Chapter Eight
Seminggu
POV: Evelyn
Seminggu sebelum akad, rumah kami berubah jadi gudang.
Ada delapan kotak seserahan di ruang tamu, ditumpuk sampai setinggi dada, dan Mama memindahkannya rata-rata dua kali sehari karena “cahayanya kurang bagus buat foto.” Ada plastik-plastik dari toko kain di tangga. Ada satu karung beras di dapur yang tidak ada yang tahu asalnya dari mana dan tidak ada yang berani membuangnya.
Rena datang hampir tiap hari.
Dia bukan siapa-siapa dalam urusan ini — dia adik pengantin pria, yang secara adat berarti dia seharusnya di rumah sana, bukan di sini — tapi dia tetap datang, membawa cemilan, dan mengomentari semuanya.
“Kak, ini kenapa handuknya empat?”
“Karena empat.”
“Empat itu angka sial.”
“Buat siapa?”
“Buat orang Tionghoa.”
“Rena, keluarga aku emang orang Tionghoa.”
Rena berhenti mengunyah. “Oh iya.”
“Iya.”
“Ya udah berarti bener dong aku.”
“Rena—“
“Aku peduli lho ini.” Dia menunjuk kotak itu dengan keripik. “Aku peduli sampai risetnya salah, tapi tetep peduli.”
Aku tertawa dan melempar bantal ke arahnya.
“Kak, serius deh.” Dia duduk bersila di lantai. “Kenapa handuknya empat?”
“Karena satu set isinya empat.”
“Beli lagi satu.”
“Terus jadi lima, dan lima itu ganjil.”
“Ganjil bagus.”
“Bagus buat siapa?”
Rena membuka ponselnya, mengetik sesuatu selama dua puluh detik, lalu menutupnya lagi.
“Ternyata nggak ada yang bilang gitu,” katanya. “Aku ngarang.”
“Rena.”
“Aku panik. Kotaknya delapan dan delapan itu bagus, tapi isinya empat, jadi aku bingung ini kena yang mana.”
“Kamu tuh bukan orang Tionghoa.”
“Aku calon adik ipar orang Tionghoa.” Dia mengangkat dagu. “Aku harus siap.”
Mama lewat membawa nampan dan berhenti.
“Rena.”
“Iya, Tante.”
“Kamu ngapain di sini terus?”
“Ngawasin, Tante.”
“Ngawasin apa?”
“Ya... ini.” Rena melambaikan tangan ke arah tumpukan kain. “Kualitas.”
Mama menatapnya tiga detik, lalu menaruh nampan berisi pisang goreng di depannya dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
“Nah,” kata Rena, mengambil satu. “Ini kenapa aku ke sini terus.
Rena mudah disukai dengan cara yang tidak adil. Dia berisik, dia tidak tahu batas, dia menanyakan hal-hal yang tidak seharusnya ditanyakan, dan entah bagaimana caranya semua itu terasa seperti seseorang menyalakan lampu di ruangan.
Sore itu, sambil melipat kain, dia bertanya, “Kak.”
“Hm.”
“Kakak seneng nggak?”
Aku terus melipat.
“Seneng kok.”
“Beneran?”
“Rena, ini seminggu lagi. Agak telat kalau mau nanya itu sekarang.”
“Justru sekarang waktunya,” katanya. “Kalau udah lewat kan nggak bisa ditanya lagi.”
Aku melipat kain yang sama dua kali karena tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku.
“Aku tenang,” kataku akhirnya.
“Itu bukan jawabannya.”
“Itu jawaban yang aku punya.”
Rena tidak mendesak. Dia cuma mengambil kain berikutnya dan ikut melipat, dan melipatnya jelek sekali, dan aku membetulkannya, dan dia bilang “makasih Kak” dan lanjut melipat jelek.
Aku ingin mencatat sesuatu, supaya nanti tidak ada yang salah paham.
Minggu itu aku bekerja dengan sangat baik.
Aku menyelesaikan dua naskah. Aku menutup satu negosiasi royalti yang sudah menggantung tiga bulan. Aku menyusun jadwal katering, menghitung ulang tamu, menemukan bahwa nama dua puluh enam orang tertulis dobel di daftar undangan, dan memperbaikinya sendiri dalam satu jam.
Aku bukan orang yang sedang runtuh.
Aku editor yang bagus, aku anak yang menurut, aku calon pengantin yang efisien. Kalau kamu melihatku minggu itu kamu tidak akan menemukan satu pun yang retak.
Aku menyebutnya “aku baik-baik saja.”
Aku salah menamainya. Yang benar adalah: aku sedang mengerjakan semua yang bisa kukerjakan supaya tidak sempat duduk diam.
Hari Selasa malam, Papa memanggilku ke ruang tengah.
Beliau sedang menonton berita dengan volume kecil, dan beliau tidak mematikannya waktu aku duduk, yang artinya ini bukan pembicaraan besar.
“Semua beres?”
“Beres, Pa.”
“Undangan?”
“Udah disebar Senin.”
Beliau mengangguk. Kami menonton berita bersama selama mungkin empat menit.
Lalu beliau berkata, tanpa menoleh, “Kamu nggak harus buru-buru bahagia.”
Aku menoleh.
“Apa, Pa?”
“Nggak apa-apa.” Beliau mengganti channel. “Bapak cuma bilang.”
“Aku nggak buru-buru.”
“Ya sudah.”
Dan itu selesai. Beliau menonton, aku duduk di sebelahnya sepuluh menit lagi, lalu naik ke kamar.
Aku memikirkan kalimat itu di tangga dan memutuskan bahwa Papa cuma sedang jadi Papa, dan bahwa beliau tidak bermaksud apa-apa.
Sekarang, kalau aku ingat, aku tahu persis apa yang beliau lihat.
Beliau melihat anaknya membereskan pernikahannya sendiri seperti membereskan pekerjaan kantor, dengan sangat rapi dan sangat cepat, dan beliau terlalu sopan untuk mengatakannya lebih jelas dari itu.
Dan hari Rabu, aku kehabisan pekerjaan.
Aku mengiriminya pesan jam sebelas malam hari Rabu.
Aku sudah menghapus percakapan kami. Aku harus mencarinya lewat kontak, mengetik nomornya, dan membuka ruang kosong yang bersih tanpa riwayat apa pun, dan ruang kosong itu terasa seperti kamar yang baru ditinggal orang.
Nest, aku boleh minta waktu 20 menit? Sekali aja. Sabtu.
Dibaca jam sebelas lewat sembilan.
Balasannya jam sebelas lewat tiga puluh empat.
Ernest:jam berapa
Dua kata.
Aku menaruh ponsel di dada dan menutup mata, dan aku tidak akan menjelaskan apa yang kurasakan di detik itu karena aku tidak sanggup menuliskannya dengan jujur.
Sabtu, jam sepuluh pagi, kafe di daerah yang jauh dari rumah kami berdua.
Aku memilih tempatnya. Aku memilihnya bukan karena takut ketahuan — aku terus bilang itu ke diriku sendiri sepanjang perjalanan — tapi karena parkirannya gampang.
Dia datang lima menit lebih awal. Dia selalu datang lebih awal.
Ernest kelihatan lebih kurus. Rambutnya lebih pendek. Dia memakai kemeja yang tidak pernah kulihat, yang artinya dia membelinya setelah kami selesai, dan entah kenapa itu detail yang paling menyakitkan sepanjang pagi itu.
“Vie.”
“Hai.”
Kami duduk. Pelayan datang. Kami pesan. Dia pesan yang sama seperti dulu, dan aku pesan berbeda dari yang dulu karena aku sudah memutuskan itu di mobil.
“Gimana?” katanya.
“Baik. Kamu?”
“Ya, gitu.”
Empat belas detik hening. Aku menghitung.
“Selamat ya,” katanya.
“Makasih.”
“Orangnya... kenal?”
“Anak temen orang tuaku. Dari kecil.”
Dia mengangguk. “Bagus.”
“Bagus?”
“Iya. Kalau dari kecil, keluarganya udah tau kamu.” Dia memutar gelasnya. “Enak. Nggak perlu jelasin dari awal.”
Aku mengerti apa yang dia maksud, dan aku benci bahwa aku mengerti.
Karena dia harus menjelaskan dari awal. Semua orang di keluarganya harus dijelaskan dari awal, dan aku ingat berapa lama itu memakan waktu, dan aku ingat wajah ibunya yang berusaha keras terlihat biasa saja di makan malam pertama.
“Ibu kamu gimana?” tanyaku.
“Udah mendingan. Bisa jalan sendiri.”
“Syukurlah.”
“Iya.”
Hening lagi.
“Aku sempet mau ngabarin waktu beliau masuk,” katanya. “Terus aku mikir, ngapain.”
“Kamu bisa ngabarin.”
“Nggak enak.”
“Nggak enak sama siapa?”
Dia tidak menjawab. Dia menggeser gelasnya dua sentimeter, persis seperti yang selalu dia lakukan, dan gerakan itu begitu familier sampai dadaku sakit secara fisik.
Sepuluh bulan lalu aku tahu jadwal kontrol ibunya lebih hafal daripada dia. Aku yang mengingatkan. Aku yang mencatat nama obatnya di ponselku.
Sekarang aku tahu kabar beliau dari kalimat basa-basi di kafe yang parkirannya gampang.
Dua puluh menit yang kuminta habis dalam sebelas.
Karena tidak ada yang bisa kukatakan.
Aku datang dengan satu pertanyaan, dan aku sudah menyiapkannya, dan aku sudah melatihnya di mobil sampai suaraku terdengar wajar. Pertanyaannya sederhana. Kenapa waktu itu?
Aku tidak menanyakannya.
Aku tidak menanyakannya karena aku sadar, di menit keenam, bahwa aku sebenarnya tidak datang untuk bertanya.
Aku datang supaya dia melakukan sesuatu.
Aku ingin dia bilang jangan. Aku ingin dia diam terlalu lama, atau wajahnya berubah, atau tangannya bergerak ke arah tanganku dan berhenti setengah jalan. Aku ingin satu tanda saja bahwa dua tahun itu bukan sesuatu yang aku karang sendirian.
Dia tidak melakukan apa-apa.
Dia sopan. Dia menanyakan pekerjaanku. Dia bilang dia sekarang di Tangerang, kerjanya lumayan, ibunya sudah lebih sehat. Dia menggeser gula ke arahku tanpa diminta karena dia ingat aku suka manis, dan gerakan kecil itu hampir membuatku menangis di tempat, dan lima detik kemudian dia melihat jam.
“Aku ada janji jam dua belas.”
“Oh. Iya. Maaf.”
“Nggak, nggak apa-apa.”
Kami berdiri. Dia mengambil tasnya.
“Vie.”
Aku menoleh terlalu cepat.
“Semoga bahagia ya. Beneran.”
Dan dia tersenyum, dan senyumnya biasa saja, dan tidak ada apa pun di belakangnya.
Itu yang membunuh.
Bukan kalau dia kasar. Bukan kalau dia dingin. Kalau dia kasar aku bisa marah, dan marah itu ada tempatnya, marah itu bisa dibawa pulang dan diletakkan di suatu tempat.
Yang tidak ada tempatnya adalah orang yang sudah selesai, dan sopan, dan berdiri di depanmu tanpa sedikit pun terluka.
Aku duduk di mobil di parkiran itu selama dua puluh menit.
Aku tidak menangis. Aku ingin mencatat itu, karena orang selalu mengira bagian ini isinya menangis.
Aku cuma duduk dengan tangan di setir dan mesin mati, dan melakukan hal yang sama yang selalu kulakukan: menghitung.
Sebelas menit. Dua kata di chat. Empat kata seminggu lalu. Gula yang digeser tanpa diminta.
Aku menyusun semua itu di kepala seperti menyusun bukti, dan aku mencari satu saja yang bisa kupakai, satu detail yang bisa kutafsirkan jadi sesuatu.
Gula.
Dia menggeser gula.
Aku menghabiskan mungkin empat menit penuh di parkiran itu untuk memutuskan bahwa gula yang digeser tanpa diminta artinya dia masih ingat, dan bahwa ingat artinya masih ada, dan bahwa masih ada artinya dua tahun itu nyata.
Empat menit. Untuk gula.
Kalau ada penulis mengirimiku naskah dengan tokoh yang begitu, aku akan menulis di pinggirnya: pembaca akan kehilangan simpati di sini.
Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan. Itu bagian yang tidak pernah dijelaskan orang dengan benar. Aku tahu, aku bisa menamainya, aku bahkan bisa menuliskan catatan editorialnya.
Dan aku tetap melakukannya.
Lalu aku menyalakan mesin dan pulang, dan sepanjang perjalanan aku menyusun kalimat untuk Mama kalau beliau bertanya aku dari mana. Ketemu Vira. Sederhana, tidak bisa dicek, dan Vira akan mengiyakan kalau ditanya.
Aku sampai jam satu siang.
Aku memarkir di depan, mengambil tas, dan berjalan ke gerbang.
Rena sedang duduk di teras rumahku dengan kotak kue di pangkuan.
“Kak Evelyn.”
Aku berhenti.
“Aku nganterin ini dari Mama. Katanya buat dicoba dulu, kalau nggak enak dibilangin, jangan sungkan.” Dia mengangkat kotaknya. “Udah dari jam sebelas sih. Aku tungguin.”
“Oh. Makasih ya.”
“Iya.”
Aku naik ke teras. Rena berdiri, membetulkan tali tasnya, lalu berhenti.
Dia melihatku.
Bukan melihat sekilas. Melihat, dari atas ke bawah, sekitar dua detik. Mata, lalu tas, lalu tangan.
Dan tidak menanyakan apa pun.
“Aku duluan ya, Kak.”
“Iya.”
Dia turun dari teras dan berjalan ke gerbang, dan di gerbang dia berhenti sebentar tanpa menoleh, lalu lanjut jalan.
Aku masuk ke rumah dan menutup pintu, dan berdiri di ruang tamu di antara delapan kotak seserahan, dan tidak ada satu pun bagian dariku yang tahu bahwa itu bukan Rena yang kebetulan lewat.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu reading
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis