← Latihan Dulu

Chapter Four

Rubrik

POV: Aurora

Idenya muncul hari Minggu malam, dan aku menyalahkan Icha karena dialah yang bilang “kamu tuh butuh ngukur progres.”

Jadi aku bikin tabel.

Bukan tabel sederhana. Aku pakai penggaris. Aku pakai tiga warna spidol. Di kolom paling kiri ada nomor sesi, lalu tanggal, lalu empat kolom penilaian: Kemiripan Gaya, Kecepatan Respon, Daya Tahan Aku, dan Total. Skala satu sampai sepuluh.

Aku menamainya Lembar Evaluasi Latihan dan menggambar bintang kecil di pojok kanan atas karena halamannya kelihatan terlalu kosong.

Waktu kutunjukkan hari Rabu, dia memandanginya selama sepuluh detik penuh.

“Lo bikin rubrik.”

“Iya.”

“Buat gue.”

“Buat sesi.” Aku menariknya sedikit ke arahku. “Ini biar terstruktur. Kamu kan suka yang terstruktur.”

“Gue suka yang terstruktur.” Dia masih memandangi kertas itu. “Gue nggak tau gue suka dinilai.”

“Kamu bakal dapet nilai bagus kok.”

“Itu bukan poinnya.”

“Terus poinnya apa?”

Dia membuka mulut. Menutupnya. Lalu mengambil pulpen dari tasku tanpa izin dan menulis sesuatu kecil-kecil di margin kiri, di luar tabel.

“Apa itu?”

“Catatan.”

“Catatan apa?”

“Catatan gue.” Dia menggeser kertasnya balik ke arahku. “Lo urusin kolom lo. Gue urusin margin gue.”

Aku melirik. Tulisannya kecil, miring, dan berdesakan di pinggir. Aku tidak sempat membaca karena dia langsung menutupnya dengan siku, dan karena jujur saja aku tidak terlalu tertarik.

Aku tidak terlalu tertarik.

Aku menuliskan itu di sini karena aku ingin ingat betapa mudahnya aku melewati hal itu. Kertas itu masih ada. Tiga tahun lagi aku akan menemukannya di dalam kotak sepatu, dan aku akan membaca setiap kata di margin kiri, dan aku akan duduk di lantai kamarku sampai jam empat pagi.

Tapi hari itu aku cuma bilang, “Ya udah. Terserah.”

Lalu aku mulai sesi.


Materi hari itu: memanggil nama.

Kedengarannya bodoh. Aku juga mengira begitu sampai aku mencobanya.

“Kak Bagas.”

Dia tidak menoleh.

“Bum. Kak Bagas.”

Dia masih tidak menoleh.

“BUMI.”

“Nah,” katanya, akhirnya menoleh. “Itu masalahnya.”

“Apanya?”

“Lo manggil ‘Kak Bagas’ dengan volume orang minta maaf. Gue nggak denger. Dia juga nggak bakal denger. Kalau lo manggil orang dan orangnya nggak nengok, itu bukan panggilan, itu doa.”

“Jahat banget.”

“Gue nggak jahat, gue akurat.”

“Sama aja.”

“Beda tipis.” Dia menegakkan duduknya. “Ulang. Panggil sampai gue nengok.”

Jadi kami melakukan itu selama empat puluh menit.

“Kak Bagas.”

Tidak menoleh.

“Kak Bagas!”

Menoleh setengah, lalu balik lagi. “Kurang.”

“Kak Bagas!!”

Bapak-bapak koran menoleh. Dia tidak.

“Bum, bapak itu nengok.”

“Bapak itu bukan Kak Bagas.”

“Bumi.”

“Ulang.”

Percobaan keempat belas berhasil. Aku memanggil, dan dia menoleh — cepat, penuh, dengan seluruh badan berputar ke arahku, persis seperti orang yang benar-benar menunggu dipanggil.

“Ya?” katanya.

Dan aku lupa lanjutannya.

Bukan karena aku belum menyiapkan lanjutannya. Aku sudah. Aku menyiapkannya semalaman. Tapi ada sesuatu tentang cara dia menoleh — seolah tidak ada apa pun di kafe itu yang lebih penting daripada apa yang akan kukatakan berikutnya — yang membuat seluruh kalimatku rontok.

“Aurora.”

“Hah?”

“Lo mau ngomong apa.”

“Aku... lupa.”

“Lo lupa.”

“Aku lupa!” Aku menutup wajah. “Kamu nengoknya kekencengan!”

“Itu yang lo minta.”

“Iya tapi jangan begitu-begitu amat.”

Dia bersandar ke kursinya dan mengetuk meja pakai jempol, dan sialnya itu memang persis.

“Catet di kolom lo,” katanya. “Kemiripan Gaya: sepuluh.”

“Sembilan.”

“Kenapa sembilan.”

“Karena kamu nyebelin dan itu ngurangin satu poin.”

Dia mengambil pulpen dan menulis lagi di margin.


Di antara percobaan, dia bertanya hal-hal yang tidak ada di daftar.

“Bum, kamu kalau suka sama orang, kamu tau dari apa?”

“Maksudnya.”

“Kayak, tandanya apa. Aku tuh nggak yakin aku ngerti bedanya suka sama kagum. Soalnya semua orang bilang aku suka Kak Bagas karena dia populer, dan aku takut mereka bener.”

Aku memikirkannya lebih lama dari yang seharusnya.

“Kalau kagum,” kataku akhirnya, “lo pengen jadi kayak dia. Kalau suka, lo pengen ada di dekat dia walaupun nggak ada untungnya sama sekali.”

Dia diam.

“Itu... spesifik banget.”

“Gue banyak baca.”

“Buku apa?”

“Buku.” Aku menarik gelasku. “Lanjut. Percobaan lima belas.”

“Bum.”

“Lima belas.”

Dia menghela napas dan mengulang panggilannya, dan aku sempat berpikir bahwa aku baru saja lolos, dan aku benar. Aku lolos. Itu yang paling menyedihkan dari semuanya — aku selalu lolos.


Fandi muncul di sesi kelima, tanpa diundang, sambil membawa keripik.

“Jangan pedulikan gue,” katanya, menarik kursi dari meja sebelah dan duduk sekitar satu setengah meter dari kami. “Gue cuma penonton.”

“Fandi.”

“Gue bayar tiketnya kok.” Dia mengangkat keripiknya. “Ini tiketnya.”

“Pergi.”

“Aurora, gue boleh nonton kan?”

Aku melirik Bumi. Bumi menatap Fandi dengan wajah yang tidak berubah sedikit pun, yang untuk orang lain mungkin kelihatan datar tapi buatku sudah jelas: itu wajah orang yang sedang menghitung berapa lama dia harus hidup dengan ini.

“Boleh, sih,” kataku. “Kali aja dia bisa ngasih masukan cowok.”

“NAH.” Fandi menunjuk. “Masukan cowok. Denger tuh, Bum. Gue punya perspektif.”

“Lo punya keripik.”

“Gue punya dua-duanya.”

Jadi Fandi tinggal. Dan Fandi berkomentar. Dan ternyata Fandi berkomentar seperti pelatih tinju yang klub tinjunya sedang kalah.

“Terlalu pelan!”

“Fandi.”

“Aurora, suara lo tadi kayak nelepon customer service! Yang tegas!”

“Kamu bilang tadi terlalu tegas.”

“Itu tadi. Ini sekarang. Situasinya berkembang.”

“Bum, dia boleh diusir nggak?”

“Udah gue coba dari kelas sepuluh,” kata Bumi.

Percobaan berikutnya aku memanggil dengan suara yang tepat, dengan kecepatan yang tepat, dan aku bahkan berhasil menyambungnya ke kalimat kedua tanpa rontok.

Fandi bertepuk tangan.

“NAH! Itu! Sempurna! Cowok mana pun langsung klepek-klepek!”

“Beneran?” Aku menoleh ke Bumi. “Menurut kamu gimana?”

Dia tidak langsung menjawab. Dia sedang menunduk ke arah lembar rubrik, pulpennya bergerak kecil di margin.

“Bagus,” katanya.

“Cuma bagus?”

“Bagus banget.” Dia menutup pulpennya. “Sepuluh.”

“Kamu nggak boleh ngasih nilai. Yang ngasih nilai aku.”

“Ya udah.” Dia mendorong kertas itu ke arahku. “Lo yang isi.”

Aku mengisinya. Sepuluh, sepuluh, delapan untuk Daya Tahan Aku karena aku sempat rontok dua kali. Total dua puluh delapan.

Sambil menulis, aku bilang, tanpa mengangkat kepala, “Bum, seriusan makasih ya. Aku beneran nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu. Aku sayang banget sama kamu, tau nggak.”

Aku mendengar Fandi berhenti mengunyah keripik.

Keripiknya benar-benar berhenti. Hening penuh, sekitar dua detik, dan waktu aku mengangkat kepala, Fandi sedang menatap Bumi dengan ekspresi yang tidak kumengerti sama sekali — bukan ejekan, bukan ledekan, sesuatu yang lain.

Bumi sedang membereskan buku-bukunya.

“Sama-sama,” katanya.

“Kamu marah?”

“Enggak.”

“Kamu keliatan kayak marah.”

“Gue keliatan kayak gini terus.” Dia berdiri dan menyampirkan tasnya. “Rabu depan, jam empat. Jangan telat tujuh menit.”

Aku tertawa dan bilang iya, dan Fandi tidak ikut tertawa, dan aku menganggap itu karena keripiknya habis.

Icha menelepon jam sepuluh malam.

“Gimana sesinya?”

“Lancar. Aku dapet dua puluh delapan.”

“Dari berapa?”

“Tiga puluh.”

“Anjir, kamu beneran bikin rubrik.”

“Kamu yang nyuruh ngukur progres!”

“Aku nyuruh ngukur, bukan bikin akreditasi.” Icha berhenti sebentar. “Terus Bumi gimana?”

“Bumi ya Bumi.” Aku berbaring di kasur dan menatap langit-langit. “Dia bagus banget, Cha. Serius. Kalau dia jadi Kak Bagas, aku sampai lupa itu bukan Kak Bagas.”

“Hm.”

“Kenapa ‘hm’?”

“Nggak apa-apa.”

“Cha.”

“Nggak apa-apa, Aurora. Tidur sana.”

Aku menutup telepon dan berbaring beberapa menit dengan perasaan yang tidak bisa kunamai, lalu memutuskan itu karena aku senang, karena sesinya berhasil, karena Rabu depan akan datang lagi.

Aku selalu punya penjelasan untuk semuanya waktu itu. Itu bakatku. Aku bisa menjelaskan kenapa dadaku berdebar, kenapa aku menunggu hari Rabu lebih dari akhir pekan, kenapa aku menyimpan nomor sesi tapi tidak menyimpan nomor rapat OSIS.

Selalu ada penjelasan, dan penjelasannya selalu Kak Bagas.

Di rumah malam itu aku memasukkan lembar rubrik ke dalam kotak sepatu di bawah meja belajar, halaman terlipat, margin kiri menghadap ke dalam.