← Latihan Dulu

Chapter Thirty One

Argumen Terakhir

POV: Bumi

Ini daftar argumen yang kupunya, disusun rapi, disimpan di kepalaku selama lima bulan.

Satu. Dia jatuh cinta sama bukti, bukan sama aku.

Dua. Dia baru putus. Ini pantulan, bukan pilihan.

Tiga. Kalau gue bilang iya, gue nggak akan pernah tau yang mana.

Empat. Gue udah nunggu enam tahun. Gue berhak nggak buru-buru.

Empat argumen. Semuanya valid. Semuanya sudah kuperiksa berkali-kali seperti orang memeriksa sabuk pengaman.

Fandi menghancurkan keempatnya dalam satu percakapan di bulan kelima, sambil makan mi instan, tanpa papan tulis.


“Satu,” katanya.

“Fan—“

“Lo bilang dia jatuh cinta sama bukti.” Dia menunjuk dengan garpu. “Bum, dia dateng ke kampus lo tiap Rabu selama lima bulan. Empat puluh lima menit sekali jalan. Itu berapa jam totalnya?”

“Sembilan puluh jam.”

“Lo ngitung.”

“Gue selalu ngitung.”

“Sembilan puluh jam.” Fandi menaruh garpunya. “Bukti apa yang butuh sembilan puluh jam buat dibaca ulang?”

Aku tidak menjawab.

“Dua,” katanya.

“Fan.”

“Lo bilang dia baru putus, jadi ini pantulan.” Dia menghitung dengan jari. “Dia putus sebelas bulan lalu, Bum. Sebelas. Bukan sebulan. Lo masih pakai angka dari argumen lo yang lama karena lo nggak mau ngupdate.”

Aku membuka mulut.

Lalu menutupnya, karena dia benar dan aku bahkan tidak sadar aku melakukannya.

“Tiga,” kata Fandi.

“Lanjut aja.”

“Lo bilang lo nggak akan pernah tau yang mana.” Dia bersandar. “Bum, lo bener. Lo emang nggak akan pernah tau. Nggak sekarang, nggak lima tahun lagi, nggak pernah.”

“Nah.”

“Itu bukan argumen buat nolak. Itu argumen buat nggak pernah pacaran sama siapa pun seumur hidup.” Dia mengangkat bahu. “Nggak ada orang yang tau kenapa dia dipilih. Itu bukan syarat. Itu cuma hal yang lo mau.”

Aku memandangi mangkuk mi yang sudah dingin.

“Fan, kalau lo salah gimana.”

“Salah soal apa?”

“Soal dia.” Aku menaruh sendokku. “Kalau enam bulan lagi dia sadar dia cuma lagi nebus rasa bersalah. Terus dia berhenti. Terus gue udah terlanjur.”

Fandi mengunyah pelan.

“Ya berarti lo patah hati,” katanya.

“Nah.”

“Bum, itu bukan skenario terburuk.”

“Terus apa?”

“Skenario terburuk itu lo nggak pernah nyoba, terus lo umur empat puluh, terus lo masih inget nomor sesi.” Dia menunjuk dengan garpu. “Lo udah pernah ngejalanin yang itu enam tahun. Lo tau rasanya. Yang satunya lo belum pernah coba.”

“Yang satunya bisa lebih sakit.”

“Iya,” kata Fandi. “Tapi setidaknya itu sakit yang baru.”

“Empat,” katanya.

“Yang empat bener.”

“Yang empat paling parah.”

“Fan, gue nunggu enam tahun.”

“Iya. Dan sekarang lo ngitungin dia.” Fandi menatapku. “Lo bilang ke gue dulu bahwa yang paling sakit dari sesi-sesi itu adalah dia ngitungin lo pakai rubrik. Sekarang lo lagi ngitungin dia pakai bulan.”

Kosan itu sunyi.

“Lima bulan,” katanya. “Berapa lagi yang lo butuhin? Enam? Setahun? Enam tahun biar impas?”

“Gue nggak lagi nyari impas.”

“Terus lo lagi nyari apa?”

Dan aku duduk di sana dengan mi instan dingin di depanku dan tidak punya jawaban.


Aku ke kosannya waktu dia sakit.

Aku tidak berencana. Reno mengirim pesan bahwa Aurora tidak masuk kelas — Reno mengirim pesan begitu karena entah bagaimana Reno sekarang menganggap dirinya bagian dari urusan ini — dan aku membaca pesan itu jam enam sore.

Jam setengah tujuh aku sudah di minimarket membeli bubur.

Jam delapan aku berdiri di depan pintu kosannya.

Dia membuka pintu dengan rambut berantakan dan wajah demam dan piyama bergambar entah apa, dan sesuatu di dadaku melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya dalam enam tahun.

Aku menyerahkan kantongnya. Aku bicara empat kalimat. Aku berbalik.

“Kenapa kamu ke sini?”

Dan aku berhenti di anak tangga pertama.

Aku punya jawabannya.

Aku punya jawabannya sejak umur lima belas tahun, dan aku sudah mengucapkannya sekali, di taman dengan lampu mati sebelah, dan aku tahu persis bunyinya.

Enam detik.

“Gue nggak tau,” kataku.

Dan aku turun tangga dan naik ojek dan pulang lima puluh menit, dan sepanjang jalan aku memikirkan satu hal:

Itu kebohongan kedua yang pernah kuucapkan ke dia.

Yang pertama soal Fandi dan kampus timur.

Dan dua-duanya untuk hal yang sama.


Bulan keenam, hari Rabu, hujan.

Dia berdiri di kanopi lab dengan dua payung seperti biasa.

Aku keluar dan berhenti seperti biasa dan dia menyerahkan yang kedua seperti biasa dan aku mengambilnya seperti biasa, dan seluruh urutan itu sekarang sudah jadi ritual yang tidak dibicarakan siapa pun.

“Bum.”

“Hm.”

“Aku mau nanya satu hal terakhir.”

Aku menegakkan badan.

Terakhir.

“Nanya.”

“Kalau aku berhenti sekarang,” katanya, “kamu bakal ngerasa lega nggak?”

Hujan.

Suara di kanopi seng.

Ada mahasiswa lewat di belakangnya sambil tertawa soal sesuatu.

“Aurora—“

“Aku serius nanya, Bum. Bukan ancaman. Aku nggak lagi ngancem.” Dia menggenggam gagang payungnya. “Aku cuma udah enam bulan dan aku capek, dan aku sadar aku belum pernah sekali pun nanya apa yang kamu mau.”

“Gue—“

“Kamu selalu bilang apa yang kamu nggak bisa.” Suaranya pelan. “Kamu belum pernah bilang apa yang kamu mau. Sekali pun. Enam tahun.”

Aku berdiri di bawah kanopi lab lantai dua kampus utara dengan payung yang bukan milikku di tangan.

Dan seluruh argumenku — keempatnya, yang sudah dihancurkan Fandi satu per satu, yang masih kupegang karena aku tidak punya penggantinya — hilang sekaligus.

Karena pertanyaannya bukan salah satu dari empat itu.

Pertanyaannya adalah pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan siapa pun ke aku, seumur hidup.

“Aurora.”

“Iya?”

Aku membuka mulut.

Dan yang keluar bukan jawaban.

“Gue butuh waktu.”

Dia menutup matanya sebentar.

“Berapa lama?”

“Gue nggak tau.”

“Bum.”

“Seminggu,” kataku. “Kasih gue seminggu.”

Dia memandangiku cukup lama.

“Oke,” katanya.

Lalu dia membuka payungnya dan jalan ke gerbang, dan aku berdiri di kanopi itu memandangi punggungnya sampai hilang di tikungan.


Fandi datang malam itu tanpa diundang, membawa keripik, tanpa papan tulis.

“Gue minta seminggu,” kataku.

“Buat apa?”

“Buat mikir.”

Fandi duduk di lantai dan membuka bungkusnya dan mengunyah selama sekitar sepuluh detik.

“Bum, lo tau nggak sih,” katanya, “lo tuh orang paling cepet mikir yang gue kenal. Lo bisa bongkar argumen orang dalam tiga kalimat. Lo ngerjain dokumentasi enam belas halaman semalem.”

“Terus?”

“Terus lo minta seminggu buat mikirin sesuatu yang jawabannya udah lo tau dari umur lima belas.”

Aku bersandar ke tembok.

“Gue nggak lagi mikirin jawabannya,” kataku.

“Terus lo mikirin apa?”

Aku memandangi langit-langit kosan yang catnya mengelupas di satu sudut.

“Gue mikirin gimana caranya berhenti jadi orang yang nunggu,” kataku. “Gue udah enam tahun begini, Fan. Gue nggak tau caranya jadi orang lain.”

Fandi berhenti mengunyah.

“Itu,” katanya, “pertama kalinya lo ngomong jujur soal ini.”

“Gue selalu jujur.”

“Lo selalu akurat.” Dia menutup bungkusnya. “Beda.”

Dia menginap lagi malam itu.

Sebelum tidur dia bertanya satu hal lagi.

“Bum, kalau lo iya, lo mau ngomong apa?”

“Gue belum tau.”

“Lo punya seminggu.”

“Iya.”

“Lo bakal nyusun rencana kan.”

“Iya.”

Fandi tertawa ke arah bantal.

“Ya udah,” katanya. “Yang penting lo buang rencananya pas hari H.”

“Kenapa?”

“Karena rencana lo bagus-bagus, Bum. Terlalu bagus. Dan dia udah kebanyakan denger kalimat bagus dari lo yang dia kira punya orang lain.”


Dan jam satu pagi, dari lantai, setengah tidur, dia bicara untuk terakhir kalinya soal ini.

“Bum.”

“Hm.”

“Lo inget gue pernah bilang jangan langsung iya?”

“Inget.”

“Gue cabut.”

Aku menoleh.

“Gue cabut ucapan gue,” katanya. “Waktu itu gue mau lo punya harga diri. Sekarang gue udah liat lo punya, dan gue liat harganya, dan gue nggak suka.”

Dia berbalik menghadap tembok.

“Enam bulan, Bum. Dia dateng tiap Rabu selama enam bulan.” Suaranya makin pelan. “Kalau lo nunggu lebih lama dari ini, itu bukan harga diri lagi.”

“Terus apa?”

“Itu balas dendam,” katanya. “Dan lo bukan orang kayak gitu, dan gue nggak mau lo jadi orang kayak gitu cuma karena lo capek jadi orang baik.”

Dia tidur.

Aku berbaring menghadap langit-langit sampai jam empat, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku menyusun rencana.