Chapter Thirty Six
Kencan Pertama
POV: Bumi
Masalahnya muncul hari Selasa, waktu dia bilang satu kalimat biasa:
“Bum, Sabtu kita kencan yuk.”
“Oke.”
“Kamu yang atur ya.”
Dan aku bilang oke, dan dia pergi, dan aku duduk di kosan malam itu dan menyadari sesuatu yang membuatku duduk tegak.
Aku tidak tahu caranya.
Aku ingin jelas soal ini, karena kedengarannya tidak masuk akal.
Aku pernah nonton berdua dengannya. Aku pernah makan berdua dengannya di tempat murah dekat stasiun. Aku pernah mengantarnya pulang naik kereta. Aku pernah menghabiskan seluruh hari Sabtu bersamanya di kota ini.
Enam tahun lalu.
Sebagai simulasi.
Dan waktu aku duduk di kosan hari Selasa itu dan mencoba menyusun rencana untuk hari Sabtu, satu-satunya referensi yang kupunya di kepalaku adalah hari Sabtu itu — tiket bioskop untuk film jelek, tempat makan yang dipilih karena “Kak Bagas suka tempat yang nggak ribet”, dan halte tempat aku menyerahkan payung kedua.
Seluruh pengalaman kencanku adalah kencan yang bukan kencanku.
Aku membuka laptop dan mengetik satu dokumen dan menamainya sabtu.md, dan aku menulis tiga baris, dan aku menghapusnya.
Fandi menelepon hari Rabu.
“Lo kenapa.”
“Gue nggak kenapa-kenapa.”
“Bum, lo ngirim gue pesen jam dua pagi isinya ‘restoran yang bagus di mana’.”
“Iya.”
“Lo nggak pernah nanya gitu ke gue seumur hidup.”
“Iya.”
Hening.
“Bum, lo panik ya.”
“Enggak.”
“Lo panik.”
“Gue nggak panik, Fan. Gue cuma nggak punya data.”
“NAH.” Aku bisa mendengar dia duduk. “Itu panik versi lo.”
Aku memandangi dokumen kosong di layar.
“Fan, gue nggak tau harus ngapain.”
“Ya ajak makan aja.”
“Makan doang?”
“Bum, kencan itu makan terus ngobrol terus pulang. Itu doang. Nggak ada rahasianya.”
“Terus kenapa orang bikin rencana?”
“Karena orang gugup.” Fandi mengunyah sesuatu. “Bum, lo tau kenapa lo panik? Karena selama ini lo selalu punya tugas. Lo dateng ke sesi buat ngelatih dia. Lo dateng ke kantor buat ngerjain modul. Lo selalu punya alasan buat ada di deket dia.”
“Terus?”
“Terus Sabtu ini lo nggak punya tugas apa-apa.” Dia berhenti. “Lo cuma disuruh dateng jadi diri lo sendiri, dan lo nggak pernah latihan yang itu.”
Aku menutup telepon setelah bilang makasih, dan aku duduk di depan dokumen kosong itu sampai jam tiga pagi.
Hari Sabtu aku menjemputnya jam sebelas.
“Kita ke mana?”
“Gue nggak tau.”
Dia berhenti memasang tali sandalnya.
“Apa?”
“Gue nggak punya rencana.” Aku memasukkan tangan ke saku. “Gue nyoba nyusun empat hari. Gue bikin dokumen. Gue hapus enam kali.”
“Bum—“
“Aurora, gue nggak pernah kencan.” Aku mengatakannya sekaligus, sebelum aku berubah pikiran. “Gue pernah pacaran lima bulan sama Tara dan kita cuma ketemu di kampus. Gue pernah nonton berdua sama lo tapi itu simulasi dan gue bawa dua payung dan gue mikirin lo bakal jalan sama siapa.”
Dia berdiri di ambang pintu kosan dengan satu sandal terpasang.
“Jadi gue nggak tau,” kataku. “Gue nggak punya referensi yang bukan latihan.”
Dia diam beberapa detik.
Lalu dia memasang sandalnya yang satu lagi, berdiri, dan bilang:
“Bagus.”
“Bagus?”
“Bum, aku juga nggak pernah.” Dia menutup pintu kosannya. “Tiga tahun aku pacaran dan semua kencannya dia yang atur dan aku cuma dateng. Aku nggak pernah milih tempat sekali pun.”
“Lo nggak pernah milih tempat?”
“Nggak pernah.”
Kami berdiri di lorong kosan itu, dua orang berumur dua puluh dua tahun yang antara mereka berdua punya total nol pengalaman kencan yang berguna.
“Ya udah,” katanya. “Kita ngaco aja.”
Kami naik bus tanpa tujuan.
Itu idenya. Naik bus, turun di halte yang kelihatan menarik, dan mengulang sampai capek.
Halte pertama: pasar. Kami turun dan jalan sepuluh menit dan dia membeli dua bungkus rambutan yang tidak bisa kami habiskan.
Halte kedua: kompleks ruko yang isinya bengkel semua. Kami naik bus lagi setelah empat menit.
Di bus dia menyandarkan kepala ke jendela dan bertanya sesuatu.
“Bum, kamu dulu nyiapin apa aja buat nonton itu?”
“Yang enam tahun lalu?”
“Iya.”
Aku memikirkannya.
“Gue dateng empat puluh menit lebih awal,” kataku. “Gue ngecek jadwal bus dua hari sebelumnya. Gue beli tiket online biar nggak antre. Gue ngecek ramalan cuaca tiga kali.”
“Bum.”
“Gue bawa dua payung.”
Dia menoleh dari jendela.
“Kamu nyiapin semua itu buat kencan simulasi.”
“Iya.”
“Dan hari ini kamu nggak nyiapin apa-apa.”
“Iya.”
Dia diam beberapa detik.
“Itu bagus atau jelek ya,” katanya.
“Gue nggak tau.”
“Aku juga nggak tau.” Dia kembali menyandarkan kepala ke jendela. “Tapi aku lebih suka yang ini.”
Halte ketiga: taman kota yang ternyata sedang direnovasi dan pagarnya ditutup.
“Ini kencan terburuk di dunia,” katanya, sambil memakan rambutan di trotoar di depan pagar taman yang ditutup.
“Iya.”
“Aku seneng banget.”
Aku menoleh.
“Serius?”
“Bum, kita udah tiga jam dan kamu belum sekali pun ngecek jam.” Dia menunjuk pergelangan tanganku. “Kamu selalu ngecek jam. Kamu ngecek jam sembilan kali per jam waktu magang. Aku ngitung.”
“Lo ngitung?”
“Aku selalu ngitung.” Dia mengangkat bahu. “Kamu yang ngajarin.”
Aku memandangi pergelangan tanganku.
Dia benar.
“Kenapa gue ngecek jam?”
“Kamu nggak tau?”
“Gue nggak pernah mikirin.”
Dia mengupas rambutan lagi dan menyerahkan isinya ke tanganku tanpa ditanya.
“Karena kamu selalu punya waktu selesai,” katanya. “Sesi selesai jam enam. Magang selesai jam enam. Kamu selalu tau kapan kamu harus berhenti ada di deket aku.”
Aku memegang rambutan itu di tangan dan tidak memakannya.
“Hari ini nggak ada jam selesainya,” katanya.
“Iya.”
“Makanya kamu nggak ngecek.”
Aku memakan rambutannya karena aku tidak punya jawaban.
Halte keempat kami turun di dekat sungai, dan ada jembatan kecil, dan kami duduk di situ karena kaki sudah pegal.
Jam sudah lima sore. Langit oranye.
“Bum.”
“Hm.”
“Boleh nanya sesuatu yang agak sedih?”
“Boleh.”
Dia memainkan kulit rambutan di tangannya.
“Waktu kita nonton dulu,” katanya. “Film jelek itu.”
“Iya.”
“Kamu inget apa aja?”
Aku memandangi sungai.
“Lo pakai kaus putih polos sama rok,” kataku. “Lo dateng jam satu kurang lima. Mas-mas popcorn numpahin isian gelas. Filmnya ada ledakan di menit lima puluh dua. Lo tidur di menit tujuh puluh.”
Dia berhenti memainkan kulit rambutan.
“Kamu inget semuanya.”
“Iya.”
“Bum.”
“Ada satu lagi,” kataku, dan aku tidak tahu kenapa aku melanjutkan. “Waktu lo tidur, kepala lo miring ke arah gue. Berhenti sekitar sepuluh senti dari bahu gue.”
Dia menoleh.
“Sepuluh senti?”
“Sepuluh senti.”
“Kamu ngukur?”
“Gue nggak ngukur,” kataku. “Gue duduk diem dua puluh menit dan gue tau.”
Dia tidak bicara selama beberapa saat.
Lalu dia bergeser di jembatan itu, satu jengkal, sampai bahu kami bersentuhan.
Lalu dia menyandarkan kepalanya.
“Nol,” katanya.
Aku tidak bergerak.
“Bum, kamu jangan diem.”
“Gue nggak diem.”
“Kamu diem. Kamu selalu diem kalau aku nyender.” Dia mengangkat kepalanya sedikit. “Kamu takut ngerusak lagi ya.”
Aku memandangi sungai.
“Iya.”
“Kamu nggak akan ngerusak apa-apa.”
“Gue nggak tau caranya percaya itu.”
Dia mengambil tanganku dan meletakkannya di bahunya sendiri.
“Ya udah,” katanya. “Aku bantuin.”
Kami pulang jam delapan.
Di depan kosannya dia berhenti dan berbalik.
“Bum, ini kencan pertama kamu.”
“Iya.”
“Kamu mau ngasih nilai nggak?”
“Nggak ada rubriknya.”
“Aku tau. Aku cuma pengen denger.”
Aku memikirkannya.
Aku memikirkan pasar, dan rambutan yang tidak habis, dan taman yang ditutup, dan bengkel-bengkel yang kami lewati dalam empat menit, dan jembatan kecil di dekat sungai.
Tidak satu pun dari itu ada di dokumen yang kuhapus enam kali.
“Sepuluh,” kataku.
“Bohong. Tamannya ditutup.”
“Sepuluh,” kataku lagi.
Dia mencium pipiku dan naik tangga dan berhenti di anak tangga keempat.
“Bum!”
“Hm.”
“Sabtu depan aku yang atur ya.”
“Lo nggak pernah milih tempat.”
“Iya.” Dia sudah naik lagi. “Makanya aku mau.”
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama reading
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu