Chapter Thirty Three
Tanpa Latihan
POV: Aurora
Empat hari pertama pacaran dengan Bumi Asher Arsenio adalah empat hari paling canggung dalam hidupku.
Bukan canggung yang manis. Canggung yang benar-benar tidak berfungsi.
Kami sudah enam tahun saling kenal. Kami sudah duduk berdampingan ratusan jam. Aku tahu dia tidak suka bawang mentah dan dia tahu aku tidak bisa tidur kalau lampu menyala.
Dan sekarang kami tidak tahu harus bagaimana.
“Bum.”
“Hm.”
“Kita lagi ngapain?”
“Duduk.”
“Iya, tapi—“ Aku menunjuk ke antara kami. “Ini jaraknya kenapa masih segini?”
Dia memandangi ruang kosong di bangku, sekitar dua jengkal, tempat tas kami biasanya diletakkan.
“Kebiasaan,” katanya.
“Kebiasaan enam tahun.”
“Iya.”
“Kita harus ganti kebiasaannya.”
“Gimana caranya.”
Dan kami berdua duduk di sana, dua orang dewasa berumur dua puluh dua tahun, memikirkan cara duduk lebih dekat.
Akhirnya aku menggeser diriku satu jengkal.
Dia menggeser satu jengkal.
Kami bertemu di tengah dan lengan kami bersentuhan, dan kami berdua langsung menegang seperti orang yang tersengat listrik statis.
“Ini konyol banget,” kataku.
“Iya.”
“Kita udah pernah pelukan.”
“Itu latihan.”
“BUM.”
“Sori.”
Icha ketawa selama empat menit penuh waktu aku cerita.
“Kalian—“ Dia harus berhenti untuk bernapas. “Kalian mikirin cara duduk?”
“Cha.”
“Kalian ngerjain modul integrasi bareng enam bulan. Kalian presentasi ke klien. Kalian—“
“CHA.”
“Ra, ini lucu banget.”
“Aku tau.”
“Ini bahan aku sampai lima tahun ke depan.”
Fandi mengirim pesan malam itu, entah dari mana dia dapat nomorku.
Fandi: kak
Fandi: bumi nanya ke gue gimana cara pegangan tangan yang bener
Fandi: dia bilang “ada dua konfigurasi jari, mana yang standar”
Fandi: KONFIGURASI JARI KAK
Aku menutup wajah dengan bantal dan berteriak ke dalamnya.
Lalu aku mengetik.
aku: fan
aku: jawab dia apa
Fandi: gue bilang “bum lo dulu tiap rabu peluk dia selama tiga menit”
Fandi: terus dia diem lima belas detik
Fandi: terus dia bilang “itu beda”
aku: beda gimana
Fandi: kata dia dulu dia nggak punya izin buat mikirin caranya
Fandi: jadi dia nggak pernah mikirin caranya
Fandi: dia cuma diem aja terus nunggu selesai
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Lalu aku menaruh ponselku di kasur dan duduk di lantai dengan punggung ke ranjang selama sekitar sepuluh menit.
Tiga menit, tiga puluh dua kali. Berdiri diam di rumput sambil menunggu selesai.
aku: fan
aku: makasih ya
Fandi: buat apa
aku: nggak tau
aku: buat nggak nyerah sama dia
Fandi: kak
Fandi: gue nyerah sama dia tiap dua minggu
Fandi: terus gue balik lagi
Fandi: itu namanya temen
Hari kelima dia menjemputku sore-sore.
Kami jalan ke taman belakang ruko lagi, karena entah bagaimana tempat itu sudah jadi milik kami, karena ibu-ibu laundry sudah mulai menyapa.
Kami duduk di bangku yang sama.
Dan hari itu akhirnya mulai bisa.
Kami mengobrol soal skripsiku yang berantakan, soal dosennya yang tidak pernah membalas pesan, soal Reno yang ternyata sudah membuat grup chat bernama “TIM SUKSES” tanpa sepengetahuan kami berdua.
Dia tertawa dua kali. Bukan tersenyum. Tertawa, dengan suara, pendek.
Aku menghitungnya.
Lalu langit mulai oranye, dan kami diam sebentar, dan diam itu tidak canggung sama sekali.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku mau nanya sesuatu dan aku mau kamu nggak jawab pakai logika.”
“Gue nggak janji.”
“Coba aja.”
Dia menoleh.
Dan aku sudah menyiapkan kalimatnya sepanjang perjalanan — aku menyiapkannya, ya, karena aku memang orang yang menyiapkan, dan berpura-pura tidak melakukannya juga bentuk kebohongan.
Tapi begitu dia menoleh, kalimatnya rontok.
Seperti biasa. Enam tahun. Seperti biasa.
“Aurora.”
“Bentar.”
“Lo mau ngomong apa.”
“Aku lupa.”
“Lo lupa.”
“Aku lupa!” Aku menutup wajah. “Kamu nengoknya kekencengan!”
Dia berhenti.
Dan aku sadar setengah detik terlambat apa yang baru saja keluar dari mulutku, dan aku menurunkan tanganku, dan dia sedang memandangiku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
“Itu kalimat lo di sesi empat,” katanya.
“Aku tau.”
“Enam tahun lalu.”
“Aku tau, Bum.”
Dia memandangi rumput.
Lalu dia mengetuk lututnya dengan jempol, satu kali, dan berhenti.
“Aurora.”
“Iya?”
“Lo mau ngomong apa.”
Aku menarik napas.
Dan aku mengucapkannya, jelek dan cepat dan tanpa persiapan sama sekali.
“Aku mau kamu cium aku.”
Dia tidak bergerak.
Angin lewat. Ada suara mesin cuci dari laundry.
“Aurora.”
“Aku tau ini kelihatan sama kayak dulu,” kataku cepat. “Aku tau. Aku minta hal yang sama enam tahun lalu dan kamu nolak dan aku marah dan itu—“
“Bukan itu.”
“Terus?”
Dia diam beberapa detik.
“Gue belum pernah,” katanya.
Aku menoleh.
“Apa?”
“Gue belum pernah.” Dia memandang lurus ke depan. “Sama siapa pun. Tara juga enggak. Gue—“ Dia berhenti. “Gue nggak pernah nyampe situ.”
Aku menatap sisi wajahnya.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku juga belum.”
Dia menoleh.
“Lo pacaran tiga tahun.”
“Iya.”
“Tiga tahun.”
“Iya, Bum.” Aku menggenggam ujung bangku. “Aku selalu... nggak bisa. Setiap kali hampir, aku selalu punya alasan. Aku capek, aku harus pulang, aku ada tugas.” Aku menelan. “Tiga tahun aku punya alasan terus dan aku nggak pernah nanya ke diri aku sendiri kenapa.”
Dia tidak menjawab.
Aku menoleh ke arahnya dan dia sedang menatapku, dan matanya bukan mata orang yang sedang menghitung sesuatu.
“Jadi kita berdua nggak tau caranya,” kataku.
“Iya.”
“Berarti—“ Aku tertawa, dan tawanya keluar salah, dan mataku panas. “Bum, ini satu-satunya hal yang nggak pernah kita latih.”
Dan dia bilang, dengan suara yang lebih rendah dari biasanya:
“Iya.”
“Kamu takut nggak?”
“Iya.”
Aku menoleh cepat. “Kamu ngaku?”
“Gue selalu ngaku kalau ditanya langsung,” katanya. “Lo aja yang nggak pernah nanya langsung.”
Dan itu — enam tahun, empat puluh tiga sesi, tujuh puluh sembilan jam rekaman — dan jawabannya sesederhana itu.
Aku menutup mataku sebentar.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku nanya langsung sekarang.”
Aku tidak akan bisa menuliskan urutannya dengan benar.
Aku sudah mencoba berkali-kali dan setiap kali urutannya berubah, karena aku ingat semuanya sekaligus dan tidak ada yang berurutan.
Yang kuingat:
Tangannya di rahangku. Besar, dan dingin, dan gemetar sedikit di ujung jari.
Kacamatanya menabrak pipiku. Dia mundur, melepasnya, meletakkannya di bangku dengan hati-hati seolah itu urusan paling penting di dunia, dan aku tertawa di tengah semuanya dan dia bilang “diem” dan suaranya juga sudah setengah tertawa.
Lalu dia mendekat lagi.
Dan waktu itu terjadi, hal pertama yang kurasakan bukan romantis sama sekali.
Yang kurasakan adalah: oh. Ini dia.
Selama enam tahun aku melatih segalanya. Aku melatih cara menyapa, cara memanggil nama, cara memegang tangan, cara memeluk, cara menembak, cara ditolak. Empat puluh tiga sesi. Rubrik dengan tiga warna spidol.
Dan tidak satu pun dari semua itu menyiapkanku untuk ini.
Aku tidak tahu harus menaruh tanganku di mana. Hidung kami bertabrakan sekali. Gigi kami hampir bertabrakan sekali, dan kami berdua berhenti selama satu detik dan mulai lagi.
Itu berantakan.
Itu benar-benar berantakan, dan tidak ada satu pun bagian darinya yang seperti di film, dan aku tidak akan menukarnya dengan apa pun.
Di suatu titik aku menyadari aku menangis.
Bukan sedih. Aku bahkan tidak sadar mulainya kapan. Air mataku cuma keluar dan menempel di jarinya yang masih di rahangku, dan dia berhenti, dan mundur, dan wajahnya panik untuk pertama kalinya dalam enam tahun.
“Aurora—“
“Jangan berhenti.”
“Lo nangis.”
“Aku tau.” Aku menarik kerah jaketnya. “Jangan berhenti.”
Setelah itu kami duduk di bangku besi dengan dahinya menempel di dahiku, dan kacamatanya masih tergeletak di sebelah kami, dan langit sudah gelap.
Napasnya belum normal.
“Bum.”
“Hm.”
“Sepuluh.”
Dia mengeluarkan suara — pendek, satu tarikan napas lewat hidung, yang kalau dari orang lain akan disebut tawa.
“Lo nggak boleh ngasih nilai,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena nggak ada rubriknya lagi.”
Aku menutup mataku.
“Bum.”
“Hm.”
“Aku sayang kamu.”
Dan dia diam.
Aku menghitung.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat detik.
“Aku sayang kamu,” katanya.
Aku.
Bukan “gue”.
Aku membuka mataku dan menarik diriku mundur cukup untuk melihat wajahnya, dan dia sedang memandangiku dengan mata yang tidak dibingkai kacamata dan tidak menghitung apa pun.
“Kamu bilang ‘aku’,” kataku.
“Iya.”
“Kamu nggak pernah bilang ‘aku’.”
“Gue pernah,” katanya. “Sekali.”
Dan dia tidak perlu menyebutkan kapan.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan reading
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu