Chapter Twenty Four
Membaca Ulang
POV: Evelyn
Rena pulang jam satu.
Mas Azzam pulang jam delapan lewat.
Di antara keduanya ada tujuh jam, dan aku menghabiskan tujuh jam itu melakukan satu hal yang paling kukuasai di dunia.
Aku membaca ulang.
Ini pekerjaanku. Aku ingin menjelaskannya dulu supaya masuk akal.
Kalau sebuah naskah ada masalah di bab tiga puluh, masalahnya hampir tidak pernah ada di bab tiga puluh. Masalahnya ditanam di bab empat dan baru meledak dua puluh enam bab kemudian.
Jadi yang kulakukan adalah membaca ulang dari awal, dengan satu informasi baru di kepala, dan setiap kalimat berubah artinya.
Itu bukan kiasan. Itu benar-benar terjadi. Kalimat yang sama, huruf yang sama persis, dan artinya berbeda karena kamu sekarang tahu sesuatu yang tadinya tidak.
Aku duduk di lantai dapur itu, lalu pindah ke sofa, lalu ke meja makan, dan aku membaca ulang sebelas bulan.
Malam pertama.
Sofa panjangnya seratus enam puluh sentimeter. Tinggi badannya seratus tujuh puluh delapan.
Aku selalu menganggap itu bukti bahwa dia tidak menginginkanku.
Aku membacanya ulang dan aku melihat orang yang membentangkan sprei sebelum aku keluar kamar, supaya aku tidak perlu mengucapkan empat kalimat yang sudah kuhafal dua hari.
Dia sudah memutuskan lebih dulu, dan aku benar soal itu.
Aku cuma salah soal apa yang dia putuskan.
Tiga minggu di sofa.
Setiap pagi selimutnya dilipat jadi persegi yang sudutnya ketemu semua.
Label harga di selimut itu masih menempel sampai minggu ketiga.
Artinya dia beli selimut itu untuk tidur di sofa.
Artinya dia sudah tahu dia akan tidur di sofa sebelum malam pertama, dan dia membelinya sendiri, dan dia tidak memberitahuku, dan dia tidak menaruhnya di tempat yang kelihatan.
Guling.
Setiap pagi guling itu ada di tengah.
Aku selalu berpikir itu kebetulan. Bantal dan guling memang bergerak sendiri kalau orang tidur.
Guling tidak bergerak sendiri kembali ke tengah setiap pagi selama delapan bulan.
Aku duduk di meja makan jam tiga sore dan mengerti bahwa laki-laki itu bangun jam lima setiap pagi, dan sebelum menyeduh dua gelas, dia meletakkan sebuah guling kembali ke tengah kasur supaya aku tidak bangun dan menemukan jaraknya berkurang dan mengira itu ulahnya.
Delapan bulan.
Bawang goreng.
Aku selalu bilang: dia orang yang memperhatikan, itu profesinya.
Tapi dia tidak pernah memisahkan bawang goreng dari piring siapa pun selain aku. Aku sudah makan bersamanya dan Rena puluhan kali. Rena dapat bawangnya.
Lampu meja.
Rumah kosong waktu serah terima. Rena yang bilang.
Yang artinya seseorang membeli lampu meja yang bisa diatur hangat atau putih, dan memasangnya di kamar, dan memasang stopkontak tambahan di bawahnya, sebelum aku pindah ke sana.
Untuk perempuan yang kerjanya mengedit sampai malam.
Yang belum pernah sekali pun mengeluh soal pencahayaan di depannya.
Sakit.
Jam dua pagi, delapan bulan menikah, tiga puluh sembilan koma dua.
Aku ingat aku menyentuh dahinya dan aku ingat berpikir betapa panasnya.
Aku tidak ingat berpikir bahwa itu pertama kalinya aku menyentuhnya.
Dia yang menghitung. Aku tahu dia yang menghitung karena orang seperti dia menghitung semua hal, dan karena malam itu dia berbaring kaku seperti papan dan aku menyuruhnya rileks dan dia bilang itu memang bentuk badannya.
Delapan bulan tinggal serumah dan istrinya menyentuhnya untuk pertama kali karena dia demam.
Drama.
“Kenapa Seo-yeon nggak sadar-sadar sih?”
Dia menanyakan itu ke aku. Duduk di sofa. Sambil sakit.
Dan aku menjawab, dengan mulut penuh keripik, bahwa Ha-jun terlalu jago menyembunyikannya, dan kalau kamu terlalu jago orang tidak akan pernah mencari.
Dia bilang “iya.”
Aku bertanya kenapa dan dia bilang nggak apa-apa.
Jam empat sore aku berhenti dan pergi ke kamar mandi dan muntah.
Aku menuliskannya karena itu terjadi, dan karena kalau aku menghilangkannya nanti bagian ini terdengar seperti orang yang sedang tersentuh.
Aku tidak sedang tersentuh.
Yang menghantam bukan yang manis.
Yang manis justru bisa kutanggung. Guling, lampu, bawang goreng — itu berat, tapi itu jenis berat yang bisa kubawa.
Yang menghantam adalah waktu aku sampai ke bagian aku.
Kardus.
Aku membacanya ulang dan aku melihat diriku berdiri di keset dengan satu sepatu lepas, menyusun kalimat, dan memilih menjadikan seluruh kejadian itu biasa.
Aku ingat aku bangga pada diriku sendiri malam itu. Aku ingat aku berpikir: aku handle ini dengan baik.
Dia merapikan barang laki-laki lain di rumahnya sendiri, mengembalikannya ke posisi yang tidak kelihatan dari pintu, dan bilang simpan saja.
Dan aku tidur dalam tiga menit.
Malam hujan.
Delapan jam lima belas menit sebelum aku meneleponnya.
Aku menghitungnya sendiri sekarang, jam lima sore, di meja makan. Aku masuk parkiran jam sebelas kurang. Aku menelepon jam tujuh lewat.
Dia bukan orang pertama yang kuhubungi.
Dia bahkan bukan orang kelima. Aku duduk di sana berjam-jam mencari cara lain untuk pulang.
Dan dia datang tiga puluh empat menit padahal bilang empat puluh, dan dia meminjam motor temannya supaya bisa membawa mobilku pulang, dan dia membelikan roti, dan dia bilang “hati-hati kepalanya.”
Dan sepanjang lima puluh menit itu aku menunggu dia bertanya, dan waktu dia tidak bertanya aku kesal, dan waktu kami masuk kompleks aku berharap dia marah.
Aku duduk di mobilnya, pulang dari menemui laki-laki lain, dan berharap suamiku marah supaya aku bisa merasa dia peduli.
”Kamu nggak perlu buru-buru.”
Dan aku lega.
Aku duduk di sofa itu dan bahuku turun dan aku tersenyum dan bilang makasih.
Jam setengah lima aku melakukan satu hal yang tidak bisa kutahan.
Aku pergi ke gudang.
Aku menggeser dua kardus besar. Aku menggeser karung yang selalu ada di posisi yang sama.
Kardus sepatu itu di sudut, selotipnya menghadap dinding.
Aku sudah memutarnya menghadap keluar berbulan-bulan lalu, supaya lebih cepat kutemukan.
Dia memutarnya kembali.
Aku berdiri di gudang itu dan mengerti bahwa laki-laki itu masuk ke sini setelah aku, melihat bahwa aku sudah memindahkannya, dan mengembalikannya persis ke posisi semula supaya aku tidak tahu dia tahu.
Dia bahkan menggeser karungnya kembali.
Aku menutup pintu gudang dan tidak menyentuh apa pun.
Jam enam sore aku menelepon Vira.
Dia mengangkat di dering pertama karena dia selalu mengangkat di dering pertama.
“Vie?”
“Vir.”
“Kamu kenapa.”
Dan aku tidak bisa bicara selama mungkin lima belas detik, dan Vira tidak menutup telepon dan tidak bertanya lagi, cuma bilang “aku di sini” dua kali.
“Vir, dia suka sama aku,” kataku akhirnya.
“Siapa.”
“Mas Azzam.”
Hening di seberang.
Bukan hening kaget.
“Vira.”
“...Iya.”
“Kamu udah tau.”
“Enggak,” katanya cepat. “Enggak, aku nggak tau. Sumpah aku nggak tau.”
“Vira.”
“Aku nggak tau, Vie. Aku cuma—“ Dia berhenti. “Aku pernah mikir. Sekali. Waktu kamu cerita soal kardus itu.”
“Terus kenapa kamu nggak bilang?”
“Aku bilang.”
Dan aku menutup mata, karena dia benar.
Atau kamu bakal bilang ‘simpen aja’ sambil pengen mati.
Dia mengatakannya. Persis. Delapan bulan lalu, di meja makan siang, dan aku bilang orang seperti itu tidak ada.
“Vie.”
“Iya.”
“Sembilan tahun?”
“Sembilan tahun.”
Vira menarik napas panjang di seberang sana.
“Aku mau ngomong satu hal,” katanya, “dan aku mau kamu jangan marah.”
“Ngomong aja.”
“Kamu bukan orang jahat.”
“Vir—“
“Aku serius, Evie.” Suaranya keras dan jelas. “Dengerin aku. Orang jahat itu tau dia lagi nyakitin orang terus dia terusin. Kamu nggak tau. Kamu nggak dikasih tau. Ada orang yang mutusin buat nggak ngasih tau kamu.”
“Aku harusnya sadar sendiri.”
“Sembilan tahun dia latihan nyembunyiin itu dari semua orang, Vie. Kamu nggak akan sadar.”
Aku duduk di lantai kamar mandi dengan ponsel di telinga.
“Vir.”
“Hm.”
“Terus aku harus gimana?”
Dan Vira, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun aku mengenalnya, tidak punya jawaban.
“Vie.”
“Iya.”
“Kamu sekarang ngerasa gimana ke dia?”
Dan aku duduk di lantai kamar mandi dan mencoba menjawab dengan jujur, dan tidak bisa.
“Aku nggak tau,” kataku. “Aku nggak bisa misahin.”
“Misahin apa?”
“Rasa bersalah sama... “ Aku berhenti. “Aku nggak tau yang mana yang mana, Vir.”
Vira diam lama.
“Ya udah,” katanya. “Jangan buru-buru misahin.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu maksain sekarang, kamu bakal nyimpulin yang salah. Terus kamu bakal ngelakuin sesuatu yang gede berdasarkan kesimpulan yang salah.” Ada suara dia menarik kursi. “Kamu tuh kalau panik selalu bikin keputusan besar, Vie. Kamu bilang ‘boleh’ dalam lima detik.”
Aku menutup mata.
“Jadi aku harus gimana.”
“Sekarang? Nggak usah ngapa-ngapain.”
“Vir.”
“Aku serius. Malam ini jangan ngomong apa-apa ke dia.”
“Kenapa?”
“Karena kamu belum tau kamu mau ngomong apa,” kata Vira. “Dan dia udah nunggu sembilan tahun. Dia bisa nunggu semalam lagi.”
Dia pulang jam delapan lewat sembilan.
Aku sudah mandi. Aku sudah menyisir rambut. Aku sudah menaruh dua gelas di meja karena aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku, dan menyeduh sesuatu adalah satu-satunya hal yang bisa kupikirkan, dan aku baru sadar setelah selesai bahwa aku baru saja menyeduhkan teh untuknya padahal dia minum kopi.
Kunci di pintu.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dia masuk, meletakkan tas, melepas sepatu, dan berhenti.
“Kamu belum makan?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Nunggu kamu.”
Dia mengangguk seperti itu jawaban yang paling biasa di dunia, karena memang itu aturan kami, karena aku sendiri yang membuatnya sebelas bulan lalu.
Dia melihat dua gelas di meja.
“Ini apa?”
“Teh.”
“Dua-duanya?”
“Iya.”
Dia menatap gelas itu.
Lalu dia menatapku.
Dan aku berdiri di dapur dan menyadari bahwa aku belum siap sama sekali — bahwa aku sudah punya tujuh jam dan aku tidak menyiapkan satu kalimat pun, aku yang selalu menyiapkan empat kalimat dan tiga skenario cadangan.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
Dan aku, dengan mata yang sudah bengkak sejak jam satu siang dan suara yang tidak bisa kupercaya, bilang:
“Nggak apa-apa.”
Dia berdiri di sana beberapa detik.
Lalu dia mengambil gelas teh itu, gelas yang salah, yang tidak dia minum sejak umur dua puluh, dan duduk di meja makan.
“Ya udah,” katanya. “Makan yuk.”
Dan dia meminumnya sampai habis.
Dan aku duduk di seberangnya dan menonton itu terjadi, dan aku tahu persis apa yang barusan kuucapkan, dan aku tahu persis siapa yang pernah dititipi kalimat untuk tidak mempercayainya.
Tante cuma minta kamu jangan percaya kalau dia bilang nggak apa-apa.
Aku tidak tahu itu waktu itu. Aku baru tahu berbulan-bulan kemudian.
Yang kutahu malam itu cuma satu hal: dia percaya.
- 1 Makan Malam yang Sudah Diatur
- 2 Yang Sudah Mereka Telan
- 3 Kita Sama-Sama Nggak Punya Pilihan
- 4 Orang yang Ditelepon Kalau Semua Kacau
- 5 Empat Kata
- 6 Dua Sentimeter
- 7 Keputusan yang Harus Diambil Ulang Setiap Hari
- 8 Seminggu
- 9 Wali Hakim
- 10 Sofa
- 11 Tiga Minggu Pertama
- 12 2022 – 2024
- 13 Isi
- 14 Simpan Saja
- 15 Hal yang Tidak Pernah Ditanyakan Siapa Pun
- 16 Aku Cerita Semuanya
- 17 Tiga Puluh Sembilan Koma Dua
- 18 Hal-Hal Kecil
- 19 Kamu Nggak Perlu Buru-Buru
- 20 Yang Tidak Pernah Ditanyakan
- 21 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 22 Papan Caturnya Memang Miring
- 23 Sembilan Tahun
- 24 Membaca Ulang reading
- 25 Tempat Sampah di Ujung Gang
- 26 Aku Nggak Butuh Dikasihani
- 27 Dua Puluh Halaman Kosong
- 28 Tanya Langsung ke Orangnya
- 29 Tujuh Puluh Empat Juta
- 30 Setahun
- 31 Pagi
- 32 Simpan Saja (2)
- 33 Dua
- 34 Orang Terakhir yang Harus Kuhubungi
- 35 Delapan Puluh Meter
- 36 Pagar
- 37 Delapan Menit
- 38 Kalian Berdua
- 39 Simpan Saja (3)
- 40 Sampai Kau Berhenti Menoleh
- 41 Extra 1: Sebelas Menit
- 42 Extra 2: Perkara Sendok
- 43 Extra 3: Rendang
- 44 Extra 4: Namanya Bagas
- 45 Extra 5: Nggak Ke Mana-Mana
- 46 Extra 6: Dua Garis