← Latihan Dulu

Chapter Three

Sesi Satu

POV: Bumi

Aku menulis empat kata di buku itu dan menutupnya sebelum dia sempat melihat.

Jangan jadi kamu.

Empat kata. Ternyata memang cukup empat kata untuk merusak orang, kalau kata-katanya benar.

Fandi menemukan buku itu malam harinya, karena Fandi punya bakat menemukan hal yang tidak dia cari.

“Ini apaan.”

“Bukan apa-apa.”

“‘Jangan jadi kamu’.” Dia membacanya keras-keras, dua kali, dengan intonasi berbeda seolah salah satunya akan lebih masuk akal. “Bum. Ini kalimat orang yang lagi nulis surat wasiat.”

“Balikin.”

“Ini dari dia?”

“Iya.”

“Terus lo iyain?”

“Iya.”

Fandi menutup buku itu dan menaruhnya di meja dengan hati-hati, seperti menaruh sesuatu yang bisa meledak.

“Lo tau nggak sih,” katanya, “kalau lo tuh bukan orang baik. Lo tuh orang yang kebiasaan.”

“Bedanya apa.”

“Orang baik nolong terus pulang. Lo nolong terus tinggal di sana.”

Aku tidak menjawab, karena tidak ada yang bisa dijawab, dan karena Rabu sudah tinggal dua hari lagi.


Sesi pertama hari Rabu, sepulang sekolah, di kafe dekat halte yang selalu kosong karena kopinya buruk dan wifinya lebih buruk. Aku datang dua puluh menit lebih awal, memilih meja di pojok, lalu memindahkan diriku dua kali karena posisi pertama terlalu dekat jendela dan posisi kedua terlalu dekat pintu.

Ini bukan gugup. Ini optimasi.

Dia datang jam empat lewat tujuh, masih pakai seragam, rambut diikat asal-asalan dengan cara yang membuat dua meja di depan berhenti mengobrol.

“Maaf telat.”

“Tujuh menit.”

“Kamu ngitung?”

“Gue nggak ngitung. Gue tau.”

Dia duduk dan menaruh tasnya, lalu mengeluarkan buku tulis. Buku tulis baru. Sampulnya masih licin.

“Aku bawa catatan,” katanya.

“Catatan apa.”

“Catatan tentang Kak Bagas.”

Aku menatap buku itu.

“Ada berapa halaman.”

“Sembilan.”

“Sembilan halaman.”

“Dia banyak ngomong kalau lagi rapat OSIS,” katanya membela diri. “Aku cuma nyatet supaya kamu bisa niru gayanya.”

Dia membuka halaman pertama dan mulai membaca keras-keras. Kak Bagas suka manggil orang pakai nama panjang. Kak Bagas kalau setuju bilang “sip” bukan “oke”. Kak Bagas ketawanya dari perut. Kak Bagas selalu nunggu orang selesai ngomong dulu.

“Terakhir,” katanya, “kalau dia lagi mikir, dia ngetuk-ngetuk meja pakai jempol.”

Aku mengetuk meja dengan jempol.

Dia menutup mulutnya.

“Ya ampun.”

“Apa.”

“Nggak. Mirip aja.” Dia mengibaskan tangan. “Serem.”

Sembilan halaman. Dia mencatat sembilan halaman tentang orang lain, dan dia sudah dua tahun ingat aku suka roti cokelat tanpa pernah menulisnya di mana pun. Aku tidak tahu mana yang lebih buruk.

“Oke,” kataku. “Mulai.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

“Aku belum siap.”

“Lo nggak akan pernah siap. Itu kenapa ada sesi.”

Dia menarik napas panjang, menegakkan punggung, dan menatapku.

Lalu tidak terjadi apa-apa selama sebelas detik.

“Aurora.”

“Sebentar.”

“Lo mau ngomong apa.”

“Sebentar—“ Dia mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri. “Duh. Duh, kenapa sih. Ini kan cuma kamu.”

Ini kan cuma kamu.

“Iya,” kataku. “Cuma gue.”

“Oke.” Dia menegakkan punggung lagi. “Oke. Halo.”

“Halo.”

“...Kak Bagas.”

“Gue belum ngomong apa-apa dan lo udah ngasih nama gue.”

“Aku panik!”

“Ulang.”

“Halo.” Dia berdehem. “Eh, hai. Hai, Kak.”

“Hai.”

Hening.

“Terus?” bisiknya.

“Terus lo ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Apa aja. Lo yang nyapa duluan. Kalau lo nyapa terus diem, itu bukan sapaan, itu ancaman.”

Dia menutup wajah dengan buku sembilan halaman itu dan mengerang pelan. Dari meja sebelah, seorang bapak-bapak yang sedang membaca koran mengangkat kepala, melihat dia, dan menumpahkan kopinya sedikit ke koran.

Aku menyodorkan tisu ke arah bapak itu tanpa berkomentar.


Percobaan keempat, dia berhasil sampai kalimat ketiga.

Percobaan ketujuh, dia berhasil sampai lima kalimat sebelum bertanya “kamu beneran ngerasa ini kayak dia nggak?” dan merusak semuanya sendiri.

Percobaan kesembilan, dia berhenti di tengah dan bertanya sesuatu yang tidak ada di naskah.

“Bum, kalau aku ngomong gini ke kamu, kamu ngerasa aku ngeselin nggak?”

“Enggak.”

“Jujur.”

“Gue jujur.”

“Kamu selalu bilang enggak.”

“Karena jawabannya selalu enggak.” Aku memutar gelasku. “Lo mau gue bohong biar variatif?”

“Iya.”

“Oke. Lo ngeselin.”

“BUM.”

“Lo yang minta.”

Dia melempar tisu ke arahku. Meleset. Bapak-bapak koran mengambilnya dari lantai dan menaruhnya kembali di meja kami dengan sopan, lalu kembali ke korannya seperti tidak terjadi apa-apa.

Percobaan kesebelas, aku bilang “sip” alih-alih “oke”, dan dia langsung berhenti.

“Kamu inget?”

“Lo baru bilang setengah jam lalu.”

“Iya tapi kamu inget.”

“Gue emang inget hal yang lo bilang.”

Aku menyadari kalimat itu keluar terlalu polos setengah detik setelah keluar, dan aku langsung menambahkan, “Semua hal. Gue inget nomor sepatu Fandi juga.”

“Berapa?”

“Empat puluh dua.”

“Kenapa kamu tau nomor sepatu Fandi.”

“Karena Fandi cerita, dan gue nggak bisa lupa.”

Dia tertawa. Dan tawanya bukan yang di perpustakaan — yang ini lepas, sedikit terlalu keras untuk kafe sekecil itu, dan bapak-bapak koran mengangkat kepala lagi.

Aku memandang gelasku.

Sebelas kali sehari. Sekarang tambah satu.


Sesi selesai jam enam. Aturan kedua: sesinya ada waktunya, mulai dan selesai. Aku yang bikin aturan itu dan aku menaatinya seperti orang yang menaati batas kecepatan di jalan kosong.

Kami jalan ke halte. Sudah gelap, jalanannya sempit, dan trotoarnya cuma muat satu setengah orang.

Aku pindah ke sisi kanan.

Ini bukan hal besar. Sisi kanan dekat jalan raya. Kalau ada motor yang terlalu ngebut, dia bakal kena aku dulu. Aku sudah melakukan ini sejak entah kapan, dan aku tidak pernah mengatakannya, dan dia tidak pernah menyadarinya.

Tiga tahun lagi dia akan menyadarinya, dan itu akan terjadi di kamarnya sendiri sambil memegang selembar kertas, dan aku tidak akan ada di sana untuk melihatnya.

Tapi malam itu dia cuma bicara.

“Bum, menurut kamu aku ada kemungkinan nggak?”

“Kemungkinan apa.”

“Sama Kak Bagas.”

Motor lewat. Aku bergeser setengah langkah lebih ke kanan.

“Ada,” kataku.

“Kok yakin?”

“Karena lo lo.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban paling akurat yang gue punya.”

Dia diam beberapa langkah. Lalu, “Aku suka banget sama dia, Bum. Kayak, aku tuh mikirin dia terus. Aku bangun mikirin dia. Aku tidur mikirin dia. Aku sampai ngapalin jadwal rapat OSIS.”

“Sembilan halaman.”

“Jangan diungkit.”

“Gue nggak ngungkit. Gue kagum.”

“Bohong.”

“Gue serius.” Dan aku memang serius, itu masalahnya. “Lo nggak setengah-setengah kalau suka sama orang. Itu bagus.”

Dia menoleh ke arahku. Aku tidak menoleh balik.

“Kamu pernah suka sama orang nggak?”

Halte tinggal dua puluh meter. Aku sempat menghitung: dua puluh meter, langkah normal, sekitar dua puluh enam langkah, artinya sekitar delapan belas detik.

Delapan belas detik itu cukup lama kalau kamu tidak tahu harus bilang apa.

“Pernah,” kataku.

“Serius? Siapa?”

“Nggak penting.”

“Bum!”

“Nggak penting karena udah lewat.”

Bohong. Tapi bohong yang bagus, karena bohong yang bagus itu yang mengandung satu bagian benar dan satu bagian yang tidak bisa dicek.

“Dia nggak suka balik?”

“Dia nggak tau.”

“Kok nggak dibilangin?”

Kami sampai di halte. Dia berhenti dan berbalik menghadapku, dan lampu halte membuat setengah wajahnya kuning dan setengahnya lagi gelap, dan aku ingat berpikir bahwa aku tidak akan pernah bisa menjelaskan ke Fandi kenapa aku bertahan.

“Karena kalau gue bilang,” kataku, “gue nggak bisa duduk di sebelah dia lagi.”

Dia mengerutkan kening.

“Itu logika paling aneh yang pernah aku denger.”

“Gue tau.”

“Kamu kan jago logika.”

“Iya.” Bus datang. “Makanya gue tau itu aneh.”

Dia naik bus, dan sebelum pintu tertutup dia menoleh dan melambai dengan gerakan kecil yang cuma dia yang bisa lakukan, setengah malas dan setengah sungguh-sungguh.

“Rabu depan lagi ya!” teriaknya. “Makasih, Bum! Sayang kamu!”

Pintu bus tertutup.

Aku berdiri di halte itu selama tiga menit lebih lama dari yang perlu.

Dia bilang begitu ke Icha juga. Dia bilang begitu ke ibunya. Dia bilang begitu ke penjaga kantin yang ngasih dia tambahan kuah gratis.

Aku tahu itu.

Aku tetap berdiri di sana.