← Sampai Kau Berhenti Menoleh

Chapter Eleven

Tiga Minggu Pertama

POV: Azzam


Rutinitas itu terbentuk sendiri dalam sembilan hari, dan tidak satu pun dari kami membicarakannya.

Aku bangun jam lima. Aku menyeduh dua gelas, kopi untukku dan teh untuknya, dan menaruh yang teh di meja dengan tutup di atasnya supaya tidak dingin sampai dia bangun jam enam. Aku mandi. Aku berangkat jam setengah enam.

Dia bangun jam enam, menghabiskan tehnya, dan berangkat jam tujuh.

Dia pulang jam enam sore. Aku pulang antara jam tujuh dan setengah sembilan, kecuali hari cor, yang bisa jam berapa saja.

Dia yang masak, dua atau tiga kali seminggu, dan sisanya kami beli. Aku yang cuci piring. Aku juga yang mengangkat jemuran, karena tiga hari pertama aku pulang dan menemukan jemuran masih di luar jam sembilan malam, dan setelah itu aku hitung jamnya dan angkat sendiri.

Hari kesepuluh dia bertanya, “Mas, kamu yang ngangkat jemuran ya?”

“Iya.”

“Aku sering lupa.”

“Iya, aku tau.”

“Kok tau?”

“Karena aku yang ngangkat.”

Dia diam sebentar, lalu tertawa. “Oh iya.”


Yang paling sulit dari tiga minggu itu bukan sofanya.

Sofanya memang tidak enak. Panjangnya seratus enam puluh sentimeter dan tinggi badanku seratus tujuh puluh delapan, dan aku terbangun setiap jam tiga pagi dengan leher yang sudah punya pendapat sendiri.

Tapi bukan itu yang sulit.

Yang sulit adalah aturan nomor tiga.

Kalau dia cerita soal harinya, dengerin sampai habis. Jangan cari yang bolong.

Kedengarannya mudah. Ternyata itu aturan yang paling banyak memakan tenaga, karena aku harus menegakkannya setiap malam antara jam tujuh dan jam sembilan, sambil makan, sambil wajahku tetap wajah orang yang santai.

Dia bercerita banyak. Itu yang tidak kuduga. Aku pikir kami akan makan malam dalam diam selama enam bulan, dan ternyata di hari keempat dia sudah bercerita tentang rapat redaksi selama dua puluh menit tanpa jeda.

“Terus dia bilang, ‘Mbak, ini kan cuma ganti kata.’ Cuma ganti kata, Mas. Cuma. Dia ganti ‘dia menunduk’ jadi ‘dia merundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan yang mendalam.’”

“Itu lebih panjang.”

“ITU LEBIH PANJANG.”

“Terus kamu bilang apa?”

“Aku bilang ‘oke, aku catet.’”

“Kamu catet?”

“Enggak.”

Aku tertawa dan dia menunjuk sendok ke arahku dan bilang “jangan ketawa, kamu nggak ngerti penderitaan aku,” dan itu makan malam ke sebelas dan aku ingat semuanya.

Dan di antara semua itu, kadang ada satu kalimat yang tidak nyambung.

Aku pulang agak telat tadi, mampir dulu.

Mampir ke mana, tidak dilanjutkan. Aku tidak menanyakannya.

Tadi aku ketemu temen lama di jalan.

Temen lama yang mana, tidak dilanjutkan. Aku tidak menanyakannya.

Ini bagian yang tidak dimengerti orang. Tidak bertanya itu bukan pasif. Tidak bertanya itu pekerjaan. Ada gerakan fisik yang harus ditahan — kepala yang mau menoleh, alis yang mau naik, satu suku kata yang sudah setengah jalan di tenggorokan.

Kamu harus menahannya dalam waktu kurang dari satu detik, tiap kali, dan tidak boleh kelihatan sedang menahan.

Aku pandai dalam hal ini.

Itu bukan pujian untuk diriku sendiri. Itu diagnosis.

Ada satu malam, minggu kedua, di mana dia bercerita empat puluh menit tanpa berhenti soal penulis, editor lain, bosnya, dan kucing kantor yang ternyata ada dan yang katanya tidak dia sukai tapi dia beri makan setiap hari.

Empat puluh menit.

Dan waktu dia selesai, dia bilang, “Astaga, aku ngomong terus ya.”

“Nggak apa-apa.”

“Kamu nggak bosen?”

“Enggak.”

“Bohong.”

“Evelyn, kalau aku bosen aku bakal berdiri terus cuci piring. Aku masih duduk.”

Dia melihat piring-piring di meja yang memang belum kusentuh, lalu tertawa.

“Oke,” katanya. “Poin sah.”

Dan malam itu, waktu aku mencuci piring dan dia sudah masuk kamar, aku berdiri di depan bak cuci dan menyadari sesuatu yang cukup mengganggu.

Aku sudah tahu jadwal rapat redaksinya. Aku tahu nama tiga rekan kerjanya. Aku tahu bahwa kucing kantor itu namanya Bakso dan bahwa dia beli makanan basah yang mahal untuknya dan menyembunyikan strukturnya dari Vira.

Dia tidak tahu nama satu pun orang di proyekku.

Bukan karena dia tidak peduli. Karena dia tidak pernah bertanya, dan karena aku tidak pernah bercerita, dan karena satu-satunya cara aku bisa menjalankan aturan nomor tiga adalah dengan tidak menyisakan ruang untuk giliranku.


Minggu kedua, ibu-ibu datang.

Berdua. Tanpa mengabari. Jam sepuluh pagi hari Sabtu, dan aku sedang membetulkan engsel pintu kamar mandi dengan celana pendek dan kaus yang sudah tidak layak.

“Kok berantakan?” kata Ibu, sebelum sepatunya lepas.

“Ratih, orang baru tiga minggu.”

“Tiga minggu itu cukup buat masang gorden, Wulan.”

“Gordennya belum dateng, Tante,” kata Evelyn dari dapur.

“Belum dateng atau belum dipesen?”

Hening dua detik.

“Belum dipesen.”

Tante Wulan tertawa keras sekali.

“Zam,” kata Ibu, dari arah kamar. “Ini seprei kok satu?”

“Yang satu lagi dicuci, Bu.”

“Dua-duanya dicuci?”

“Iya.”

“Kok bisa dua-duanya barengan?”

“Bu Ratih,” kata Tante Wulan dari dapur, “kamu ini periksa apa arisan?”

“Aku cuma nanya.”

“Kamu nggak cuma nanya.”

Aku menoleh ke arah Evelyn dan dia sedang menatapku dengan ekspresi orang yang menahan tawa dengan susah payah, dan waktu mata kami bertemu dia langsung berbalik menghadap kompor.

Mereka tinggal empat jam. Mereka membuka semua lemari. Mereka mengomentari letak kulkas, letak dispenser, dan keputusan kami menaruh rak sepatu di dalam bukan di luar. Ibu menemukan sprei dan bantal yang terlipat di ujung sofa, dan aku sudah menyiapkan tiga penjelasan, dan beliau tidak bertanya sama sekali karena beliau sedang sibuk mengomentari gorden.

Tante Wulan bertanya.

Beliau tidak bertanya dengan mulut. Beliau cuma melihat tumpukan itu, lalu melihat aku, sekitar satu setengah detik.

Aku mengangkat obeng dan bilang, “Om Gunawan gimana, Tante?”

“Baik. Nanya kamu terus.”

“Bilangin saya main catur minggu depan.”

“Nanti dia menang terus, Zam.”

“Nggak apa-apa.”

Beliau tersenyum dan pindah topik, dan aku selamat.


Malam hari kesembilan belas, dia keluar kamar jam sepuluh dan berdiri di ruang tengah sambil melipat tangan.

“Mas.”

“Hm.”

“Ini nggak bisa gini terus.”

Aku duduk di sofa dengan laptop di pangkuan. “Kenapa?”

“Kamu udah tiga minggu di sofa.”

“Nggak apa-apa.”

“Leher kamu miring.”

“Enggak.”

“Mas.” Dia menunjuk. “Kepala kamu miring ke kanan dari kemarin lusa. Aku editor, aku kerjaannya liat yang nggak lurus.”

Aku menegakkan kepala secara refleks dan itu langsung membuktikan poinnya.

“Ya udah,” katanya. “Aku yang di sofa.”

“Enggak.”

“Kenapa enggak?”

“Karena aku nggak bisa tidur kalau kamu di sofa.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat dan terlalu jujur, dan aku langsung menambahkan, “Nanti dikira aku ngusir kamu,” yang untungnya masuk akal.

“Nggak ada yang liat.”

“Aku yang liat.”

Dia menghela napas dan duduk di kursi seberang, dan menaruh kakinya di sandaran kursi karena dia memang selalu duduk seperti itu di rumah.

“Kalau gitu dua-duanya di kamar,” katanya.

Aku menutup laptop.

“Evelyn—“

“Bukan gitu.” Dia mengangkat tangan cepat. “Astaga. Bukan gitu.”

“Aku nggak mikir gitu.”

“Kamu pasti mikir gitu.”

“Enggak.”

“Ya kan aku yang ngomong duluan jadi aku yang malu duluan.” Dia menutup wajah dengan satu tangan. “Maksud aku, kasurnya gede. Ada dua bantal. Ada... ya, ada jarak.”

“Jarak.”

“Iya.”

“Berapa senti?”

“Mas.”

“Aku cuma nanya spesifikasi.”

“Kamu nyebelin banget ya ternyata.”

“Baru tau?”

“Baru tau.” Dia melempar bantal kursi ke arahku dan meleset satu meter, yang membuat kami berdua diam sebentar untuk menghormati betapa jeleknya lemparan itu.


Kami menghabiskan dua puluh menit berikutnya untuk hal yang paling bodoh.

“Bantal kamu yang mana?”

“Terserah.”

“Jangan terserah, Mas. Nanti kamu ambil yang aku pakai terus kamu diem aja setahun.”

“Aku nggak akan diem setahun.”

“Kamu bakal diem setahun.”

Aku mengambil bantal yang paling dekat. “Ini.”

“Itu punya aku.”

“Kamu bilang terserah.”

“Aku bilang jangan terserah.”

“Kamu yang bilang terserah duluan.”

“Astaga.” Dia menarik bantal itu dari tanganku dan mendorong yang satunya ke dadaku. “Ini punya kamu. Yang ini punya aku. Selesai. Jangan dibahas lagi seumur hidup.”

“Iya.”

“Terus AC-nya berapa?”

“Dua puluh empat.”

“DUA PULUH EMPAT?”

“Kenapa?”

“Itu bukan AC, Mas, itu penghangat ruangan.”

“Aku kalau kedinginan nggak bisa tidur.”

“Aku kalau kepanasan nggak bisa tidur.”

Kami saling menatap.

“Dua puluh dua,” kataku.

“Dua puluh satu.”

“Dua puluh dua, tapi kamu boleh ambil selimut aku.”

Dia mempertimbangkan itu sekitar tiga detik.

“Deal.”

Dan begitulah cara kami menegosiasikan malam pertama kami tidur di ruangan yang sama, tiga minggu setelah menikah: suhu AC dan kepemilikan bantal.


Malam itu aku tidur di kamar untuk pertama kalinya.

Kami membagi kasur seperti dua negara yang baru menandatangani sesuatu. Dia di sisi kiri, dekat jendela. Aku di kanan, dekat pintu. Ada guling di tengah, yang tidak dibicarakan tapi ditaruh olehnya dengan sangat sengaja waktu aku sedang di kamar mandi.

Lampu dimatikan jam sebelas.

Aku berbaring lurus, tangan di samping badan, seperti orang yang sedang difoto rontgen.

Ada delapan puluh sentimeter dan satu guling di antara kami, dan aku bisa mendengar dia bernapas, dan aku menyadari bahwa aku belum pernah mendengar orang lain bernapas di ruangan yang sama sejak aku umur enam tahun dan Rena masih ditaruh di kamarku.

Aku tidak akan tidur malam ini, pikirku.

“Mas.”

“Hm.”

“Makasih ya.”

“Buat apa.”

“Buat tiga minggu.”

Aku menatap langit-langit.

“Nggak usah.”

“Kenapa nggak usah?”

“Karena kalau kamu makasih, artinya kamu ngerasa punya utang.” Aku menarik selimut sedikit. “Kamu nggak punya utang sama aku.”

Hening.

Cukup lama sampai aku pikir dia sudah tidur.

Lalu suaranya datang, pelan sekali, dari sisi lain guling.

“Aku selalu ngerasa punya utang sama semua orang.”

Aku tidak bergerak.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak tau.”

Aku menunggu.

“Aku pernah bikin orang nelen sesuatu yang gede banget,” katanya. “Terus nggak ada hasilnya. Jadi sekarang tiap ada orang baik ke aku, aku langsung ngitung.”

Aku berbaring di kegelapan dengan mata terbuka.

Ada tiga hal yang bisa kukatakan.

Yang pertama: itu bukan salah kamu.

Yang kedua: siapa? — yang bodoh, karena aku tahu siapa.

Yang ketiga adalah yang benar. Yang ketiga adalah: aku nggak baik sama kamu karena kasihan. Aku baik sama kamu karena aku pengen.

Aku memilih yang keempat.

“Tidur, Evelyn.”

“Iya.”

Dia berbalik menghadap jendela.

Aku menghitung napasnya sampai berubah jadi napas orang tidur, sekitar sebelas menit, lalu berbaring terjaga selama dua jam lagi.

Aku tidur akhirnya, dan aku bangun jam lima seperti biasa, dan aku menyeduh dua gelas.

Waktu aku kembali ke kamar untuk mengambil dompet, dia masih tidur.

Guling di tengah sudah bergeser ke bawah, ke arah kaki, karena entah dia yang mendorongnya atau karena benda itu memang tidak bisa disuruh diam semalaman.

Delapan puluh sentimeter tadi malam sudah tinggal mungkin empat puluh.

Aku berdiri di pintu kamar selama beberapa detik dengan dompet di tangan.

Lalu aku masuk, mengangkat guling itu, dan mengembalikannya ke tengah.

Aku merapikannya sampai lurus.

Aku ingin menuliskan alasannya dengan jujur dan aku tidak bisa, karena waktu itu aku betul-betul tidak tahu. Aku baru mengerti berbulan-bulan kemudian: aku memindahkannya supaya waktu dia bangun, dia tidak menemukan jaraknya sudah berkurang dan mengira itu ulahku.

Aku pergi kerja jam setengah enam.

Malamnya, waktu aku pulang, guling itu sudah di tengah, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutnya.