← Latihan Dulu

Chapter Seven

Simulasi

POV: Bumi

“Simulasi kencan,” katanya, hari Senin, di perpustakaan, dengan nada orang yang sedang mengumumkan susunan kabinet.

“Enggak.”

“Kamu selalu bilang enggak dulu.”

“Karena selalu ada alasannya.”

“Terus alasannya apa kali ini?”

Aku menutup bukuku dan meletakkan tanganku di atasnya.

Alasannya adalah bahwa aku sudah menghitung ini. Aku sudah menghitungnya sejak sesi pertama. Ada urutan yang jelas di kepalaku — sapaan, panggilan, sentuhan, dan setelah sentuhan yang datang berikutnya adalah ini, dan setelah ini yang datang berikutnya adalah hal-hal yang tidak bisa kupikirkan tanpa merasa ingin berdiri dan pulang.

Aku tidak menolak karena tidak mau. Aku menolak karena aku tahu aku akan bilang iya, dan aku ingin setidaknya ada catatan bahwa aku sempat mencoba.

“Nggak ada,” kataku.

“Nah.”

“Kapan.”

“Sabtu. Nonton, terus makan, terus pulang bareng.” Dia sudah mengeluarkan buku sembilan halaman itu. “Aku udah riset. Kak Bagas suka film aksi. Yang banyak ledakannya.”

“Lo nggak suka film aksi.”

“Aku bisa belajar suka.”

Aku memandanginya beberapa detik.

“Lo mau belajar suka film supaya cocok sama orang yang belum tentu ngajak lo nonton.”

“Iya.”

“Itu urutan yang kebalik.”

“Bum, semua hal yang aku lakuin dari dulu urutannya kebalik.” Dia menutup bukunya. “Sabtu ya. Jam satu. Aku beliin tiketnya.”

“Gue yang beli.”

“Aku yang minta, aku yang bayar.”

“Kalau ini simulasi kencan,” kataku, “dan gue jadi dia, maka gue yang bayar. Karena dia bakal bayar.”

Dia berhenti.

“...Oh.”

“Nah.”

“Kamu curang.”

“Gue konsisten.”


Sabtu, dan aku sampai di bioskop empat puluh menit lebih awal, yang secara teknis bodoh karena filmnya jam satu dan aku sudah berdiri di sana sejak dua puluh lewat.

Aku bawa payung dua.

Ini juga bodoh, dan aku sadar itu, dan aku tetap melakukannya. Ramalannya bilang cerah. Ramalan di kota ini bohong terus. Payung pertama untuk aku, payung kedua untuk siapa pun yang tidak punya payung, dan aku tidak menulis nama siapa pun di catatan mana pun karena aku tidak perlu.

Dia datang jam satu kurang lima, dan aku sempat tidak mengenalinya.

Bukan karena dia berubah. Karena aku belum pernah melihatnya tidak berseragam.

Rok, kaus putih polos, rambut tergerai. Sederhana sekali. Dan tetap saja, tiga orang di antrean tiket menoleh, dan seorang mas-mas penjaga popcorn berhenti mengisi gelas sampai luber ke tangannya.

“Bum!” Dia melambai dari jauh, dengan gerakan besar yang tidak cocok dengan penampilannya.

Aku mengangkat tangan setinggi bahu.

“Kok kamu bawa payung dua?”

“Cadangan.”

“Cadangan buat siapa?”

“Buat siapa aja.”

Dia menerima jawaban itu tanpa curiga, karena kenapa juga dia harus curiga.

Payung kedua itu ada di dalam tasku setiap hari selama dua tahun terakhir. Kalau kuhitung, aku sudah membawanya sekitar empat ratus kali dan menggunakannya sekitar sembilan kali, dan sembilan-sembilannya untuk orang yang sama.

“Bum, kamu grogi nggak?”

“Enggak.”

“Aku grogi.”

“Ini simulasi.”

“Iya, tapi kan tetep aja.” Dia meremas tali tasnya. “Kalau nanti sama Kak Bagas, aku bakal lebih grogi dari ini. Berarti aku harus bisa nahan yang segini dulu, kan?”

“Iya.”

“Berarti kamu harus bikin aku grogi.”

Aku menatapnya.

“Gimana?”

“Ya... “ Dia mengibaskan tangan. “Lakuin sesuatu yang bikin grogi.”

“Contohnya.”

“Aku nggak tau! Kamu yang cowok!”

“Aurora, kalau gue tau caranya bikin orang grogi, hidup gue bakal beda banget.”

Dia tertawa dan memukul lenganku pelan, dan tiga orang di antrean tiket menoleh lagi, dan aku menyerahkan tiket kami ke petugas tanpa berkomentar.


Filmnya jelek.

Bukan jelek yang lumayan. Jelek yang membuat orang-orang di baris belakang mulai mengomentari dialognya keras-keras di menit ke empat puluh.

Dia menoleh ke arahku di menit kelima puluh dan berbisik, “Ini bagus nggak sih?”

“Enggak.”

“Syukurlah.” Dia bersandar ke kursinya. “Aku kira aku yang nggak ngerti.”

“Lo ngerti. Filmnya yang nggak.”

“Kak Bagas suka yang kayak gini?”

“Gue nggak tau. Gue bukan dia.”

“Kamu lagi jadi dia.”

“Gue lagi jadi dia yang nonton film jelek.” Aku mengambil popcorn. “Dia juga bakal bilang jelek. Dia jujur.”

Dia diam sebentar.

“Kamu tuh,” bisiknya, “selalu ngomongin dia baik.”

“Karena dia baik.”

“Nggak ada cowok yang mau muji saingannya.”

Ada sesuatu di dadaku yang bergerak salah waktu dia bilang “saingan”, dan aku harus menunggu satu ledakan penuh di layar sebelum bisa menjawab.

“Gue bukan saingan dia,” kataku.

“Iya, maksudnya kalau misalnya.”

“Iya,” kataku. “Kalau misalnya.”

Sisa filmnya kami tonton tanpa bicara. Di menit ke tujuh puluh, dia tertidur.

Bukan tertidur pulas — tertidur setengah, dengan kepala miring ke arahku, berhenti sekitar sepuluh sentimeter dari bahuku dan tidak sampai.

Sepuluh sentimeter.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Aku duduk diam sepanjang dua puluh menit terakhir film jelek itu dengan bahu yang tidak bergerak sedikit pun, dan sepuluh sentimeter itu tidak pernah tertutup, dan aku pulang dengan leher pegal karena aku menahan posisi yang sama terlalu lama untuk sesuatu yang tidak terjadi.


Hujan turun waktu kami keluar. Deras, seperti biasa, dari nol ke seratus.

“YA AMPUN.” Dia berdiri di bawah kanopi bioskop sambil menatap langit dengan wajah dikhianati. “Ramalannya cerah!”

“Ramalan di kota ini—“

“—bohong terus, iya, aku tau, kamu udah bilang.” Dia menoleh ke arahku. “Bum.”

“Hm.”

“Kamu bawa payung dua.”

“Iya.”

Dia memandangiku beberapa detik dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.

“Kamu tuh,” katanya akhirnya, “kayak orang yang selalu tau bakal kejadian apa.”

“Gue nggak tau bakal kejadian apa.” Aku menyerahkan payung kedua ke tangannya. “Gue cuma tau apa yang mungkin.”

Kami jalan ke halte dengan dua payung terpisah, dan itu keputusan yang kubuat dengan sengaja, dan itu keputusan yang kusesali sepanjang jalan.

Karena satu payung berarti dia harus jalan dekat. Satu payung berarti bahu bersentuhan. Satu payung berarti dia akan bilang “makasih” dengan cara yang lain.

Dan satu payung juga berarti bahwa nanti, kalau ada payung kedua yang tidak kubawa, dia akan basah.

Dua payung. Selalu dua. Itu bukan romantis. Itu cuma orang yang lebih milih dia kering daripada dia dekat.

Di halte, dia menutup payungnya dan mengibaskannya dan bilang, “Simulasinya sukses nggak?”

“Lumayan.”

“Lumayan doang?”

“Lo ketiduran di menit tujuh puluh.”

“ITU KARENA FILMNYA JELEK.”

“Kak Bagas nggak akan tau filmnya jelek. Dia bakal mikir dia ngebosenin.”

Dia menutup wajah dengan dua tangan.

“Aku beneran nggak bisa, ya.”

“Lo bisa.”

“Kamu bilang gitu terus.”

“Karena itu bener.” Aku memindahkan tas ke bahu sebelah. “Lo cuma belum pernah. Belum pernah bukan berarti nggak bisa. Itu dua hal beda.”

Dia menurunkan tangannya dan menatapku dari balik hujan yang jatuh di luar atap halte, dan lampu jalan menyala di belakangnya, dan aku memutuskan untuk melihat ke arah jalan.

“Kamu selalu ngeliat ke jalan,” katanya.

“Gue lagi nunggu bus.”

“Busnya masih lama.”

“Gue tau.”

“Terus kenapa ngeliatin jalan?”

“Karena kalau gue nggak ngeliatin jalan,” kataku, “gue nggak punya tempat lain buat ngeliat.”

Dia diam sebentar. Aku bisa merasakan dia mencoba menerjemahkan kalimat itu dan gagal, dan aku bersyukur dia gagal.

“Bum.”

“Hm.”

“Kalau nanti aku jadian sama Kak Bagas,” katanya, “kamu tetep mau nemenin aku ke perpus, kan?”

Ada beberapa hal yang bisa kujawab.

Aku memilih yang paling pendek.

“Iya.”

“Janji?”

“Iya.”

“Soalnya aku sayang banget sama kamu, Bum. Kamu tau kan? Kayak, kamu tuh orang paling penting di hidup aku setelah keluarga.”

Busnya datang. Aku bersyukur busnya datang.

“Gue tau,” kataku.

Dan aku memang tahu. Itu bagian yang paling tidak bisa kujelaskan ke siapa pun: aku tahu persis apa yang dia maksud, aku tahu persis apa yang tidak dia maksud, dan aku tetap menyimpan kalimat itu semalaman seperti orang yang menyimpan tiket bioskop untuk film yang jelek.