← Latihan Dulu

Chapter One

Orang yang Tidak Menoleh

POV: Bumi

Ada satu cara mudah untuk tahu dia sudah masuk kelas tanpa perlu mengangkat kepala.

Suara ruangan turun. Bukan berhenti — turun. Seperti ada yang memutar tombol volume ke bawah tiga tingkat, lalu lupa memutarnya balik. Obrolan tentang tugas fisika masih jalan, tapi setengah oktaf lebih pelan. Anak-anak di barisan jendela yang tadi ribut soal siapa yang harus bayar bakso mendadak menemukan kesopanan yang tidak mereka punya lima detik sebelumnya.

Aku hitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga.

“Pagi.”

Empat orang menjawab. Tidak ada yang saling janjian, tapi mereka menjawab barengan, dan tiga di antaranya menjawab terlalu keras.

Aku tetap menunduk ke buku catatan. Bukan karena sok cuek. Ini metode. Aku sudah menghitungnya bertahun-tahun: kalau aku mengangkat kepala setiap kali dia masuk ruangan, dalam satu hari aku akan mengangkat kepala rata-rata sebelas kali, dan dalam satu semester itu jadi angka yang bikin aku ingin memukul diri sendiri.

Jadi aku tidak menoleh. Itu satu-satunya bagian dari diriku yang masih bisa kuatur.

“Bum.” Fandi menendang kaki kursiku dari belakang. “Bum.”

“Apa.”

“Lo nggak liat?”

“Enggak.”

“Lo bahkan nggak tau apa yang gue omongin.”

“Gue tau.”

Fandi diam sebentar. Lalu, dengan nada orang yang baru menemukan bukti di pengadilan, “Nah. Itu.”

Aku membalik halaman buku catatan yang sebenarnya tidak perlu dibalik.

Itu juga bagian dari metode. Kalau kamu selalu tahu tanpa pernah melihat, orang akan curiga. Aku belum menemukan cara memperbaiki celah ini.


Namanya disebut dua kali di pelajaran pertama, dan dua-duanya bukan karena dia bikin salah.

Pak Danu sedang membacakan absen. Sampai di namanya, beliau berhenti setengah detik lebih lama dari yang beliau lakukan untuk dua puluh sembilan nama lain, lalu bilang, “Hadir, ya. Iya. Hadir.” Padahal belum ada yang menjawab.

Anak-anak tertawa. Pak Danu batuk. Absen dilanjutkan.

Yang kedua waktu ada tugas kelompok, dan tiga kelompok sekaligus mengangkat tangan menawarkan tempat kosong. Padahal dua di antaranya sudah penuh.

Aku tidak mengangkat tangan. Kelompokku juga penuh. Perbedaannya, aku bilang begitu.

Ini yang orang tidak paham soal dia: semua orang ingin berada di dekatnya, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berani benar-benar berbicara dengannya. Mereka menawarkan kursi, membawakan barang, memuji hal-hal yang tidak perlu dipuji. Tapi kalau dia bertanya balik — kalau dia benar-benar menoleh dan bertanya “kenapa?” — mereka menguap.

Aku pernah melihat seorang anak kelas sebelah berlatih tiga hari untuk bertanya jam berapa acara pensi mulai. Tiga hari. Fandi yang cerita, dan Fandi tidak berbohong soal hal-hal begini. Anak itu akhirnya bertanya, dia menjawab jam empat, dan anak itu bilang “oke” lalu berjalan ke arah yang salah selama dua puluh meter sebelum sadar.

Semua orang menatapnya. Tidak ada yang bicara dengannya.

Jadi tinggal aku.

Bukan karena aku istimewa. Karena aku sudah selesai berharap.

“Gue punya teori,” kata Fandi waktu kami jalan ke kantin.

“Gue nggak minta.”

“Teori gue namanya Teori Pagar Listrik.”

“Gue beneran nggak minta.”

“Jadi gini.” Fandi mengangkat dua tangan seperti orang yang mau menjelaskan diagram yang tidak ada. “Ada rumah bagus banget. Bagus banget, Bum. Terus di depannya ada pagar listrik. Semua orang berdiri jauh-jauh sambil bilang ‘wah bagus ya rumahnya’. Padahal pagarnya nggak nyala. Nggak pernah nyala. Nggak ada yang berani ngecek.”

“Terus.”

“Terus lo tinggal di dalem rumahnya, ngitungin tagihan listrik yang nggak lo pake.”

Aku berhenti jalan.

“Itu analogi paling buruk yang pernah gue denger.”

“Tapi lo ngerti.”

“Ngerti bukan berarti bagus.”

“Bum.” Fandi menepuk bahuku dua kali, terlalu keras, seperti orang yang sedang menutup peti mati dengan sopan. “Suatu hari nanti gue mau ada di ruangan waktu lo akhirnya ngaku. Gue mau bawa camilan.”

“Nggak akan ada ruangan itu.”

“Ya udah. Camilannya tetep gue bawa.”


Perpustakaan jam istirahat kedua, meja paling ujung dekat rak referensi. Aku duduk di sebelah kiri, seperti biasa, karena kursi sebelah kanan selalu dia pakai.

Sudah setahun lebih begini dan tidak ada yang pernah membicarakannya. Kami tidak janjian. Kursi itu memang cuma ada dua di meja itu, dan orang lain jarang ke sana karena rak referensi baunya seperti kertas yang menyerah.

“Kamu udah makan?” katanya, menaruh tas.

“Udah.”

“Bohong.”

“Iya.”

“Kenapa kamu selalu ngaku secepet itu, sih.” Dia menghela napas dan mengeluarkan roti dari tasnya, lalu menaruhnya di depanku tanpa bertanya. Roti cokelat. Selalu cokelat, karena dia pernah tanya sekali, dua tahun lalu, dan aku menjawab cokelat, dan dia tidak pernah lupa.

Ini bagian yang paling susah dijelaskan ke Fandi. Dia perhatian. Bukan sedikit — banyak. Dia ingat hal-hal kecil, dia bawa dua roti setiap hari, dia berhenti bicara kalau aku sedang menghitung sesuatu. Kalau dia jahat, semuanya akan jauh lebih gampang.

“Ini gue bayar.” Aku mengeluarkan dompet.

“Nggak usah.”

“Dua ribu.”

“Bumi.”

“Seribu lima ratus. Itu udah harga grosir.”

Dia menatapku beberapa detik. Lalu tertawa — pelan, karena perpustakaan, satu tangan menutup mulut. Ada satu meja di seberang yang langsung mengangkat kepala mencari sumber suaranya.

“Kamu tuh,” katanya, “kayak orang yang ngitungin utang sama nyokap sendiri.”

“Nyokap gue emang gue itungin.”

“Serius?”

“Ada spreadsheet-nya.”

“Bumi.” Dia menutup wajah dengan buku. Bahunya bergetar. Meja di seberang mengangkat kepala lagi.

Aku membuka roti cokelat itu dan memakannya, dan tidak melihat ke kanan sama sekali.

Sebelas kali sehari. Aku sudah hitung. Kalau aku mulai menoleh sekarang, aku tidak akan bisa berhenti.


Dia diam agak lama setelah itu.

Aku tahu bentuk diamnya. Ada diam yang artinya dia sedang membaca, dan ada diam yang artinya dia sedang menyusun kalimat di kepalanya, mencoba dua atau tiga versi, membuang semuanya. Yang kedua ini bunyinya beda. Napasnya lebih pendek.

Aku menunggu. Aku selalu menunggu. Itu keahlian yang tidak pernah kucantumkan di mana-mana.

“Bum.”

“Hm.”

“Kalau misalnya,” katanya, dan berhenti.

“Misalnya.”

“Kalau misalnya ada orang yang suka sama orang lain.” Dia membalik halaman bukunya, padahal aku yakin dia belum membaca satu kata pun di halaman itu. “Terus dia nggak tau harus gimana. Sama sekali. Kayak, nol. Kamu ngerti nggak?”

“Ngerti.”

“Kamu ngerti banget atau ngerti sopan doang?”

Aku ngerti banget.

“Ngerti,” kataku.

Dia menaruh bukunya. Aku merasakan dia menoleh ke arahku, dan aku tetap memandang ke depan, ke rak referensi, ke punggung buku ensiklopedia terbitan 1998 yang tidak pernah dipinjam siapa pun.

“Aku suka Kak Bagas,” katanya.

Rak referensi itu ada delapan susun. Yang paling atas isinya kamus. Aku tahu karena aku pernah menghitungnya waktu menunggu dia selesai fotokopi, dan sekarang aku menghitungnya lagi, dari bawah ke atas, satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan.

“Oh,” kataku.

“Cuma ‘oh’?”

Delapan susun. Kalau tiap susun muat empat puluh buku, itu tiga ratus dua puluh.

“Kak Bagas orangnya baik,” kataku.

Dan itu bagian yang paling tidak adil dari semuanya. Karena itu benar. Bagas Wirajaya baik. Bukan baik-baik-saja, bukan baik-menurut-anak-perempuan-kelas-sebelas. Dia benar-benar orang baik. Dia yang mengantar anak kelas sepuluh ke UKS waktu pingsan di lapangan, dia yang ngotot minta jadwal latihan basket digeser supaya anak-anak yang ikut olimpiade bisa belajar. Aku pernah butuh pinjam kabel proyektor dan dia mencarikannya ke tiga ruangan padahal dia tidak kenal aku.

Aku sudah menyiapkan diri untuk banyak kemungkinan. Untuk anak yang berlatih tiga hari cuma buat bertanya jam berapa pensi mulai. Untuk siapa pun yang punya keberanian yang tidak kupunya.

Aku tidak menyiapkan diri untuk orang yang tidak bisa kubenci.

“Baik,” ulangnya, dan suaranya terdengar lega dengan cara yang membuat dadaku turun satu tingkat. “Kan? Kan dia baik.”

“Iya.”

“Terus aku harus gimana.”

Kamu tidak perlu bagaimana-bagaimana. Kamu tinggal berdiri di depannya dan dia akan lupa cara bernapas, seperti semua orang di gedung ini, seperti Pak Danu yang menjawab absennya sendiri.

“Nggak tau,” kataku.

“Kamu selalu tau.”

“Nggak untuk yang ini.”

Bel masuk berbunyi. Dia berdiri, membereskan tasnya, dan berhenti sebentar di sebelah kursiku.

“Makasih ya, Bum.”

“Buat apa.”

“Nggak tau. Buat dengerin doang.”

Lalu dia pergi, dan aku duduk di sana beberapa detik lebih lama dari yang perlu, memegang bungkus roti cokelat yang sudah kosong.

Sebelas kali sehari.

Aku menoleh. Terlambat, dan ke arah pintu yang sudah tidak ada siapa-siapa.