak kurang.”

“Yang isi sepatu mana?”

“Di mobil.”

“Ya berarti kurang.”

“Belum diturunin bukan berarti kurang, Hendra.”

“Secara faktual—“

“Turunin.”

Ayahku turun ke mobil dengan kemeja batik dan wajah orang yang sudah kalah sejak tiga puluh tahun lalu.

Om entah siapa yang ternyata bernama Om Bahar mengambil alih peran MC tanpa ditunjuk siapa pun, memakai mikrofon karaoke yang jelas dibawa dari rumahnya sendiri, dan tidak ada yang berani menghentikannya.

Om Gunawan menyambut di pintu dengan kemeja batik dan wajah orang yang sudah menyiapkan pidato.

Pidatonya panjang. Tujuh menit. Aku menghitung karena ada jam dinding tepat di belakang kepalanya.

Aku sudah kenal Om Gunawan seumur hidupku. Beliau orang yang bicara pelan, yang tidak pernah menaikkan suara bahkan waktu marah, yang kalau tidak setuju dengan sesuatu cuma diam sedikit lebih lama dari biasanya dan semua orang langsung tahu.

Beliau juga orang yang mengajariku main catur waktu aku sembilan tahun, dan orang yang datang ke rumah kami bawa obat waktu Rena kejang demam, tengah malam, tanpa ditelepon, karena beliau mendengar Ibu berteriak dari delapan menit jauhnya.

Berdiri di ruang tamunya pagi itu, aku sadar aku sedang meminta sesuatu dari orang yang sudah memberi keluargaku terlalu banyak untuk dihitung.

Isinya soal tanggung jawab, soal dua keluarga yang sudah kenal lama, soal doa. Beliau tidak sekali pun menyebut hal yang sebenarnya beliau maksudkan, dan aku tahu apa yang beliau maksudkan karena aku pernah lihat wajah orang yang sedang menitipkan sesuatu.

Di menit kelima beliau bilang, “Saya cuma minta satu.”

Ruangan diam.

“Kalau nanti ada apa-apa, jangan diselesaikan sendiri-sendiri. Datang ke sini.”

Aku mengangguk.

“Saya serius, Zam.”

“Iya, Om.”

Dan aku benar-benar bermaksud begitu waktu mengatakannya, yang membuat semuanya lebih buruk nanti.


Evelyn duduk di sebelah ibunya dengan kebaya warna gading dan rambut disanggul, dan aku sudah memutuskan sejak di mobil bahwa aku tidak akan melihatnya terlalu lama karena ada dua belas orang di ruangan ini dan setidaknya empat di antaranya sangat observan.

Aku menaati keputusan itu selama kira-kira sebelas menit.

Waktu Om Bahar sedang menjelaskan sesuatu tentang “bahtera rumah tangga” ke mikrofon karaokenya, Evelyn menoleh ke arahku, dan dia membuat wajah.

Wajahnya bilang: ini masih lama nggak sih.

Aku membuat wajah balik yang artinya: lama.

Dan dia menunduk cepat untuk menyembunyikan senyum, dan bahunya bergetar sekali, dan Tante Wulan menyikutnya karena dikira dia batuk.

Itu detik terbaik hari itu, dan tidak ada satu pun dari dua belas orang di ruangan itu yang melihatnya.

Waktu tiba bagian cincin, Tante Wulan menepuk-nepuk lengan Evelyn.

“Tangan kanan, Vie.”

Evelyn mengangkat tangan kanannya.

Dan tangan itu bergetar sedikit — bukan gemetar, cuma tidak stabil, seperti tangan orang yang sadar sedang ditonton — dan Tante Ratih berkata “aduh gemes” dan seseorang tertawa dan seseorang lagi menyuruh diam supaya fotonya bagus.

Aku mengambil cincin itu dari kotaknya.

Aku memegang tangannya untuk pertama kali dalam hidupku dengan cara yang bukan tidak sengaja.

Dan aku memasukkan cincin itu ke jari manisnya, dan cincin itu muat, persis, tidak longgar dan tidak seret, dan Mbak penjaga toko hari Rabu itu ternyata tidak perlu khawatir.

Semua orang bertepuk tangan.

Ibuku menangis. Tante Wulan menangis. Rena merekam. Ada tiga ponsel dan satu kamera yang diangkat bersamaan, dan MC dadakan yang ternyata adalah om entah siapa itu bilang “sekali lagi, sekali lagi, tadi ketutup kepala saya.”

Dan sementara semua itu terjadi, aku masih memegang tangannya, dan aku melihat ke bawah.

Dua sentimeter dari cincin yang baru saja kupasang, di jari kelingking, ada lingkaran tipis dari perak yang sudah kusam di beberapa bagian. Kebesaran untuk kelingking. Terlalu kecil untuk jari mana pun yang lain.

Aku melihatnya di makan malam malam itu.

Aku melihatnya di kafe.

Aku melihatnya sekarang.

“Zam, sekali lagi,” kata om entah siapa itu.

Aku mengangkat kepala dan tersenyum ke arah kamera.


Tante Wulan memelukku setelah itu.

Beliau memeluk dengan cara yang sama seperti waktu aku kecil, satu tangan di punggung dan satu di belakang kepala, seolah aku masih bisa jatuh.

“Azzam.”

“Iya, Tante.”

Beliau tidak melepaskan. Beberapa detik terlalu lama untuk pelukan biasa.

“Dia anak yang kuat,” katanya, pelan sekali, di dekat telingaku. “Terlalu kuat malah. Kalau ada apa-apa dia nggak akan bilang.”

“Iya, Tante.”

“Tante nggak minta kamu bikin dia cerita.” Beliau melepaskan dan menepuk lenganku dua kali. “Tante cuma minta kamu jangan percaya kalau dia bilang nggak apa-apa.”

Aku mengangguk.

Beliau tersenyum dan berbalik untuk memarahi Om Bahar soal volume speaker, dan aku berdiri di situ dengan kalimat itu tertanam di suatu tempat yang tidak bisa kucabut lagi.

Jangan percaya kalau dia bilang nggak apa-apa.

Aku akan mengingat kalimat itu berkali-kali selama setahun berikutnya, dan aku akan mengabaikannya setiap kali.


Setelah itu jadi ramai dan tidak ada lagi yang penting terjadi.

Kami makan. Ibu-ibu membahas katering dan berdebat tentang apakah tamu tiga ratus itu banyak atau sedikit. Om Gunawan mengajak ayahku main catur dan kalah dalam dua puluh menit dan menuduh papan caturnya miring.

Om Bahar menyanyi.

Tidak ada yang memintanya. Mikrofon karaoke itu ternyata bisa tersambung ke speaker kecil yang juga dia bawa sendiri, dan begitu speaker itu menyala, tidak ada kekuatan di rumah ini yang bisa menghentikannya.

Evelyn menghampiriku di dekat meja kue di tengah lagu kedua.

“Mas.”

“Hm.”

“Om Bahar ini dari pihak kamu, ya?”

“Iya.”

“Aku cuma mau mastiin.” Dia mengambil sepotong kue. “Soalnya kalau dari pihak aku, aku harus tanggung jawab.”

“Dia dari pihak aku.”

“Alhamdulillah.”

Aku hampir tersedak.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak apa-apa.”

Dia menatapku sedetik, lalu mengerti, lalu memutar bola matanya. “Mas, aku udah dua tahun. Kamu masih kaget tiap aku ngomong gitu?”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Iya.”

Dia tertawa kecil dan mengambil satu potong kue lagi. “Ya udah biasain.”

Lalu dia kembali ke kerumunan ibu-ibu, dan aku berdiri di dekat meja kue dan memikirkan bahwa dia bilang “biasain”, yang mengandaikan waktu yang panjang, dan bahwa dia mengatakannya tanpa berpikir sama sekali.

Aku menyimpan itu juga.

Aku menyimpan banyak sekali hari itu. Ternyata ada batasnya berapa banyak yang bisa disimpan sebelum lemarinya jebol, tapi aku belum tahu itu waktu itu.

Rena duduk di sebelahku sambil makan kue lapis.

“Mas.”

“Hm.”

“Cincinnya bagus.”

“Iya.”

“Ukurannya pas banget.”

Aku tidak menjawab.

“Mas beli sendiri kan?”

“Iya.”

“Nggak nanya-nanya dulu?”

“Rena.”

“Aku cuma bilang ukurannya pas.” Dia mengangkat bahu dan memasukkan sepotong kue lagi. “Kalau aku beliin cincin buat Mas, aku pasti salah. Padahal Mas kakakku.”

Aku minum air putih.

Rena tidak melanjutkan, karena Rena tahu kapan harus berhenti, yang merupakan satu-satunya hal dewasa tentang dirinya.


Kami pulang jam empat sore.

Di teras, waktu semua orang sudah berdiri dan sepatu sudah dicari-cari, Evelyn menyalamiku.

“Makasih ya, Mas.”

“Buat apa lagi.”

“Buat semuanya.” Dia mengangkat bahu. “Buat colokan.”

“Colokan itu lima puluh ribu.”

“Ya tapi kamu yang mikirin.”

Dia tersenyum, dan senyumnya kali ini yang benar, dan aku menyimpannya.

Lalu tangan kanannya naik. Tanpa dia lihat, tanpa dia pikirkan, gerakan yang sudah otomatis seperti orang menyibak rambut.

Ibu jarinya menyentuh kelingkingnya. Memutar lingkaran perak itu satu kali penuh, lalu berhenti.

“Hati-hati di jalan,” katanya.

“Iya.”

Aku masuk ke mobil. Rena menyalakan radio. Ibu masih membahas katering dari kursi belakang, dan ayahku bilang beliau lapar padahal kami baru saja makan tiga jam.

Aku menyetir delapan menit pulang.

Delapan menit itu cukup untuk memikirkan satu pertanyaan yang sangat sederhana, yang bisa kutanyakan kapan saja, yang mungkin punya jawaban yang membosankan dan tidak berarti apa-apa.

Itu cincin apa?

Enam kata. Empat kata kalau dipotong.

Ada lampu merah di persimpangan dekat masjid dan aku berhenti di situ delapan puluh detik, dan dalam delapan puluh detik itu aku menyusun empat versi cara menanyakannya.

Versi satu, santai, di tengah obrolan lain. Eh, itu cincin di kelingking kamu bagus. Dari mana?

Versi dua, langsung, di tempat yang sepi. Boleh aku tanya sesuatu?

Versi tiga, lewat chat, supaya wajahku tidak kelihatan.

Versi empat, tidak bertanya.

Aku sudah tahu aku akan memilih yang keempat sebelum lampunya hijau. Tiga versi pertama cuma kususun supaya nanti bisa kubilang ke diriku sendiri bahwa aku sudah mempertimbangkannya.

Aku sampai di rumah tanpa menanyakannya, dan malam itu, sebelum tidur, aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk di tepi ranjang lebih lama dari biasanya.

Aku tidak menghindari pertanyaan itu.

Aku menghindari jawabannya.