Chapter Nine
Asher
POV: Bumi
Aku tahu materi berikutnya sebelum dia mengumumkannya. Tentu saja aku tahu. Aku punya urutannya di kepala sejak sesi pertama, dan aku sudah menghabiskan tiga minggu terakhir berpura-pura tidak punya.
Tapi tetap saja, waktu dia bilang, aku merasa seperti orang yang tahu ada tangga terakhir di tangga gelap dan tetap tersandung.
“Pelukan,” katanya.
“Enggak.”
“Kamu selalu—“
“Gue tau. Gue selalu bilang enggak dulu.”
“Terus alasannya apa?”
Aku memutar gelasku setengah lingkaran.
Alasannya adalah gue bakal inget ini sampai gue mati.
“Nggak ada,” kataku.
“Nah.”
Kami tidak bisa melakukannya di kafe. Itu satu-satunya hal yang berhasil kuperjuangkan.
“Kenapa nggak boleh di sini?”
“Karena ada bapak-bapak koran, ada tiga meja isi, dan ada mbak kasir yang udah nanya dua kali ke temennya siapa lo.”
“Ya terus di mana?”
Jadi kami pindah ke taman kecil di belakang kompleks ruko, yang sebenarnya bukan taman, cuma sepetak rumput dengan dua bangku besi dan satu tiang listrik yang lampunya mati sebelah.
Jam setengah enam. Langit sudah oranye.
Dia berdiri di depanku, meremas tali tasnya, dan sekarang giliran dia yang mengulur waktu.
“Aurora.”
“Bentar.”
“Lo yang minta.”
“Iya aku tau, tapi kan—“ Dia mengibaskan tangan di depan wajah. “Duh. Kenapa ini lebih serem dari pegangan tangan.”
“Karena ini lebih deket.”
“Cuma itu?”
“Cuma itu.” Aku memasukkan tangan ke saku. “Nggak ada yang misterius. Peluk itu cuma pegangan tangan yang jaraknya nol.”
Dia menatapku.
“Kamu tuh,” katanya, “ngerusak semua hal romantis di dunia.”
“Gue nggak ngerusak. Gue ngejelasin.”
“Sama aja.”
“Beda tipis.”
Dia menarik napas panjang, menutup mata, dan maju.
Dan berhenti sekitar dua puluh sentimeter dari aku, dengan dua tangan setengah terangkat, seperti orang yang mau memeluk pohon dan berubah pikiran.
Aku menunggu.
Dia tidak bergerak.
“Aurora.”
“Aku nggak bisa.”
“Kenapa.”
“Aku nggak tau tangannya harus di mana!”
“Di punggung.”
“Punggung sebelah mana?”
“Punggung.” Aku mengeluarkan tangan dari saku. “Ada berapa punggung yang lo tau?”
“BUM.”
Dan entah bagaimana — dan ini bagian yang tidak akan pernah bisa kujelaskan dengan urutan yang benar — dia menyerah pada rencana, maju satu langkah, dan menabrak dadaku dengan dahinya.
Bukan pelukan. Tabrakan.
“Aduh.”
“Sori.”
“Kenapa lo pakai kepala.”
“Aku panik!”
“Lo panik terus lo nanduk gue?”
“Aku nggak nanduk!”
“Gue merasakan tanduk.”
Dia mengangkat kepalanya dan aku melihat wajahnya dari jarak yang belum pernah kulihat sebelumnya, dan aku melakukan hal yang paling masuk akal dalam situasi itu, yaitu melihat ke tiang listrik yang lampunya mati sebelah.
“Oke,” katanya. “Ulang. Serius.”
“Ulang.”
Dan kali ini dia melakukannya.
Tangannya melingkar di pinggangku, kepalanya di dada, dan seluruh berat badannya bersandar ke depan sekitar sepuluh persen — yang terdengar sedikit, tapi sepuluh persen dari seseorang yang selama dua tahun tidak pernah menyentuhmu lebih dari punggung tangan adalah angka yang cukup untuk membuat orang lupa cara berdiri.
Aku menaruh tanganku di punggungnya.
Ini bukan buat gue.
Aku tahu ini bukan buat aku.
Aku tetap menghitung berapa lama.
“Bum.”
“Hm.”
“Jantung kamu kenceng banget.”
Aku berhenti bernapas selama satu detik penuh.
“Habis jalan.”
“Kita jalan dua puluh meter.”
“Gue nggak fit.”
“Kamu ikut ekskul basket dua tahun.”
“Gue cadangan.”
“Bum.”
“Aurora, kalau lo mau ngevaluasi jantung gue, itu di luar materi hari ini.”
Dia tertawa, dan tawanya terasa di dadaku sebelum terdengar di telingaku, dan itu adalah informasi baru tentang dunia yang tidak pernah kuminta.
Dia bertahan tiga menit, lalu mundur, lalu mengipasi wajahnya sendiri.
“Oke. Oke, aku bisa. Aku BISA.”
“Lo bisa.”
“Aku nggak pingsan.”
“Standarnya rendah, tapi iya.”
“Bum, ini progres besar.” Dia menunjuk dadanya sendiri. “Tiga bulan lalu aku nggak bisa ngomong ‘halo’.”
Dan dia benar. Itu yang paling aneh dari semuanya — dia benar-benar berkembang. Aku melihatnya minggu demi minggu, dari orang yang rontok di kalimat ketiga jadi orang yang bisa memeluk seseorang selama tiga menit tanpa gemetar.
Aku yang melatihnya. Setiap minggu. Dengan sistem, dengan aturan, dengan margin catatan.
Kalau nanti dia berhasil, itu karena aku.
Itu kalimat yang paling menyedihkan yang pernah aku pikirkan tentang diriku sendiri, dan aku memikirkannya sambil berdiri di rumput dengan tangan yang masih hangat.
“Sekali lagi,” katanya.
“Tiga menit tadi cukup.”
“Sekali lagi, terus aku pulang.”
“Kenapa harus dua kali?”
“Karena yang pertama aku panik, jadi aku nggak sempet merhatiin rasanya gimana.” Dia sudah maju setengah langkah. “Kalau aku nggak tau rasanya gimana, aku nggak bisa siap.”
“Lo mau ngukur rasanya.”
“Iya.”
“Aurora, itu bukan hal yang bisa diukur.”
“Semua bisa diukur. Kamu yang ngajarin.”
“Gue nggak pernah ngajarin itu.”
“Kamu bawa spreadsheet ke mana-mana.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu, dan aku mencatat dalam hati bahwa senjata yang kuberikan padanya sepuluh bulan lalu sekarang dipakai untuk membongkar aku sendiri, mingguan, tanpa dia sadari.
Jadi sekali lagi.
Dan di pelukan kedua, dia lebih tenang. Napasnya normal. Tangannya tidak kaku. Dia bahkan bergerak sedikit, menyesuaikan posisi, mencari yang lebih nyaman — dan menemukannya, dengan kepala miring di bahuku alih-alih di dada.
Beberapa detik berlalu.
Lalu dia bicara, pelan, dengan suara orang yang setengah tidak sadar sedang bicara:
“Makasih ya, Asher.”
Aku tidak bergerak.
Tidak ada yang memanggilku begitu. Bukan orang tuaku. Bukan Fandi. Bukan guru, bukan absen, bukan siapa pun. Nama tengahku ada di akta dan di ijazah dan tidak pernah di mulut siapa pun selama tujuh belas tahun.
“Apa?”
Dia mundur, dan wajahnya langsung berubah.
“Ya ampun. Sori. Sori, aku nggak sengaja.”
“Lo tau nama tengah gue?”
“Ada di daftar hadir OSIS kelas sepuluh.” Dia menutup wajah. “Aku baca sekali. Setahun lalu. Aku nggak tau kenapa itu yang keluar.”
“Oh.”
“Aku beneran nggak sengaja, Bum. Aneh banget ya.”
“Nggak aneh.”
“Aneh.”
“Aurora.” Aku memungut tasku dari bangku. “Nggak aneh.”
Kami jalan ke halte dan dia terus meminta maaf sampai dua tiang listrik, dan aku terus bilang tidak apa-apa, dan akhirnya dia berhenti dan bilang, “Ya udah. Tapi jangan dipake ya. Aku nggak mau kamu risih.”
“Gue nggak risih.”
“Tetep. Nggak usah dipake.”
Jadi tidak dipakai. Selama sisa SMA, selama tiga tahun setelahnya, nama itu tidak keluar dari mulutnya lagi.
Tiga tahun kemudian dia akan berdiri di depanku di parkiran kampus, basah karena hujan, dan dia akan memakainya lagi. Sekali. Dan aku akan kehilangan seluruh argumen yang sudah kususun selama enam bulan hanya karena dua suku kata.
Tapi malam itu dia cuma naik bus dan melambai.
Fandi menelepon jam sembilan.
“Gimana sesinya?”
“Biasa.”
“Bum.”
“Apa.”
“Suara lo aneh.”
“Suara gue selalu gini.”
“Iya, tapi ada versi-versi.” Aku bisa mendengar dia mengunyah sesuatu. “Ini versi yang kayak abis kejatuhan atap.”
Aku duduk di tepi kasur dan memandangi tas yang belum kubuka.
“Dia manggil gue Asher,” kataku.
Fandi berhenti mengunyah.
“Terus?”
“Terus dia minta maaf.”
“Terus?”
“Terus dia bilang jangan dipake lagi.”
Hening di seberang cukup lama sampai aku sempat mengira sambungannya putus.
“Bum,” kata Fandi akhirnya, dan suaranya berbeda. “Gue mau nanya satu hal, dan gue mau lo jawab jujur.”
“Apa.”
“Lo bahagia nggak?”
Aku memandangi tas itu. Di dalamnya ada payung kedua yang tidak terpakai hari itu, lembar rubrik dengan margin yang penuh, dan buku catatan berisi empat kata.
“Iya,” kataku.
“Bum.”
“Gue serius.”
“Itu yang bikin gue takut.” Fandi diam sebentar. “Orang yang nggak bahagia itu gampang. Dia bakal capek sendiri terus berhenti sendiri. Yang bahaya itu orang yang bahagia di tempat yang salah. Dia nggak akan pergi. Dia bakal betah.”
“Lo dapet kalimat itu dari mana?”
“Gue karang barusan.”
“Bagus.”
“Gue tau.” Aku mendengar bungkus dibuka lagi. “Bum, gue nggak nyuruh lo ngomong. Gue cuma pengen lo tau bedanya antara sabar sama nyerah, soalnya dari luar itu mirip banget.”
Aku menutup telepon setelah bilang iya, dan aku duduk di tepi kasur sekitar lima menit lagi tanpa membuka tas.
Dan yang paling buruk dari semuanya adalah bahwa aku tidak sedang berbohong.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher reading
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu