← Latihan Dulu

Chapter Seventeen

Gelas di Tangan Kanan

POV: Bumi

Aku sedang memegang gelas plastik berisi teh manis yang terlalu manis, mendengarkan seorang anak semester tiga menjelaskan kenapa sistem yang dia bangun akan mengubah dunia.

Aku mengangguk di tempat yang benar. Aku bertanya satu pertanyaan supaya dia merasa didengar. Itu keahlian yang kupelajari di tahun kedua dan sangat berguna di acara seperti ini.

Pintu di belakangnya terbuka.

Aku mengangkat kepala karena semua orang mengangkat kepala — bukan karena aku tahu, bukan karena firasat, bukan karena apa pun yang bisa disebut takdir. Aku mengangkat kepala karena ada gerakan di ujung pandangan dan otak manusia memang begitu.

Kak Bagas masuk duluan. Dia melambai ke arah beberapa orang, tertawa dari perut, dan bilang maaf telat kepada ruangan secara umum.

Lalu dia menoleh ke belakang dan mengulurkan tangan.

Dan seseorang menerimanya.


Aku ingin mencatat dengan tepat apa yang terjadi di dalam tubuhku selama dua detik berikutnya, karena aku sudah tiga tahun mengklaim bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Yang terjadi: tidak ada apa-apa.

Tidak ada dada yang runtuh. Tidak ada telinga yang berdenging. Aku tidak menjatuhkan gelas. Anak semester tiga itu masih bicara dan aku masih mendengar setiap katanya.

Yang terjadi cuma satu hal kecil.

Aku memindahkan gelas dari tangan kanan ke tangan kiri.

Aku tidak menyuruhnya pindah. Tangan kananku yang memutuskan, sendiri, tanpa berkonsultasi, karena tangan kanan adalah tangan untuk bersalaman dan tubuhku sudah mulai menyiapkan hal-hal sebelum aku sempat memutuskan apakah aku mau menyiapkan sesuatu.

Itu saja. Itu satu-satunya reaksi yang aku punya. Sepuluh tahun dari sekarang aku mungkin masih akan mengingat detail ini dan tidak ada yang akan mengerti kenapa.

Anak semester tiga itu selesai bicara.

“Menarik,” kataku. “Coba cek konsistensi datanya kalau koneksinya putus di tengah.”

“Oh iya, Kak. Belum kepikiran.”

Dia pergi mencatat.

Aku minum teh manis yang terlalu manis itu dan memandang ke arah meja makanan seolah aku sedang mempertimbangkan risoles.


Kak Bagas menemukanku sepuluh menit kemudian, karena tentu saja dia yang menemukanku, karena dia orang yang menyapa semua orang di ruangan.

“Bumi!”

“Kak.”

“Wah, ini nih.” Dia menepuk bahuku dua kali. “Ini orang yang aku ceritain.”

Dan dia menoleh ke samping, dan aku mengangkat kepalaku, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku melihat wajahnya dari jarak kurang dari dua meter.

Dia berubah.

Bukan banyak. Rambutnya lebih pendek, sebahu. Dia memakai kemeja yang bukan seragam. Ada sesuatu di caranya berdiri yang lebih tenang daripada tiga tahun lalu.

Wajahnya sama.

Aku sudah menyiapkan diri untuk hal-hal yang lebih besar dari ini. Aku tidak menyiapkan diri untuk fakta bahwa wajahnya sama.

“Ra, ini Bumi. Anak utara. Yang aku bilang jago itu.”

Ada jeda.

Aku menghitungnya. Dua detik.

“Kita satu SMA,” katanya.

“Serius?” Kak Bagas menoleh ke arahku, lalu ke arahnya, wajahnya benar-benar terkejut dan benar-benar senang. “Dunia sempit banget. Kok kamu nggak pernah cerita?”

“Nggak kepikiran,” katanya.

“Nggak kepikiran,” kataku, di waktu yang hampir sama.

Kami berdua berhenti.

Kak Bagas tertawa. “Kompak.”


Percakapan setelah itu berlangsung empat menit dan aku bisa merekonstruksinya kata per kata sampai sekarang.

“Apa kabar?” tanyanya.

“Baik. Kamu?”

“Baik.”

Kamu. Bukan “lo”. Dia tidak pernah pakai “lo” ke aku, jadi itu bukan perubahan. Yang berubah adalah aku menjawab “kamu” juga, padahal aku selalu pakai “lo”.

Aku mendengar diriku sendiri melakukannya dan tidak bisa menariknya kembali.

“Kamu di utara?”

“Iya. Teknik.”

“Sesuai rencana.”

“Iya.”

Kak Bagas menyela dengan cerita tentang bagaimana dia mengenalku dua tahun lalu di acara serupa, dan aku bersyukur, dan aku mengangguk di tempat yang benar.

“Nanti kalian mungkin sekelompok,” katanya. “Ra masuk tim dokumentasi kan? Bumi teknis. Biasanya itu barengan terus.”

“Oh.”

“Oh?”

“Nggak,” kataku. “Bagus.”

Aurora sedang memandang gelasnya.

“Ra, kamu mau minum apa?” tanya Kak Bagas.

“Air putih aja.”

“Sebentar ya.”

Dia pergi ke meja minuman.

Dan kami berdua tinggal berdua di tengah ruangan berisi tiga puluh orang, dan aku memandang risoles, dan dia memandang gelasnya.

Enam detik.

“Bum.”

“Hm.”

“Kamu—“ Dia berhenti. “Nggak. Nggak apa-apa.”

“Oke.”

“Aku cuma nggak nyangka aja.”

“Iya.”

“Kamu keliatan beda.”

“Beda gimana.”

“Nggak tau.” Dia mengangkat bahu. “Lebih tinggi kali ya.”

“Gue nggak nambah tinggi sejak kelas sebelas.”

“Oh.” Dia tertawa, dan tawanya terlalu pendek, dan berhenti di tempat yang salah. “Ya udah. Berarti aku yang salah inget.”

Kak Bagas kembali dengan gelas air putih.

Dia menyerahkannya. Aurora menerimanya dengan dua tangan dan bilang makasih, dan Kak Bagas menaruh tangan di punggung bawahnya, ringan, seperti orang yang sudah melakukan gerakan itu ribuan kali tanpa berpikir.

Aku melihat gerakan itu.

Dan gerakan itu — bukan tangan yang digenggam di pintu tadi, bukan kabar bahwa mereka masih bersama — gerakan kecil di punggung itu yang akhirnya melakukan sesuatu di dalam dadaku.

Karena itu bukan gerakan orang yang sedang pacaran.

Itu gerakan orang yang sudah lama.

“Gue ambil risoles dulu,” kataku.


Ada satu hal lagi yang terjadi, dan aku hampir tidak menuliskannya karena kelihatannya terlalu kecil.

Setengah jam kemudian, waktu aku sedang berdiri di dekat jendela ngobrol dengan koordinator, ada anak perempuan dari kampus lain yang lewat sambil membawa tiga gelas sekaligus dan hampir menabrak seseorang.

Refleks, aku mengulurkan tangan dan menahan gelas paling atas.

“Aduh, makasih Kak!”

“Iya.”

Dia pergi.

Aku menurunkan tangan dan waktu aku menoleh kembali ke arah koordinator, aku melihat sesuatu di ujung pandangan.

Aurora sedang melihat ke arahku.

Dari seberang ruangan, di sebelah Kak Bagas yang sedang bicara dengan tiga orang lain, dengan gelas air putih di tangan.

Kami bertatapan sekitar satu detik.

Lalu dia memalingkan wajah dan tersenyum ke arah lelucon yang baru saja diceritakan seseorang di kelompoknya, dan tertawa di waktu yang benar, dan aku kembali ke percakapan tentang jadwal pengumpulan proposal.

Satu detik. Itu saja.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.


Aku bertahan di acara itu selama satu jam empat puluh menit.

Aku ngobrol dengan enam orang. Aku memberikan dua saran teknis yang berguna. Aku mencatat nomor kontak koordinator, karena aku memang butuh nomor koordinator.

Aku tidak melihat ke arah mereka lagi.

Itu bukan pencapaian moral. Itu cuma keputusan logistik: kalau aku melihat sekali, aku akan melihat lagi, dan melihat lagi, dan sebelas kali sehari adalah angka yang sudah pernah kuhitung dan aku tidak berniat menghitungnya lagi di usia dua puluh satu.

Waktu aku keluar, hujan turun.

Deras, tiba-tiba, dari nol ke seratus. Khas kota ini.

Aku berdiri di bawah kanopi gedung bersama sekitar dua puluh orang lain, dan aku membuka tasku, dan aku mengeluarkan payung.

Satu.

Aku memandangi payung itu di tanganku.

Ini bukti. Ini bukti bahwa aku sudah selesai. Aku bahkan tidak sempat berpikir untuk membawa dua.

Aku membukanya dan berjalan ke halte.

Di setengah jalan aku menyadari bahwa aku sedang berjalan di sisi kanan trotoar, sendirian, di jalanan yang bahkan tidak ada motornya.


Fandi menelepon jam sepuluh malam.

“Gimana?”

“Lo udah tau.”

“Gue udah tau.”

“Kenapa lo nggak bilang?”

“Karena kalau gue bilang, lo bakal nyusun rencana.” Aku bisa mendengar dia mengunyah. “Terus lo bakal dateng ke situ dengan tiga skenario cadangan dan lo bakal jalanin salah satunya dengan sempurna, dan gue nggak bakal tau apa-apa tentang lo.”

“Gue nggak ngerti.”

“Bum, gue mau tau lo beneran udah selesai apa belum. Dan satu-satunya cara tau itu adalah kalau lo nggak sempat nyiapin apa-apa.”

Aku duduk di tepi kasur.

“Terus kesimpulan lo apa?”

“Gue belum ketemu lo. Gue baru denger suara lo.”

“Terus?”

Fandi berhenti mengunyah.

“Suara lo baik-baik aja,” katanya. “Itu yang bikin gue takut.”