Chapter Twenty Three
Sembilan Tahun
POV: Evelyn
Rena datang hari Rabu jam sebelas siang.
Aku di rumah karena kantorku sedang renovasi lantai dan setengah divisi disuruh kerja dari rumah selama tiga hari. Mas Azzam di proyek. Aku sedang mengedit di meja makan dengan rambut belum disisir.
Bel berbunyi.
“Rena? Kamu nggak kuliah?”
“Kelasnya kosong.”
“Mas Azzam nggak ada.”
“Aku tau,” katanya. “Makanya aku ke sini.”
Dan aku, yang sudah sebelas bulan mengenal cara Rena masuk ke rumah ini — berisik, langsung ke kulkas, mengomentari sesuatu dalam tiga detik pertama — melihat dia melepas sepatu dengan pelan dan duduk di sofa tanpa mengambil apa pun, dan tahu bahwa sesuatu akan terjadi.
“Ren.”
“Kak, duduk dulu.”
“Kamu bikin aku takut.”
“Duduk, Kak. Please.”
Aku duduk.
“Aku mau ngomong sesuatu dan aku udah mikirin ini empat hari,” katanya. “Aku udah nulis di HP. Aku hapus. Aku tulis lagi. Aku hapus lagi.”
“Rena, ada apa?”
“Mas Azzam nggak tau aku ke sini.”
Ada sesuatu yang dingin turun di punggungku.
“Dia kenapa?”
“Dia nggak kenapa-napa.” Rena menggeleng cepat. “Dia nggak sakit, dia nggak selingkuh, dia nggak punya utang. Bukan yang kayak gitu.”
“Terus?”
Rena menatap tangannya.
Lalu dia bilang, “Mas Azzam suka sama Kakak dari kelas dua SMA.”
Ada beberapa detik di mana tidak ada yang terjadi di kepalaku sama sekali.
Bukan syok. Bukan penolakan. Kosong, seperti waktu kamu membaca satu kalimat di naskah dan harus mengulanginya karena matamu lewat tapi otakmu tidak ikut.
“Apa?”
“Sembilan tahun, Kak.”
“Rena.”
“Sembilan tahun.”
“Itu—“ Aku tertawa. Aku benar-benar tertawa, satu kali, pendek, dan bunyinya jelek. “Itu nggak mungkin.”
“Kak.”
“Rena, kita kenal dari kecil. Dia—“ Aku mengangkat tangan dan menurunkannya lagi. “Dia kayak kakak.”
“Buat Kakak.”
“Rena.”
“Buat Kakak dia kayak kakak,” ulang Rena, pelan. “Buat dia enggak.”
Aku berdiri.
Aku tidak tahu kenapa aku berdiri. Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas dan berdiri di depannya selama beberapa detik dan menutupnya lagi tanpa mengambil apa-apa.
“Kak.”
“Aku denger.”
“Kakak mau aku berhenti?”
Aku berdiri di dapur dengan punggung ke arahnya.
“Terusin,” kataku.
Ini yang dia ceritakan, dan aku akan menuliskannya dengan urutan yang sama seperti dia menceritakannya, karena urutan itu yang menghancurkanku.
Satu. Kelas dua SMA. Rena waktu itu kelas enam SD dan tidak mengerti apa-apa, tapi dia ingat satu sore di mana kakaknya pulang sangat telat, dan Mama bertanya dari mana, dan kakaknya bilang “ketiduran di perpus,” dan Rena tahu itu bohong karena seragamnya basah keringat seperti orang habis berdiri lama di luar.
Rena tidak tahu artinya waktu itu. Dia baru tahu bertahun-tahun kemudian.
Dua. Umur tujuh belas, Rena menemukan sesuatu dan bertanya. Sekali. Kakaknya menjawab sekali, singkat, dan menyuruhnya jangan pernah menyebutnya lagi. Rena tidak pernah menyebutnya lagi selama enam tahun.
“Nemu apa?” tanyaku.
“Nggak penting.”
“Rena.”
“Nggak penting, Kak. Beneran.”
“Rena, kalau kamu udah sampai sini, jangan berhenti di situ.”
Rena memandangi lantai cukup lama.
“Buku tahunan SMA,” katanya. “Punya dia. Aku lagi nyari foto buat tugas.”
“Terus?”
“Ada halaman yang—“ Dia berhenti. “Halaman kelas Kakak. Kertasnya beda. Lebih tipis di satu titik.”
Aku tidak mengerti selama dua detik.
Lalu aku mengerti.
Kertas jadi tipis kalau dipegang terus.
“Aku nanya,” lanjut Rena. “Aku bilang, ‘Mas, ini kenapa kucel banget halamannya.’”
“Terus dia bilang apa?”
Rena mengangkat kepala.
“Dia bilang, ‘Jangan diomongin ke siapa-siapa ya.’”
Dan aku, di dapur, dengan tangan di gagang kulkas, mendengar kalimat itu dan langsung tahu di mana aku pernah mendengarnya.
Aku yang mengucapkannya duluan.
Kelas dua SMA. Di depan gerbang. Ke orang yang menunggu di situ entah berapa lama.
Mas, aku mau cerita sesuatu, tapi jangan bilang siapa-siapa ya.
Dia memakai kalimatku sendiri untuk menyembunyikan itu dariku.
Tiga. Rumah ini.
“Mas beli rumah ini bulan Agustus,” kata Rena. “KPR-nya jalan bulan Agustus. Aku tau karena aku yang bantu fotokopiin berkasnya.”
Aku berdiri di dapur dan tidak bergerak.
Aku putus dengan Ernest bulan Juli.
“Waktu itu belum ada perjodohan,” lanjut Rena. “Belum ada apa-apa. Tante Ratih baru ngobrol sama Tante Wulan bulan November.”
Empat. Cincin.
“Mas beli sendiri. Aku nawarin ikut, dia nolak. Aku ngambek satu setengah hari.”
“Aku inget kamu ngambek,” kataku pelan.
“Terus pas dipasang, muat. Persis.” Rena bicara ke arah lantai. “Aku nanya dia dari mana tau ukurannya. Dia nggak jawab.”
Lima.
Dan di sini suaranya berubah.
“Waktu foto prewedding,” katanya, “aku bilangin ke dia soal cincin di kelingking Kakak.”
Aku memutar badan.
“Apa?”
“Aku bilangin dari Ernest.” Rena menatapku dengan mata yang sudah merah. “Anniversary pertama. Aku yang bilangin, Kak. Aku pikir dia harus tau.”
“Kapan?”
“Sore itu. Di parkiran taman.”
Sebelas bulan lalu.
Tiga minggu sebelum akad.
“Aku nanya dia mau nggak aku yang ngomong ke Kakak,” lanjut Rena. “Dia bilang jangan.”
“Kenapa?”
“Dia bilang, kalau aku ngomong, Kakak bakal lepas cincinnya, terus Kakak bakal minta maaf, terus tiap kali Kakak ketawa Kakak bakal ngecek muka dia dulu.”
Rena menyeka wajahnya.
“Dia bilang dia nggak mau ditemenin orang yang lagi hati-hati.”
Aku duduk di lantai dapur.
Bukan di kursi. Di lantai, bersandar ke lemari bawah, dengan lutut ditekuk, karena kakiku memutuskan sendiri.
Rena datang dan duduk di lantai juga, di seberangku, di ambang antara dapur dan ruang tengah.
“Kak.”
“Bentar.”
“Iya.”
Kami duduk begitu selama mungkin dua menit.
Dan dalam dua menit itu, aku menemukannya sendiri.
Bukan Rena yang memberi tahu bagian ini. Rena tidak tahu bagian ini. Tidak ada yang tahu bagian ini kecuali dua orang, dan salah satunya sedang di proyek di Bekasi.
Kafe di lantai dua ruko, tiga belas bulan lalu.
Aku ingat semuanya. Aku ingat aku sudah menyiapkan sepuluh alasan di notes. Aku ingat dia datang pakai kemeja yang jelek. Aku ingat dia bilang aku tidak harus, bahwa dia yang akan bilang ke semua orang, bahwa dia sudah punya alasannya.
Aku ingat aku merasa lega.
Dan aku ingat aku bertanya, karena aku pikir aku sedang berbaik hati kepadanya: kamu keberatan?
Dan dia bilang enggak.
Dan aku bilang: kita sama-sama nggak punya pilihan, kan?
Dan dia bilang—
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Kak?”
Satu kata. Satu suku kata. Dia mengambil waktu sekitar dua detik sebelum mengucapkannya dan aku ingat dua detik itu, aku ingat aku sempat berpikir dia sedang mencari cara sopan untuk mengiyakan.
Iya.
Dan setelah itu aku bersandar ke kursi dan memesan yang manis dan bercanda selama satu jam empat puluh menit dan pulang dengan perasaan paling ringan yang kupunya sepanjang tahun itu.
Karena aku sudah dapat izin.
Selama tiga belas bulan, setiap kali aku mengirim pesan, setiap kali aku duduk di kafe, setiap kali aku menyimpan kardus itu — aku bersandar pada satu kalimat.
Kita sama-sama nggak punya pilihan.
Dan dia yang mengiyakannya.
Dan dia mengiyakannya sambil tahu persis apa yang dia lakukan.
“Kak, kamu nggak apa-apa?”
“Rena.”
“Iya?”
“Dia bohong ke aku.”
Rena berhenti.
“Kak—“
“Dia bohong ke aku.” Suaraku keluar sangat rata, dan itu menakutkan aku sendiri. “Di kafe. Tiga belas bulan lalu. Dia bohong.”
“Mas nggak pernah bohong—“
“Dia bohong satu kali.” Aku menatap Rena. “Satu kata. Dan semua yang aku lakuin setelah itu berdiri di atas kata itu.”
Rena membuka mulut dan tidak ada yang keluar.
“Aku nggak akan chat siapa pun kalau aku tau,” kataku. “Sekali pun, Ren. Aku bukan orang kayak gitu.”
“Aku tau.”
“Aku bukan orang kayak gitu.”
“Kak Evelyn, aku tau.”
Dan di detik itulah semuanya berbalik arah, dan aku merasakannya berbalik, secara fisik, seperti sesuatu yang berputar di dalam dada.
Karena kalimat berikutnya yang muncul di kepalaku bukan lagi tentang dia.
Sebelas bulan.
Kardus itu.
Simpan saja.
Karcis parkir. Malam hujan. Lima puluh menit di mobil dan dua belas pertanyaan yang nggak dia tanyain.
Kamu nggak perlu buru-buru.
Aku menekan tangan ke mulutku lebih keras.
“Ren.”
“Iya.”
“Aku telepon dia dari parkiran,” kataku. “Bulan lalu. Jam tujuh malem. Hujan.”
“Aku tau, Kak. Mas cerita.”
“Dia jemput aku.”
“Iya.”
“Aku dari ketemu Ernest.”
Rena diam.
“Dia tau, kan,” kataku.
Rena tidak menjawab.
“Rena.”
“Kak—“
“Dia tau.”
Dan Rena, akhirnya, mengangguk sekali.
“Ren.”
“Iya.”
“Kenapa kamu baru bilang sekarang?”
Rena menunduk.
“Karena kemarin aku liat dia nangis.”
Aku mengangkat kepala.
“Di mobil,” katanya. “Di depan rumah kalian. Aku nganterin rendang.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Kak, aku dua puluh tiga tahun dan aku udah liat kakakku nangis dua kali seumur hidup.” Rena menyeka wajahnya dengan lengan. “Yang pertama waktu anjing tetangga mati, kelas tiga SMA.”
“Yang kedua kemarin.”
“Yang kedua kemarin.”
Aku menunduk ke lantai.
“Kenapa?” tanyaku. “Kenapa dia nangis?”
Rena diam beberapa detik.
“Papa Kakak bilang makasih ke dia,” katanya. “Gara-gara Kakak ketawa hari Kamis.”
Dan aku duduk di lantai dapur itu dan mengingat hari Kamis. Aku ingat persis. Aku membantu Mama membereskan lemari dan Mama menemukan seragam SMA-ku dan memakainya di kepalanya seperti topi dan aku tertawa sampai harus duduk.
Aku ingat merasa ringan hari itu.
Aku ingat kenapa aku merasa ringan hari itu.
Tiga hari sebelumnya seseorang duduk di sofa dan bilang dia tidak menunggu apa-apa dariku.
Aku duduk di lantai dapur rumahku sendiri, di bulan kesebelas pernikahanku, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun aku tidak menghitung apa pun.
Tidak ada angka yang tersedia.
Aku sudah menghitung hari, menit, jumlah chat, jumlah pertemuan, jumlah pesan yang diawali siapa. Aku menghitung semuanya karena menghitung membuatku merasa ada yang kukendalikan.
Dan sekarang di depanku ada sembilan tahun, dan tidak ada satu pun cara untuk menghitungnya menjadi sesuatu yang bisa kupegang.
“Kak,” kata Rena pelan. “Mas nggak boleh tau aku ke sini.”
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Dia bakal marah.” Rena mengusap wajahnya. “Dia bilang aku bakal ngerusak satu-satunya hal yang jalan.”
“Yang jalan?”
“Iya.”
Aku menatapnya.
“Rena, dia mikir ini jalan?”
Dan adikku — adiknya, adik iparku, anak dua puluh tiga tahun yang duduk di lantai rumahku dengan mata bengkak — bilang:
“Kak, buat dia ini jalan banget.”
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun reading
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis