Chapter Thirty Six
Pagar
POV: Evelyn
Proyeknya di Bekasi, dan aku tahu itu karena aku sudah mendengar nama daerahnya puluhan kali di meja makan tanpa pernah sekali pun bertanya di sebelah mana.
Butuh dua hari untuk mencarinya.
Aku tidak menanyakan ke Rena, karena Rena akan memberi tahu Azzam. Aku tidak menanyakan ke Tante Ratih karena aku belum sanggup menelepon Tante Ratih.
Aku menemukannya sendiri, dan cara aku menemukannya sangat memalukan: aku mencari nama perusahaannya, lalu mencari proyek yang sedang berjalan, lalu mencocokkan dengan satu kalimat yang pernah dia ucapkan di meja makan sepuluh bulan lalu tentang gedung enam lantai di daerah yang macet.
Ada tiga kemungkinan. Aku memilih yang pertama.
Aku salah.
Aku sampai di sana Selasa jam lima sore, dan itu gedung delapan lantai, dan namanya bukan nama perusahaannya.
Aku duduk di mobil di seberang selama empat puluh menit sebelum menyadari itu.
Rabu aku ke yang kedua.
Vira di kursi penumpang dengan dua bungkus keripik dan botol air, seperti orang mau nonton bola.
“Ini bener?”
“Belum tau.”
“Kamu nggak bisa telepon aja gitu?”
“Aku udah chat Selasa minggu lalu.”
“Terus?”
“Terus dia bilang jangan dulu.”
“Ya udah chat lagi.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Vir, kalau aku chat lagi, dia harus nolak lagi. Terus aku chat lagi, dia nolak lagi.” Aku memandang gerbang proyek di seberang jalan. “Dia bisa gitu sampai tahun depan tanpa satu pun kata kasar. Dia jago banget nolak orang dengan sopan.”
Vira mengunyah.
“Fair,” katanya.
Jam lima lewat, orang mulai keluar dari gerbang itu.
Aku duduk di kursi pengemudi dan mengawasi.
Buruh dulu, berkelompok, dengan sepeda motor. Lalu beberapa orang berkemeja. Lalu mobil.
Jam setengah enam, jam enam, jam enam lewat.
“Vie.”
“Bentar.”
“Ini yang bener nggak sih?”
“Aku nggak tau.”
Jam enam lewat dua puluh, satu mobil keluar dari gerbang dan berhenti di mulut jalan karena ada motor lewat.
Aku mengenali platnya sebelum aku mengenali mobilnya.
Aku keluar dari mobil.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak menyiapkan apa-apa. Aku, yang selalu menyiapkan empat kalimat dan tiga skenario cadangan, keluar dari mobil di pinggir jalan di Bekasi jam enam lewat dua puluh tanpa satu pun kalimat di kepalaku.
Aku menyeberang.
Aku mengetuk kaca penumpangnya.
Dan aku melihat wajahnya waktu dia menoleh, dan aku akan mengingat wajah itu seumur hidupku.
Bukan kaget.
Takut.
Laki-laki itu takut.
Kaca turun.
“Evelyn.”
“Hai.”
“Kamu ngapain di sini?”
“Boleh aku masuk?”
Dia menatapku selama sekitar dua detik.
Lalu dia menepikan mobil ke bahu jalan dan membuka kunci pintu.
Aku duduk di kursi penumpang mobil suamiku.
Dashboard-nya bersih. Ada botol air di tempatnya. Ada satu map cokelat di kursi belakang dan sarung tangan kerja di lantai.
Bau mobil itu bau yang sama.
“Kamu dari mana tau tempat ini?” tanyanya.
“Aku cari.”
“Kamu cari?”
“Iya.”
“Rena yang—“
“Rena nggak tau.” Aku menoleh ke arahnya. “Aku cari nama perusahaan kamu terus aku cocokin sama gedung enam lantai di daerah yang macet, karena itu yang pernah kamu bilang sepuluh bulan lalu di meja makan.”
Dia tidak bergerak.
“Kemarin aku salah tempat,” lanjutku. “Aku duduk empat puluh menit di depan gedung delapan lantai.”
Ada beberapa detik hening.
“Evelyn.”
“Mas, aku mau ngomong dan aku mau kamu dengerin sampai selesai.”
“Aku—“
“Kamu selalu dengerin orang sampai selesai.” Suaraku bergetar. “Setahun. Tiap malam. Kamu nggak pernah motong sekali pun.”
Dia menutup mulutnya.
Dan dia mengangguk sekali.
Aku mengatakannya.
Semuanya. Rena, tiga bulan lalu, di lantai dapur. Sembilan tahun. Buku tahunan yang tipis di satu titik. Rumah yang dibeli bulan Agustus. Cincin ukuran dua belas.
Aku bilang aku tahu sejak sebelum ulang tahunku.
Aku bilang aku menciumnya di dapur bukan karena hadiah.
Aku bilang aku menyetrika kemejanya bukan karena berutang, dan bahwa waktu dia berteriak malam itu dia salah, dan bahwa aku tidak bisa membetulkannya waktu itu karena aku sudah berjanji ke Rena.
Aku bilang aku sudah menyusun enam kata jam empat pagi hari Jumat, sambil memandangi wajahnya, dan bahwa aku menyimpannya untuk hari Sabtu, dan bahwa Sabtu ada telepon dari kantor.
Aku bilang aku bertemu Ernest hari Kamis untuk terakhir kalinya, dan bahwa dia sudah pindah ke Surabaya, dan bahwa dia yang memutuskan untuk meninggalkanku tiga tahun lalu karena utang keluarganya dan dia memutuskannya sendirian tanpa bertanya kepadaku.
Aku bicara mungkin dua belas menit.
Aku tidak menangis. Aku ingin itu tercatat.
Dan waktu aku selesai, aku bilang enam kata itu.
“Aku tau, dan aku tetap di sini.”
Dan Azzam duduk di kursi pengemudi dengan tangan di setir dan tidak mengatakan apa-apa selama mungkin dua puluh detik.
Lalu dia bilang:
“Makasih.”
Aku menoleh.
“Makasih?”
“Iya.” Dia memandang lurus ke depan. “Makasih udah dateng jauh-jauh.”
“Mas.”
“Dan makasih udah jujur.”
“Mas Azzam.”
“Aku serius, Evelyn.” Suaranya benar-benar tenang. “Itu pasti berat banget. Aku tau kamu nggak suka ngomong yang belum kamu susun.”
Dan aku duduk di kursi penumpang itu dan merasakan sesuatu yang dingin turun dari dada ke perut.
“Kamu nggak percaya sama aku.”
“Aku percaya.”
“Terus?”
Dan dia menoleh ke arahku, dan wajahnya wajah orang yang sudah memikirkan ini berhari-hari, dan itu yang membuatku ingin berteriak.
“Aku percaya kamu tau,” katanya. “Aku percaya semua yang kamu bilang.”
“Terus kenapa—“
“Karena itu justru masalahnya.”
“Evelyn.” Dia memindahkan tangannya dari setir. “Kamu tau tiga bulan lalu. Tiga bulan.”
“Iya.”
“Dan selama tiga bulan itu kamu nyetrika kemeja aku, kamu nungguin aku sampai jam sembilan, kamu beliin kopi mahal, kamu nanyain nama anak buah aku.”
“Karena aku—“
“Aku nggak bilang kamu bohong.” Dia mengangkat tangan. “Aku percaya kamu nggak lagi kasihan. Aku percaya kamu beneran mau.”
Dia berhenti sebentar.
“Tapi kamu tau apa yang kamu lakuin waktu kamu tau ada orang yang nunggu sembilan tahun?” katanya. “Kamu langsung mulai mikirin gimana caranya nggak bikin orang itu kecewa.”
Aku membuka mulut.
“Itu yang kamu lakuin sama Ernest juga,” lanjutnya, dan suaranya masih tenang, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia meninggikannya. “Dia mutusin sendiri, terus kamu ngejar dua tahun buat mastiin dua tahun itu ada artinya.”
“Itu beda.”
“Iya, beda. Ini lebih besar.” Dia menatapku. “Dan aku nggak mau jadi hal berikutnya yang kamu pertahanin karena kamu nggak sanggup nyia-nyiain sembilan tahun orang.”
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak kamu barusan ngapain?”
Dia menoleh.
“Kamu baru aja jelasin ke aku kenapa aku ngelakuin sesuatu,” kataku. “Panjang. Rapi. Lengkap sama contohnya.”
“Evelyn—“
“Aku nggak bilang kamu salah.” Aku menatapnya. “Aku bilang kamu nggak nanya.”
Dan dia berhenti.
Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya — sesuatu yang naik dan hampir sampai, dan aku menunggu, dan aku menahan napas.
Lalu dia bilang, “Aku udah mikirin ini berhari-hari, Evelyn.”
Dan sesuatu itu turun lagi.
Aku duduk di sana.
Ada motor lewat di sebelah mobil dan bunyinya terdengar sangat jauh.
“Kamu udah mutusin,” kataku.
“Iya.”
“Kapan?”
“Minggu lalu.”
“Sebelum aku ngomong.”
“Iya.”
Dan aku menoleh ke arahnya dan mengucapkan satu kalimat yang tidak kusiapkan, yang keluar dari suatu tempat yang tidak kuizinkan buka.
“Jadi apa pun yang aku bilang malam ini nggak akan ngubah apa-apa.”
Dan dia diam.
Dan diamnya adalah jawabannya.
Aku turun dari mobil itu jam tujuh kurang.
Dia keluar juga dan berdiri di sisi mobilnya, dan dia bilang, “Aku anter kamu ke mobil kamu.”
“Nggak usah.”
“Evelyn, ini pinggir jalan.”
“Nggak usah, Mas.”
Dan dia berhenti, karena dia selalu berhenti kalau disuruh berhenti, dan itu satu-satunya cara aku bisa menang dari orang ini.
Aku menyeberang.
Aku sampai di mobilku dan Vira sudah menurunkan kaca dan wajahnya sudah tahu.
Aku masuk. Aku menutup pintu. Aku menyalakan mesin.
Dan aku melihat ke spion, dan di seberang jalan, laki-laki itu masih berdiri di samping mobilnya, menunggu sampai aku jalan.
Dia tidak masuk ke mobilnya sendiri sampai aku belok.
Vira tidak bertanya apa-apa selama sepuluh menit pertama.
Lalu dia bilang, “Vie.”
“Hm.”
“Kamu nggak nangis.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
Dan aku memandang jalan tol di depanku dan sadar bahwa aku memang tidak menangis, dan bahwa aku juga tidak hancur, dan bahwa ada sesuatu yang lain sama sekali yang sedang tumbuh di dadaku dan bentuknya keras.
“Karena dia salah,” kataku.
“Apa?”
“Dia salah, Vir.” Aku memegang setir lebih kencang. “Dia duduk di situ dan dia jelasin ke aku kenapa aku ngelakuin sesuatu, dengan sangat rapi, dan dia salah. Dan dia nggak nanya sekali pun.”
Vira menoleh ke arahku.
“Dia bilang dia ngasih aku pilihan,” kataku. “Dia mutusin sendiri kalau aku nggak sanggup milih, terus dia mutusin buat aku, terus dia nyebut itu ngasih pilihan.”
Aku menyalakan sein.
“Itu persis yang Ernest lakuin,” kataku.
“Iya.”
“Persis, Vir. Kata per kata.”
“Iya, Evie.”
“Aku udah bilang itu ke Ernest di kafe.” Suaraku bergetar sekarang, tapi bukan karena sedih. “Aku udah bilang keras-keras ke muka orangnya. Aku bilang ‘kamu mutusin buat aku’.”
Dan Vira, pelan sekali, bilang:
“Terus kenapa kamu nggak bilang itu ke Mas Azzam tadi?”
Dan aku tidak menjawab, karena aku baru menyadarinya di detik itu juga.
Aku menghabiskan dua belas menit di mobil itu menjelaskan diriku sendiri.
Aku tidak sekali pun menuduhnya.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar reading
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis