Chapter Twenty Six
Margin Kiri
POV: Aurora
Ibuku menelepon hari Jumat dan bilang kamarku di rumah mau dicat, jadi barang-barangku harus dibereskan akhir pekan ini.
Aku pulang hari Sabtu.
Aku ingin mencatat bahwa tidak ada apa pun yang puitis tentang hari itu. Tidak hujan. Tidak ada firasat. Aku pulang karena kamarku mau dicat.
Aku membereskan lemari sampai jam dua siang. Baju yang tidak muat lagi, buku pelajaran, tumpukan kertas yang tidak jelas gunanya.
Jaket seragam abu-abu masih tergantung di belakang pintu.
Aku memandanginya cukup lama, lalu melipatnya dan memasukkannya ke kardus “simpan” tanpa memikirkannya lebih jauh.
Di bawah meja belajar ada kotak sepatu.
Aku hampir memasukkannya ke kardus tanpa membuka. Aku sudah mengangkatnya. Beratnya ringan sekali — kertas.
Lalu aku duduk di lantai dan membukanya.
Kartu ucapan ulang tahun dari SMP. Tiket bioskop. Foto cetak dari mesin di mal.
Dan di bawah semuanya, dilipat dua, kertas HVS dengan tabel yang dibuat pakai penggaris dan tiga warna spidol.
LEMBAR EVALUASI LATIHAN
Ada bintang kecil di pojok kanan atas.
Aku tertawa.
Sungguh — reaksi pertamaku tertawa. Aku duduk di lantai kamar dengan debu di lutut dan tertawa sendirian, karena aku ingat perempuan berumur enam belas tahun yang membuat rubrik penilaian untuk sesi latihan dan menganggap dirinya sangat metodis.
Aku membaca kolomnya.
Sesi 1 — Kemiripan Gaya: 8. Kecepatan Respon: 9. Daya Tahan Aku: 4. Total: 21.
Sesi 7 — 10, 10, 8. Total 28.
Sesi 12 — 10, 10, 10. Total 30.
Angka-angkanya naik sampai sesi dua belas, dan setelah itu aku berhenti mengisi karena semuanya sudah tiga puluh dan tidak menarik lagi.
Aku membalik kertasnya untuk melihat apakah ada lanjutan di belakang.
Tidak ada.
Dan waktu aku membalikkannya kembali, aku melihat margin kirinya.
Aku sudah tahu ada tulisan di situ sejak sesi keempat, enam tahun lalu. Aku melihatnya ditulis. Aku bahkan pernah bertanya isinya dan dijawab “catatan gue” dan aku tidak memaksa.
Aku tidak pernah membacanya karena aku tidak pernah tertarik.
Tulisannya kecil, miring, berdesakan, ditulis dengan pulpen yang tintanya berbeda-beda karena ditulis di hari yang berbeda-beda.
Aku membaca yang pertama.
Sesi 1. Dia dateng telat tujuh menit karena nunggu bus yang salah. Besok kasih tau nomor bus yang bener.
Sesi 2. Tangannya dingin waktu pegang gelas. Bukan AC.
Sesi 3. Dia bilang “aku nggak bisa” empat kali hari ini. Turun dari sembilan minggu lalu.
Sesi 5. Tangannya dingin. Bukan karena AC.
Sesi 6. Dia ketawa lima kali. Rekor.
Sesi 7. Dua belas menit. Gue nggak ngingetin.
Aku berhenti membaca.
Aku menaruh kertas itu di lantai dan duduk di sana dan memandangi dinding kamarku selama entah berapa lama.
Lalu aku mengambilnya lagi.
Sesi 9. Dia manggil nama tengah gue. Nggak sengaja. Dia minta maaf.
Sesi 10. Tiga jam empat puluh menit. Dia tidur. Gue nggak bangunin. Bahu kiri.
Sesi 12. Gue teriak. Pertama kali. Gue nggak akan ngulang.
Sesi 13. —
Tidak ada isinya. Cuma tanda hubung.
Aku menatap tanda hubung itu.
Sesi tiga belas adalah malam terakhir. Malam sebelum aku menembak Kak Bagas. Di taman belakang ruko, dengan tiang listrik yang lampunya mati sebelah.
Dia menulis tanda hubung, dan tidak menulis apa-apa.
Aku membaca ulang dari awal.
Kali ini pelan-pelan, satu per satu, dan aku mulai memperhatikan sesuatu.
Tidak ada satu pun catatan tentang dirinya.
Empat puluh tiga sesi — atau tiga belas yang tercatat — dan setiap barisnya tentang aku. Suhu tanganku. Berapa kali aku tertawa. Berapa kali aku bilang tidak bisa. Nomor bus yang salah.
Tidak ada “gue capek”. Tidak ada “gue seneng”. Tidak ada apa pun yang menunjukkan bahwa ada orang kedua di ruangan itu, kecuali di dua tempat:
Gue nggak ngingetin.
Gue nggak bangunin.
Dua kalimat, dan dua-duanya tentang hal yang tidak dia lakukan.
Aku menaruh kertas itu di pangkuanku.
Dan aku berpikir, dengan tenang, dengan sangat jelas, kalimat yang selama enam tahun tidak pernah muncul di kepalaku sekali pun:
Dia bawa dua payung.
Setelah itu semuanya datang sekaligus, dan aku tidak bisa menghentikannya.
Bukan seperti kilat. Lebih seperti orang yang membuka satu laci dan menemukan bahwa seluruh lemari sebenarnya satu benda.
Dua payung. Setiap hari. Dua tahun. Dan yang kedua dia serahkan ke aku di depan bioskop, di hari yang ramalannya bilang cerah.
Roti cokelat. Setiap hari. Karena aku pernah bertanya sekali dan dia menjawab cokelat — tidak, tunggu.
Aku menutup mata.
Aku yang bertanya. Dia yang menjawab cokelat.
Dan selama dua tahun aku membawakannya roti cokelat setiap hari dan merasa perhatian, dan aku tidak pernah sekali pun bertanya apakah dia sebenarnya suka roti cokelat.
Bangku besi yang dilap pakai tisu karena rokku putih.
Datang setengah jam lebih awal dengan buku yang halamannya kosong.
Jaket seragam di halte, dengan gigi yang gemeletuk.
Bahu kiri, tiga jam empat puluh menit.
Dan — dan ini yang membuatku berdiri dari lantai dan berjalan ke jendela dan berdiri di sana dengan tangan menutup mulut —
Sisi jalan.
Enam tahun. Setiap kali kami jalan, di trotoar mana pun, di kota mana pun. Dia selalu di kanan. Aku selalu di kiri. Aku tidak pernah sekali pun memikirkannya, karena hal-hal yang selalu terjadi berhenti terlihat.
Sisi kanan adalah sisi yang dekat jalan raya.
Aku berdiri di jendela kamarku dan menghitung berapa kali motor lewat terlalu kencang dalam enam tahun, dan aku tidak bisa, karena jumlahnya tidak terhingga, karena setiap kalinya dia bergeser setengah langkah tanpa memutus kalimat.
Aku duduk di lantai lagi.
Aku tidak menangis. Bukan karena aku kuat. Karena tubuhku belum sampai ke sana; kepalaku masih sibuk menghitung.
Aku mengambil kertas itu dan membaca margin kiri untuk ketiga kalinya, dan kali ini aku membacanya seperti membaca dokumen.
Ada satu yang belum kubaca. Di paling bawah, di bawah tanda hubung sesi tiga belas, dengan tinta yang berbeda lagi, ditulis lebih kecil dari semuanya:
Sesi 44. Ditolak.
Aku tidak mengerti.
Tidak ada sesi empat puluh empat. Sesi terakhir adalah empat puluh tiga. Aku ingat angkanya karena dia menyebutkannya di kafe: empat puluh tiga sesi.
Aku duduk di sana selama mungkin sepuluh menit sebelum aku mengerti.
Sesi keempat puluh empat adalah permintaan yang tidak pernah jadi sesi.
Perpustakaan SMA. Kursi kanan. Aku bertanya kenapa yang ini tidak boleh.
Karena gue bukan dia.
Dia mencatatnya sebagai sesi.
Dia mencatat penolakannya sendiri, di margin lembar penilaian yang dibuat untuk menilai performanya, dengan dua kata, dan dia tidak pernah menunjukkannya ke siapa pun.
Aku menaruh kertas itu di lantai dan menekan dua tangan ke wajahku.
Dan di situ akhirnya datang.
Aku tidak tahu berapa lama.
Ibuku mengetuk pintu sekali dan bertanya apakah aku mau makan, dan aku bilang nanti, dan suaraku keluar cukup normal untuk membuatnya pergi.
Waktu aku berhenti, mataku sakit dan hidungku tersumbat dan lantainya dingin dan kotak sepatu itu masih terbuka di sebelahku.
Aku melipat kertas itu dan membukanya lagi tiga atau empat kali, dan aku tahu persis apa yang sedang kulakukan: aku sedang menunggu isinya berubah.
Isinya tidak berubah.
Aku menelepon Icha jam sembilan malam.
“Ra?”
“Cha.”
Dia langsung tahu dari satu suku kata.
“Kamu di mana?”
“Rumah. Kamar.”
“Kamu nangis?”
“Udah selesai.”
“Ra—“
“Cha, aku mau nanya satu hal.” Aku menekan kertas itu ke dada. “Dan aku mau kamu jujur. Sekali ini aja. Habis itu kamu boleh nggak ngomong lagi selamanya.”
Icha diam.
“Nanya.”
“Kamu udah tau dari dulu ya.”
Ada napas panjang di seberang.
“Iya,” katanya.
Aku menutup mata.
“Sejak kapan?”
“Sesi kelima.”
“Sesi kelima.” Aku tertawa dan tawanya jelek. “Cha, itu bahkan belum pertengahan.”
“Aku lihat mukanya,” katanya. “Sekali doang. Satu detik, waktu kamu bilang ‘aku sayang banget sama kamu’ terus lari ke koridor. Terus dia balik normal lagi.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Karena bukan punyaku buat dibilang.”
Aku duduk bersandar ke ranjang.
“Cha, aku bikin dia latihan nolak aku.”
“Aku tau.”
“Tiga kali.”
“Ra.”
“Aku minta dia latihan cium aku.”
Icha tidak menjawab.
“Cha, aku minta dia—“
“Aurora.” Suaranya tegas untuk pertama kalinya malam itu. “Berhenti.”
“Kenapa?”
“Karena kamu lagi nyusun daftar buat nyiksa diri kamu sendiri, dan daftarnya panjang, dan kamu bakal sampai subuh.”
Aku menekan mataku dengan pergelangan tangan.
“Aku harus gimana?”
“Aku nggak tau.”
“Cha.”
“Aku beneran nggak tau, Ra.” Aku bisa mendengar dia duduk. “Tapi aku tau satu hal: jangan malam ini. Apa pun yang mau kamu lakuin, jangan malam ini.”
“Kenapa?”
“Karena kamu belum tau kamu lagi sedih buat siapa.”
Aku tidak tidur.
Jam satu pagi aku masih duduk di lantai dengan lampu menyala dan kotak sepatu terbuka, dan aku mengambil ponselku.
Aku tidak membuka folder “sesi”.
Aku membuka aplikasi catatan, scroll ke bawah sampai ke catatan lama yang tidak pernah kuhapus karena tidak pernah kubuka, dan mencari satu file dari enam tahun lalu.
Judulnya: referensi.
Aku membukanya.
Isinya empat baris, diketik dengan dua jempol, di taman belakang ruko, di malam sebelum aku menembak Kak Bagas.
“udah lama, lebih lama dari yang bakal aku bilang”
“aku takut kalau aku ngomong aku nggak bisa duduk di sebelah kamu lagi”
→ ini bagus banget
→ tanya bumi dapet dari buku apa
Aku membaca empat baris itu berkali-kali sampai hurufnya berhenti berarti apa-apa.
Lalu aku mematikan ponselku, menaruhnya menghadap ke bawah, dan berbaring di lantai kamar yang besok mau dicat.
- 1 Orang yang Tidak Menoleh
- 2 Anggap Aja Kamu Dia
- 3 Sesi Satu
- 4 Rubrik
- 5 Tanganmu Dingin
- 6 Dua Belas Menit
- 7 Simulasi
- 8 Sepuluh Sentimeter
- 9 Asher
- 10 Bahu Kiri
- 11 Tujuh Belas Kali
- 12 Latihan Ditolak
- 13 Kalau Dia Bilang Iya
- 14 Yang Tidak Dia Mau
- 15 Tiga Tahun, Versi Pendek
- 16 Tiga Tahun, Versi Nyaman
- 17 Gelas di Tangan Kanan
- 18 Dua Detik
- 19 Sidang
- 20 Kursi Kanan
- 21 Enam Bulan
- 22 Orang yang Dicari Orang
- 23 Tameng
- 24 Restoran
- 25 Cermin
- 26 Margin Kiri reading
- 27 v5
- 28 Empat Puluh Tiga File
- 29 Bukti
- 30 Enam Bulan, Versi Aku
- 31 Argumen Terakhir
- 32 Rabu
- 33 Tanpa Latihan
- 34 Kalah
- 35 Halus
- 36 Kencan Pertama
- 37 Hujan Sampai Pagi
- 38 Rumah
- 39 Giliranku Kalah
- 40 Jam Empat
- 41 Kereta
- 42 Latihan Dulu
- 43 Tiga Puluh Dua Halaman
- 44 Selasa
- 45 Dua Kursi
- 46 Hari Kedua Ratus Tiga Puluh Satu